Salah Kamar

Salah Kamar
Pasien Terakhir


__ADS_3

Firman pun tertawa, dia lalu mengambil ponselnya kemudian menelepon Vallen.


[Halo Vallen.]


[Halo sayang.]


[Kenapa kau begitu lesu?]


[Firman, apa kau tahu kakakku selain begitu menyebalkan, dia juga begitu kejam padaku, baru saja aku selesai berlibur tapi dia sudah memberikan pekerjaan yang berat padaku.]


[Memangnya apa yang harus kau kerjakan? Apakah Kakakmu menyuruhmu untuk membersihkan seluruh rumah sakit?]


[Firman, aku tidak sedang bercanda.]


[Aku juga tidak sedang bercanda, Vallen. Memangnya apa yang kakakmu perintahkan?]


Vallen kemudian mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya.


[Pagi ini kakakku menyuruhku untuk mengoperasi sesar wanita hamil yang menderita penyakit jantung, dan saat ini kondisinya sedang kritis.]


[Vallen sayang jangan seperti itu, kau harus bersemangat menyelamatkan hidup nyawa orang lain, ada dua nyawa yang akan kau selamatkan. Bayi dan ibunya, ingat Vallen kau wanita yang luar biasa, itulah sebabnya aku sangat mencintaimu. Kau harus bisa melakukan tugasmu dengan baik, apa kau mengerti?]


[Ya, aku mengerti.]


[Jika kau berhasil menyelesaikan tugasmu dengan baik nanti sore aku akan mengajakmu berjalan-jalan lalu makan es krim dan makan malam bersama. Apa kau mau?]


[TENTUUUUI SAJAAAA AKUUUU MAUUUU FIRMAAANNNN!!] jawab Vallen sambil berteriak. Firman pun menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


[Vallen, teriakkanmu sangat menggangu telingaku.]


[Hahahaha, karena aku sangat bahagia memiliki kekasih seperti dirimu, itulah alasannya aku mencintaimu karena kau selalu memberikan semangat padaku saat aku merasa sedang tidak baik-baik saja.] jawab Vallen sambil terkekeh.


[Hahahaha ya ya, mungkin itulah alasannya aku tercipta untukmu. Sekarang kau lakukan saja tugasmu. Aku juga hari ini ada pekerjaan penting.]


[Apa kau membutuhkan semangat dariku?]


[Mendengar suaramu di pagi hari adalah salah satu semangat bagiku, Vallen.]


[Awwww Firman, kau memang sangat menggemaskan.]


[Kau juga. Hahahaha.]


[Sampai jumpa nanti sore.]

__ADS_1


[Sampai jumpa nanti sore Vallen sayang.]


[Ya.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan dari Firman. Dia kemudian menempelkan ponselnya di dadanya.


"Dokter, apa anda baik-baik saja? Anda tidak gila kan?"


"Aku baik-baik saja Hani! Berani-beraninya kau menyebutku gila."


"Dokter sendiri yang bertingkah seperti orang gila."


"HANIII!! Jangan meledekku."


"Iya iya Dok, saya tahu Dokter Vallen sedang jatuh cinta. Dokter sudah berbaikan kan dengan kekasih dokter itu kan? Pangeran bermotor?"


"Hani, lebih baik kau diam saja. Aku sedang banyak pekerjaan. Hari ini tolong kau batalkan setengah pasien yang melakukan janji denganku karena pasti waktuku akan sedikit tersita di ruangan operasi, ini bukan pasien yang mudah karena dia juga mengalami penyakit jantung bawaan sejak kecil, kondisinya pun sedikit kritis jadi aku harus berhati-hati. Apa kau mengerti?"


"Iya Dok, saya mengerti."


"Aku pergi ke ruang operasi sekarang."


"Iya Dok."


Vallen pun pergi meninggalkan ruangannya lalu masuk ke ruang operasi, tampak di ruangan operasi tersebut seorang dokter anastesi dan David sudah menunggunya.


"Namanya Amanda Mahendrata, 24 tahun mengidap penyakit jantung bawaan, usia kehamilan 37 minggu." kata Vallen, dia kemudian memperhatikan dokter anastesi yang sudah selesai melakukan tugasnya.


"Sudah selesai, silahkan Dokter Vallen."


"Iya, terimakasih banyak."


Vallen pun mulai membedah perut Amanda dia pun kini tampak sibuk mengeluarkan bayi yang ada di perut Amanda. Beberapa saat kemudian, suara tangis bayi itu pun terdengar.


"Bayinya laki-laki, sekarang kalian bersihkan bayi itu lalu coba kau periksa kondisinya jika dia masih lemah, kau masukkan ke dalam inkubator." kata Vallen pada beberapa perawat yang ada di sampingnya.


"Iya Dokter Vallen." jawab beberapa perawat itu bersamaan. Mereka kemudian membawa bayi tersebut ke samping ruang operasi. Sedangkan Vallen kini pun mulai sibuk menjahit perut Amanda.


"Cepat Vallen, jantungnya sudah mulai melemah."


"Iya Kak, sebentar."


Namun di saat Vallen sedang menjahit perut Amanda, tiba-tiba nafasnya pun mulai tidak beraturan. "Vallen jantungnya semakin melemah, oksigen di dalam tubuhnya pun semakin menurun." kata David dengan begitu panik, namun Vallen tetap tenang menjahit bagian perut dari Amanda, hingga beberapa menit kemudian Vallen pun sudah melakukan tugasnya meskipun kondisi Amanda kini terlihat begitu lemah. Dia kemudian melakukan beberapa respon pada beberapa bagian tubuh Amanda.


"Kak David, dia mengalami koma." kata Vallen sambil menatap David.

__ADS_1


"Astaga."


"Aku sudah menduganya, Kak. Akan sangat sulit bertahan dengan kondisi kesehatannya yang seperti itu. Tapi kau tenang saja, aku akan memastikan keadaannya agar bisa sembuh, kau juga tetap lakukan tugasmu. Beri dia asupan obat-obatan untuk bisa menguatkan jantungnya."


"Iya Vallen. Vallen, menurutku kondisi Amanda sebenarnya sedikit aneh, sepertinya dia tidak pernah memakan obat dalam waktu yang relatif lama. Saat aku bertemu dengannya, kondisinya begitu memprihatinkan. Bahkan saat aku mengecek kandungan darahnya, aku seperti menemukan campuran obat pelemah jantung dalam dosis yang cukup banyak di dalam tubuhnya."


"Astaga, pantas saja kondisinya sampai begitu parah seperti ini. Kak David, kau tenang saja meskipun sekarang dia koma, aku yakin dalam hitungan minggu dia bisa sadarkan diri lagi asal kita mengontrol asupan obat yang diberikan padanya."


"Iya, aku akan menyuruh perawat yang ada di rumah sakit ini untuk selalu mengontrol asupan obat yang diberikan padanya."


"Iya Kak, kau harus melakukan itu karena aku takut ada seseorang yang ingin berbuat jahat padanya."


"Iya Vallen, terimakasih banyak sudah melakukan tugasmu dengan baik, aku bangga padamu."


"Hahahaha, akhirnya kau mengatakan itu." kata Vallen kemudian berjalan meninggalkan David.


"Tunggu dulu Vallen, tolong ke perkenalkan laki-laki itu padaku." kata David sambil tersenyum. Vallen pun membalikkan tubuhnya kembali kemudian mengerutkan keningnya.


"Tidak usah pura-pura bodoh, pangeran bermotor itu. Hahahaha." kata David sambil tertawa terbahak-bahak.


💜💜💜💜💜


Vallen berjalan ke ruangannya sambil tersenyum.


"Jadi Kak David sudah tahu tentang Firman? Ternyata dia tidak semenyebalkan yang aku kira. Dia bahkan mau membantu hubungan kami di depan mama." kata Vallen sambil terkekeh.


Vallen pun kemudian masuk ke ruangannya, dan mulai memeriksa pasiennya satu per satu hingga beberapa jam kemudian waktu menunjukkan pukul tiga sore.


'Sebentar lagi aku pulang.' gumam Vallen saat menatap arloji di tangannya.


"Dokter Vallen, ini pasien terakhir anda, sebentar lagi dia masuk." kata Hani dari ambang pintu.


Vallen pun mengangguk.


"Syukurlah akhirnya selesai juga pekerjaanku, setelah ini aku akan bersenang-senang dengan Firman." kata Vallen sambil tersenyum.


CEKLEK


Pintu ruangan Vallen pun terbuka.


"Selamat sore Dokter Vallen." sapa seorang wanita yang kini ada di depannya.


"Aini." jawab Vallen dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

__ADS_1


__ADS_2