Salah Kamar

Salah Kamar
Mati


__ADS_3

"Begini Giselle kehadiranku kesini sebenarnya ingin meminta maaf padamu."


"A.. Apa ma? Minta maaf?"


"Iya tapi kau jangan terlalu percaya diri karena aku meminta maaf padamu itu karena papa yang menyuruhku agar kalian mau kembali lagi ke rumah."


"Kembali ke rumah?"


"Ya, papa memintaku untuk meminta maaf padamu dan memintamu kembali ke rumah."


"Emm... E.. Maaf ma, sepertinya kami tidak bisa kembali ke rumah untuk sementara waktu. Apalagi saat ini Revan sedang tidak ada di rumah, Giselle tidak bisa mengambil keputusan sendiri."


"Oh jadi kau sudah berani menantangku?"


"Bukannya seperti itu ma, tapi kami memang sudah membuat kesepakatan untuk hidup mandiri."


"Alasan! Dasar menantu tidak tahu diri! Percuma aku datang ke sini! Kau sudah menginjak-injak harga diriku dan membuang-buang waktuku saja!" bentak Santi kemudian keluar dari apartemen itu.


"Akhirnya dia pergi juga." kata Giselle sambil mengelus dadanya dan menghembuskan nafas panjang.


'Revan cepat pulang, kami di sini membutuhkanmu.' gumam Giselle sambil melihat foto Revan di ponselnya.


Sementara Santi keluar dari apartemen dengan perasaan begitu dongkol. 'Dasar menantu brengsek, berani-beraninya dia menolak dan menantangku. Tunggu saja Giselle akan kubuat perhitungan denganmu!' gumam Santi.


***


Stella perlahan membuka matanya, seketika dia pun langsung memegang perutnya.


"Kenapa Stella? Apa masih terasa sakit?" tanya sebuah suara yang ada di sampingnya. Stella lalu menengokkan kepalanya ke samping kanannya, dan tampak David tengah duduk di samping tempat tidurnya dengan raut wajah begitu cemas.


"David, anakku, anak kita." isak Stella.


"Stella tenangkan dirimu, ikhlaskan anak kita. Ini sudah takdir."


Perlahan Stella pun menganggukkan kepalanya. "Iya." jawab Stella lirih sambil terus memegang perutnya.


"Apa masih terasa sakit sayang?"


"Tidak, hanya sedikit mulas." jawab Stella sambil tersenyum, berusaha tegar meskipun perasaannya masih terasa begitu berkecamuk.


"Hei, kenapa kau masih di sini David? Bukankah kau seharusnya sudah ada di ruanganmu."


David pun tersenyum mendengar perkataan Stella.

__ADS_1


"Jangan katakan jika kau dari tadi pagi terus menungguku sejak aku dikuret?"


David pun mengangguk sambil tersenyum.


"Dasar, bukankah hari ini kau punya banyak pekerjaan? Nanti siang kau juga ada meeting kan?" tanya Stella.


"Iya Stella tapi kau jauh lebih penting dibandingkan segalanya." kata David sambil mencium tangan Stella.


"Kau selalu saja berlebihan, lebih baik kau mulai bekerja sekarang, aku baik-baik saja. Sebentar lagi pasti Rima datang." kata Stella sambil melirik pada jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Rima memang tidak bisa diandalkan! Aku sudah bilang padanya untuk datang pagi karena kau akan dikuret, tapi sampai sekarang dia belum juga datang! Benar-benar tidak becus. Apa sebaiknya aku menggantinya dengan perawat lain untuk menemanimu?"


"Tidak David, tidak usah, biar dia saja yang menemaniku."


Di saat itulah pintu kamar perawatan Stella pun terbuka. Rima pun masuk ke dalam kamar dengan wajah yang tertunduk.


"Maaf, saya terlambat."


"Dasar kau memang tidak becus Rima, kau sering sekali melakukan kesalahan."


"Maaf dok."


"David jangan seperti itu, sebaiknya kau pergi ke ruanganmu sekarang dan selesaikan pekerjaanmu. Aku tidak ingin pekerjaanmu terabaikan karena diriku."


"Rima tolong jaga Stella baik-baik karena dia baru saja selesai di kuret, jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak." kata David pada Rima sebelum meninggalkan ruangan itu yang dijawab anggukan oleh Rima.


Rima lalu mendekat pada Stella dan tersenyum padanya. "Bagaimana keadaan anda Nyonya Stella?"


"Baik Rima, perutku hanya sedikit mulas."


"Anda harus banyak beristirahat, apakah anda sudah minum obat?"


"Belum."


"Baik saya ambilkan obatnya ya Nyonya."


Stella pun kemudian mengangguk, Rima lalu mengambil obat yang ada di nakas, sesekali melirik pada Stella yang kini sedang menonton televisi di atas ranjang.


"Ini obatnya."


"Terimakasih Rima." jawab Stella kemudian meminum obat tersebut. Rima pun tersenyum menyeringai saat Stella meminum obat yang diberikan untuknya. 'Hahahahhaha, mampus kau Stella karena aku telah menukar salah satu obat itu dengan obat dan vitamin penambah sel darah putih.' kata Rima dalam hati sambil melihat Stella yang kini sedang bercerita padanya tentang perasaan sedihnya telah kehilangan anak mereka.


"Rima, aku lelah. Sepertinya aku mau tidur dulu." kata Stella beberapa saat kemudian setelah tampak lelah bercerita.

__ADS_1


"Iya Nyonya Stella." jawab Rima.


'Stella ini baru permulaan, jika obat-obatan yang kuberikan padamu telah bereaksi pasti akan lebih menyenangkan.' kata Rima dalam hati saat melihat Stella yang kini tertidur begitu pulas di depannya.


Satu jam kemudian, pintu kamar perawatan Stella pun terbuka, Rima melihat dokter David yang masuk sambil tersenyum ke arahnya.


'Apa? David tersenyum padaku?' gumam Rima sambil sedikit salah tingkah.


"Rima sudah waktunya makan siang." kata David yang kini membawa bungkusan makanan ke dalam ruangan itu.


'Apa dia mau mengajakku makan siang? Apa dia mulai sadar jika kekasihnya sudah tidak ada harapan untuk sembuh dan mulai mencari pengganti Stella?' gumam Rima dalam hati.


"Rima apa kau tidak mendengar kata-kataku? Kau boleh makan siang dan istirahat Rima, silahkan kau pergi dari ruangan ini."


'Brengsek, kupikir dia mengajakku makan siang bersama.' umpat Rima dalam hati kemudian berdiri. Saat berjalan melewati David, Rima berpura-pura terpeleset dan menabrak tubuh David. David pun refleks menangkap tubuh Rima yang kini ada di pelukannya.


'Kesempatan, aku bisa memeluk David.' gumam Rima.


"David, Rima. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Stella yang tiba-tiba bangun dari tidurnya dan melihat David dan Rima yang kini sedang berpelukan.


"Rima tadi hampir terjatuh Stella jadi aku reflek memeluknya karena saat itu dia sedang berjalan di sampingku." jawab David dengan sedikit gugup.


Rima kemudian melepaskan pelukannya pada David. "Iya Nyonya Stella tadi saya hampir terjatuh, dan tubuh saya menabrak dokter David jadi dia reflek memeluk saya."


"Oh iya tidak apa." jawab Stella sambil tersenyum.


"Permisi, saya mau makan siang dulu." kata Rima kemudian keluar dari ruangan itu. David pun kemudian mendekat pada Stella, dia lalu menyuapi Stella makan siang. Rima lalu mengintip mereka di balik pintu. 'Hari ini kalian masih bisa tertawa, tapi lihat beberapa hari kemudian hanya akan ada air mata diantara kalian berdua.' gumam Rima dalam hati.


*Satu minggu kemudian*


"Sher, ada apa? kok tiba-tiba banyak perawat lari ke ruang ICU?" tanya Rima yang baru saja berangkat


"Itu Rim, Nyonya Stella kondisinya kritis lagi, sel darah putihnya tiba-tiba naik drastis."


"Oh kasihan sekali." jawab Rima disertai raut wajah sedih.


"Sher, gue lihat kondisi Nyonya Stella ya." kata Rima yang dibalas anggukan oleh Sherly.


Rima lalu bergegas ke ruang ICU kemudian mengintip dari celah pintu, tampak David yang kini begitu frustasi dan beberapa orang dokter yang tampak sibuk menangani Stella.


'Sekarang kita hitung, 1, 2, 3.' gumam Rima, dan di saat itu pula terdengar suara alat elektrokardiograf yang terdengar begitu nyaring.


TIIITTTTTTTTTTT

__ADS_1


'MATI HAHAHA... HAHAHA.' kata Rima dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2