Salah Kamar

Salah Kamar
Sandiwara


__ADS_3

"Kenapa Delia?"


"Aini, Tante Fitri meneleponku."


"Kenapa tidak kau angkat saja?"


"Aku takut, Aini."


"Takut kenapa?"


"Karena dia tidak mengijinkan aku pergi ke Jakarta, tapi aku bersikeras pergi karena aku ingin menemuimu."


"Baiklah, kalau begitu angkat saja telepon itu, nanti aku ikut membantumu berbicara dengan Tante Fitri."


"Benarkah kau mau membantuku?"


"Ya, tentu saja."


"Terimakasih Aini."


Aini pun mengangguk, di saat itulah ponsel Delia kembali berdering.


[Halo Tante Fitri.]


[Halo Delia, kau dimana? Tadi pagi tante pergi ke rumahmu tapi orang tuamu mengatakan jika kau sedang pergi keluar kota, kau sebenarnya ada dimana Delia?]


[Emhhh... Tante, Delia menemui Aini.]


[Menemui Aini? Untuk apa? Tolong jangan kau lakukan itu, bukankah tante sudah mengatakan agar menyuruhmu untuk ikhlas menerima keadaan Dimas untuk saat ini? Biarkan saja dia menanggung perbuatan yang pernah dia lakukan, sudah cukup kita tidak usah membantunya, biar dia rasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Jika kita terus menerus membantunya, dia tidak akan pernah sadar dan terus bersikap kekanak-kanakan, Delia. Dimas sudah dewasa, sudah sepantasnya dia berubah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.]


[Oh iya tante. Delia pergi ke Jakarta karena ingin meminta maaf pada Aini karena saat kejadian itu kami belum pernah bertemu, saat itu Delia mengurung diri di rumah karena malu. Disini ada Aini, jika tante tidak percaya silahkan tante bicara dengan Aini.]


[Oh iya, tante ingin bicara dengan Aini, tante juga ingin minta maaf padanya.]


[Iya tante, apalagi sejak kejadian itu keadaan rahim Aini semakin memburuk. Delia merasa sangat bersalah padanya, dia harus menanggung penderitaan kembali akibat perbuatan Dimas.]


[Astaga, jadi keadaan rahim Aini semakin memburuk?]


[Iya tante.]


[Tolong berikan ponselmu pada Aini, Delia ]


Delia kemudian memberikan ponselnya pada Aini.


[Halo Aini.]


[Iya Tante Fitri.]


Fitri pun diam sejenak, isak tangis pun kini mulai terdengar.


[Tante, apa tante menangis?]

__ADS_1


[Aini, maafkan Dimas. Tolong maafkan Dimas. Dimas telah begitu banyak membuatmu menderita. Tante bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus semua kesalahan yang Dimas perbuat padamu.]


[Sudahlah Tante, ini sudah terjadi. Lagipula Dimas juga sudah menanggung resiko atas perbuatannya.]


[Tidak Aini, ini tidak sebanding dengan akibat yang harus kau tanggung, sedangkan tante hanya bisa minta maaf padamu. Tante memang orang tua yang tidak berguna, tante tidak bisa mendidik anak tante menjadi manusia yang berakhlak baik.]


[Semoga setelah kejadian ini bisa membuat Dimas berubah tante, kehidupan di penjara tidaklah mudah semoga bisa menjadi pelajaran hidup bagi Dimas untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.]


[Iya Aini, semoga saja. Tante hanya bisa memberikan doa terbaik untukmu, semoga kau bisa kembali hamil Aini.]


[Iya Tante, terimakasih banyak.]


Aini lalu memberikan ponselnya pada Delia.


[Delia cepatlah pulang, kau sedang hamil. Tidak baik kau pergi sendirian seperti itu.]


[Iya tante besok Delia pulang.] Jawab Delia kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Rasanya sangat lega bisa kembali berbicara dengan Tante Fitri, hubungan kami dulu tidak terlalu baik karena dia sebenarnya tidak menyetujui hubunganku dan Dimas," ucap Aini pada Delia."


"Syukurlah jika semuanya sudah berubah, Tante Fitri sekarang memang jauh lebih bijaksana. Sejak Dimas masuk penjara dia tidak pernah membela putranya sedikitpun, tidak seperti dulu. Mungkin dia sudah menyadari kesalahan yang pernah dia lakukan saat mendidik Dimas."


"Ya, ayo kita pulang Delia. Beristirahatlah di rumahku."


"Iya Aini."


🍒🍒🍒


"Sudah lama ma?" tanya Firman pada Nurma.


"Lumayan."


"Sayang, bagaimana keadaanmu?"


"Hanya sedikit kram perut, aku sedikit kelelahan."


"Bukankah sudah kubilang agar kau membatasi pasienmu."


"Ya, maafkan aku. Setelah ini aku akan membatasi jumlah pasienku," jawab Vallen kemudian memeluk Firman sambil menangis.


"Kenapa kau menangis?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin menangis saja. Aku hanya sedang membayangkan betapa berat hidupku tanpamu saat menjalani kehamilan seperti ini."


"Vallen!!! Apa kau tidak lihat ada mama!! Kenapa kalian bermesraan seperti ini di depan mama!!"


Vallen kemudian melepaskan pelukannya.


"Maaf, hanya terbawa suasana."


"Sudahlah kau tenang saja apapun yang terjadi mama tetap akan merestui hubungan kalian. Bukankah mama sudah mengatakan itu sejak tadi padamu, kau tidak usah berfikiran buruk lagi pada mama, itu hanya akan berakibat buruk pada kehamilanmu."

__ADS_1


"Apa maksud mama?"


"Firman, tidak ada yang perlu ditutupi lagi diantara kita semua."


"Maksud mama? Mama sudah tahu statusku yang sebenarnya?"


Nurma lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Maafkan kami ma, kami terpaksa melakukan semua itu."


"Tidak apa-apa, mama bisa memahami situasi yang dihadapi kalian, kalian pasti dilema karena takut mama tidak merestui hubungan kalian sedangkan kalian saling mencintai satu sama lain dan tidak bisa terpisahkan kan?"


"Ya, maafkan kami."


"Firman sebenarnya tidak mau menutupi statusnya ma, hanya saja aku dan Kak David yang selalu berusaha menutupinya karena kami takut mama tidak merestui hubungan kami seperti yang dialami oleh Kak Stella dan Kak David dulu," ucap Vallen sambil menundukkan kepalanya.


"Kalian memang benar-benar nakal," jawab Nurma sambil menggelengkan kepalanya.


"Sekali lagi maafkan kami ma."


"Tidak apa-apa, Firman. Ini sudah terjadi, mama juga yakin jika kau adalah jodoh bagi putriku. Mama pulang dulu, mama sudah terlalu lama meninggalkan Stella dan bayinya di rumah, kasihan mereka sendirian karena baby sitternya sedang ijin pulang."


"Iya ma, hati-hati di jalan. Sekali lagi kami minta maaf, terimakasih banyak sudah merestui hubungan kami."


"Iya Firman, jaga baik-baik anak nakal itu."


Vallen pun mendengus kesal mendengar perkataan Nurma.


"Iya ma," jawab Firman sambil tersenyum.


"FIRMAN!!" teriak Vallen saat Nurma sudah keluar dari kamar perawatannya.


"Kemarilah aku ingin memelukmu."


Firman pun mengangguk sambil tersenyum, dia kemudian mendekat ke arah Vallen kemudian memeluknya.


"Kau bahagia?"


"Tentu saja, aku sangat bahagia dan sangat lega. Semua yang kutakutkan sudah berhasil kita lewati."


"Ya, syukurlah mama mau menerimaku."


"Tentu saja, apapun akan kulakukan agar mau merestui hubungan kita," ucap Vallen sambil terkekeh.


'Termasuk berpura-pura mengalami kram perut seperti ini,' gumam Vallen sambil mengingat kejadian di ruangannya saat dia mulai berteriak memegang perutnya dan memberikan kode pada David untuk ikut bersandiwara.


'Karena aku yakin Kak David pasti akan menyuruh Dokter Jeni untuk untuk ikut bersandiwara seperti yang kuinginkan,' gumam Vallen lagi sambil tersenyum.


"Sekarang kita tidak perlu takut apapun karena tidak akan ada yang memisahkan kita."


"Ya, kita tidak akan terpisahkan sampai maut yang memisahkan."

__ADS_1


Vallen pun mengangguk sambil memeluk Firman kian kencang.


__ADS_2