
"Living together? Apa itu living together?" tanya Rima pada Sherly.
"Ya ampun, kamu ga tau living together itu apa Rim?"
Rima lalu menggelengkan kepalanya.
"Astaga Rima, kamu hidup di jaman apa sih? Kudet banget?" gerutu Rima.
"Memangnya living together itu apa Sher?" tanya Rima kembali disertai raut wajah penasaran.
"Rimaaa living together itu artinya hidup bersama tanpa ikatan pernikahan."
"Astaga." kata Rima sambil menutup mulutnya.
"Katanya sih hubungan dia sama kekasihnya itu siapa namanya Rim?"
"Stella."
"Iya Stella itu ga direstui,"
"Oh."
"Kok cuma oh sih? Jadi istri temen kamu yang jadi pacar dokter David itu Stella kan?"
"Iya tapi temenku juga udah cerai sama Stella."
"Trus?"
"Terus apa?"
"Cerita lagi dong."
"Ya gitu, Revan kan juga udah punya istri lagi makanya mungkin dia kembali pada David." jawab Rima sambil meneruskan pekerjaannya.
"Ehemmm... Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya David yang kini sudah berdiri di belakang mereka.
'Mampus.' gumam Rima sambil menelan ludah.
"Sher, dia denger yang kita omongin ga ya?"
"Heh kenapa kalian bisik-bisik?"
"Em.. Eh kami cuma membicarakan beberapa pasien gawat yang baru datang."
"Oh bagus, saya memang mau meminta kalian untuk membantu bagian UGD karena mereka sedikit kewalahan karena banyaknya pasien yang menderita keracunan."
"Oh iya dok."
"Kenapa hanya iya iya saja? Cepat sekarang kalian pergi ke UGD!!!"
"Iya dok." jawab Rima dan Sherly sambil berlari meninggalkan David.
***
"Giselle.. Giselle.."
__ADS_1
"Iya Ma."
"Ini foto pernikahan kalian, story booknya tolong kamu simpan dan ini yang sudah dibingkai tolong kamu suruh Bi Cici untuk memasangnya di lantai atas."
"Di lantai atas?" tanya Giselle sambil mengerutkan kening.
"Iya, memangnya mau ditaruh dimana Giselle?"
"Maaf Ma, bukankah biasanya foto pernikahan di taruh di ruang tamu seperti foto pernikahan Stella dan Revan sebelumnya?"
"Kamu sudah berani membantah saya, Giselle?"
"Emh.. Ngga Ma.. Maaf, Giselle panggilkan Bi Cici dulu."
"Eh sebentar, ada yang ingin Mama tanyakan sama kamu."
"Oh iya, mau tanya apa Ma?"
"Mama ingin tahu dimana sebenarnya kamu dan Revan berkenalan?"
"Kami berkenalan di kantor Revan Ma, saat itu Giselle sedang mengantarkan berkas untuk ditandatangani oleh Revan."
"Berkas? Memang sebelumnya kamu bekerja dimana?"
"Sebelumnya Giselle bekerja sebagai sekretaris Leo Ma."
'Oh jadi dia hanya sebagai sekretaris, dasar miskin.' gumam Santi sambil tersenyum kecut pada Stella.
"Oh jadi kau dulu bekerja di perusahaan milik Leo?" tanya Santi datar.
"Iya Ma."
'Jadi Giselle dulu bekerja di perusahaan Leo? Aku harus mendekati Leo atau Calista untuk menyelidiki kehidupan Giselle dahulu.' gumam Santi saat di dalam mobil sambil memainkan ponselnya untuk mencari tahu kehidupan masa lalu Giselle di akun Facebook miliknya.
"Apa ini? Jadi benar Giselle sudah pernah menikah lima tahun lalu?" kata Santi saat melihat postingan Giselle lima tahun lalu yang mengubah status lajang di media sosialnya berganti dengan status menikah.
"Tapi dengan siapa dia menikah? Tidak disebutkan di sini? Foto pernikahannya pun tidak ada." gerutu Santi.
"Ya Calista, bukankah dia dekat dengan Giselle? Pasti dia tahu dengan siapa Giselle menikah sebelumnya." kata Santi kemudian mengemudikan mobilnya ke rumah Calista.
***
"Bi... Bi Asih, tolong bukakan pintu." teriak Calista.
"Iya Nyonya, sebentar." jawab Bi Asih sambil tergopoh-gopoh berjalan ke arah depan.
"Siapa Bi?" tanya Calista saat Bi Asih masuk ke dalam rumah bersama seorang wanita paruh baya.
"Ini Nyonya, katanya ingin bertemu dengan Nyonya Calista."
"Selamat siang, Calista." kata Santi dengan ramah.
"Oh Tante Santi, silahkan duduk tante." jawab Calista yang kini sedang memberikan susu untuk si kembar.
"Ada apa tante? Kenapa tiba-tiba tante ke sini?"
__ADS_1
"Oh tante tadi hanya lewat saja, terus ingat sama si kembar. Sejak pertama melihat mereka di acara pernikahan Revan dan Giselle, tante selalu teringat wajah mereka yang begitu lucu."
"Ah tante bisa saja. Sebentar lagi juga tante memiliki seorang cucu." jawab Calista sambil tersenyum yang hanya dibalas senyum kecut oleh Santi.
"Tante, Calista tinggal ke atas sebentar ya mau mengganti baju Calista yang terkena tumpahan susu si kembar." kata Calista sambil berjalan ke lantai atas.
"Oh iya Calista."
"Silahkan diminum Nyonya." kata Bi Asih sambil menghidangkan secangkir teh pada Santi.
"Iya Bi, terimakasih."
"Bi, bolehkah saya tanya sesuatu padamu?"
"Tanya apa Nyonya?"
"Sebenarnya sejak kapan Giselle dan Calista menjadi dekat? Bukankah Giselle hanya seorang sekretaris di kantor Leo?"
"Emh.. E... Maaf Nyonya, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu." kata Bi Asih kemudian meninggalkan Santi.
'Brengsek, pembantu sialan!' umpat Santi dalam hati.
"Tante." panggil Calista yang kini sudah berdiri di belakang Santi.
"Oh Calista. Calista maaf sepertinya tante harus pulang sekarang, baru saja Om Farhan menghubungi tante jika dia meminta tante untuk menemaninya medical check up di rumah sakit."
"Oh iya tante."
"Kapan-kapan, tante main ke sini lagi ya Calista sayang."
"Iya tante. Hati-hati di jalan."
"Iya Calista."
'Brensek aku tidak mendapatkan informasi apapun disini!' gumam Santi saat masuk ke dalam mobil.
***
"Stella.. Stellaaaa." panggil David saat masuk ke dalam apartemen miliknya. Namun apartemen tersebut tampak begitu sepi dan tidak ada jawaban apapun.
"Stella." panggil David kembali. Tapi tetap tidak ada jawaban. Dia kemudian berjalan ke arah ruang tengah dan balkon, namun dia juga tidak menemukan Stella.
'Mungkin ada di kamar.' kata David sambil berjalan ke arah kamar yang juga tampak sepi. Dia lalu berjalan ke arah kamar mandi di dalam kamar tersebut.
Dari dalam kamar tampak siluet seseorang ada di dalam kamar mandi, David pun kemudian memanggilnya.
"Stellaaaa." Namun Stella tetap tidak menjawab panggilannya.
"Kau kenapa Stella? Kenapa kau diam saja?" tanya David yang kini berjalan ke arah kamar mandi. Dia lalu membuka pintu kamar mandi tersebut dan begitu terkejut melihat Stella kini pingsan di dalam kamar mandi.
"Stellaaaa!!! Kau kenapa Stella!!!" teriak David begitu panik. Dia lalu membawa tubuh Stella ke atas ranjang. David menangis sambil terus memanggil Stella yang keadaannya kini terlihat begitu memprihatinkan, wajahnya pucat, hidungnya tampak mengeluarkan sedikit darah bahkan terdapat tanda memar di beberapa bagian tubuhnya.
"Astagaaaa... Tidak... Tidak mungkin." teriak David sambil mengusap kasar wajahnya.
'Aku harus segera membawanya ke rumah sakit.' gumam David dalam hati dengan begitu panik. Dia lalu bergegas membopong tubuh Stella ke dalam mobil diiringi air mata yang kini mengalir deras di wajahnya.
__ADS_1