
"Hahahaha, aku cuma bernafas di atas dadamu saja kau sudah kegelian seperti itu, dasar lemah."
"Suatu saat kau tidak akan pernah mengatakan aku lemah jika sudah kutunjukkan kehebatanku, Vallen." jawab Firman dengan tatapan nakal.
"Hahahaha, sudahlah aku mau mandi dulu." kata Vallen sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ya, kau mandi saja dulu sekarang. Setelah kau selesai mandi kita makan makan di luar, akan kuajak jalan-jalan di kota ini."
Vallen pun tersenyum, dia kemudian mendekatkan tubuhnya kembali pada Firman lalu mengalungkan tangannya di leher Firman dan duduk di atas pangkuannya.
"Apakah ini yang disebut dengan kencan?"
"Memangnya harus disebut apa?"
"Mengapa kau balik bertanya padaku? Bukankah dulu saat kita pergi bersama kau tidak pernah mau menyebutnya dengan sebutan kencan."
"Hahahaha, itu karena dulu aku terlalu munafik untuk mengakui perasanku."
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sekarang?"
"Apa kau masih membutuhkan jawaban dariku? Bukankah setiap hari aku selalu mengatakan bagaimana perasaanku padamu."
"Jadi kau tidak mau mengatakannya?"
"Tidak aku lelah harus terus menerus mengatakannya padamu."
Vallen pun kini terlihat begitu kesal.
"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu karena akan kutunjukkan dengan sesuatu."
"Dengan sesuatu? Apa maksudmu?" tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.
"Ini maksudku." jawab Firman kemudian mencium bibir merah Vallen yang ada di depan matanya.
💜💜💜💜💜
Delia keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah Dimas dengan begitu kesal, dia lalu masuk ke dalam kamar Dimas lalu melemparkan barang belanjaannya begitu saja ke sofa yang ada di dalam kamar itu. Dimas yang sedang bermain di atas tempat tidur bersama dengan Shakila pun begitu terkejut melihat tingkah Delia.
"Kau kenapa, Delia? Kenapa kau bersikap seperti itu? Ternyata kau juga kekanak-kanakan sama sepertiku, hahahaha."
"Sebaiknya kau diam saja dan tidak usah ikut mengejekku seperti mereka."
"Mereka? Memangnya siapa yang sudah mengejekmu? Apakah sesuatu telah terjadi padamu?"
"Aku sedang kesal Dimas, kau tidak usah banyak bertanya padaku!"
"Hahahaha bukankah itu kata-kata yang kuucapkan padamu tadi, apakah sesuatu telah terjadi padamu?" tanya Dimas kemudian bangkit dari atas tempat tidur lalu mendekat ke arah Delia. Dimas lalu duduk di sofa di samping Delia, dia kemudian memandang wajah Delia yang masih terlihat begitu kesal. Netranya pun tertuju pada pipi Delia yang kini terlihat memerah.
"Delia, kenapa pipimu sedikit memar? Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu? Lalu, penampilanmu kenapa juga terlihat berantakan?" kata Dimas sambil mengerutkan keningnya.
"Itu bukan urusanmu!" gerutu Delia sambil melirik Dimas dengan tatapan sinis.
"Hahahaha... Hahahaha..."
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa?"
"Delia, sekarang katakan yang sebenarnya padaku. Kau bertemu dengan mereka kan?"
"Tidak." jawab Delia dengan ketus.
"Lalu kenapa pipimu memar seperti itu? Bukankah setahuku kau tidak memiliki musuh di desa ini. Hahahaha."
Delia pun hanya bisa mendengus kesal mendengar tawa dari Dimas.
"Apa kau tidak bisa mengehentikan tawamu?"
"Tidak sebelum kau mengatakan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu."
"Apa itu begitu penting untukmu, sehingga kau harus tahu semua yang terjadi dalam hidupku?"
"Delia apa kau tidak sadar tadi kau juga tadi bertindak seperti itu padaku? Kau juga selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku?"
"Baik anggap saja kita seri."
"Jadi kau sudah mengakuinya jika mereka lah yang melakukan semua ini padamu?"
"Tidak, bukan mereka tapi Vallen."
"Apa? Jadi Vallen yang melakukan semua ini sendirian? Hahahaha... Hahahaha.."
"Bukankah sudah kubilang agar kau tidak usah menertawakanku karena kau juga mengalaminya tadi siang? Tapi sebenarnya yang kualami jauh lebih memalukan karena selain ditampar dan dianiaya oleh Vallen, ibu-ibu yang ada di minimarket itu pun ikut mengolok-olokku. Sungguh sangat memalukan." gerutu Delia sambil meremas bantal yang dipegangnya.
"Hahahaha jadi selain dianiaya oleh Vallen kau juga mendapat olokan dari orang-orang? Kau konyol sekali, Delia."
"Tapi aku tidak menyangka jika wanita secantik Vallen juga bisa berbuat seperti itu. Wow, dia pasti wanita yang sangat menyenangkan jika di atas ranjang." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.
"Dimas, kau pasti memiliki fantasi yang tidak-tidak, dasar otak me**m!"
"Hahahaha, Delia coba kau pikir laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita seperti Vallen?"
"Aku tidak mau membicarakan itu, jangan pernah kau membicarakan pikiran me**mmu denganku!"
"Apa kau cemburu?" tanya Dimas sambil tersenyum dan mencolek dagu Delia.
"Tidak ada gunanya aku cemburu pada laki-laki seperti dirimu!"
"Hahahaha... Hahahaha."
"Jika kau terus meledekku lebih baik aku pulang saja!"
Delia lalu bangun dari sofa dan bersiap merapihkan barang-barang Shakila. Namun Dimas mencekal tangannya.
"Tunggu Delia, lebih baik malam ini kau menginap di sini saja!"
"Apa kau bilang? Apa kau mau mewujudkan pikiran me*ummu itu padaku!"
"Jangan terlalu percaya diri, Delia. Untuk saat ini aku belum pernah tertarik padamu."
__ADS_1
"Lalu apa maksudmu menyuruhku menginap di sini!"
Dimas pun tersenyum.
"Apa kau mau bekerjasama denganku lagi? Sama seperti dulu."
"Bekerjasama seperti dulu?"
"Ya, bekerjasama seperti dulu? Bukankah kau ingin memiliki Firman kembali? Aku pun juga sama denganmu, aku sangat menginginkan Vallen untuk menjadi milikku."
"Apa maksudmu Dimas? Apakah kita akan menjebak mereka sama seperti saat kita menjebak Firman?"
Mendengar perkataan Delia, Dimas pun tersenyum menyeringai.
💜💜💜💜💜
"Dimas, ini sudah mulai gerimis. Kenapa kita tidak naik mobilmu saja?"
"Dasar bodoh, kalau kita naik mobil akan mengundang perhatian warga, semua orang tahu mobilku, itu hanya akan menyulitkanku untuk membuat alibi, apa kau mengerti?"
"Ya."
"Jangan lupa, saat bertemu dengan mereka kau harus bersikap seramah mungkin, raut wajahmu harus menunjukkan penyesalan pada mereka."
"Iya, kau tenang saja aku mengerti."
"Ini sudah sampai, cepat kau turun dan pastikan mereka memakan makanan pemberian dari kita."
"Iya, aku tahu itu. Memangnya apa yang kau sudah campurkan pada makanan ini? Apakah obat perangsang lagi sama saat seperti dulu yang kau lakukan pada Firman?"
"Tidak, aku tidak mencampurkan obat perangsang. Aku sudah pernah melakukannya pada Firman dulu, jika aku melakukan ini lagi hanya akan menjadi bumerang bagi kita karena dia sudah tahu strategiku, jika dia curiga dia akan meminta tes laboratorium dan hanya akan merugikan kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia saja."
"Lalu apa yang kau campurkan dalam makanan ini?"
"Delia, lebih baik kau tidak usah bertanya. Kau hanya cukup mengantarkan makanan ini pada mereka dan memastikan mereka memakannya, setelah itu aku akan melakukan tugasku. Apa kau mengerti!"
"Iya, aku mengerti."
"Sebaiknya kau cepat masuk ke dalam dan temui mereka, lebih cepat itu lebih baik, Delia."
"Iya." jawab Delia kemudian masuk menuju ke rumah Firman.
Beberapa kali Delia mengetuk pintu rumah itu, namun cukup lama tidak ada jawaban. Dia akhirnya keluar dan menemui Dimas kembali yang masih menunggunya di atas motor yang terparkir agak jauh dari rumah Firman.
"Dimas, rumahnya sepi. Lampu di dalam rumahnya pun tidak ada yang menyala."
"Apa mungkin mereka sedang pergi?"
"Mungkin saja, lalu kita harus bagaimana?"
"Kita tunggu di sana saja sampai mereka pulang." kata Dimas sambil menunjuk sebuah pos kamling.
"Tapi sepertinya hujan akan turun, apa sebaiknya kita pulang saja?"
__ADS_1
"Tidak Delia, kita akan menunggunya di sini."