Salah Kamar

Salah Kamar
Posisi Sulit


__ADS_3

"Apakah jenazah Ilham sudah diberangkatkan?" tanya Olivia.


"Sebentar lagi." jawab Kenan.


Olivia lalu berjalan mendekat pada Rima. "Apakah kau sudah melihat jenazah suamimu?" tanya Olivia.


"Tidak, aku belum melihatnya."


"Kenapa?" tanya Olivia sambil mengerutkan keningnya.


"Aku bisa melihatnya nanti sepanjang perjalanan pulang."


"Apa maksudmu Rima?"


"Dia ingin pulang ke Jogja." jawab Calista.


"Kenapa? Kenapa kau harus pulang ke Jogja? Apakah kau rindu ayahmu?"


Rima pun hanya terdiam.


"Rima, tahukah kau jika Drey sangat kehilanganmu?"


Rima kemudian memandang Olivia. "Apa maksudmu Kak?"


"Ya, saat kau mengucapkan selamat tinggal padanya dia begitu ketakutan dan memintaku untuk menemuimu di sini."


"Kau tidak usah berbohong, Kak Olive. Dia masih mencintaimu."


"Hahahaha."


"Kau kenapa tertawa?"


"Kenapa kau masih mengaitkan masa lalu Drey, Rima. Kau tidak perlu cemburu pada masa lalu Drey, setiap orang memiliki masa lalu, Drey memang dulu pernah mencintaiku tapi bukan berarti dia sekarang masih mencintaiku. Drey bukanlah orang bodoh yang masih mengharapkan cinta dari wanita yang sudah bersuami."


Olivia lalu mendekat pada Rima kemudian bersimpuh di depan kursi rodanya sambil menggenggam tangan Rima.


"Percaya padaku Rima, kau pasti bisa hidup bahagia dengan Drey." kata Olivia sambil menganggukkan kepalanya.


"Kau mau kan kembali padanya?" tanya Olivia.


Perlahan Rima pun mengangguk.


"Ya." jawab Rima lirih.


"Sudah, jangan menangis. Setelah melihat jenazah Ilham, ayo kita kembali ke rumah sakit."


"Iya."


Seorang polisi pun mendekat pada mereka. "Maaf, apa kalian keluarga Ilham?"


"Ya, kami keluarganya." jawab Leo.


"Silahkan ikut saya untuk melihat jenazah Ilham yang terakhir kalinya sebelum dia diberangkatkan ke kampung halamannya." kata polisi tersebut.


Mereka semua pun mengikuti polisi tersebut ke tempat jenazah Ilham.

__ADS_1


Kenan lalu menarik tangan Olivia. "Syukurlah kau datang, Olive. Jika tidak mungkin dia sudah ikut pergi ke kampung halamannya."


"Aku tidak akan membiarkan Rima dan Drey berpisah, Kenan. Aku tahu sebenarnya Drey mencintai Rima, tapi dia tidak pernah menyadarinya. Dia juga tidak bisa menunjukkan rasa cintanya, itu yang membuat Rima ragu."


"Kau benar Olive."


🍀🍀🍀🍀


"Apakah aku benar-benar mencintai Rima? Bukankah selama ini aku hanya ingin melindunginya karena dimataku dia wanita yang begitu rapuh." kata Drey sambil mengerutkan keningnya.


"Tapi kenapa terkadang aku masih memikirkan Olivia?" kata Drey lagi sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Ah sudahlah, aku pasrah jika dia tidak mau kembali padaku." kata Drey kemudian memejamkan matanya.


CEKLEK


Tiba-tiba kamar perawatan Drey pun terbuka. Seketika raut wajah Drey pun berubah saat melihat Rima yang masuk ke dalam ruangan itu didorong oleh Calista.


"Rima." teriak Drey dengan mata berbinar.


Rima pun kemudian tersenyum. Calista lalu mendorong Rima sampai di ranjang perawatan Rima di samping ranjang perawatan Drey.


"Terimakasih, terimaksih kau mau kembali lagi."


"Iya, dimana mama?" tanya Rima.


"Oh dia sedang pulang sebentar untuk mengambil pakaian untukku."


EHEM EHEM EHEM


"Sepertinya kami harus pulang, anak-anak kami sudah menunggu kami di rumah." kata Leo sambil meringis.


"Iya Leo, Kenan, terimakasih." jawab Drey.


Mereka kemudian mendekat pada Rima dan Drey.


"Jaga diri kalian baik-baik ya, kami pulang dulu." kata Calista dan Olivia sambil bergantian memeluk Rima.


"Iya Kak."


"Drey, tolong jaga Rima." kata Olivia.


"Iya Olive." jawab Drey. Melihat senyum Olivia, sebuah getaran pun kembali datang di hatinya.


'Astaga, tidak boleh. Rasa ini tidak boleh hadir lagi.' gumam Drey dalam hati, Rima pun mengamati tingkah Drey yang terlihat salah tingkah saat berbicara dengan Olivia. Mereka pun kemudian pergi dari ruangan itu meninggalkan Drey dan Rima.


"Rima, maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Maafkan aku karena membuatmu dalam posisi sulit seperti ini."


"Kau sudah berulangkali mengatakan itu."


Drey pun kemudian tersenyum. 'Maafkan aku Rima, aku tahu di dalam hatimu yang paling dalam kau masih belum bisa melupakan Ilham.' kata Drey dalam hati.

__ADS_1


'Tuhan, aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya padaku, tapi entah mengapa aku masih selalu beranggapan jika kau masih mencintai Olivia.' gumam Rima dalam hati sambil melirik pada Drey.


🍀🍀🍀🍀


"Bagaimana menurut kalian hubungan mereka kedepan?" tanya Calista saat di dalam mobil saat perjalanan pulang.


"Entahlah, aku sebenarnya tidak yakin Kak, Drey adalah orang yang sangat sulit mengungkapkan rasa cintanya, sedangkan Rima sedikit mengalami trauma dengan semua kisah cintanya terdahulu. Rima juga begitu sensitif Kak."


"Iya Olive kau benar, Rima memang sangat sensitif. Bahkan aku tadi melihatnya masih mengamati gerak-gerik Drey saat kau berbicara dengannya."


"Astaga." kata Olivia sambil memijit keningnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?


"Mungkin kalian harus membantunya." kata Kenan.


"Kami?" tanya Leo.


"Ya, siapa lagi. Bukankah kau dulu adalah seorang buaya darat, kau pasti bisa membantu Drey, Leo. Kau pasti memiliki berbagai banyak cara untuk menaklukkan hati wanita." jawab Kenan yang membuat Calista dan Olivia pun tertawa.


"Sepertinya itu ide yang bagus Kenan. Hahahaha." kata Calista sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kalian mau mengerjaiku." gerutu Leo.


🍀🍀🍀🍀


Dua jam lamanya Rima dan Drey berada di dalam satu ruangan, tapi mereka hanya terdiam dan tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Drey melirik pada Rima yang masih termenung.


'Apakah dia begitu sedih karena tidak bisa mengantarkan jenazah Ilham sampai ke kampung halamannya.' kata Drey dalam hati.


'Mungkin sebenarnya Drey merasa tersiksa saat bersamaku. Aku tahu dia melakukan semua ini untuk menjaga perasaan mamanya.' gumam Rima.


CEKLEK


Tiba-tiba pintu ruang perawatan tersebut pun terbuka. Risma pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Rima, kau sudah ada di sini?" kata Risma dengan raut wajah bahagia.


"Iya ma."


"Lalu mana teman-temanmu?"


"Mereka sudah pulang, mereka pulang untuk mengurus anak-anak mereka." jawab Rima.


"Oh jadi mereka sudah punya anak?"


"Ya, mereka masing-masing memiliki dua orang anak."


"Wowwww bagus sekali, pasti sangat menyenangkan sudah memiliki dua orang anak. Kalian juga harus seperti mereka ya, kalian harus bisa secepatnya memberikan cucu pada mama." kata Risma sambil terkekeh.


"Mama, Rima kan baru saja mengalami keguguran. Kenapa mama sudah berkata seperti itu." gerutu Drey.


"Drey, mama hanya memberi semangat untuk kalian berdua. Tidak apa-apa kan Rima?"


"Tidak apa-apa ma."

__ADS_1


"Hei Drey, mama sudah membawa pakaian ganti untukmu. Rima, tolong kau bantu Drey mengganti pakaiannya ya. Tolong kau ganti baju dan celana yang Drey kenakan. Lihat itu pakaiannya begitu kotor dan banyak bercak darah." kata Risma sambil mengeluarkan pakaian Drey dari dalam tas.


'Mengganti pakaian, Drey?' kata Rima dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.


__ADS_2