Salah Kamar

Salah Kamar
#30 Rena atau Aku?


__ADS_3

Sebuah berita dirilis untuk menutupi kekacauan yang disebabkan oleh Lia. Memang tak langsung dipercaya. Namun, setidaknya ada beberapa orang yang akhirnya memilih untuk menerima berita itu. Bahkan, sebagian besar malah mulai menyerang Lia dengan alasan merusak nama baik Wira. Wira memang selalu disebut-sebut akan jadi penerus selanjutnya perusahaan keluarga Pratama. Mungkin karena pria itu lebih sering tertangkap kamera. Sementara, Bram lebih memilih untuk hidup tenang tanpa bayang-bayang popularitas.


Bram menghela napas. Meski tak langsung selesai semua masalahnya, dia tetap lega karena sedikitnya dia bisa memperbaiki skandal yang diciptakan oleh Wira dan Lia. Dia heran mengapa mereka membuat kekacauan atas perbuatan mereka sendiri.


Bram tersenyum sembari menatap langit malam yang begitu cerah. Dia bahkan bisa melihat taburan bintang di sana. Namun, senyumnya pudar saat tiba-tiba Kinan merebut gelas yang ada di tangannya.


"Baru sembuh demam. Gak usah aneh-aneh." Kinan meneguk es jeruk yang tadi akan dinikmati suaminya. Bahkan, Bram sampai menelan ludah sendiri saat Kinan menghabiskan es jeruk itu. Padahal dia sudah membayangkan seberapa segar minuman itu melewati tenggorokannya. Dia juga merasa es jeruk itu akan sedikit mendinginkan kepalanya yang terasa cukup panas karena ulah Lia dan Wira.


"Gimana kerjaan kamu?"


"Yang acara itu diundur. Katanya pihak laki-laki lagi ngobrolin ulang. Soalnya pihak laki-lakinya dapet tawaran untuk lanjutin studi," jelas Kinan sembari mengikat rambutnya. Dia baru ingat belum memotong lagi rambutnya. Memiliki rambut yang mudah panjang, membuatnya merasa agak terganggu. Apalagi, pekerjaannya menuntut untuk bergerak ke sana ke mari.


"Minggu depan ada undangan ulang tahun perusahaan temen mas. Kamu ikut ya." Bram melingkarkan tangannya di pinggang Kinan kemudian meletakan dagunya di bahu sang istri. Dia merasa nyaman saat aroma sabun mandi yang biasa digunakan Kinan, terhirup. Dia merasa lebih tenang meski barusan kepalanya terasa begitu berisik.


Bram merasa benar-benar menemukan rumah pada diri Kinan. Memang mereka baru mengenal satu sama lain dalam waktu singkat. Namun, Bram akan menganggap jika mereka telah saling mencintai dalam waktu lama.


Bram tak menyangka perasaannya akan tumbuh kembali melalui kontrak yang dia tanda tangani dengan Kinan 2 bulan lalu. Dia pikir akan bisa menjalani kontrak itu tanpa perasaan apa pun termasuk untuk memberikan keturunan pada sang oma juga mama Kinan. Namun, semuanya berakhir tak terduga.


...***...


Cahaya matahari sudah menyapa melalui sela tirai yang terbuka. Namun, sepasang manusia yang sedang saling menghangati dengan berbagi pelukan itu seakan tak terganggu oleh apa pun. Mereka masih asyik memejamkan mata. Alih-alih segera bangun.


Seperti biasa, mereka akan menjadi orang yang terlambat sarapan karena bangun siang. Namun, mereka sama sekali tak keberatan karena bonusnya, mereka bisa sarapan hanya berdua. Terasa lebih romantis 'kan?


Kinan segera membuka mata saat sebuah ciuman mendarat di dahinya. Dia kemudian tersenyum menutupi perasaan salah tingkah tiap otaknya menggambarkan adegan-adegan manis yang terjadi diantara mereka.

__ADS_1


Kinan merasa sang mama benar. Dengan menikah dia bisa merasakan bahagia yang sebelumnya tak dia rasa. Bahkan, sekarang bukan hanya sang mama yang menunggu kehadiran bayi, tapi dirinya juga. Dia merasa mungkin bayi itu bisa menjadi pengikat antara dirinya dan Bram. Namun, satu sisi dia takut bayi itu merasakan apa yang dia rasakan.


"Nan, bonusnya?" Bram segera mengaduh saat Kinan menyentil pelan dahinya. "Ish, sakit tau."


"Gak ada bonus-bonusan. Ini udah siang, mas."


Bram terkekeh kemudian semakin mengeratkan pelukannya. "Sehari aja kayak gini, nan."


"Gak enak, mas. Kinan harus nyari vendor-vendor baru karena yang sebelumnya pada mundur."


Bram mencebik. Apa dia tidak boleh menghabiskan waktu dengan sang istri seperti ini? Dia bahkan sampai memikirkan bulan madu lain agar Kinan tak memikirkan soal pekerjaannya untuk sebentar saja. Namun, dia tahu itu hanya akan membuatnya egois.


"Titip Aldo aja. Mas juga titipin perusahaan ke Raka."


Kinan tertawa mendengarnya. Apa perusahaan seperti sebuah barang yang bisa dititipkan seperti itu?


"Kinan kan udah bilang, jangan punya bayi sekarang. Nanti aja ya," ujar Kinan yang tentu membuat Bram terdiam. "Bukan karena Kinan gak mau. Tapi ada jaminan mas gak akan pergi?"


Bram tersenyum. "Enggak dong."


"Termasuk kalo misalkan Rena tiba-tiba muncul lagi?"


Bram tak langsung menjawab. Dia memilih untuk diam. Dia merasa takut jika yang dia katakan hari ini akan jadi bumerang. Dia mencintai Kinan. Namun, ada satu ruang dalam hatinya yang dikhususkan untuk Rena. Kinan dan Rena sama-sama punya peran penting dalam hidupnya. Kedua wanita itu sama-sama mengembalikan rasa yang pernah mati dalam dirinya.


Bram melepas pelukan itu. Dia memilih melangkah menuju kamar mandi alih-alih langsung menjawab pertanyaan Kinan yang bisa dibilang sederhana. Namun, bagi Bram sama sekali tak sederhana. Itu pertanyaan kompleks yang bisa membuatnya berada posisi yang serba salah nantinya.

__ADS_1


Mendapat tanggapan seperti itu, Kinan hanya diam menahan kecewa. Bahkan setelah kedekatan hubungannya dengan Bram, Rena masih ada dalam bayangan sang suami? Dia merasa sangat rendah dan berpikir Bram hanya menggunakannya untuk kepuasan batin.


Gapapa, Nan, dari awal emang posisi kamu masih belum jelas, batin Kinan. Dia berharap Rena takkan muncul lagi karena dia tahu, jika Rena kembali, Bram akan memilih pergi.


Bak alur dalam novel pernikahan yang dia baca, dia merasa perannya di sini adalah sebagai selingkuhan meski statusnya adalah resmi sebagai seorang istri. Namun, dia tetap harus menerimanya dna berharap perlahan hati Bram dipenuhi oleh dirinya. Belum lagi dia sedikit was-was karena ancaman dari Lia.


...***...


Meja makan itu terasa dingin. Bram dan Kinan sama-sama fokus pada makanan alih-alih mengobrol seperti biasa. Bram yang merasa bersalah karena tak bisa menjawab dan Kinan yang merasa kecewa atas respon suaminya. Keduanya benar-benar diam sejak bergabung untuk sarapan.


"Yang penganten baru siapa, yang bangun kesiangan siapa. Harusnya menantu tuh bangun pagi, masak, terus urusin suaminya. "


Sindiran itu cukup membuat Bram kesal. Ini kali pertama mereka bisa sarapan bersama karena Wira dan sang ibu sambung kembali ke rumah itu bersama Lia. Namun, Sarah sudah lebih dulu memancing kemarahan Bram. Bahkan, Bram membuat semuanya terkejut dengan meletakan sendok sekeras mungkin.


"Oma, Bram sama Kinan duluan ya. Ada sedikit keperluan."


Kinan awalnya memang terkejut. Namun, dia tetap ikut saat Bram menarik tangannya. Dia tentu bisa merasakan dengan jelas kemarahan Bram. Apalagi, genggaman tangannya terasa cukup sakit.


"Lanjut sarapan di jalan yuk. Kinan tau tukang lontong sayur yang enak."


"Saya gak suka yang gitu."


"Kinan bisa jamin mas bakalan suka. Yuk, daripada cuma sarapan dikit. Kinan yang traktir."


Bram tersenyum. Kemarahan yang tadi sempat menguasainya, kini luluh saat melihat senyum Kinan.

__ADS_1


"Nah gitu dong senyum kan jadi lebih ganteng."


...****************...


__ADS_2