Salah Kamar

Salah Kamar
Mawar Merah Jambu


__ADS_3

❣️Satu Bulan Kemudian ❣️


"Ini sungguh perkembangan yang bagus Aini, jaringan yang rusak pada sel telurmu mulai berganti dengan jaringan baru. Aku tidak menyangka perkembangannya akan secepat ini." kata Vallen saat sedang mengamati layar USG yang menggambarkan keadaan rahim Aini.


Aini pun menatap Roy yang kini juga tersenyum sambil membelai rambut Aini.


"Ini semua karena anda Dokter Vallen."


"Tidak, ini juga karena usaha dan kerja keras kalian berdua. Sudah selesai, ayo kita ke depan." kata Vallen sambil menutup perut Aini. Mereka lalu berjalan menuju ke meja Vallen.


Vallen pun begitu terkejut saat melihat sebuket bunga mawar merah jambu sudah di atas meja kerjanya.


"Pasti dari dia lagi." gerutu Vallen.


"Hani, bukankah sudah kubilang jika dia mengirimkan bunga lagi lebih baik kau buang saja." kata Vallen pada salah seorang perawat yang menjadi asistennya.


"Dokter Vallen, sudah satu bulan ini setiap hari saya terus menerus membuang bunga seperti ini, sayang sekali jika dibuang terus menerus Dok." kata Hani.


"Kau ini sudah berani menolak perintahku." gerutu Vallen.


"Cepat buang bunga itu, Hani." kata Vallen sambil menatap tajam ke arah Hani.


"Baik."


Roy dan Aini pun saling berpandangan.


"Dokter Vallen, sayang sekali bunga secantik itu kau buang begitu saja."


Vallen pun tersenyum.


"Aku tidak menginginkannya." kata Vallen sambil meringis.


"Bagaimana jika bunga itu untukku saja?" tanya Aini.


"Untukmu? Tapi bunga itu bukan pemberian suamimu Aini."


Aini lalu menatap Roy.


"Bagaimana mas? Aku boleh membawa pulang bunga itu kan?" tanya Aini pada Roy.


"Kau menyukainya?"


Aini pun mengangguk.


"Jika kau menyukainya kau boleh membawa pulang bunga itu, bukankah kau juga sangat menyukai bunga mawar."


"Dokter Vallen, suamiku memperbolehkanku membawa bunga itu. Bolehkah aku membawa pulang bunga milikmu?"


Vallen pun tersenyum.


"Tentu saja Aini, kau boleh membawa pulang bunga itu."

__ADS_1


"Terimakasih."


"Dokter Vallen, memangnya siapa yang sudah mengirimi bunga? Tadi asisten anda mengatakan laki-laki itu mengirimkan bunga setiap hari untuk anda." tanya Roy pada Vallen.


"Dia sebenarnya kekasih Dokter Vallen, hanya saja Dokter Vallen sedang marah padanya." jawab Hani sambil terkekeh.


"Hani, sebaiknya tidak usah ikut campur. Dia bukan kekasihku."


"Maaf." jawab Hani kemudian tersenyum dan menutup mulutnya.


"Sepertinya dia laki-laki yang baik dan romantis, Dokter Vallen. Dia sampai mengirim bunga untukmu setiap hari?"


"Tidak Aini, dia sangat menyebalkan. Dia laki-laki paling sombong yang pernah kukenal." gerutu Vallen sambil menuliskan resep untuk Aini.


"Dokter Vallen, jika kau ada masalah dengannya lebih baik cepat kalian selesaikan, apalagi jika kau masih mencintainya, jangan sampai egomu membuatmu menyesal suatu saat nanti saat dia sudah pergi menjauh darimu."


"Tidak Roy, aku tidak mau memaafkan laki-laki sombong seperti dirinya." kata Vallen sambil tersenyum kecut.


"Jangan bohongi perasaan anda Dokter Vallen, dari nada bicaramu saja, kau terlihat masih sangat mencintainya." kata Roy sambil terkekeh.


"Oh ya kau benar Mas, aku juga pernah melihat Dokter Vallen berpelukan dengan lelaki itu di halaman parkir rumah sakit." kata Aini menimpali.


Vallen pun menjadi salah tingkah.


"Benar Tuan Roy, Nyonya Aini saya sendiri sering melihat Dokter Vallen sering menatap foto laki-laki itu, bahkan dulu saya pernah tidak sengaja melihat mereka berciuman." kata Hani dengan polosnya yang membuat semua orang di ruangan itu menatap dirinya.


Wajah Vallen pun memerah menahan malu, dia kemudian menatap Hani sambil memelototkan matanya.


"Maaf Dok." kata Hani sambil menelan ludahnya dengan kasar disertai raut wajah yang kini mulai terlihat pucat.


Aini dan Roy lalu saling tersenyum sambil bertatapan.


"Dokter Vallen, kami permisi pamit pulang dulu." kata Aini sambil tersenyum.


"Iya, maafkan kami atas kegaduhan ini." kata Vallen sambil meringis.


"Tidak apa-apa dokter, kami bisa memahami itu. Dokter Vallen, lebih baik kau memaafkan dan kembali pada laki-laki itu, sepertinya dia laki-laki yang sangat baik dan sangat mencintai anda. Meskipun anda selalu membuang bunga pemberian darinya, dia sepertinya tidak pernah menyerah sedikitpun."


"Benar apa yang dikatakan istriku Dokter Vallen, pikirkan baik-baik. Kami permisi pulang dulu. Selamat sore." kata Roy. Mereka lalu keluar dari ruangan tersebut sambil membawa sebuket bunga mawar merah jambu di tangan Aini.


"Selamat sore, hati-hati di jalan." jawab Vallen sambil tersenyum.


Hani pun mengendap-endap meninggalkan ruangan milik Vallen.


"Dokter, ini sudah sore. Saya juga permisi pulang." kata Hani saat di ambang pintu, kemudian berlari meninggalkan ruangan Vallen.


"HANIIIIIII!!" teriak Vallen.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Aini dan Roy sedang berjalan di area parkir rumah sakit menuju ke mobil mereka. Tiba-tiba mata Aini tertuju pada sebuah sepeda motor sport yang terparkir di belakang mobil mereka.

__ADS_1


"Sepertinya aku mengenal sepeda motor ini." kata Aini sambil mengamati sepeda motor tersebut.


"Aini, ada apa?" tanya Roy yang heran melihat Aini termenung sambil mengamati sebuah sepeda motor yang terparkir di belakang mobil miliknya.


"Oh tidak apa-apa."


"Ayo kita pulang sekarang."


"Iya." jawab Aini sambil masuk ke dalam mobil disertai perasaan yang begitu tak menentu.


'Sepeda motor itu, seperti milik Mas Firman. Bahkan plat nomornya pun bukan plat Jakarta, tapi plat Jogja.' gumam Aini sambil mengigit bibir bawahnya.


'Apa jangan-jangan Mas Firman sekarang ada di Jakarta? Ah sudahlah, aku sudah tidak mencintainya, untuk apa aku memikirkannya. Dia berhak pergi kemanapun yang dia inginkan, mungkin dia ingin melupakan semua masa lalunya. Mas Firman, semoga kau bisa hidup bahagia dan menemukan cinta sejatimu.' gumam Aini, kemudian menatap Roy yang sedang mengendarai mobil di sampingnya.


Aini lalu mendekatkan wajahnya pada Roy.


"Mas, aku cinta kamu." bisik Aini yang membuat Roy tersenyum.


"Kau kenapa Aini?"


"Tidak apa-apa." jawab Aini kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Roy yang masih mengendarai mobilnya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Vallen keluar dari ruangannya dengan begitu tergesa-gesa. Dia kemudian bergegas menuju ke area parkir lalu berjalan ke arah mobilnya. Namun saat sedang membuka pintu mobil, tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan pintu mobil tersebut.


'Astaga, ini pasti dia.' gumam Vallen.


"Vallen." panggil sebuah suara di belakangnya.


Vallen kemudian membalikkan tubuhnya.


"Kau mau apa lagi?"


"Apa kau juga belum bisa memaafkan aku?"


"Bukankah sudah kubilang aku tidak akan memaafkanmu."


"Vallen, kumohon. Aku tidak meminta lebih padamu, aku hanya ingin kau memaafkan aku, itu saja."


"Tidak karena aku sangat membencimu, aku juga begitu terganggu dengan semua yang kau lakukan padaku! Aku sudah sangat terganggu dengan semua sikap dan pemberianmu!!"


"Jadi kau sudah sangat terganggu dengan kehadiranku?"


"Iya, aku sangat terganggu denganmu. Aku benci kamu, Firman!!!" teriak Vallen sambil menatap Firman dengan tatapan begitu tajam. Firman pun mendekat ke arah Vallen.


"Baik, mulai saat ini aku tidak akan pernah menggangumu lagi Vallen. Aku juga tidak akan pernah menemuimu lagi jika itu membuatmu tidak nyaman. Selamat tinggal." kata Firman kemudian pergi berjalan menjauhi Vallen.


"Aku akan menjauhimu Vallen, aku akan pergi dari hidupmu, dan aku tidak akan menggangu kehidupanmu lagi tapi selama kau belum menjadi milik orang lain, aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu."


Vallen pun menatap kepergian Firman sambil menangis.

__ADS_1


'Firman.'


__ADS_2