
Samar-samar masih ku dengar suara Aldo yang terkikik saat mendengar umpatanku padanya, namun pada akhirnya suaranya pun hilang bersamaan dengan pintu yang akhirnya ku tatap rapat.
Kudaratkan tubuhku di kursi meja rias Istriku, rasa kantuk dan capek hilang seketika. Ditambah melihat kondisi ranjangku yang kini terlihat amburadul macam bekas jajahan Belanda ulah si Kutu Kupret tadi. Tak ada sedikitpun hasratku untuk naik kepembaringanku disana.
Ku rogoh kantong celanaku. Ku ambil ponsel yang entah sudah berapa jam tak terjamah. Kesibukan ku hari ini benar-benar membuatku melupakan segalanya. Terlihat ada beberapa notifikasi muncul disana, 5 panggilan tak terjawab dan 4 pesan WhatsApp. Mode silent membuat aku tak tau tentang aktifitas ponselku. 'My Wife' begitu nama si pemilik panggilan tak terjawab serta pesan WhatsApp itu. Dan ada 2 lagi pesan WhatsApp dari rekan kerjaku yang tentunya tak penting aku bahas di sini.
12.02
(Sempatkan Dzhuhur Mas, trus makan siang ya 'emot kiss love') Aku tersenyum. Istriku memang selalu aktif mengirimkan chat saat-saat jam istirahat.
13.00
Terlihat dua kali istriku menelfonku
15.30
(Uy Mas kuh! Sibuk banget yak? Sampe-sampe ga ada kabar? 'Emot wajah murung') Baca pesan keduanya ada sedikit rasa bersalah bergelayut dihatiku.
15.33
(Emh, ya udah deh kalo sibuk. Yang penting Sholat Azharnya dijaga)
16.00
Tiga panggilan tak terjawab dari istriku lagi.
16.15
(Mas, aku ke rumah Ibu. Besok baru pulang. Kalo sempat Mas susul aku ya! Kangen banget nih! 'Emot ciuman bertubi-tubi') hmmm. Kalo ini sepertinya kode keras minta di tembak enak. Hehe! Seandainya pesan ini sempat kubaca mungkin pukulan tapak naga geni dan jurus tendangan seribu bayanganku tak kan mungkin mendarat di Tubuh Aldo.
Malam kian larut. Membaca pesan terakhirnya membuat pikiranku kembali menerawang jauh, wanita sempurna itu seolah-olah memanggil aku untuk secepatnya datang menemuinya untuk dicumbu. Akh, benar-benar aku merindukan wanita ini. Ditambah lagi suara gedebak-gedabuk dan cekikak-cekikik yang samar-samar terdengar dari kamar sebelah membuat naluri lelakiku sontak berontak. Sabar Rey! Sabarrrrr.... Eh, tapi ngomong-ngomong si aldo ini sedang melepas rindu atau lagi tanding judo sih? Ribut amat yak.
******
Kala itu...
__ADS_1
Selesai makan malam, Ayah mengajak aku membicarakan hal yang serius. Dan malam itu telah berkumpul Ayah, Ibu, Meta Adikku, dan Ferdy Sepupuku yang memang kebetulan ikut bermalam dirumahku.
"Rey, kamu masih ingat Om Doni sahabat ayah yang kini tinggal di Surabaya?" tanya Ayah membuka percakapan.
"Om Doni yang ganteng kayak Artis Indro Warkob itu kah Yah? Yang kumisnya lebat mirip Pak RT?" tanyaku mengingat-ingat.
"Ya, betul sekali." jawab Ayahku.
"Kenapa dengan Om Indro yah?? Eh, Om Doni maksudnya?" tanyaku penasaran.
"Emh, jadi gini Rey! Ayah bermaksud menjodohkan kamu dengan Anita. Putri satu-satunya Om Doni.... " sesaat Ayah terdiam. Mencoba melihat reaksiku. Dan aku diam, tak ada reaksi, tak tau harus jawab apa. Disatu sisi aku senang, tak perlu repot-repot mencari jodoh yang memang sampai saat ini belum muncul kepermukaan bumi untukku. Namun disisi lain aku jaga gengsi, masa iya pria tampan nan mapan yang wajahnya 11-12 dengan Jefri Nichol dapat Istri hasil perjodohan sih. Apalah kata dunia nantinya.
"Anita gadis yang baik, lulusan Pondok Pesantren ternama. Ayah yakin, dia bisa menjadi Istri yang Sholeha untuk kamu nantinya." kata Ayah menutup pembicaraan dan masih menunggu reaksiku.
"Maaf Ayah, bukan aku menolak tapi aku... " belum selesai aku berbicara terdengar suara cempreng si Meta.
"Ahhhh Mas Rey, udah deh! Ga usah lah sok panik, sok kaget, sok ga mau. Bilang aja seneng, kan bakalan dilepas tuh gelar Jomblo Hakiki." kata Meta berapi-api.
"Eh bocah tengil, siapa bilang aku jomblo. Ada kok pacarku. Kamu aja yang gak tau." kataku sambil melotot ke arahnya.
Pernah suatu ketika aku nembak cewek.
"Kinan, aku boleh minta waktunya gak? Ada hal serius yang ingin kukatakan sama kamu." tanyaku kala itu.
"Tentu saja boleh, ada apa Rey?" tanya Kinan secara langsung.
"Kinan, kita sahabatan kan udah lama. Kita juga sudah mengenal jauh satu sama lain. Aku tau kamu belum punya pacar. Demikian juga aku, seandainya aku meminta hubungan kita ini satu tingkat lebih dari sahabat kira-kira kamu mau gak?" tanyaku terus terang, yakin dan mantap. Kulihat matanya berbinar, senyum merekah indah dibibir merahnya. Namun itu hanya sesaat, tiba-tiba wajahnya murung.
"Jujur aku bahagia dengar ini Rey! Tapi maaf, aku ga bisa." katanya dengan intonasi suara yang sangat lirih.
"Kenapa?" kataku dengan rasa kecewa.
"Kamu tampan Rey, anak orang terpandang. Sedangkan aku, aku wanita biasa. Aku tidak siap jika suatu saat kamu menjadi layangan putus, atau bahkan aku tak akan sanggup jika harus menjadi Nakhoda kapal pecah" katanya memberi penjelasan.
"Astaga Kinan, Aku tidak mungkin seperti itu kinan, percayalah. Kita jalani dulu ya?" kataku meyakinkan. Namun ia hanya tertunduk lalu berdiri dan berlalu.
__ADS_1
"Tuh kan Bu Mas Rey diam. Ketahuan lagi bohong, Meta lho tau Bu kalau mas Rey tu Jomblo. Malam minggu aja selalu dirumah, eh pernah sih keluar malam minggu. Tapi sama mang Kosim. Cari Jangkrik" celetuk Meta lagi. Membuyarkan lamunanku tentang Kinan waktu itu.
"Hei, Meta. Abangmu ini pria tampan yang memegang teguh budaya keislaman. Ga ada ceritanya mojok-mojokan model kamu itu" jawabku membela diri.
"Hilihhh, alesan!" kata meta lagi. Akhirnya kami berdua adu mulut, suasana menjadi sedikit riuh.
"Ya sudah-sudah Kalau memang Rey tidak mau nanti Ayah bisa jelaskan ke Keluarga Om Doni, yahh walaupun keluarga sana sudah setuju semua. Tapi kalau memang Rey tidak mau ya kita tidak boleh paksakan." kata Ayah melerai kami, lantas berdiri.
"Oke kalo begitu, Ayah mau telpon Om Doni dulu" beranjak Ayah berjalan hendak mengambil ponselnya.
"Jangan yahhhhhh! Aku mau yah!" kataku lantang dan membuat semua mata tiba-tiba memandang ke arahku. Sunyi, senyap, saling pandang, dannnnn... Pecahlah tawa mereka. Tinggallah aku yang kehilangan muka menahan malu.
"Huuuuu malu malu mau" kata Meta mengolok-olokku. Dan disambut gelak tawa yang semakin pecah.
Selesai berunding dan mendapatkan kesepakatan, akhirnya kami beranjak kembali ke kamar masing-masing. Keputusan telah ku ambil, Tak ku perdulikan lagi bagaimana wujud Anita. Yang terpenting saat ini adalah... Menikah...
Saat sampai didepan pintu kamarku, Ferdy yang sedari tadi berjalan di belakangku menyapaku.
"Jadi bener Rey kamu belum pernah pacaran sampai saat ini." tanyanya seolah tak percaya.
"Kenapa emangnya Fer?" kataku heran.
"Ya ga papa lah Rey, cuma sedikit heran aja. Kamu kan mapan, ganteng lagi, masa sih satu perempuan pun ga ada yang mau sama kamu." lanjut Ferdy.
"Ga tau lah Fer, setiap aku nembak cewek, mereka pada ga percaya. Malah ada satu cewek nih yang bilang kalau aku ini buaya buntung. Dih, bisanya aku dibilang buaya. Pacaran aja ga pernah" kataku menjelaskan dengan antusias.
"Miris." kata Ferdy sambil memandangku dengan wajah memelas.
"Lho kenapa miris. Santai aja kali Fer! Jodoh tak akan kemana" kataku yakin.
"Miris sama si Joni. Hidup sama kamu 30 tahun ternyata cuma dipake kencing doang." kata Ferdy nyengir sambil berlalu meninggalkanku.
"Weeee, lha dalah! Jangkrik tenan bocah iki."
💣💣💣💣💣💣
__ADS_1