
KRINGGG
Tiba-tiba ponsel Ramon pun berbunyi, Laras sedikit membuka matanya dan saat itu juga dia melihat Ramon sedang sibuk mengangkat telepon, cukup lama hingga Ramon kembali mendekat padanya.
'Bersiaplah kembali Laras,' batin Laras dalam hati, namun Ramon melemparkan pisaunya ke atas meja.
"Kau beruntung Laras, saat ini aku memiliki urusan yang jauh lebih penting yang bisa memberikan aku banyak uang, setelah semua urusanku selesai, aku akan kembali padamu untuk menyelesaikan semua ini denganmu," kata Ramon sambil tersenyum menyeringai kemudian dia keluar dari ruangan itu, tubuh Laras kembali tegang mendengar perkataan Ramon.
'Aku harus melarikan diri sebelum Ramon kembali ke sini,' batin Laras sambil menelan ludah. Laras yang tubuhnya masih terikat bergerak kesana kemari sambil melompat-lompat mencari jalan keluar, namun tak ada satu celah pun yang dia temukan, hingga akhirnya dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kepalanya pun berkunang-kunang dan perlahan mulai tertutup.
'Tuhan, apakah ini adalah akhir hidupku?' gumam Laras sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
***
"Sudah, aku sudah menghubungi Ramon tapi dia tidak mau memberitahu dimana alamatnya sekarang, aku hanya bisa membuat dia keluar untuk bertemu denganku di tempat yang dia inginkan."
"Baik Giselle, terimakasih. Maaf sudah melibatkanmu dalam masalah ini," kata Olivia.
"Tidak apa Olive, aku senang bisa membantu kalian dan bisa mendapatkan kembali tempatku semula," sahut Giselle sambil melirik Leo.
"Sudah, tidak usah banyak basa-basi, kita harus cepat pergi," ujar Leo sambil menggandeng Calista ke dalam mobilnya.
"Calista, kenapa kau mengiyakan permintaan Giselle? Aku risih jika harus bersama dia lagi."
"Sudahlah Leo, apa salahnya memberikan pekerjaan lagi untuknya? Dia hanya ingin bekerja di kantormu lagi."
"Menyebalkan," gerutu Leo.
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di sebuah cafe, tempat Ramon akan bertemu Giselle. "Itu Ramon sudah datang, kau masuklah Giselle." kata Calista saat melihat Ramon datang dengan sebuah mobil mewah.
"Baik Calista, aku akan merekam percakapanku dengan Ramon sebagai bukti saat kalian melaporkan Ramon pada polisi."
"Terima kasih Giselle, hati-hati."
"Hebat sekali Ramon bisa membeli mobil semahal itu?" kata Leo sambil mencibir.
"Hahahaha, jika Ramon sudah tertangkap ambil mobilnya Leo, bukankah dia membeli mobil itu dari hasil memeras Giselle, sedangkan Giselle mendapat uang darimu, jadi mobil itu adalah milikmu Leo," kata Kenan sambil tersenyum.
"Kau benar juga Kenan. Hahahaha, manusia seperti itu mau berani macam-macam denganku?"
***
Ramon terlihat sedang membuang asap rokok dari mulutnya saat Giselle menghampirinya. "Apa kabarmu Ramon? Tampaknya kau kini begitu sibuk hingga sudah melupakan aku yang banyak berjasa untukmu. Apa kau sudah menikahi gadis kaya itu?"
"Hahahaha..., kau bisa saja Giselle, ternyata aku salah kau lebih berguna untukku daripada dia."
"Apa maksudmu Ramon?"
__ADS_1
"Dia ternyata tidak seperti yang aku pikirkan Giselle, dia telah membohongiku, dia bukanlah wanita kaya seperti yang kupikirkan."
"Hahahaha jadi kali ini kau tertipu, Ramon?"
"Jangan tertawakan aku Giselle karena saat ini posisi kita pun sama, kau juga sudah dibuang begitu saja oleh Leo kan?" kata Ramon sambil tersenyum kecut.
"Karena itulah aku menghubungimu untuk mengajak bekerjasama Ramon."
"Kerjasama apa Giselle? Kau saja sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari Leo dan Calista."
"Itu menurutmu Ramon, apakah kau tahu siapa sebenarnya wanita itu?"
"Wanita? Wanita yang mana?"
"Tentu saja kekasihmu."
"Maksudmu Laras?"
"Ya, siapa lagi!"
"Ada apa dengan Laras?"
"Jadi kau belum tahu jika Laras adalah saudara dari Calista dan Olivia?"
"Tidak mungkin Giselle, kau pasti becanda. Kau bahkan belum melihat wajahnya!"
"Pantas saja dia terlihat begitu mengenal Calista saat berada di rumahku, ternyata dia saudara mereka berdua? Lantas darimana kau tahu jika Laras adalah saudara Calista?"
"Apakah kau sudah lupa jika aku adalah mantan istri Leo? Bahkan aku juga tahu Laras bekerja pada Kenan, dan dia sering membawa mobil milik Olivia."
"Oh, jadi mobil mewah yang sering dia pakai adalah mobil milik Olive? Lalu apa yang harus kita lakukan pada Laras, Giselle?"
"Bawa aku bertemu dengannya, apakah kau bisa mempertemukan aku dengannya?"
"Memangnya untuk apa kau bertemu dengannya?"
"Itu urusanku, jika kau mau uang dari Kenan dan Leo turuti saja kata-kataku karena kita akan membuat mereka mengeluarkan uang untuk Laras. Hahahaha."
"Baik.. Baik Giselle jika itu maumu, ayo ikut aku ke apartemenku, karena saat ini Laras ada di apartemenku."
"Dia ada di apartemenmu?"
"Ya Giselle, dia ada di apartemenku."
"Baik, ayo kita ke apartemenmu sekarang."
"Ayo Giselle."
__ADS_1
***
"Leo lihat ini, Giselle mengirimkan pesan padaku jika dia akan ke apartemen Ramon, sebentar lagi mereka akan keluar, kau bersiaplah mengikuti mereka."
"Iya, Calista."
"Lihat itu mereka sudah keluar, ayo Leo." kata Kenan.
Hampir satu jam lamanya, mereka mengikuti Ramon, akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen di luar kota Jakarta.
"Ramon ternyata pintar bersembunyi, aku sampai tidak terpikir dia akan bersembunyi di luar kota," kata Leo.
"Calista, Olivia sebaiknya kalian menunggu kami di dalam mobil, Olivia sedang hamil, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Olivia."
"Iya Kenan, aku akan menjaga Olivia, kalian berhati-hatilah, jaga diri kalian."
"Iya Calista, kami pergi dulu." kata Kenan lalu pergi mengikuti Giselle dan Ramon.
Giselle lalu mulai masuk ke dalam apartemen Ramon, saat Ramon baru saja menutup pintu, tiba-tiba sebuah ketukan pun terdengar.
"Siapa lagi."
"Buka saja Ramon, mungkin itu kurir pengantar makanan yang baru saja kupesan."
"Kau ada-ada saja, Giselle."
Baru saja pintu dibuka, dua buah tangan menghantam wajah dan perut Ramon secara bersamaan. Ramon yang mendapat serangan tiba-tiba tidak bisa menghindar dari serangan itu. Tubuhnya mundur ke belakang beberapa langkah lalu serangan bertubi-tubi pun menghantam seluruh bagian tubuhnya.
"Kalian sudah menjebakku! Kalian benar-benar licik dan pengecut! apalagi kau Leo, bisanya hanya bermain keroyokan!!"
"Diam kau Ramon, kau yang pengecut karena hanya mengandalkan wajahmu untuk mendapatkan uang dari wanita! Kau hanya laki-laki pemalas yang tidak bisa apa-apa Ramon!"
"Hahahaha dan kalian adalah laki-laki bodoh yang sudah memberikanku uang dari wanita yang pernah hidup bersama kalian. Hahahaha."
"Tidak usah banyak bicara, karena penjara sudah menantimu Ramon, Kenan ikat orang ini dan sumpal mulutnya agar dia tak banyak bicara lagi." kata Leo yang masih menjegal tubuh Ramon.
"Giselle, kau tolong cari dimana keberadaan Laras."
"Baik, Leo."
"Aku sudah menelepon polisi, sebentar lagi mereka datang, bersiaplah membusuk di penjara, Ramon." Ramon hanya mendecih mendengar perkataan Leo.
Giselle lalu mencari Laras di beberapa ruangan. Saat Leo dan Kenan sudah selesai mengikat Ramon tiba-tiba mereka mendengar teriakkan Giselle.
"Aaaaaaa Leo, Kenan cepat kesini!"
Kenan dan Leo lalu menghampiri Giselle yang begitu histeris melihat keadaan Laras yang sudah tidak sadarkan diri dengan begitu banyak luka lebam dan darah yang mengalir dari kakinya.
__ADS_1