
Menginggat perjalanan perkawinanku bersama istriku lima tahun lalu, membuat aku tersenyum sendiri. Segera ku raih bingkai foto dengan gambar kami bertiga, terpampang di sana wajah-wajah kami yang penuh senyuman bahagia. Sejauh ini tak pernah muncul sekalipun permasalahan yang berarti di antara kami, jika pun ada permasalahan itu hanya sekelumit saja. Tak pernah berlarut-larut, ranjang adalah ujung-ujungnya tempat penyelesaian setiap ada permasalahan di antara kami.
“Maafkan aku dek, sempat berpikir kotor terhadapmu.” Ku usap wajahnya di bingkai foto itu, ku kecup mesra, Lalu ku dekap erat. Kuambil satu bantal dan melangkah ke sofa kamarku, bergegas ku rebahkan badanku, mencoba memejamkan mata. Berharap tertidur agar pagi segera datang. Mentari, cepatlah tiba! Aku merindukan istriku.
********
‘Tok, tok, tok!’
“Reyyyyy, bangun!” sebuah ketukan daun pintu membangunkan tidurku. Suara Aldo. Segera aku bangkit, lalu membuka pintu.
“Sudah Adzan, yok cepat ke Masjid,” ajak Aldo. Memang sudah menjadi rutinitas kami untuk selalu sholat berjamaah di Masjid yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahku. Ku lihat wajah memarnya, rasa tak enak menjalar di hatiku.
“Bengep Do,” tanyaku.
“Iya! Kamu sih nonjok nya gak kira-kira,” katanya sambil tersenyum.
“Sakit Do?”
“Enggakkkkkk Rey, enak banget. Empuk-empuk kenyal sedap.” katanya, matanya berubah jadi melotot. Akupun terkikik melihat ekspesi perubahan di wajahnya.
“Ayo akh, tar keburu Qomat,” katanya lagi
“Ya dah, aku siap-siap dulu.” Kataku kemudian, lalu bergegas keluar kamar. Mengambil air wudhu di pancuran air di dapur tempat biasa istriku cuci piring.
“Yank, kami ke Masjid dulu. Kamu bersihkan itu kamar si Rey. Kasihan dia, pasti semalam tidur tak nyenyak karena kasurnya bekas jajahan kita,” perintah Aldo pada Istrinya. Dih, siapa juga yang tidur di kasur. Najis tralala lah Do!
“Iya yank,” samar-samar ku dengar istrinya menyahut.
Selesai berwudhu, aku pun bergegas menuju ke depan. Dimana Aldo telah lebih dulu keluar meninggalkan aku. Tepat di depan kamarku aku berpapasan dengan istri aldo, dia tertunduk dan aku pun kikuk. Peristiwa semalam masih terbayang sangat jelas dimataku. Istiqfar pun tak henti-hentinya kulafaskan.
“Em, Ma-maaf! Saya masuk kamarnya ya. Mau beresin kasurnya,” katanya terbata. Entah bagaimana perasaannya.
“Iya, silahkan!” kataku memberi jalan.
********
“Rey, sarapan dulu,” kata Aldo menegurku saat melihat aku keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Gampang aja nanti.” Sahutku.
“Ayolah, nih istriku sudah siapkan untukmu juga,” kata Aldo sedikit memaksa. Merasa tak enak akhirnya aku pun mendatangi mereka di Meja makan. Ku ambil tempat duduk tepat di depan Aldo.
“Kenalkan dulu Rey istriku, namanya Tiara!” kata Aldo memperkenalkan wanita yang duduk di sebelahnya. Aku pun mengangguk tersenyum ke arahnya. Demikian juga dia, senyum tipis-tipis.
“Rey,” kataku tanpa menyodorkan tangan. Tau kan istriku cemburuan, instingnya melebihi anak Indigo. Kalau saja kusodorkan tanganku, bisa-bisa tak sampai lima menit dia sudah nongol di jendela sambil bawa galon isi ulang.
“Tiara.” sahutnya. Dan akhirnya pun kami asik dengan santapan masing-masing. Tiara, tak jauh beda dengan Anita, pembawaannya yang kalem terlihat tak di buat-buat. Tutur katanya sangat lembut, telaten dalam melayani si Aldo. Tak kalah Beruntung rupanya si kutu kupret ini dengan hidupku.
__ADS_1
Selesai sarapan akupun berpamitan ingin menjemput anita, mereka mengantarkan aku sampai depan pintu rumah. Sebelum mobilku benar-benar keluar pagar, terdengar suara manja Tiara.
“Iihhh, kan baru aja keramas sayang!” kulirik ke spion mobilku. Terlihat Aldo bicara setengah bebisik, entah apa yang diucapkannya. Tak jelas kudengar. Tak lama ia mengangkat tubuh Tiara, dan membawanya masuk ke dalam bersama pintu yang segera di tutup. Huh, udah bengep masih aja mesum. Kutu kupret beraksi lagi.
Kupacu mobilku melaju menderu, meninggalkan dua insan yang tengah melepas kerinduan yang ditumpuk selama satu semester itu. Semoga saja tidak salah kamar lagi Do! Awas saja kalau sampai itu terjadi lagi. Kubuat miring gigimu.
******
Tertawa renyah istriku mendengar ceritaku, bahkan terpingkal-pingkal. Tentu bagian Tiara yang bugil ku skip, kalau sampai itu ku ceritakan juga, bisa-bisa langsung di lakban mataku sekarang juga sebagai hukuman.
“Puas kamu dek ngetawain aku,”
“Ya habisnya kamu lucu Mas, coba di nyalakan dulu lampunya. Atau minimal waktu narik si Aldo ditanya dulu kek. Asal main gebukin aja.” Katanya disela-sela tawa.
“Ah, namanya juga orang emosi dek, capek, jadi pikiran gak karuan. Tapi sumpah kasihan banget lihat muka Aldo. Bengep, kayak muka anak STM yang kalah tawuran. Untung aja dia ganteng kayak aku, jadi ga nyeremin mukanya. Bibirnya aja hampir pindah ke mata dek.” kataku makin membuatnya terpingkal-pingkal.
“Udah-udah Mas, tak tahan aku pengen ketawa terus. Dengar cerita aja dah ketawa. Apa lagi nanti liat dia langsung. Aduh, ya Allah! Kuatkan hamba.” Kata istriku sambil memegang perutnya dan masih dengan tawanya.
Tak lama sampai jugalah kami di rumah, istriku turun duluan sambil menggendong Riri putriku yang tertidur di sepanjang perjalanan tadi.
Terlihat Aldo duduk di teras rumah dengan smartphone nya, sementara Tiara memberi makan ikan di kolam tak jauh dari Aldo duduk. Melihat kami, ia pun segera menghampiri istriku.
“Kak,” sapanya.
“Anita, panggil saja Anita. Umur kita tak jauh beda kan?” jawab istriku. Lalu menyodorkan tangannya ke arah Tiara.
“Maaf ya Tiara, dulu aku tak datang ke pernikahanmu sama Aldo. Waktu itu aku lagi hamil besarnya Riri,” kata istriku sambil melangkah masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Tiara. Obrolan hangat pun terdengar dari kedua wanita itu.
“Nih, penghilang nyeri!” kataku pada Aldo, sambil memberikan obat salep thrombophob gel yang sengaja ku beli di apotik tadi.
“Oke, terima kasih! Tapi tadi sudah di kompres Tiara kok Rey.”
“Ya ditambahin lagi pakai ini, biar besok bisa masuk kerja. Ga malu apa, kerja dengan muka kayak gitu. Tar dikira kamu habis di keroyok warga gara-gara kepergok di semak-semak sama janda,” kataku terkikik.
“Buset Rey, Tampang ganteng kayak hamish daud gini kok di samain tampang semak-semak.”
“Hamis daud. Amis daud kaleeee,,, “kataku sambil berlalu meninggalkannya yang langsung sewot tak karuan.
Ku lihat istriku tengah asik di dapur bersama Tiara, sifatnya yang mudah menerima orang baru dalam hidupnya, membuatnya tak kesulitan dalam beradaptasi dengan siapapun. Tak ingin menggangu, aku masuk ke kamar. Mendatangi putriku yang tentu masih tertidur. Benar saja, terlihat pulas iri dalam tidurnya. Karena ngantuk, akhirnya aku pun ikut tidur di sampingnya.
“Masss, Bangun!” goyangan lembut di pundak membangunkan tidurku. Kurang tidur semalam membuat aku ternyata tidur cukup lama.
“Riri mana dek,” kataku sambil bangkit dari tidurku menyadari putri kecilku sudah tidak ada di sampingku.
“Dia sudah bangun dari tadi, sekarang main sama tantenya. Nyenyak banget tidurnya Mas?”
“Iya, gara-gara Aldo semalem aku jadi ga bisa tidur, di tambah kamu ga ada disamping ku bikin aku gelisah, tidur ga nyenyak.” Kataku sambil tangan bergerilya jail merogoh sesuatu di balik sesuatu yang sesuatu di sesuatunya.
__ADS_1
“Hmmm, siang Mas!” kara Istriku mendelik manja. Tapi segera di tepis tanganku, dan kabur keluar kamar dia.
“Awas kamu dek ya!” kataku. Dan di sambut tawa olehnya.
“Udah cepetan, kami tunggu di meja makan.” Katanya sambil menutup pintu.
*******
“Wow, enak banget masakannya dek! Kamu memang top dek, resep baru ya dek?” kataku setelah selesai makan.
“Itu Tiara yang masak Mas, makanan khas Sumatra.” Terang istriku.
“Pantes waktu makan kayak berada di pesisir Danau Toba,” kataku bercanda. Dan disambut tawa oleh mereka.
“Lebay Rey, itu namanya masakan ‘Arsik’ bahan utamanya ikan Mujair.” Kata Aldo.
“Waduh, ga marah tuh Ayu Ting-Ting Mujairnya kita masak,” kataku masih dengan banyolan.
“Enggak Rey, palingan kita bakal di Sambaladoaja sama si Ting-ting.” Kata Aldo dan di sambut tawa lagi oleh kami.
“Kupikir di dunia ini Cuma Ibu dan istriku aja jago masak, eh ternyata ada juga yang nyamain,” pujiku lirih, namun cukup jelas untuk di dengar.
******
03.30
Terbangun berniat mengambil Air Wudhu di dapur. Namun,belum sampai ke pancuran air wudhu, aku melihat istriku tengah membuat sesuatu di dapur. Kupeluk Istriku dari belakang, tumben lampunya tidak dinyalakan.
“Bikin apa sih dek, tumben ga nyalain lampu” kataku sambil mencium kepalanya. Harum! Tapi beda wanginya, tak seperti biasanya.
“Shampo baru ya dek,” kataku lagi.
Respon tak biasa ku dapatkan dari Istriku. Dengan kasar dia melepaskan pelukkanku.
“Saya bukan Anita, kamu pasti salah paham,” segera ia berlari kecil meninggalkan ku. Masuk ke kamar Aldo. Whatt?
Selesai berwudhu aku kembali ke kamar. Kaget bukan kepalang melihat istriku keluar dari dalam kamar mandi di kamar ku. Jangan-jangan benar dugaanku ,,
“Dek, baju tidur Spongeboob warna kuning kamu pinjamkan ke Tiara kah?” tanyaku hati-hati.
“Aku kasihkan malahan Mas? Kasihan dia, cuma bawa beberapa lembar baju aja dari Sumatra. Alhamdulillah pas aja bajunya. Karena badan kita bentuknya kan samaan Mas. Kenapa emangnya Mas?” kata istriku sambil mengatur sajadah.
Dueng! Benerkan dugaanku. Tadi itu Tiara memakai baju istriku, ya Allah. Aku tak dapat melihat dengan jelas, apalagi posisi Tiara membelakangiku, ditambah dengan cahaya yang hanya remang-remang. Yang kulihat jelas hanya baju tidur favorit istriku.
“Masss,, “
“Emh, ga apa-apa dek.” Kataku, lantas cepat-cepat mengambil posisi Imam. Jangan sampai Anita tau. Kalau tau, bisa-bisa kaki di kepala, kepala di kaki. Besok aku harus menemui Tiara diam-diam. Memastikan bahwa dia tidak salah paham dengan menganggapku kurang ajar karena ketidak tahuanku tadi.
__ADS_1