Salah Kamar

Salah Kamar
Kampung Halaman


__ADS_3

"Jika Aini tidak bersama Dokter Vallen berarti dia tidak ada di sini. Aku yakin dia pasti pulang ke rumah orang tuanya, maafkan aku Aini, kau pasti sangat kecewa padaku."


Roy kemudian mengutak-atik ponselnya. "Aku harus pergi dengan penerbangan paling pagi agar bisa menemui Aini secepatnya."


Setelah memesan tiket pesawat Roy kemudian menghubungi seseorang.


[Halo Mba Laras.]


[Ya Roy, bagaimana apa kau sudah menemukan Aini?]


[Belum mba.]


[Astaga, kemana anak itu.]


[Mba, sebenarnya sesuatu yang kutakutkan telah terjadi.]


[A... Apa maksudmu Roy?]


[Iya Mba, saat ini Aini sudah tahu semua yang telah terjadi tentang kecelakaan itu.]


[Astaga.] kata Laras sambil mengigit bibir bawahnya.


[Iya mba, dan kemungkinan Aini saat ini pulang ke rumah orang tua kalian.]


[Apa?? Pulang ke rumah? Dengan membawa Darren?]


[Iya mba.]


[Astaga Roy, kau harus segera menyusulnya. Kau harus secepatnya menyusul Aini.]


[Iya Mba Laras, aku akan pergi dengan penerbangan paling pagi besok.]


[Iya, Roy. Mba akan memberitahu ibu sekarang juga agar dia juga bisa ikut meredam kemarahan Aini.]


[Iya mba, terimakasih.]


Laras kemudian beberapa kali menelpon ibunya tapi panggilan itu tidak mendapat jawaban.


"Astaga, benar yang Mba Calista katakan jika ini seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja."


🥀🥀🥀🥀🥀


"Kita sampai Darren." kata Aini saat keluar dari taksi yang mengantarkannya. Dia kemudian melangkahkan kakinya ke halaman rumahnya.


TOK TOK TOK


"Sebentar." jawab sebuah suara dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, pintu rumah itu pun terbuka.

__ADS_1


"Aini." teriak ibunya saat membuka pintu rumahnya.


Aini kemudian tersenyum lalu mencium tangan dan memeluk ibunya.


"Aini, Roy mana?" tanya ibu Aini saat melihat Aini yang datang hanya bersama dengan Darren dalam gendongannya.


"Aini datang sendiri Bu, Mas Roy sedang banyak urusan."


"Ayo kita masuk dulu Aini, ini sudah malam, kasihan Darren."


"Iya bu." jawab Aini kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian masuk ke kamar milik Aini. Saat Aini membuka kamar tersebut, senyuman pun mengembang di bibirnya.


"Sudah lama Aini tidak masuk ke kamar ini bu."


"Iya Aini, mungkin sudah setahun. Sejak mau menikah dengan Dimas, kamar ini sudah tidak terpakai."


Mendengar nama Dimas, senyuman di wajah Aini pun memudar.


"O..Oh maafkan Ibu Aini."


"Tidak apa-apa Bu."


"Kau tenang saja Aini, sebentar lagi Dimas akan menikah dengan Delia, kira-kira dua minggu lagi mereka akan menikah."


"Syukurlah, memang seharusnya begitu karena bagaimanapun juga mereka sudah memiliki seorang putri. Menyuruh seseorang untuk bertanggung jawab dengan atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya merupakan perbuatan yang sangat jahat."


Aini pun mengangguk.


"Apa kau masih mencintai Firman?"


Mendengar pertanyaan ibunya, Aini pun tertawa.


"Hahahaha tentu saja tidak bu, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Mas Firman, baru-baru ini kami bahkan bertemu dan menjalin hubungan yang baik."


"Tapi Aini, Firman sudah memiliki kekasih baru. Apa dia tidak cemburu kau bertemu dengan Firman?"


"Bu, aku, mas Firman, dan Dokter Vallen, memiliki hubungan yang sangat baik. Sebelum mereka menjadi sepasang kekasih, aku sudah mengenal Dokter Vallen dengan baik karena aku selalu melakukan kontrol rutin dengan Dokter Vallen agar aku bisa sembuh."


"Astaga, jadi kau benar-benar mengenal Dokter Vallen? Jadi kalian berteman?"


Aini pun mengangguk sambil tersenyum.


"Kami sudah bertemu dan berbicara satu sama lain, dan tidak ada masalah diantara kami bertiga Bu, bahkan hubungan kami sangatlah baik."


"Syukurlah Nak. Lalu bagaimana dengan Roy? Apa dia sudah tahu semua yang terjadi diantara kau dan Dokter Vallen?"


Aini kemudian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku belum sempat menceritakan hal itu pada Mas Roy, akhir-akhir ini dia sangat sibuk."


"Apa sesuatu telah terjadi pada hubungan kalian?"


"Tidak." jawab Aini sambil menggelengkan kepalanya.


"Benarkah? Apa hubungan kalian baik-baik saja?"


"Ya." jawab Aini dengan senyum yang dipaksakan.


"Tapi kenapa kau seperti habis menangis nak? Apa benar hubungan kalian baik-baik saja?"


"Oo..Oh ini mungkin aku tadi tertidur di pesawat jadi wajahku agak sedikit sembab. Aini hanya rindu kampung halaman ini Bu, juga rindu pada Bapak dan Ibu, selain itu Aini sedikit kesepian karena Mama Heni sedang di rumah saudara mereka di luar kota, jadi Aini memutuskan untuk pulang ke sini saja."


"Oh ya sudah, ini sudah malam lebih baik kau istirahat saja sekarang."


"Iya Bu."


Ibu Aini kemudian keluar dari kamar Aini. Aini lalu menatap seisi kamar tersebut sambil tersenyum.


"Kamar ini kamar penuh kenangan, kenangan manis saat aku masih menjadi kekasih Mas Firman, lalu tiba-tiba semua kebahagiaan yang pernah kurasakan di kamar ini hancur saat Dimas merusak hidupku."


Aini kemudian menatap Darren yang terlelap di atas tempat tidur, dia kemudian membelai wajah Darren.


"Darren sayang, mama sebenarnya sangat mencintai papamu, tapi mama sangat marah padanya yang tidak bisa jujur pada mama. Mama sebenarnya tidak tahu harus bagaimana, mama hanya ingin menenangkan diri karena jika mama bertemu papamu hanya akan menambah sakit di hati mama, tapi percayalah apapun yang terjadi pada hubungan kami setelah adanya kejadian ini, kau tetap menjadi anak mama. Anak yang paling mama sayangi."


Aini kemudian mengecup kening Darren sambil meneteskan air mata. "Darren tahukah kamu jika hati mama saat ini begitu sakit." kata Aini sambil terisak di samping Darren yang tidur dengan begitu lelap.


Sementara Roy yang kini merebahkan tubuhnya di atas ranjang hanya bisa menatap foto Aini yang sedang menggendong Darren.


"Maafkan aku Aini, aku begitu merindukan kalian berdua. Aini, aku harap setelah mendengar penjelasan dariku kau bisa memaafkanku, apapun akan kulakukan agar kau mau memaafkan aku, sesungguhnya aku tidak pernah bisa sanggup jika harus berpisah darimu. Aku sangat mencintaimu, Aini."


🥀🥀🥀🥀🥀


Aini menggendong Darren keluar dari rumahnya.


"Darren, ini kampung halaman mama. Mama yakin kau pasti betah tinggal di sini, mulai saat ini kita tinggal di sini ya Nak."


Darren pun tersenyum mendengar perkataan Aini.


"Astaga, kenapa saat melihat senyuman di wajah Darren aku jadi teringat Mas Roy."


Aini kemudian menghembuskan nafas panjangnya.


'Ah kenapa sakit sekali jika mengingat Mas Roy.' gumam Aini.


"Lebih baik kita pergi berjalan-jalan ya Darren sayang, di sini masih banyak sawah dan sungai, kau pasti menyukainya." kata Aini sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut lalu menyusuri sepanjang jalanan desa sambil menggendong Darren, hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.

__ADS_1


Aini pun begitu terkejut saat melihat seseorang yang keluar dari mobil tersebut.


__ADS_2