Salah Kamar

Salah Kamar
Sebuah Kardus


__ADS_3

"Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?" tanya Vallen.


"Entahlah, aku akan membuka pintunya terlebih dulu. Sebaiknya sekarang kau pesankan tiket untuk kita pulang."


"Iya Firman." jawab Vallen kemudian mengutak-atik ponselnya. Firman pun berjalan ke arah pintu, disusul Vallen yang berjalan di belakangnya. Saat pintu itu terbuka, tampak Delia berdiri di depannya sambil tersenyum.


"Delia." kata Firman. Vallen yang melihat kedatangan Delia lalu saling berpandangan dengan Firman.


"Emh, kalian jangan khawatir. Kedatanganku ke sini tidak untuk membuat masalah dengan kalian."


"Delia, ayo masuk. Tidak baik berbicara di depan pintu seperti ini."


Delia lalu masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Firman dan Vallen. Mereka pun kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Emh Vallen, aku ingin meminta maaf atas kejadian di minimarket kemarin. Maafkan aku tidak bisa mengontrol kata-kataku hingga membuatmu tersinggung. Tolong maafkan aku, Vallen."


"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf sudah berbuat kasar padamu."


"Aku pantas untuk mendapatkannya. Jika aku tidak berkata hal yang buruk padamu, kau pasti tidak akan berbuat seperti itu padaku."


Delia lalu mengarahkan pandangannya pada Firman.


"Mas Firman, aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu. Beberapa bulan yang lalu aku memang sudah meminta maaf padamu tapi itu karena aku mengharapkan kau kembali padaku, sekarang aku tulus meminta maaf padamu. Aku tidak ingin apapun kecuali permintaan maaf dari kalian."


Firman dan Vallen pun saling berpandangan.


"Sudahlah Delia itu semua sudah lama berlalu, aku sudah tidak pernah mengingat semua itu. Sekarang mari kita buka lembaran baru, tanpa ada dendam di hati kita masing-masing."


"Iya Mas, aku harap kalian bisa hidup bahagia dan bisa menikah secepatnya."


"Iya Delia, terimaksih banyak atas semua doamu." jawab Vallen sambil tersenyum.


"Emh begini, maksud kedatanganku kesini, aku juga ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Bulan depan, aku akan menikah."


"MENIKAH?" teriak Firman dan Vallen sambil saling berpandangan.


"Ya, aku akan menikah."


"Kau akan menikah dengan siapa Delia?"


Mendengar pertanyaan Firman, Delia pun tersenyum dengan sedikit salah tingkah. "Aku akan menikah dengan Dimas."


Firman pun tersenyum. "Akhirnya kalian menikah juga, itu adalah keputusan yang sangat baik Delia, bagaimanapun juga Dimas adalah ayah kandung dari Shakila. Dia berhak mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua kandungnya."

__ADS_1


Delia pun mengangguk. "Ya, mungkin sebenarnya kami memang berjodoh, tapi kami selalu menampik semua itu hanya karena nafsu kami semata. Sekarang aku sudah sadar, aku tidak mau lagi mengejar sesuatu yang bukan menjadi milikku karena pada akhirnya aku tidak akan mendapatkan apapun jika aku terlalu memaksakan diri."


"Ya kau benar, dan kita tidak bisa mengubah sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan. Setiap manusia sudah memiliki takdir yang sudah digariskan Tuhan dan kita tidak bisa melawan kehendaknya."


"Iya Mas, dan kini aku sudah menyadari itu."


"Aku ke sini juga ingin mengundang kalian ke pesta pernikahan kami. Aku harap kalian bisa menyempatkan diri untuk datang ke pernikahan kami."


"Akan kami usahakan, Delia." jawab Vallen.


"Aku bisa saja mengambil cuti kapanpun kumau karena kakakku direktur di rumah sakit itu, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan Firman, aku tidak tahu apakah dia bisa mendapatkan ijin kembali. Hari ini saja kami harus mempercepat kepulangan kami karena dia ditelepon kantornya untuk menyelesaikan beberapa masalah di kantornya." gerutu Vallen sambil melirik Firman yang kini tersenyum mendengar kata-katanya.


"Jadi kau belum ikhlas kita pulang ke Jakarta sekarang?"


"Tentu saja." gerutu Vallen.


Firman pun tersenyum kemudian mencubit pipi Vallen.


"Hei gadis aneh, bukankah sudah kukatakan padamu, setelah pekerjaanku selesai, aku akan mengajakmu berlibur kemanapun kau inginkan."


Vallen pun hanya memonyongkan bibirnya. Delia pun tersenyum melihat tingkah Vallen dan Firman.


"Kalian memang benar-benar pasangan yang serasi." kata Delia sambil tersenyum.


"Iya Delia, kami akan usahakan agar kami bisa datang ke pesta pernikahan kalian."


"Terimakasih banyak, aku permisi dulu." kata Delia


"Iya, hati-hati di jalan Delia." jawab Vallen dan Firman bersamaan.


Delia pun tersenyum kemudian bergegas keluar dari rumah itu, namun baru saja langkah kakinya keluar dari ambang pintu. Air mata pun mulai menetes di pipinya.


'Delia, jangan menangis Delia.' gumam Delia sambil menghapus air matanya, bergegas dia melangkahkan kakinya secepatnya keluar dari halaman rumah Firman karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit melihat kemesraan Firman dan Vallen, apalagi saat ini mulai terdengar gurau tawa dari mereka berdua.


"Sakit sekali." kata Delia saat keluar dari rumah itu.


Sementara Firman yang masih duduk di sofa ruang tamu tampak mengamati Vallen yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya.


"Vallen, apa kau sudah memesan tiket pesawat untuk kita?"


"Sudah, tapi bukan tiket pesawat."


"Bukan tiket pesawat? Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Karena kita tidak akan pulang dengan menggunakan pesawat."


"Aku tidak mengerti."


"Kita akan pulang dengan menggunakan kereta, Firman."


"Kereta?"


"Ya, coba kau pikir jika kita naik pesawat kita hanya membutuhkan waktu selama satu setengah jam saja untuk sampai di Jakarta, tapi jika kita menggunakan kereta, kita membutuhkan waktu tujuh jam untuk sampai ke Jakarta."


"Apa maksudmu Vallen? Aku sungguh tak mengerti."


"Firman, jika kita lebih cepat sampai itu artinya aku akan secepatnya berpisah denganmu, jika kita naik pesawat kita cuma punya waktu satu setengah jam saja. Sedangkan jika kita naik kereta kita masih bisa menghabiskan waktu selama tujuh jam di dalam kereta, masih banyak waktu untuk bersama Firman!!"


Mendengar penjelasan Vallen, Firman pun tersenyum.


"Dasar gadis aneh." kata Firman sambil tersenyum.


"Jadi kau tidak mau memiliki lebih banyak waktu bersamaku?"


"Tidak, aku hanya sedang memuji kehebatan kekasihku. Bahkan kau memiliki pemikiran sejauh itu, benar-benar gadis aneh yang pintar."


"Hahahaha, itulah alasannya kau jatuh cinta padaku kan?"


"Anggap saja begitu."


"FIRMANNNNN!!!"


💜💜💜💜💜


Stella dan seorang pembantu membuka kamar Vallen untuk membersihkan kamar itu.


"Bi, cepat kau bersihkan kamar ini sekarang. Nanti malam Vallen pulang, kamar ini sudah harus bersih dan wangi."


"Iya Nyonya Stella." jawab pembantu itu. Stella kemudian duduk di atas ranjang Vallen.


Saat sedang mengamati kamar tersebut, tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah kardus yang ada di pojok kamar.


"Kardus apa itu? Apakah kardus itu juga harus kubersihkan." kata Stella sambil mendekat ke kardus yang ada di pojokan kamar itu. Dia kemudian melihat isi kardus yang berisi begitu banyak barang-barang bertuliskan. "VALLEN I ❤️ U"


"Astaga, apakah Vallen sudah memiliki kekasih baru?" kata Stella sambil menutup mulutnya.


"Aku harus memberitahu David." kata Stella kemudian keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"DAVIDDDD DAVIDDDD!!!"


__ADS_2