Salah Kamar

Salah Kamar
Menerima Statusku


__ADS_3

[Ta.. Tante Nurma, apa maksud tante? Hamil? Siapa yang hamil?]


[Firman seharusnya kau memanggilku dengan sebutan mama, bukan tante. Kau tidak usah berpura-pura lagi, mama sudah tahu semuanya.]


[Sudah tahu semuanya?]


[Ya, kau sudah menikah dengan Vallen kan? Mama sudah tahu semuanya tentang kalian berdua.]


[Oh.. E.. Iya ma. Jadi mama tidak marah?]


[Tentu saja tidak, tidak ada alasan untuk marah pada kalian berdua."


[Syukurlah, terimakasih banyak ma.]


[Iya Firman, apalagi sekarang Vallen sedang mengandung anakmu, mama sangattt bahagia.]


[Mengandung?]


[Jadi kau belum tahu jika Vallen saat ini sedang hamil?]


[Belum ma. Jadi Vallen sedang hamil?]


[Ya, dia sedang hamil anakmu Firman. Makanya mama sangat bahagia. Kau jangan pulang terlambat, kau harus menjaga istrimu dengan baik.]


[Iya ma, nanti aku pulang secepatnya.]


[Iya Firman.] jawab Nurma kemudian berjalan ke arah Stella dan Vallen yang sedang duduk di atas sofa.


"Vallen, jadi Firman belum tahu jika kau sedang hamil?"


Vallen lalu menggelengkan kepalanya.


"Kau ini bagaimana, Vallen. Kau kan dokter kandungan, ciri-ciri wanita hamil saja tidak tahu, payah sekali."


"Bukan seperti itu, ma. Tapi Vallen hanya..."


"Hanya apa? Kau selalu banyak alasan."


"Hanya ingin memberi kejutan untuk Firman."


"Kejutan untuk Firman?"


"Ya."


"Vallen, bagaimana jika kita mambuat kejutan untuk Firman. Nanti kita makan malam bersama disini, aku juga sudah menelepon David agar datang secepatnya."


"Bukannya tadi mama menelepon Kak David karena ingin memarahinya?"


"Anggap saja mama sedang mengundang kakakmu dengan sedikit tegas." kata Nurma sambil terkekeh.


CEKLEK


Pintu apartemen pun terbuka, David masuk ke dalam apartemen dengan sedikit ragu-ragu.


'Semoga tidak ada perang dunia.' gumam David sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dia kemudian berjalan ke ruang tengah apartemen lalu disambut dengan senyum manis dari Nurma.


"David, kau sudah datang?"


"Oh.. E.. Oya, ma."

__ADS_1


'Kenapa mama tidak marah padaku?' gumam David sambil menatap Vallen dan Stella bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bagus, sekarang kau tolong jaga Vallen ya. Mama dan Stella mau berbelanja dulu untuk memasak makan malam untuk kita semua. Di apartemen ini tidak ada bahan makanan yang cukup, mama tidak habis pikir, memangnya kau beri makan apa Firman?"


"Kami selalu membeli makanan ma." jawab Vallen sambil meringis.


"Astaga, mulai sekarang kau harus bisa belajar memasak Vallen!! Bisa-bisa nanti Firman kabur jika sikapmu seperti ini terus menerus."


"Tidak mungkin ma, itu tidak akan terjadi karena Firman sangat mencintaiku apa mama lupa paket yang mama terima setiap hari it..."


"Vallen!! Jangan membantah kata-kata mama!!"


"Iya iya." gerutu Vallen.


"Eh, apa tadi kau bilang? Paket yang mama terima setiap hari?"


Vallen kemudian menganggukkan kepalanya.


"Jadi paket yang mama terima setiap hari itu pemberian dari Firman?"


Vallen pun menganggukkan kepalanya kembali.


"ASTAGAAA VELLEN!!! JADI KALIAN TELAH BERHUBUNGAN CUKUP LAMA?? KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN SEMUA INI DARI MAMAAAA?"


"Mama sudah ma, bukankah tadi mama mau belanja?" tanya Stella sambil mendekat ke arah Nurma.


"Ya, mama mau belanja."


"Ayo kita pergi sekarang, kita belanja bahan makanan di supermarket saja ma. Di samping supermarket yang tidak jauh dari sini ada toko perhiasan, nanti kita mampir ke toko perhiasan ya ma."


"Toko perhiasan? Mama suka itu, Stella."


"Ahhhh baiklah kau memang menantu yang sangat baik, Stella. Ayo kita pergi sekarang." kata Nurma sambil menarik tangan Stella. Setelah melihat Stella dan Nurma yang sudah meninggalkan apartemen, David kemudian mendekat pada Vallen.


"Vallen, apa sebenarnya yang telah terjadi? Bukankah tadi mama sangat marah padaku?"


"Ya, tadi mama sangat marah padamu karena telah mengambil keputusan sepihak tanpa memberitahu mama, dan menyembunyikan pernikahanku dengan Firman."


"Lalu bagaimana mama tahu kau sudah menikah?"


"Aku yang mengatakannya karena mama tidak sengaja menemukan tespack milikku di atas sofa."


"Jadi, kau hamil?"


"Ya."


"Syukurlah, jadi rencanaku berhasil kan? Mama menyetujui hubunganmu dengan Firman?"


"Iya tapi ini bukan sepenuhnya karena rencanamu, Kak. Tapi mama menyukai Firman karena sudah menyelamatkannya saat hampir saja tertabrak sepeda motor."


"Astaga!!"


"Kenapa Kak?"


"Tahukah kau kenapa mama sangat menyukai Firman dan selalu mendesaknya untuk menikahimu saat mama belum tahu kenyataan yang sebenarnya?"


"Karena dia menyelamatkan mama?"


"Bukan Vallen, bukan hanya itu. Tapi karena mama sudah berjanji di dalam hati jika ada laki-laki muda yang menyelamatkannya, maka akan dia jadikan sebagai menantu."

__ADS_1


"APAAAA? ASTAGA MAMAAA!!"


Melihat Vallen yang begitu terkejut, David pun terkekeh.


"Sembarangan sekali mama menjadikanku sebagai taruhan atas nyawanya. Coba kau pikir, jika yang menyelamatkan mama adalah orang gila, haruskah aku menikah dengan orang gila? Untung saja yang menyelamatkan mama itu suamiku sendiri." gerutu Vallen sambil menatap David yang masih terkekeh.


"Kau jangan mengejekku saja Kak, jadi bagaimana? Apakah ini artinya hubunganku dan Firman akan aman jika mama tahu Firman adalah seorang duda?"


"Tidak, sebaiknya itu tetap menjadi rahasia kita. Dia tidak menginginkan kau dinikahi seorang duda, biarkan saja seiring berjalannya waktu kita jelaskan pelan-pelan pada mama, sekaligus alasannya mengapa Firman menjadi duda di usia muda."


"Ya, itu ide yang bagus Kak."


🍒🍒🍒


Firman membuka pintu apartemen, namun apartemen tersebut tampak begitu sepi. Lampu di apartemen tersebut pun tampak mati, dia pun melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki apartemen tersebut.


"Vallen, kau dimana sayang?"


"Vallen."


'Kenapa sepi sekali, bukankah tadi mama mengatakan jika dia menyuruhku untuk pulang lebih awal untuk menjaga Vallen. Tapi kenapa apartemen ini sepi sekali.' gumam Firman sambil melangkahkan kakinya.


"Astaga jangan-jangan sesuatu terjadi pada Vallen, jangan-jangan mama membawanya pulang." kata Firman kemudian membalikkan tubuhnya berniat keluar dari apartemen tersebut. Namun belum sempat melangkah, tiba-tiba lampu di apartemen tersebut menyala, kemudian Vallen pun berhambur memeluknya.


"FIRMAN!!!"


"Astaga, kupikir sesuatu telah terjadi padamu."


Di saat itu juga Nurma pun menghampiri mereka.


"Selamat Firman, selamat kau akan menjadi seorang ayah. Kau memang laki-laki yang luar biasa dan sangat perkasa karena sudah menghamili putriku dalam waktu yang cukup cepat." kata Nurma sambil terkekeh.


"Mama bisa saja."


Firman kemudian memegang wajah Vallen.


"Jadi kau hamil?"


Vallen pun mengangguk sambil tersenyum. "Hahahaha, ya aku hamil. Akhirnya kau bisa menghamiliku, kau ternyata bisa melakukan itu Firman! Benar kata mama ternyata kau sangat perkasa! Hahahaha."


"Vallen, jaga kata-katamu." bisik David yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya bersama dengan Stella sambil memelototkan matanya.


"Iya Kak Iya."


Firman kemudian mengalihkan pandangannya pada Nurma.


"Terimakasih ma, terimakasih sudah menyetujui hubungan kami, padahal kami sudah melakukan semua ini tanpa memberitahu mama."


"Kau tenang saja Firman, Stella dan David sudah menceritakan semuanya. David sudah melakukan hal yang tepat karena saat ini dia adalah wali dari Vallen, menggantikan papanya."


"Iya ma. Terimakasih banyak padahal aku sadar aku sebenarnya tidak pantas bersanding dengan Vallen, tapi mama menerimaku dengan tangan terbuka."


"Oh tidak Firman, kau sangat pantas bersanding dengan Vallen."


"Terimakasih juga mama sudah menerima statusku sebagai seorang du..."


"JANGAAAANNNN!! teriak David dan Stella bersamaan.


Vallen pun kemudian menginjak kaki Firman.

__ADS_1


"AAAAAWWWW Vallen."


__ADS_2