
"Maaf ya," ujar Kinan sembari memijat pangkal hidungnya. Dia merasa bersalah karena tak membantu apa-apa. Andai bukan karena Bram yang melarangnya turun dari ranjang, dia mungkin sudah sampai di kantornya. Namun, Bram bersikukuh membuatnya tetap di rumah hingga sang suami juga bekerja dari rumah.
"Gapapa, Nan, sehat-sehat aja ya. Nanti gue kirim setiap progresnya kok," ujar Aldo yang lantas membuat Kinan mengangguk.
Setelah telepon itu terputus, Kinan meletakan ponselnya dan memerhatikan Bram. Pria itu mengenakan kaus pendek dan nampak serius menatap laptopnya.
"Mas?"
"Kenapa, Nan?" Bram segera menutup laptopnya kemudian menghampiri sang istri. Tentu hal ini membuat Kinan terkekeh karena Bram seperti benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Enggak, Kinan cuma pengen manggil."
"Kirain mual lagi," ujar Bram. Dia kembali menghampiri laptopnya. Masih banyak hal yang perlu dia kerjakan. Apalagi, ditambah dengan laporannya terhadap Wira yang saat ini masih dalam proses.
Kinan benar-benar bosan semenjak pindah ke rumah barunya. Padahal dia sangat ingin melihat-lihat bagaimana istana barunya itu. Namun, Bram akan berisik jika kakinya menyentuh lantai.
"Mas, Kinan bosen."
"Sebentar. Mas masih banyak kerjaan. Nanti dianter," ujar Bram tanpa melirik Kinan sedikit pun. Dia masih sangat fokus menyiapkan presentasinya karena tak mungkin meminta Raka yang melakukannya. Raka sedang sibuk dengan berbagai bukti yang perlu dia kumpulkan. Setidaknya agar hukuman Wira bisa lebih diberatkan.
Bram terkekeh saat Kinan menghampiri kemudian berbaring dengan menggunakan pangkuannya sebagai bantal. "Mas janji tinggal dikit lagi."
"Dari sejam yang lalu bilang gitu."
Bram terdiam. Dia benar-benar tak bisa meninggalkan pekerjaannya karena meski Wira yang kini mendapat bagian terbesar, tetap saja yang sudah tahu seluk beluk perusahaan itu dengan sangat baik adalah dirinya. Memberikan tugasnya pada Wira hanya akan memperpendek usia perusahaan mereka.
"Gapapa, lanjutin aja," ujar Kinan kemudian meraih sebuah bantal dan memeluknya. Dia terbiasa melakukan banyak hal dan mendadak Bram melarangnya untuk melakukan apa-apa. Sudah bisa dipastikan Kinan akan cepat bosan.
Suara notifikasi ponsel membuat Bram segera meraih benda pipih itu. Namun, Kinan merasa heran saat sang suami seakan panik hanya karena sebuah pesan yang baru masuk. Bahkan, Bram terlihat menelan ludahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Kinan yang membuat Bram kini meletakan ponselnya di samping, bukan lagi di atas meja seperti sebelumnya.
"Gak ada apa-apa kok. Cuman pesan dari Raka katanya dia udah nyerahin beberapa bukti kuat ke kantor polisi."
Kinan mengerutkan dahi. Dia heran mengapa sang suami malah terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, dia memilih tak terlalu peduli. Dia tak mau cari penyakit dengan mencari tahu karena sudah pasti, itu akan menyakitinya.
Kinan memilih untuk bersikap bodo amat. Meski dia takut kehilangan Bram, menurutnya menjaga suasana hati jauh lebih penting sekarang. Dia membaca dari beberapa sumber kalau emosi seorang ibu akan sampai ke janin. Jadi, dia akan berusaha keras untuk selalu bahagia.
"Mas, beli es krim yuk nanti."
"Ayo."
Bram sebenarnya merasa bersalah menyembunyikan semua ini. Dia tak ingin menyakiti Kinan dan juga bayinya. Namun, sisi lain dia malah kembali merasakan perasaan yang sudah lama dia lupakan. Dia memang pernah membenci cara Rena pergi, tapi dia malah menyambut kembali kehadirannya.
"Nan, Mas bakal selesain perasaan ini dulu. Maaf karena Mas gak ngomong apa-apa. Mas sendiri yakin semua ini bakalan secepetnya berakhir," batin Bram. Dia berniat mengusap pucuk kepala Kinan. Namun, dia tak jadi melakukannya karena rasa bersalah itu terlampau kuat.
Sebuah kedai es krim dipilih Bram untuk membahagiakan Kinan. Mereka memesan beberapa menu dan berakhir Bram yang harus menghabiskannya. Bram tak keberatan karena tahu segala hal yang dilihat Kinan sekarang akan tampak menggoda.
Lagi, notifikasi pesan dari Rena membuat Bram segera membalik ponselnya. Dia tersenyum kemudian memberikan es krim yang dia rasa enak.
"Cobain, ini enak." Bram berusaha mengalihkan dengan perasaan tak keruan. Namun, saat Kinan bertingkah biasa saja, Bram bertanya-tanya. Dia jadi takut sebenarnya Kinan sudah tahu selama beberapa hari ini dia dan Rena mulai membangun komunikasi lagi.
"Mas, Mas pengen cewek atau cowok? Kinan sih pengennya cowok," ujar Kinan kemudian memasukan sesendok es krim stroberi ke mulutnya.
"Cewek," jawab Bram. Dia merasa jika punya seorang putri akan sangat menyenangkan. Juga, terlihat menggemaskan dengan beragam jenis pakaian.
"Ah ya, Kinan boleh kan dateng ke acara pernikahan kliennya Kinan? Gak enak soalnya, calon pengantinnya yang minta," ujar Kinan. Dia harap Bram mau mengizinkan tanpa ikut. Dia tak mau Bram bertemu dengan Rena. Bisa-bisa perasaan mereka akan kembali.
"Mas temenin ya."
__ADS_1
"Gak usah, mas, ada Aldo kok. Kalo ada apa-apa Kinan pasti kabarin."
"Bener ya," ujar Bram yang langsung membuat Kinan mengangguk. Pria itu lantas meraih ponselnya saat beberapa pesan masuk dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kali ini Bram memilih membacanya. Dia sudah mengganti nama kontak Rena dalam ponselnya dengan harapan Kinan takkan tahu apa-apa soal dirinya juga Rena.
[Mas, Rena kayaknya gak sanggup buat nikah sama cowo itu]
[Mas bisa bantu Rena kan?]
[cowo itu bukan orang baik]
Bram mengerutkan dahi sebelum memberikan balasan. Sejak kemarin, Rena terus mengatakan soal wanita lain yang jadi simpanan calon suaminya. Namun, sampai detik ini Bram masih belum menanyakan apa alasan Rena pergi darinya kemudian kembali muncul seperti sekarang.
Buta akan perasaan, Bram akhirnya merasa jika dia punya tanggung jawab untuk membantu Rena. Padahal, ada perasaan lain yang harusnya dia perhatikan. Yap! Kinan. Dia lupa soal bagaimana perasaan Kinan jika tahu soal ini semua.
"Mas, Kinan pengen baso tahu."
"Boleh. Tunggu, mas bayar dulu." Bram beranjak, lupa dengan ponselnya yang dia biarkan tergeletak di atas meja.
Ada rasa penasaran yang menguasai. Namun, Kinan sebisa mungkin menepisnya. Dia yakin sesuatu yang menyakiti hatinya ada di sana. Jika tidak, mana mungkin Bram terlihat gugup dan panik setiap ponselnya berbunyi.
"Ah, enggak, Nan. Baby bakalan ikut sedih kalo nanti yang kamu temuin malah hal yang bukan-bukan," gumam Kinan. Dia jadi ngeri setelah ingat soal cerita-cerita ibu rumah tangga yang dia baca dalam sebuah portal online. Di sana banyak yang mengeluhkan suami mereka selingkuh saat hamil. Kinan takut merasakan hal serupa.
"Gak mungkin, Nan, ayo stay positive." Kinan terus menanamkan kalimat itu dalam pikirannya. Dia merasa punya nilai yang lebih jika dibandingkan wanita lain yang mungkin jadi simpanan suaminya. Dia akan memastikan Bram pada akhirnya hanya akan jatuh di pelukannya.
"Ayo. Mau di mana?"
"Deket pasar, tau gak?" tanya Kinan sembari beranjak.
__ADS_1