
Rima lalu berlari meninggalkan Ilham yang masih termenung mendengar kata-katanya. Dia kemudian berlari ke belakang rumah sakit dan berteriak dengan kencang.
"KENAPAAAA? KENAPA HIDUP INI BEGITU KEJAM PADAKU DAN TIDAK PERNAH BERPIHAK PADAKU!!!" teriak Rima.
Sedangkan Ilham kemudian berjalan tak tentu arah di dalam rumah sakit.
Leo dan Calista di dalam kamar perawatan Stella tampak menunggu mereka semua dengan cemas. Tampak Pram yang kini duduk dengan tatapan mata kosong, tubuhnya pun terlihat begitu lemah.
"Leo, Calista, lebih baik kalian bawa Pak Pram pulang terlebih dulu. Ini sudah malam, aku tidak tega membiarkan dia terpuruk di sini, biarkan dia beristirahat di rumah. Beri Rima waktu, aku yakin Ilham pasti bisa membujuknya."
"Apa kau tidak apa-apa jika kami tinggal sendirian!" tanya Calista.
"Tidak apa-apa, aku sudah menghubungi David, sebentar lagi dia pasti akan ke sini." jawab Stella.
"Baik Stella, kami tinggal dulu ya." kata Calista.
"Iya kalian hati-hati di jalan."
Calista dan Leo pun mengangguk, Leo kemudian membantu Pram untuk berdiri dan menuntunnya keluar dari kamar Stella. Beberapa saat setelah mereka keluar, Rima pun masuk ke dalam kamar itu.
"Dimana mereka semua?" tanya Rima pada Stella.
"Sudah pulang." jawab Stella.
'Bagus, aku masuk di saat yang tepat.' kata Rima dalam hati.
"Rima aku sudah mengantuk, aku tidur dulu ya." kata Stella pada Rima.
"Iya." jawab Rima.
'David belum masuk ke ruangan ini, padahal ini sudah pukul sembilan malam jadi rencanaku berhasil.' kata Rima dalam hati.
Beberapa saat kemudian dia menghampiri Stella yang sudah tampak terlelap. 'Bagus, dia sudah tidur, saatnya aku melakukan rencanaku.' gumam Rima kemudian pergi dari ruangan Stella.
Setelah Rima pergi, Stella lalu membuka matanya. "Mencurigakan sekali dia." kata Stella.
Ponsel milik Stella pun kemudian berdering.
'David.' gumam Stella, dia lalu mengangkat panggilan dari David.
[Halo Stella, apa kau baik-baik saja?]
[Ya, memangnya kau dimana? Dari tadi aku menghubungimu tapi tidak ada jawaban?]
[Maaf Stella, aku menggantikan dokter Roni melakukan operasi karena dia tiba-tiba sakit, sedangkan kau tahu dokter ahli jantung di rumah sakit ini hanya ada aku dan dokter Roni, jadi aku harus menggantikan pekerjaannya.]
[Oh ya sudah, kau tenang saja aku baik-baik saja di sini.]
[Iya, sebentar lagi aku ke kamar, aku ganti pakaian dulu Stella.]
__ADS_1
[Iya David.] jawab Stella kemudian menutup telepon dari David.
***
Sementara itu Rima masuk ke dalam ruang kerja David dengan mengendap-endap. Dia langsung menuju ke kamar pribadi milik David yang ada di ruangan itu. Dia lalu melihat sosok yang tengah tertidur di atas ranjang dengan begitu pulas.
'Itu pasti David.' kata Rima dalam hati.
"Tapi kenapa kamar ini gelap? Dimana lampunya?" kata Rima sambil mencari-cari saklar lampu, namun saat dia menemukan saklar lampu itu dan mencoba menyalakannya ternyata lampu di ruangan itu tetap tidak menyala.
"Sial lampunya mati, ini gelap sekali." kata Rima.
"Ah tidak apa-apa, lebih baik aku langsung tidur di samping David." kata Rima kemudian berjalan ke ranjang. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil meraba-raba sosok yang kini terlelap di sampingnya.
"Sayang, apa kau sudah tidur? Ini aku Rima, sayang." bisik Rima di telinga sosok itu.
Perlahan, sosok itu pun bangun.
'Rima.' gumam lelaki itu.
"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuatmu kesal." kata Rima sambil men*ium leher lelaki itu.
Obat perangsang yang baru saja dia makan dalam campuran biskuit itu pun mulai bekerja, apalagi saat ini Rima mulai men*ium bibir lelaki itu dengan begitu bergairah. Lelaki itu pun mulai membalas ciu*an Rima dan perlahan membuka kancing baju Rima.
'Yes, David akhirnya kau kini takluk padaku.' kata Rima dalam hati.
"Maafkan aku atas semua sikapku, aku sebenarnya sangat mencintaimu." kata Rima lagi.
De*ahan dan e*angan pun kian menggema di seluruh sudut kamar hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan. Karena kelelahan, mereka berdua pun akhirnya tertidur. Rima pun memeluk laki-laki yang ada di sampingnya dengan perasaan yang begitu bahagia.
'Akhirnya kau jadi milikku David dan takkan kubiarkan kau kembali pada Stella.' gumam Rima dalam hati sambil tersenyum.
***
David masuk ke ruang kerjanya dengan perasaan begitu dongkol. "Kemana Rima, jangan-jangan dia melarikan diri, tapi aku sudah mengecek seluruh CCTV di pintu keluar dan tidak ada jejak Rima sudah kabur dari sini." gerutu David.
"Untungnya ada Giselle dan Revan yang mengunjungi Stella jadi aku tenang meninggalkannya sendirian di kamar." kata David kemudian menyalakan laptopnya. Namun saat David akan mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba dia mendengar teriakkan dari arah kamar pribadinya di ruangan tersebut.
"TIDAKKKKK." teriak seseorang dari dalam kamar.
Bergegas David pun membuka ruangan itu dan melihat Rima dan Ilham tidur di atas ranjang tanpa memakai pakaian sehelai pun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" teriak David.
"Tidak... Tidak, kenapa bukan kau yang tidur disini David?"
"Cepat pakai baju kalian, kutunggu kalian di luar!" bentak David sambil menutup pintu. Dia lalu menghubungi Revan agar datang ke ruangannya.
"Hei, bren*sek apa yang sudah kau lakukan padaku? Lancang sekali kau berani menyentuh tubuhku!" teriak Rima pada Ilham.
__ADS_1
"Rima apa kau tidak sadar, tadi malam kau yang sudah merayuku!"
"Ah... Sudah cukup aku tidak mau mendengar kata-katamu." kata Rima kemudian keluar meninggalkan Ilham.
***
*Flashback*
Ilham berjalan tak tentu arah, hatinya terasa begitu sakit mendengar perkataan Rima. Saat itulah tiba-tiba dia menabrak David yang sedang berjalan menuju ke kamar Stella.
"Maaf." kata Ilham.
"Tidak apa-apa, sepertinya anda sedang tidak sehat?" tanya David.
"Tidak saya baik-baik saja, saya hanya sedang mencari tunangan saya, Rima, dia dulu bekerja di rumah sakit ini, mungkin anda melihatnya?"
"Apa Rima?"
"Ya, Rima tunangan saya, saya dan ayahnya baru saja sampai dari Jogja."
'Jadi mereka sudah sampai di rumah sakit ini?' kata David dalam hati.
"Emh.. Maaf siapa nama anda?"
"Ilham."
"Iya Ilham, saya David kekasih Stella, bisakah saya berbicara sebentar dengan anda?"
"Oh jadi anda dokter David? Saya minta maaf pada anda jika selama ini Rima telah menyakiti anda dan Stella."
"Tidak apa Ilham, sebaiknya kita bicara di ruangan saya. Saya ingin berbicara empat mata dengan anda."
"Baik dokter David." jawab Ilham kemudian mengikuti David menuju ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, seorang OB pun mengantarkan minuman dan memberikan biskuit yang ada di meja untuk Ilham.
"Silahkan diminum." kata David sambil terlihat sibuk dengan ponselnya.
Ilham pun meminum teh yang ada di hadapannya sambil menunggu David yang kini terlihat begitu sibuk mengangkat telepon dari seseorang. Namun, beberapa saat setelah memakan biskuit dan meminum teh yang ada di hadapannya tiba-tiba Ilham merasa begitu pusing, dia lalu memegang kepalanya.
"Kau kenapa Ilham?"
"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."
"Oh jika kau pusing, lebih baik kau istirahat saja di kamar pribadiku, itu kamarnya. Saya juga sepertinya ada urusan mendadak untuk menggantikan operasi dokter Roni. Kalau kau sudah sembuh kau bisa pulang, mungkin kita harus menunda perbincangan kita sampai besok."
"Iya dokter David, terimakasih." kata Ilham kemudian masuk ke kamar pribadi David.
Note hari ini:
__ADS_1
Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang 🤭✌️