
"Jadi ini cairan darah perawan yang kau beli di toko online Dewi?" tanya Leo. Dia kemudian bangun dari ranjang dan berjalan ke arah Dewi.
"Tuan Leo, jadi anda belum tidur?"
"Aku baru saja minum kopi, bagaimana aku bisa tidur? hahahaha."
"Bukankah tadi anda bilang kepala anda sedikit pusing?" tanya Dewi gugup sambil menahan perasaannya yang kian tak menentu.
"Ya aku memang sedikit pusing karena memikirkan ulahmu ini," jawab Leo sambil tersenyum kecut.
"Calista, tolong bawa barang-barang milik Dewi dan usir dia sekarang juga."
Pintu kamar pun terbuka, Calista kamudian masuk ke dalam kamar dengan Bi Asih yang sudah membawa barang-barang milik Dewi.
"Waktumu di rumah ini sudah habis Dewi, aku tak menyangka jika kau akan berbuat jahat seperti ini."
"Nyonya Calista, maafkan saya, saya hanya sedikit terbawa emosi saat Tuan Leo menegur saya malam itu." kata Dewi yang kini bersimpuh di kaki Calista sambil menangis.
"Alasan saja kamu Dewi, sejak awal kamu datang di rumah ini aku sudah curiga padamu! Bukankah sudah kuperingatkan jika jangan pernah bermain-main dengan Tuan Leo!" kata Bi Asih menimpali.
"Bi Asih tolong jangan bicara seperti itu, aku tidak seperti yang Bibi bicarakan," kata Dewi sambil memandang Bi Asih.
"Tidak usah banyak alasan Dewi! Kalau kau perempuan baik-baik untuk apa kau sampai membeli cairan darah perawan? Bahkan aku lah yang menemukan bekas bungkusan paketan itu saat kau membuangnya di tempat sampah!"
"Kau seharusnya belajar terlebih dulu jika ingin bermain-main dengan kami Dewi, karena aku tak sebodoh yang kau bayangkan! Tipuan yang kau gunakan itu adalah tipuan murahan! Asal kau tahu sejak malam itu kami sudah mengawasi gerak-gerikmu!"
"Leo mungkin Dewi juga tidak tahu jika di berbagai sudut rumah ini telah terpasang CCTV."
'CCTV' gumam Dewi.
"Benarkan Leo, dia tidak tahu, lihat wajahnya sangat terkejut saat aku mengucapkan CCTV."
'Kenapa itu tidak terpikirkan olehku! Aku benar-benar ceroboh!' kata Dewi dalam hati.
"Ya bahkan saat dia mengoleskan obat tidur di cangkir itu kita sedang tertawa terbahak-bahak di kamar Calista. Hahahaha."
Calista dan Bi Asih tersenyum mendengar perkataan Leo. 'Sial, aku benar-benar dipermalukan!' gumam Dewi sambil menutup mata, perasaannya begitu campur aduk menahan rasa sedih dan malu.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan Leo dan Nyonya Calista, saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Maafkan saya Tuan, Nyonya." teriak Dewi sambil terus berlutut di hadapan Calista.
"Cukup Dewi! Tidak akan kubiarkan seorang penjahat ada di rumah ini, angkat kakimu sekarang juga dari rumah ini sebelum aku berubah pikiran dan melaporkanmu ke polisi!"
"Ampuni saya Tuan Leo, ba.. baik saya akan pergi sekarang juga." kata Dewi sambil mengambil barang-barang miliknya kemudian berjalan menuju pintu diantar oleh Bi Asih.
"Akhirnya dia pergi juga, aku sudah lelah berpura-pura baik padanya."
"Hahahaha, maaf aku sudah membuatmu jengkel beberapa hari ini sayang, aku bisa saja memecat Dewi saat itu juga tapi aku ingin melihat sejauh mana rencana yang akan dia lakukan pada kita."
"Iya Leo, aku mengerti."
"Aku rindu kamu Calista sayang, bukankah nifasmu sudah selesai hari ini?' kata Leo sambil memeluk Calista dan mendekatkan wajahnya.
"Jangan disini Leo, ini kamar tamu, bagaimana kalau ada yang liat?"
"Memangnya kenapa? Kita kan suami istri?"
"Dasar kau memang tidak punya malu."
"Rasa rinduku mengalahkan maluku Calista, hahahaha."
"Tunggu aku Calista sayang."
Rima menatap kepergian Dewi dari balik jendela sambil menyunggingkan senyum di bibirnya. "Akhirnya kau pergi juga Dewi," kata Rima kemudian masuk ke dalam rumah.
*Flashback*
"Kamu kenapa Dew?" tanya Rima saat masuk ke dalam kaimar sambil terlihat begitu kesal.
"Pak Leo Rim, tadi aku ketemu Pak Leo yang sedang duduk di mini bar."
"Lalu? Bukannya seharusnya kau bahagia bisa berduaan dengan Pak Leo?"
"Bahagia apanya, dia malah memarahiku!"
"Apa memarahimu? Hahahaha."
__ADS_1
"Rima! Kamu malah ketawa sih!"
"Ya lucu aja, memangnya kamu salah apa sih Dew sampai dimarahi Pak Leo?"
"Cuma gara-gara ini nih!" kata Dewi sambil memperlihatkan bajunya.
"Baju?"
"Memangnya kenapa baju kamu Dew?"
"Kata Pak Leo, bajuku terlalu terbuka, dia bahkan mengancam akan memecatku jika masih melihatku memakai pakaian seperti ini lagi."
"Hahahaha ya lagian kamu juga, ngapain juga sih pake baju kaya gituan."
"Mau menggoda Pak Leo." jawab Dewi sambil tersipu malu.
'Kamu juga godainnya nanggung sih Dewi, kalau pengen dapetin Pak Leo kamu pura-pura aja diperkosa sama Pak Leo."
"Pura-pura diperkosa?"
Rima menangguk sambil tersenyum nakal. "Bagaimana caranya Rima?" tanya Dewi.
"Kamu tinggal jebak Pak Leo, beli saja obat tidur sama cairan darah perawan, terus kamu pura-pura diperkosa deh, beres kan, kamu bisa jadi istri sekaligus balas dendam sama Pak Leo yang udah ngolok-olok kamu."
"Benar juga kau Rim, tapi dimana aku bisa dapet barang seperti itu?"
"Aduhhhh kamu bodoh banget sih Dewi, tinggal beli di toko online banyak."
Senyum nakal pun tersungging di bibir Dewi, "Terima masih banyak Rima, aku janji kalau sudah jadi istri Pak Leo gajimu akan kunaikkan." kata Dewi sambil terus tersenyum.
"Iya iya udah aku tidur dulu ya Dew."
"Iya sana tidur, aku mau pesen barang-barang yang tadi kau sebutkan." kata Dewi sambil memainkan ponselnya.
'Yes, berhasil. Kau masuk dalam jebakanku Dewi, setelah ini tinggal aku satu-satunya baby sitter untuk mengasuh Nathan dan Nala, kini nyawa mereka ada dalam genggamanku. Selain itu, aku juga bisa bebas melancarkan rencanaku di rumah ini karena aku tidak memiliki teman sekamar yang cerewet dan menyebalkan sepertimu.' gumam Rima sambil melirik Dewi yang kini terlihat begitu bahagia.
***
__ADS_1
Rima berjalan ke arah kamarnya, dan di saat itu juga Rima melihat Leo yang sedang berjalan bersama Calista naik ke lantai atas.
'Leo, penjahat yang sebenarnya adalah aku bukan Dewi, bahkan aku yang sudah dengan sengaja menunjukkan pada Bi Asih bekas bungkusan darah perawan palsu yang dibeli oleh Dewi. Kupastikan mulai saat ini aku akan memulai permainan ini denganmu, tidak ada lagi orang yang menghalangiku untuk berbuat jahat pada putra dan putri kesayanganmu. Karena kau harus membayar dosa-dosa masa lalu ayahmu yang telah menghancurkan keluargaku, dia sama saja buaya darat sepertimu Leo!' kata Rima dalam hati.