Salah Kamar

Salah Kamar
Kontrol Kandungan


__ADS_3

"Kau kenapa diam?" tanya Drey saat berada di dalam mobil.


"Tidak apa-apa aku hanya mengantuk."


"Rima. Apakah kau masih memikirkan Ilham?"


"Memangnya kenapa? Dia masih suamiku." jawab Rima. Drey pun kemudian melirik Rima yang menatap lalu lintas yang ada di depannya dengan tatapan mata kosong. Selanjutnya hanya ada keheningan yang tercipta diantara keduanya.


"Ayo Rima." kata Drey saat membuka pintu mobil.


"Aku bisa sendiri."


Drey pun mengerutkan keningnya sambil melihat Rima yang tampak begitu kesulitan saat keluar dari mobil.


"Biar kubantu saja."


"Tidak usah, aku bisa sendiri." jawab Rima ketus.


"Kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini Rima? Apa ada sikapku yang sudah menyinggungmu?"


Mendengar perkataan Drey, Rima pun kemudian terdiam.


'Astaga, apa yang telah kulakukan? Kenapa tiba-tiba aku berubah setelah melihat Drey yang masih tampak tertarik pada Olivia?' kata Rima dalam hati.


"Maafkan aku Drey, mungkin aku sedikit terbawa perasaan saat tadi di rumah sakit."


"Kau masih memikirkan Ilham?"


Rima pun kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita masuk ke dalam, ini sudah malam. Udara malam tidak baik untuk wanita hamil."


"Iya." jawab Rima.


Drey kemudian membantu Rima naik ke atas kursi roda dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya mama sudah tidur."


"Iya, itu jauh lebih baik. Hari ini aku begitu lelah, aku sedang malas mendengarkan celotehannya."


"Hahahaha, kau ada-ada saja Drey."


Setelah mengganti bajunya, Rima kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia lalu melihat Drey yang kini berjalan ke sofa dan bersiap untuk tidur di sofa.


"Drey, tidurlah disini. Bukankah tadi kau mengatakan hari ini kau sangat lelah? Tidur di sofa akan membuat badanmu sakit."


"Tidur di atas ranjang bersamamu?"


Rima pun kemudian mengangguk.


"Kita bisa menaruh guling di tengah ranjang jadi kita tidak akan bersentuhan."

__ADS_1


"Apa kau tidak terganggu?"


"Tentu tidak."


"Terimakasih." jawab Drey kemudian berjalan ke ranjang dan tidur di sebelah Rima. Dia lalu memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian sudah terdengar dengkuran halus darinya. Rima yang melihatnya hanya tersenyum sambil menatap wajah Drey.


☘️☘️☘️


"Drey, sudah hampir satu minggu Rima keluar dari rumah sakit, lebih baik kau menemaninya mengontrol kandungan Rima." kata Risma saat mereka sedang menikmati sarapan.


"Iya ma, nanti sore aku pulang lebih awal, aku akan menemani Rima ke dokter kandungan."


"Terimakasih." jawab Rima sambil tersenyum.


"Kenapa harus berterimakasih Rima, itu sudah jadi kewajiban Drey untuk menjagamu dan anak yang kau kandung, karena dia adalah darah daging Drey."


Mendengar perkataan Risma, Drey kamudian tersedak, dia lalu memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.


"Drey, apa-apaan kamu! Makanya kalau makan itu pelan-pelan." teriak Risma pada Drey.


"Emh.. E... Iya ma." jawab Drey sambil melirik pada Rima. Tak lama, Drey lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Aku sudah selesai, aku berangkat ke kantor dulu Rima. Mama titip Rima ya."


"Iya. Hei, kamu kenapa langsung berdiri seperti itu?"


"Memangnya kenapa ma?"


"Apa sebenarnya maksud mama?"


"Aduh, kenapa mama harus mengajarimu." kata Risma sambil menggelengkan kepalanya.


"Cium dulu istrimu sebelum berangkat ke kantor Drey." kata Risma sambil menggerutu.


"Apa cium?" kata Drey sambil membelalakan matanya.


"Ya cium. bukankah itu yang selalu dilakukan semua pasangan suami istri?"


Drey pun menggaruk kepalanya, dia lalu menatap Rima dengan tatapan penuh tanda tanya. Rima pun kemudian mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya Drey pun mendekat ke wajah Rima kemudian mencium keningnya.


"Aku pergi ke kantor dulu." kata Drey kemudian membelai rambut Rima.


"Iya." jawab Rima. Kemudian dia melihat Risma yang kini tampak tersenyum padanya.


"Dasar payah, hal seperti itu saja harus diajarkan." gerutu Risma.


'Itu karena Drey tidak mencintaiku ma, seandainya saja wanita yang dia cintai yang jadi istrinya pasti dia akan melakukan semua itu tanpa kau minta.' kata Rima dalam hati.


☘️☘️☘️☘️


"Kau yakin kita ke rumah sakit ini lagi Drey? Masih ada Ilham disini." kata Rima saat mereka akan memeriksakan kandungan Rima.

__ADS_1


"Aku yakin karena beberapa temanku merekomendasikan dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini."


"Tapi bagaimana jika kita bertemu dengan Ilham?"


"Tidak Rima, itu tidak mungkin karena kita akan pergi ke poli kandungan, sedangkan Ilham masih di ruang perawatan yang jaraknya berjauhan dengan tempat kita akan memeriksakan kandunganmu."


"Ya sudah jika itu maumu." kata Rima, meskipun rasa takut mulai menyelimuti hatinya.


Saat mereka melewati ruang farmasi, tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka. "Bukankah itu Rima? Kenapa Rima kembali bersama dengan laki-laki itu? Apakah kini mereka memiliki hubungan spesial?" kata Ilham yang kini berada di ruang farmasi untuk menebus obat sebelum dia keluar dari rumah sakit itu. Ilham terus mengamati Rima yang kini berjalan ke arah poli kandungan.


"Pak polisi, bisakah saya pergi ke sana sebentar, saya mau memastikan apakah tadi istri saya."


"Ya tapi kau tidak boleh sendirian, kau akan ditemani oleh Dani."


"Iya Pak Polisi." kata Ilham.


Mereka lalu berjalan ke arah poli kandungan, dia melihat Rima dan Drey tengah duduk mengantri di depan ruangan dokter kandungan.


'Jadi benar dia ke poli kandungan? Untuk apa dia kesini? Apa jangan-jangan Rima hamil?' kata Ilham dalam hati.


"Hei, katamu kau mau menemui istrimu, tapi kenapa kau hanya berdiam diri di sini?" tanya polisi yang menemani Ilham.


"Maaf Pak polisi, tapi coba bapak lihat itu? Lihat wanita yang ada di kursi roda itu, dia adalah istriku, dan laki-laki itu adalah selingkuhannya. Aku sedang mengamati mereka berdua."


"Dasar kau ada-ada saja." gerutu polisi yang menemani Ilham.


'Lagipula wajar jika istrimu selingkuh, mana ada manusia normal yang mau menjalani rumah tangga dengan laki-laki gila sepertimu.' kata polisi tersebut dalam hati.


Setelah Rima dan Drey masuk ke dalam ruangan dokter, Ilham lalu mendekat pada salah seorang perawat yang ada di poli tersebut.


"Permisi, saya mau tanya, apa keperluan Nyonya Rima datang ke poli kandungan ini?"


"Nyonya Rima yang baru saja masuk ke dalam ruang dokter?"


"Ya."


"Oh dia akan memeriksakan kandungannya, saat ini Nyonya Rima sedang hamil lima minggu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Terimakasih." jawab Ilham kemudian menjauhi perawat tersebut lalu menghampiri polisi yang sedang menunggunya.


'Jadi Rima sedang hamil lima minggu? Jadi janin yang ada di dalam kandungan Rima adalah anakku, darah dagingku.' kata Ilham dalam hati.


"Kau sudah selesai?" tanya polisi tersebut.


"Ya."


"Ayo kita pergi dari sini." kata beberapa polisi yang menemani Ilham. Mereka lalu berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut.

__ADS_1


'Ini benar-benar kabar yang bagus, akan kujadikan kehamilan Rima sebagai alat agar aku bisa bebas dan menguasai Rima kembali. Dia harus mau menuruti semua kata-kataku seperti dulu. Rima harus kembali ke dalam pelukanku.' kata Ilham dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2