Salah Kamar

Salah Kamar
Dia Siapa?


__ADS_3

"Astaga, aku benar-benar tak menyangka jika kekasih baru Mas Firman ternyata orang yang sangat dekat denganku."


Aini kemudian duduk di depan meja rias, dia lalu mengernyitkan keningnya sambil mengingat beberapa kejadian tentang Vallen dan Firman.


"Jadi, saat di halaman rumah sakit, laki-laki yang berpelukan dengan Dokter Vallen adalah Mas Firman? Laki-laki yang setiap hari selalu mengirimkan sebuket bunga mawar untuk Dokter Vallen itu Mas Firman? Jadi, sebuket bunga mawar merah jambu yang kemarin kubawa pulang itu adalah pemberian Mas Firman untuk Dokter Vallen? Lalu laki-laki yang berciuman dengan Dokter Vallen di ruangannya juga adalah Mas Firman? Dia bahkan mau menunggu Dokter Vallen di depan rumah meskipun tubuhnya basah kuyup karena kehujanan. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia melakukan semua ini untuk Dokter Vallen."


Aini lalu tersenyum.


"Selama aku menjadi kekasihmu dulu, kau tidak pernah melakukan semua itu padaku, ternyata kau sangat mencintai Dokter Vallen, Mas Firman. Aku ikut bahagia jika kau sudah menemukan cinta sejatimu, hanya saja ini semua terasa begitu aneh. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana sikapku besok saat aku melakukan kontrol rutin dan bertemu dengan Dokter Vallen?" kata Aini sambil menutup wajahnya.


"Ah kenapa harus dipikirkan? Jika Dokter Vallen tidak tahu aku mantan kekasih Mas Firman aku tetap bisa bersikap biasa saja padanya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


🥀🥀🥀🥀🥀


Mendengar perkataan Delia, Vallen pun merasa begitu emosi, dia kemudian mendekat pada Delia.


PLAKKKKK PLAKKKK PLAKKKK PLAKKKK


Kemudian Vallen pun menjambak rambut Delia lalu menghempaskan tubuhnya.


"AMPUNNNNNN VALLEEEENNNNN!!!" kata Delia saat tubuhnya sudah terjembab di atas tanah. Vallen pun mendekat ke arah Delia.


"Delia, kuperingatkan padamu agar sebaiknya kau tidak usah mengusik lagi kehidupanku dengan Firman. Kalian sudah bercerai, kehidupan Firman sudah tidak ada hubungannya denganmu, lagipula anakmu juga bukan darah daging Firman jadi kau tidak berhak lagi ikut campur kehidupan Firman! Apa kau mengerti!" bentak Vallen tepat di depan wajah Delia. Delia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.


"Aku tidak butuh anggukan kepalamu! Sekarang jawab pertanyaanku! Apa kau mengerti!"


"Ya, aku mengerti."


"Mengerti apa? Bicara yang jelas, Delia!"


"Aku mengerti, aku tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan kalian!"


"Bagus, jangan coba-coba untuk bermain-main dengan kami atau kau akan tahu akibatnya!"


Vallen kemudian meninggalkan Delia yang masih duduk di atas tanah. Penampilan Delia pun kini tampak begitu berantakan. Beberapa orang ibu-ibu yang melihat kejadian itu pun bersorak.


"Makanya Delia, jadi orang tahu diri. Kamu bisa nikah sama Firman aja itu karena kamu udah jebak dia, jadi ga usah berharap lebih deh."


"Iya dasar ga tau diri, udah mau nikah sama Dimas juga masih ganggu hubungan orang."


"Mungkin dia ga punya kaca sampe berani nantang Dokter Vallen. Hahahaha."

__ADS_1


"Hahahaha."


Delia pun begitu marah mendengar ejekan beberapa ibu-ibu yang masih ada di sekitar minimarket. Perihnya bekas tamparan di pipi Delia pun kini tak sebanding dengan rasa kesal yang begitu berkecamuk di dalam dadanya.


"APA KALIAN SEMUA TIDAK BISA DIAM! LEBIH BAIK KALIAN TIDAK USAH IKUT CAMPUR URUSANKU!" bentak Delia kemudian bangkit lalu berjalan menuju ke mobil milik Dimas yang menunggunya di parkiran minimarket.


"HUUUUUUUUU KAMU SENDIRI YANG CARI MASALAH! NGACA DONG NGACA!!" teriak beberapa ibu-ibu tersebut. Delia yang kini sudah ada di dalam mobil, pun hanya bisa memandang mereka dengan tatapan tajam.


"Hari ini aku benar-benar telah dipermalukan, bukan hanya oleh Vallen tapi juga oleh ibu-ibu kurang ajar itu." gerutu Delia sambil mengelus pipinya yang kini terasa semakin perih.


Sementara Vallen yang baru saja sampai di rumah Firman, setelah memarkirkan motor yang baru saja dipakainya dia langsung masuk ke dalam rumah dengan perasaan begitu kesal. Vallen kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas sofa. Firman yang baru saja selesai mandi pun merasa begitu heran melihat Vallen dengan raut wajah yang sedikit ditekuk. Dia kemudian mendekat ke arah Vallen.


Vallen pun begitu terkejut melihat Firman yang kini duduk di sampingnya dan hanya mengenakan celana kolor dan handuk yang tersampir di tubuhnya.


'Astaga, aku tak menyangka Firman menyimpan tubuh yang begitu atletis di balik pakaian yang selalu dikenakannya.' gumam Vallen saat menatap Firman sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Kau kenapa sayang? Apa sesuatu telah terjadi padamu? Apa kau bertemu dengan Dimas lagi?"


Vallen pun menggelengkan kepalanya. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.


"Firman, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tolong kau jujurlah padaku."


"Tolong jujurlah padaku, apa kau mengenal wanita ini?" tanya Vallen sambil memperlihatkan foto Aini yang dia ambil dari foto profil akun chat milik Aini. Firman kemudian mengambil ponsel milik Vallen kemudian memperhatikan wanita yang ada di foto tersebut.


'Astaga, bukankah ini Aini? Bagaimana Vallen bisa memiliki foto Aini? Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya?' gumam Firman.


"Firman, kenapa kau diam?"


"O... Oh itu."


"Dia siapa Firman?" tanya Vallen sambil menatap Firman begitu dalam.


"E... Itu, Vallen sungguh aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, aku hanya mencintaimu Vallen. Percayalah padaku."


"Memangnya dia siapa Firman? Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Vallen yang membuat Firman kini terlihat begitu salah tingkah.


"Firman, dia siapa?"


Firman kemudian memegang wajah Vallen.


"Vallen, dengarkan aku. Dia adalah mantan kekasihku, namanya..." Belum sempat Firman melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Vallen sudah menimpalinya.

__ADS_1


"Aini." sambung Vallen sambil tersenyum.


Melihat senyuman di wajah Vallen, Firman pun begitu lega. 'Syukurlah dia tidak marah padaku.' gumam Firman di dalam hati.


"Darimana kau tahu Aini? Apa ada yang menceritakan tentang Aini padamu?"


"Ya, aku tadi bertemu dengan Delia, mantan istrimu. Dan dia membuatku benar-benar kesal, dia menghasutku agar tidak mempercayai semua kata cintamu karena menurutnya kau hanya mencintai Aini dan aku hanyalah pelampiasan saja bagimu, tapi tenang saja aku sudah memberinya pelajaran pada wanita menyebalkan itu." gerutu Vallen.


"Jadi kau tidak percaya pada hasutan Delia kan?"


"Tentu saja tidak, memangnya aku bodoh."


"Bagus, kau memang kekasihku yang paling pintar. "


"Hahahaha tentu saja karena tidak ada alasan bagiku untuk meragukan cintamu." bisik Vallen di telinga Firman yang membuat Firman tersenyum.


"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan foto Aini? Apakah Delia juga yang memberikan foto itu padamu?"


"Hahahaha... Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa?"


"Karena sebelum mengenalmu, aku terlebih dahulu mengenal Aini."


"Jadi kau kenal dengan Aini?"


"Tentu saja, dan kini dia adalah salah satu pasienku." jawab Vallen sambil terkekeh.


"Astaga, dunia ini memang begitu sempit!" kata Firman sambil mengusap kasar wajahnya.


Vallen pun tersenyum, dia kemudian menatap Firman dengan tatapan sedikit nakal. "Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu, Vallen?"


"Aku tak menyangka kau menyimpan tubuh yang begitu indah di balik pakaianmu."


"Kau ada-ada saja."


Vallen pun semakin mendekat ke tubuh Firman. "Kau mau apa, sayang?"


"Hanya memelukmu." jawab Vallen kemudian memeluk tubuh te*anjang Firman yang belum mengenakan pakaian.


"Vallen jangan seperti ini, kau membuatku kegelian Vallen!!!"

__ADS_1


__ADS_2