
"Saya sudah selesai Pak Revan."
"Baik, ayo kita pulang sekarang." kata Revan kemudian berjalan keluar dari kamar hotel.
'Dasar lelaki berhati batu, apa dia tidak lihat aku bawa barang sebanyak ini, enak sekali dia berjalan sendirian seperti tidak punya beban.'
"Hai Giselle, cepat!"
"Sebentar Pak, apa Bapak tidak lihat saya bawa barang sebanyak ini!"
"Jadi kau ingin aku membantumu?" tanya Revan sambil mendekat ke arah Giselle.
"Em.. E.. Tidak Pak."
"Bagus, kau harus sadar diri kalau kita berbeda Giselle."
"Iya.. Iya." gerutu Giselle.
'Sial!! Tuhan kenapa nasibku seburuk ini? Dua kali aku menikah dengan lelaki kaya tapi selalu saja tidak pernah dihargai.' gumam Giselle sambil berjalan di belakang Revan.
Dua jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Giselle. "Kuberi kau waktu sepuluh menit untuk membereskan barang-barangmu dan berpamitan dengan orang tuamu."
"Hah yang benar saja Pak Revan, saya tidak mungkin melakukan semua secepat itu!"
"Cepat Giselle, satu... dua.."
"Iya.. Iya Pak." jawab Giselle lalu keluar dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam rumahnya.
"Ma..Mamaaa.." teriak Giselle saat masuk ke dalam rumah.
"Iya Nak, kamu kenapa sih? Kok panik gitu."
"Ma, tiba-tiba Giselle dipindahkan ke luar kota. Giselle pamit ya Ma, Giselle janji selalu kasih kabar ke Mama tiap hari." kata Giselle sambil membereskan barang-barangnya.
"Iya Nak, kok buru-buru banget."
"Iya Ma, ini tugas mendadak. Giselle pergi sekarang ya." kata Giselle lalu memeluk dan mencium mamanya.
"Iya Nak, kamu hati-hati ya."
__ADS_1
"Iya Ma," kata Giselle lalu bergegas keluar dari rumah kemudian mendekat ke arah mobil Revan yang terparkir sedikit jauh dari rumahnya.
"Lama sekali, kau terlambat lima menit Giselle." kata Revan saat Giselle masuk ke dalam mobil.
"Ini udah cepet banget Pak Revan, memangnya anda pikir saya jin yang bisa melakukan sesuatu hanya dengan mengedipkan mata." jawab Giselle dengan nafas yang tersengal-sengal.
Revan hanya mendengus kesal mendengar jawaban Giselle, dia lalu mengendarai mobilnya menuju apartemennya. Giselle sekilas melirik pada Revan yang kini tampak serius mengendarai mobilnya.
'Sejahat-jahatnya Leo padaku dulu, dia tidak pernah sekasar ini.' gumam Giselle sembari menatap ponselnya melihat salah satu postingan Leo saat memeluk Calista yang sedang menggendong Nathan.
'Leo, aku rindu kamu.' gumam Giselle lagi.
***
"Rima, menurutmu laki-laki seperti Tuan Leo apa bisa tahan menunggu masa nifas istrinya?" kata Dewi saat mereka di dalam kamar bersiap untuk tidur.
"Kamu ngomong apa sih Dew? Mikirnya kejauhen deh."
"Ya, mungkin saja kan Tuan Leo punya wanita lain di luar sana, sebagai laki-laki normal dia pasti ingin mendapatkan kebutuhan biologis yang ga bisa dia dapatkan dari Nyonya Calista untuk saat ini."
"Apaan sih Dewi, kok mikirnya gitu! Udah ah aku mau tidur, besok aku mau bangun pagi buat gantiin Nyonya Calista jagain si kembar, kasihan dia kalau malam selalu begadang ngurus si kembar!"
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus dari Rima yang semakin membuat Dewi merasa kesal. "Ih beneran ditinggal tidur gue. Lebih baik gue keluar aja deh duduk di deket kolam renang aja sambil foto-foto buat gaya-gayaan." kata Dewi sambil terkekeh.
Dia kemudian keluar dari kamar, namun saat akan berjalan ke arah kolam renang, tiba-tiba dia melihat Leo sedang duduk sendirian di mini bar sambil menikmati kopi. 'Tuan Leo.' gumam Dewi dengan mata berbinar.
"Kesempatan bagus, aku akan berpura-pura mengambil sesuatu di dalam kulkas di dekat mini bar agar bisa dekat dengan Tuan Leo." kata Dewi sambil berjalan mendekat pada Leo.
"Selamat malam Tuan Leo."
"Malam." jawab Leo datar sambil memainkan ponselnya.
'Ih kok gue dicuekin.' kata Dewi dalam hati, dia kemudian sedikit menggoda Leo dengan memainkan tubuh moleknya yang hanya berbalut tanktop putih berenda yang sedikit menerawang dengan celana hot pants.
Beberapa saat kemudian Leo pun menghampirinya. 'Yes, gue berhasil, Tuan Leo pasti tertarik sama gue.'
"Dewi."
"Iya Tuan Leo." jawab Dewi dengan sedikit manja.
__ADS_1
"Dewi lain kali kau tidak boleh berpakaian seperti ini di rumah saya, berpakaianlah lebih tertutup dan rapi. Jika saya melihat kamu memakai pakaian seperti ini lagi, saya tidak segan untuk memecatmu Dewi."
Dewi begitu terkejut mendengar perkataan Leo. "Ba.. Baik Tuan Leo." jawab Dewi dengan sedikit gugup dan takut karena Leo terlihat marah.
"Jika sudah tidak ada perlu lagi sebaiknya kau sekarang tidur karena besok pagi kau sudah harus bergantian dengan Calista yang menjaga si kembar semalaman."
"Ba.. Baik Tuan." jawab Dewi kemudian kembali ke kamarnya.
"Sial.. Sial!!! Aku tak menyangka Tuan Leo akan bersikap seperti itu padaku, kupikir dia seperti laki-laki lain yang mudah terpedaya oleh tubuh wanita." gerutu Dewi sambil masuk ke dalam kamar.
***
Revan mengendarai mobilnya menuju sebuah apartemen di pusat kota Jakarta. "Kita sudah sampai, kau masuklah ke dalam, aku pulang dulu." kata Revan pada Giselle saat mereka masuk ke apartemen miliknya.
"Hei, kau anggap apa aku ini Pak Revan? kau meninggalkanku begitu saja disini layaknya barang yang bisa kau taruh sesukamu."
"Memangnya apa yang kau inginkan dariku Giselle?" kata Revan sambil mendekatkan tubuhnya pada Giselle. Giselle lalu berjalan mundur karena Revan terus mendekat kepadanya, sampai akhirnya Giselle terhenti karena tubuhnya sudah menempel pada tembok.
"Pa..Pak Revan, apa yang akan anda lakukan?"
"Bukankah kau istriku Giselle, aku bisa melakukan apapun yang kumau padamu." jawab Revan sambil tersenyum menyeringai.
"Pa.. Pak Revan, sadarlah bukankah tidak seperti ini perjanjiannya?"
"Hahahaha.. Hahahahaha." Revan lalu tertawa sambil berjalan menjauhi Giselle yang kini tampak begitu pucat.
"Aku hanya bercanda Giselle, aku juga tidak ingin menyentuhmu."
Giselle lalu menghembuskan nafas begitu panjang saat melihat Revan berjalan menuju pintu apartemen. "Aku pergi dulu Giselle, jaga dirimu baik-baik." kata Revan sambil keluar dari apartemen itu.
"Akhirnya dia pergi juga, lebih baik dia secepatnya pergi dariku karena ternyata berada di dekatnya hanya semakin membuat diriku merasa tertekan." kata Giselle lalu masuk ke dalam kamar dan merapikan barang-barangnya. Setelah semua tertata rapi dia lalu berjalan ke arah balkon sambil menikmati hiruk pikuk kota Jakarta di malam hari. Beberapa saat kemudian, pandangannya beralih pada rembulan yang malam ini bersinar dengan begitu terang.
'Tuhan, kenapa rasanya sulit sekali aku melupakan dirinya, padahal aku tahu dia bagaikan bulan di langit yang tidak pernah bisa kugapai, hanya cahayanya yang bisa kurasakan menerangi sisi gelap hati ini.' gumam Giselle kemudian dia memejamkan matanya. Di saat itu pula ada sebuah bisikan di telinganya yang memanggil namanya.
"Giselle." bisik seseorang di telinganya.
"Leo." kata Giselle sambil tersenyum, namun saat dia membalikkan tubuhnya, Revan tampak berdiri di belakangnya dengan raut wajah kebingungan.
"Leo?" tanya Revan.
__ADS_1