
"Kamu darimana saja Rima?" tanya Sherly saat Rima masuk ke ruangan mereka.
"Disuruh dokter David menemani Nyonya Stella."
"Bagaimana kondisinya saat ini?"
"Cukup baik."
"Ya, dokter David memang memberikan perawatan terbaik untuk kekasihnya itu. Dia memang sangat mencintai Nyonya Stella. Wajar saja dia melakukan itu karena Stella begitu cantik, dia pasti tidak ingin kehilangan Stella begitu saja." kata Sherly yang membuat hati Rima kian terasa begitu sakit.
"Emh.. E.. Sher, aku boleh ijin pulang sekarang ga? Sepertinya aku sedikit tidak enak badan." kata Rima dengan sedikit gugup.
"Oh iya, kamu pucat sekali Rim. Sebaiknya kamu pulang saja daripada sakitmu bertambah parah."
"Terimakasih Sher, aku pulang dulu ya."
"Iya, hati-hati di jalan ya Rim!"
"Iya." jawab Rima kemudian meninggalkan ruangan itu untuk menyembunyikan air mata yang kini sudah mengalir lagi di wajahnya.
Dia lalu bergegas berjalan ke arah parkiran mobil kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi.
'KENAPAAA??? KENAPA AKU HARUS MERASAKAN CINTA INI? KENAPA AKU HARUS MENCINTAI SEORANG LELAKI YANG TIDAK PERNAH MENCINTAIKU!!" teriak Rima di dalam mobil sambil terisak.
***
"Bagaimana pertemuanmu dengan para investor tadi Leo?" tanya Calista saat mereka sedang bercengkrama di mini bar.
"Tentu saja berjalan dengan lancar, jangan sebut aku Leo jika tidak pernah melakukan sesuatu hal dengan baik."
"Termasuk membujuk Revan agar mau ikut denganmu menemui para investor itu? Hahahaha."
"Tentu saja, tidak akan kubiarkan laki-laki lemah itu lepas dari tanggung jawab pekerjaannya. Kau tahu Calista, dia bahkan tampak seperti mayat hidup saat aku menemuinya tadi."
"Hahahaha, sepertinya dia memang begitu lemah tanpa Giselle."
"Ya begitulah, untungnya kau juga sudah berhasil membujuk Giselle untuk pulang ke apartemen mereka jadi aku punya alasan untuk mengerjai Revan dulu. Hahahaha."
"Kau memang jahil Leo. Tapi bagaimanapun juga mereka masih suami istri, ada darah daging Revan yang dikandung dalam rahim Giselle, mereka tidak boleh egois dan harus memikirkan anak mereka, coba kau pikirkan bagaimana perkembangan psikologis seorang anak tanpa kehadiran ayahnya jika mereka berpisah."
"Kau benar Calista, kau memang istriku yang sangat pintar." kata Leo kemudian melingkarkan tangannya pada pinggul Calista dan mencium tengkuknya.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh Rima yang berjalan melewati mereka menuju ke kamarnya.
"Maaf jika aku mengganggu." kata Rima dengan sedikit canggung.
__ADS_1
"Oh tidak apa Rima, kenapa kau pulang lebih awal daripada biasanya?"
"Tidak apa-apa Kak, aku hanya sedikit kurang enak badan."
"Oh ya sudah sebaiknya kau beristirahat saja Rima, wajahmu juga terlihat sedikit pucat."
"Iya Kak Calista." kata Rima kemudian berjalan masuk ke kamarnya.
"Calista sepertinya dia sedang jatuh cinta."
"Dia sedang tidak enak badan Leo."
"Tidak, aku cukup baik mengenal gelagat wanita, aku tahu dia sedang jatuh cinta."
"Ya kau memang buaya darat sampai kau hapal semua perilaku wanita. Hahahaha."
"Heh jangan pernah bicarakan masa laluku lagi Calista." kata Leo kemudian mencium bibir Calista.
***
Giselle membuka matanya saat matahari tampak mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar mereka. Dia lalu memandang ke sampingnya dan melihat Revan yang masih tidur dengan begitu lelap.
"Dasar pemalas." gerutu Giselle kemudian bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil pakaian yang berceceran di tepi ranjang dan membalut tubuh telanjangnya dengan pakaian itu.
Baru saja Giselle melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara pesan di ponselnya. Dia lalu mengambil ponsel itu dan melihat pesan masuk dari Rima.
"ASTAGA." teriak Giselle saat membaca pesan dari Rima yang memberitahukan jika saat ini Stella sedang sakit kanker. Dia lalu bergegas mendekat pada Revan yang kini masih tidur begitu pulas di atas ranjang.
"Revan, bangun Revan."
"Ada apa Giselle?"
"Lihat ini, Rima mengirimkan pesan padaku jika saat ini Stella sedang sakit kanker stadium dua."
"Apa?"
"Ya, Stella pun baru mengetahuinya satu minggu yang lalu."
"Kasihan sekali dia." gerutu Revan.
"Bagaimana jika nanti siang kita menjenguknya di rumah sakit."
"Iya, kita harus menjenguknya." jawab Revan sambil mengigit bibirnya.
'Maafkan aku Stella.' gumam Revan sambil meneteskan air matanya mengingat berbagai sikap buruk yang akhir-akhir ini dia lakukan pada Stella.
__ADS_1
Sementara Rima kini tampak begitu lega setelah mengirimkan pesan pada Giselle untuk memberitahukan kondisi Stella saat ini dan sudah mendapatkan balasan jika mereka berdua akan menjenguknya.
"Semoga hari ini aku bisa sedikit menjaga jarak dengan Stella dan dokter David, karena tentu mereka akan sibuk dengan kedatangan Revan dan Giselle." kata Rima sambil mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
***
"Makan yang banyak Stella, anak kita harus cukup mendapat asupan makanan darimu."
"Iya... Iya Pak dokter." ledek Stella pada David yang membuatnya tersenyum. David lalu mengambil ponselnya.
"Kemana Rima? Kenapa sudah jam segini dia belum datang." gerutu David sambil menghubungi Rima, Stella pun kemudian tersenyum melihat tingkahnya.
"David, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Kau mau menanyakan apa?"
"Kenapa kau begitu galak pada anak buahmu?"
"Mereka harus disiplin Stella, bagaimana mereka bisa sukses kalau mengerjakan satu hal saja tidak becus."
"Hahahaha, kau ternyata terlihat sangat tampan saat sedang marah."
"Aku sudah tahu, karena itulah kau mengejar-ngejarku saat kuliah dulu." ledek David pada Stella yang membuat dirinya tersipu malu.
"Tapi tahukah kau Stella? Sebelum kau mulai mengejarku, aku sebenarnya sudah lebih dulu mencintaimu."
"Hahahaha, benarkah?"
"Ya, aku sudah mencintaimu sejak pertama kita bertemu saat ujian masuk ke perguruan tinggi saat itu, bahkan saat kau belum mengenalku aku sudah sangat mencintaimu."
"David, tolong jangan terlalu mencintaiku." kata Stella di sela-sela perbincangan mereka.
"Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"
"David, mulailah berpikir realistis. Hidupku tidak akan lama lagi, jangan terlalu dalam mencintaiku karena jika kau kehilangan diriku rasanya tentu akan begitu sakit."
"Kau pasti akan sembuh Stella, percayalah padaku, semua kan kulakukan agar kau bisa sembuh."
"Tapi bagaimana jika ternyata aku tidak bisa sembuh? Belajarlah mencintai orang lain, Rima misalnya." kata Stella dengan tatapan sendu.
"TIDAK STELLA! TOLONG JANGAN BERKATA SEPERTI ITU LAGI! KAU PASTI AKAN SEMBUH! INGAT KATA-KATAKU STELLA! KAU PASTI AKAN SEMBUH!" bentak David pada Stella yang kini menangis sambil menutup wajahnya.
"Dengarkan aku Stella, kau pasti bisa sembuh! Aku mohon jangan berkata seperti itu lagi! Apakah kau sudah lupa janji kita untuk saling menjaga? Apa kau sudah lupa janji kita untuk menua bersama? Tidak.. Tidak akan kubiarkan kau pergi begitu saja dari hidupku Stella, kau satu-satunya cinta dalam hidupku." kata David sambil menangis dan memeluk Stella.
Tanpa mereka sadari, Rima telah berdiri di balik pintu dan mendengarkan percakapan mereka berdua. Hatinya terasa begitu sakit, dia lalu mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar Stella kemudian berlari menuju toilet.
__ADS_1
Rima lalu menangis sambil membasuh mukanya, hingga tiba-tiba seorang wanita paruh baya kini sudah berdiri di sampingnya kemudian memandang padanya.
"Menikahlah dengan putraku." kata wanita itu sambil tersenyum.