Salah Kamar

Salah Kamar
Membuka Hati


__ADS_3

Roy kemudian berjalan ke ruang perawatan Darren. Heni begitu terkejut melihat Roy yang berjalan sendirian ke ruang perawatan itu.


"Roy, kenapa kau sendirian? Dimana Aini?"


"Aini masih di ruang perawatannya ma."


"Kenapa kau tidak mengajaknya ke sini?"


"Dia sedang bersama suaminya ma, bagaimanapun juga dia masih memiliki suami. Kita harus meminta ijin pada suami Aini jika ada sesuatu hal yang berhubungan dengan hidupnya."


"Tapi Roy, Aini tidak pernah mencintai suaminya."


"Tapi ma, bagaimanapun juga status mereka masih suami istri. Ma, tolong mengertilah, sebaiknya kita sekarang masuk dulu ke dalam untuk melihat Darren."


"Baik, lebih baik kita masuk ke dalam."


"Iya." jawab Roy kemudian mereka masuk ke dalam ruang perawatan Darren sambil melihat Darren yang kini sudah terlihat jauh lebih sehat, tubuh mungilnya pun terlihat sedikit lebih berisi.


"Dia lucu sekali, hidungnya sama seperti Diana. Melihat bayi itu, semakin membuatku begitu merindukanmu Diana." kata Roy sambil tersenyum. Heni kemudian mendekat pada Roy sambil berpura-pura batuk.


EHEMMMM


"Kenapa ma?"


"Tidak apa-apa hanya ingin membuyarkan lamunanmu, mama tahu kau sedang mengingat Diana kan?"


"Ya."


"Roy, kau tidak usah menutup-nutupi dari kami semua, apalagi dari polisi itu jika sebenarnya saat mengendarai mobil itu sebelum kecelakaan Diana dalam kondisi sedikit mabuk kan?" kata Heni yang membuat Roy menelan ludahnya dengan kasar.


"Itu tidak benar ma."


"Kau masih mau menutupi kesalahan terbesar istrimu? Bahkan kau menutupi kejadian yang sebenarnya dari polisi itu, kau hanya mengatakan jika Diana sedang mengantuk dan kau selalu menolak autopsi yang akan dilakukan kepolisian. Mama tahu saat itu kau menjemput Diana di puncak yang sedang berpesta bersama teman-temannya dalam kondisi mabuk, dia bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi anak yang ada di dalam kandungannya tapi kau masih terus membelanya."


"Mama, tolong jangan bicarakan itu lagi."


"Sudah cukup selama ini mama diam Roy, mama hanya ingin kau bisa melupakan Diana. Dan mama pun sebenarnya tahu jika yang mengendarai mobil itu sebenarnya adalah kau bukan istrimu, tapi kalian bertengkar. Lalu Diana yang masih dalam pengaruh alkohol mencoba mengambil alih kendaraan karena ingin kembali bersama teman-temannya hingga membuat kalian mengalami kecelakaan itu kan?"


"Cukup ma, Roy tidak ingin mama mengungkit kejadian itu lagi. Itu terlalu menyakitkan bagi Roy ma, selain karena harus kehilangan istri, Roy juga harus mengalami tekanan karena telah membuat Aini kehilangan anaknya dan membuat dia kesulitan mendapatkan keturunan kelak."


"Karena itulah Roy, tolong kau lupakan Diana, lupakan kehidupan rumah tangga yang selalu membuat dirimu tersakiti!"


Roy pun terdiam.


"Aku butuh waktu ma."


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


"Kau kenapa Aini? Kenapa kau terlihat murung?" tanya Dimas saat mendekat ke arah Aini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang merindukan seseorang."


"Merindukan seseorang? Apa itu Bapak dan Ibumu?" tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya.


"Bukan."


"Lalu siapa?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Dimas, tiba-tiba pintu perawatan itu pun terbuka.


CEKLEK


"Mba Olive." kata Aini sambil tersenyum saat melihat Olivia masuk ke ruangan itu.


Netra Olivia lalu tertuju pada sosok laki-laki yang ada di samping Aini. "Mba, perkenalkan saya Dimas, suami Aini." kata Dimas pada Olivia.


"Oh ya, saya Olivia, sepupu Aini." jawab Olivia.


"Iya mba." jawab Dimas kemudian duduk di sofa dan mempersilahkan Olivia duduk di samping Aini.


"Mba Olive, maukah Mba Olive menemani Aini ke ruang bayi?"


"Tentu Aini." jawab Olivia. Dia lalu membantu Aini turun dari ranjangnya kemudian menaiki kursi rodanya.


Dimas yang mendengar percakapan Olivia dan Aini pun terkejut.


"Bolehkah aku ikut bersama kalian?" tanya Dimas.


"TIDAK! Kau disini saja." jawab Aini.


"Ayo Mba Olive." kata Aini lagi. Olivia pun mendorong kursi roda tersebut keluar dari ruang perawatan Aini.


"Aini, kenapa kau bersikap seperti itu? Bukankah Dimas masih suamimu?"


"Terlalu sulit mba?"


"Terlalu sulit?" tanya Olivia kembali sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, terlalu sulit untuk bisa memaafkan semua yang telah dia perbuat padaku. Mba Olive tidak tahu bagaimana liciknya dia yang sudah menjebak lalu memfitnah Firman agar tidur dengan wanita lain, lalu saat hatiku sedang begitu hancur karena Firman menikah dengan wanita lain, dia memper*osaku mba." kata Aini dengan terisak.


Dada Olivia pun ikut sesak mendengar cerita Aini. "Sungguh malang nasibmu Aini, mba bisa merasakan bagaimana sakitnya berpisah dengan orang yang sangat kau cintai karena melihat laki-laki itu menikah dengan wanita lain."


"Ya, Mba Olive sudah merasakan semua itu saat Mas Kenan menikah dengan Mba Calista dulu kan? Dan Mba Olivia memilih untuk pergi ke Australia." kata Aini. Olivia pun menganggukkan kepalanya.


"Itulah yang kurasakan mba, hatiku begitu sakit melihat Firman bersama wanita lain sedangkan aku hidup bersama laki-laki yang merusak kehidupanku." kata Aini lagi sambil terisak.


"Iya Aini, mba bisa memahami semua itu."


"Aku hanya ingin bercerai dengannya mba." kata Aini disela tangisnya.

__ADS_1


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin, setidaknya biarkan aku hidup bahagia dengan caraku, meskipun kepahitan dalam hidupku semakin lengkap karena saat ini aku menjadi sulit hamil, aku tidak terlalu memikirkan itu mba yang terpenting aku bisa hidup bahagia dan keluar dari tekanan karena menjalani rumah tangga dengan Dimas."


"Iya Aini, mba mengerti. Mba janji tidak akan memaksamu lagi untuk menerima Dimas sebagai suamimu karena cinta memang tidak bisa dipaksakan."


"Terimakasih Mba Olive."


Setelah melewati beberapa lorong rumah sakit, akhirnya mereka pun sampai di ruang perawatan bayi. Senyum pun tersungging di bibir Aini saat melihat Heni yang juga tersenyum padanya.


"Aini." panggil Heni saat Aini sudah berada di dekatnya.


"Tante, tante sudah lama disini?"


"Belum Nak." jawab Heni.


"Selamat pagi Tante Heni, selamat pagi Roy." kata Olivia.


"Selamat pagi Olivia, kalian hari ini cantik sekali." kata Heni.


"Selamat pagi Olive, selamat pagi Aini." jawab Roy.


"Tante aku ingin bertemu dengan bayi itu."


"Darren, nama bayi itu Darren." kata Roy.


"Darren? Nama yang bagus." jawab Aini.


"Ya, nama itu adalah nama gabungan dari namaku dan Diana, istriku."


"Oh." jawab Aini singkat.


"Aini, ayo tante antar ke dalam." kata Heni sambil mendorong kursi roda Aini ke dalam ruangan Darren.


"Iya tante."


Olivia dan Roy pun duduk di depan ruang perawatan itu.


"Aku tahu kehilangan seorang istri sangat berat untukmu Roy." kata Olivia membuka pembicaraan mereka.


"Ya, sangat berat Olive, sangat menyesakkan dada."


"Tapi hidup harus tetap berjalan Roy, kau harus bersemangat menjalani kehidupan ini untuk Darren."


"Tentu Olive, aku akan selalu berusaha membuat Darren hidup bahagia tanpa kekurangan apapun, meskipun tanpa cinta dan kasih sayang dari seorang ibu kandungnya." kata Roy sambil terisak.


"Aku yakin kau bisa menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk Darren."


"Olive, jika saja Roy bisa membuka pintu hatinya, suatu saat dia pasti bisa menemukan istri sekaligus ibu yang baik untuk Darren." kata Heni yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2