Salah Kamar

Salah Kamar
Kepercayaan


__ADS_3

"Bagaimana dengan penawaranku?" tanya Nurma lagi.


"Em..E.. Saya, maaf saya tidak tahu."


"Baik aku akan memberi kamu waktu, pikirkan dan renungkan baik-baik penawaranku padamu, jika kau sudah memiliki jawabannya kau bisa menghubungiku." kata Nurma sambil memberikan sebuah kertas yang bertuliskan nomor teleponnya.


"Baik."


"Bagus. Aku tunggu jawabanmu secepatnya dan kuharap kau tidak akan mengecewakanku." kata Nurma kemudian pergi meninggalkan Rima yang kini masih berdiri sambil menatapnya.


***


Leo dan Calista sedang bermain bersama Nathan dan Nala saat Rima berjalan melewati mereka.


"Emh Rima sebentar, saya mau berbicara denganmu." kata Leo.


"Oh iya Kak." jawab Rima kemudian ikut duduk di sofa bersama Leo dan Calista.


"Begini Rima, aku dan Calista sedang memikirkan bagaimana jika sebaiknya kau melanjutkan kuliahmu kembali. Masa depanmu masih panjang Rima, kami ingin kau sukses dan memiliki masa depan yang cerah."


"Benar apa yang Leo katakan Rima, sebaiknya kau melanjutkan pendidikanmu. Kau gadis yang cantik dan pintar, aku yakin kau bisa sukses Rima, saat kau sukses kau bisa menunjukkan pada orang-orang yang sudah menghinamu dulu, jadikan hinaan itu sebagai acuan kesuksesanmu Rima." kata Calista.


"Tapiiii."


"Jika perlu kau kuliah di luar negeri saja Rima." kata Leo sambil meringis.


"Apa luar negeri?"


"Ya, ambil jurusan di bidang kesehatan di luar negeri. Aku yakin kau pasti bisa sukses Rima." kata Leo lagi. Namun Rima menggelengkan kepalanya.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku belum memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikanku. Hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat. Permisi." kata Rima kemudian meninggalkan Leo dan Calista.


"Iya Rima." jawab Calista sambil menatap Rima yang kini sudah masuk ke kamarnya.


"Gagal." kata Leo.


"Lalu kita harus bagaimana?"


"Ini sepertinya akan sulit Calista. Dia sudah benar-benar jatuh cinta." kata Leo sambil memijit keningnya.


"Aku hanya tidak ingin dia kecewa Leo."


"Aku akan memikirkan cara lainnya."


Sementara Rima yang masuk ke dalam kamarnya kini berdiri di atas balkon kamar sambil menatap bintang.


"Ayah, Ibu sejak kecil aku tidak pernah merasakan cinta dari siapapun termasuk kalian. Kalian meninggalkan aku begitu saja tanpa aku bisa merasakan kasih sayang kalian padaku."


"Ayah, Ibu, aku ingin merasakan rasanya dicintai, bukankah aku berhak mendapatkan cinta? Ya, aku berhak mendapatkan cinta dan meraih cinta dan kebahagiaanku. Mulai hari ini aku akan memperjuangkan perasaanku karena aku juga manusia yang berhak dicintai, aku juga ingin merasakan cinta." kata Rima sambil terus menatap kegelapan malam.

__ADS_1


***


"Kenapa Revan?" tanya Giselle saat melihat Revan yang tiba-tiba berhenti saat makan malam.


"Stella. Keadaannya memburuk dan kini dia ada di ruang ICU."


"Astaga." kata Giselle sambil menutup mulutnya.


"Giselle bagaimanapun juga Stella adalah sahabatku sejak kecil, aku harus menolongnya meskipun aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kau mengerti kan Giselle?"


"Iya Revan aku mengerti, tolonglah dia dan lakukan yang terbaik untuknya."


"Iya Giselle, aku akan berusaha untuk ikut menolongnya."


***


Rima berangkat menuju rumah sakit dengan sedikit berdendang. Entah kenapa hari ini langkahnya terasa begitu ringan.


"Selamat pagi Sher."


"Selamat pagi." jawab Sherly sambil tersenyum.


"Tumben ceria banget Rim, lagi jatuh cinta ya?" tanya Sherly.


"Sok tahu kamu."


"Keliatan tau." kata Sherly sambil terkekeh.


"Kamu gimana sih Sher, aku kan harus nemenin Tuan Putri Stella, bisa-bisa aku dimarahi dokter David kalau aku ga datang ke ruangan Stella."


"Aduh Rima kamu gimana sih? Bukannya Stella masuk ke ICU tadi malem."


"Apa ICU?"


"Jadi kamu belum tahu Stella masuk ICU?" tanya Sherly pada Rima yang hanya dibalas gelengan kepala.


'Stella masuk ICU?' gumam Rima lagi.


"Sebentar ya Sher, aku mau lihat kondisi Stella lebih dulu." kata Rima kemudian berlari ke ruang ICU. Di saat itulah, dia melihat David dan Nurma yang sedang berbincang di depan ruang ICU.


"Apa yang bisa kau harapkan dari wanita seperti itu David? Selain kita sudah terhina oleh keluarganya, umurnya juga pasti tidak akan lama lagi kan?"


"Mama tolong jangan pernah berkata seperti itu!"


"Kenyataannya memang seperti itu David!"


"Tapi bagaimanapun juga dia sedang mengandung darah dagingku."


"Heh, bertahan hidup saja belum tentu mampu, apalagi mempertahankan anak dalam kandungannya."

__ADS_1


"Lebih baik mama pergi dari sini, aku sedang banyak pekerjaan." kata David kemudian pergi dari ICU meninggalkan Nurma yang tampak begitu kesal pada putranya.


'Jadi orang tua David benar-benar tidak menyukai Stella.' gumam Rima sambil tersenyum menyeringai.


Di saat itu pula ponsel Rima pun berbunyi, sebuah pesan dari David yang menyuruhnya untuk menunggu Stella di depan ruang ICU. Dia lalu bergegas ke ruang ICU dan duduk di depan sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba timbul rasa penasaran Rima untuk melihat keadaan Stella, dia kemudian mencoba mengintip ke dalam ruang ICU, saat sedang memperhatikan Stella tiba-tiba perawat penjaga ruang ICU memanggilnya.


"Untung kamu disini Rim."


"Memangnya kenapa May?"


"Aku titip pasien Nyonya Stella sebentar ya Rim, tolong kamu cek kondisinya secara rutin. Aku mau pulang ke kosan sebentar, laporanku tertinggal, bisa mampus gue kalau ketahuan." kata Maya sambil mengiba.


"Iya biar aku yang jagain Nyonya Stella." kata Rima kemudian berganti pakaian menggunakan protective gown.


"Makasih banyak ya Rim, gue cabut dulu." kata Maya sambil meninggalkan ruangan itu.


Rima kemudian mendekat pada Stella kemudian menatapnya. 'Kondisimu sangat lemah Stella.' gumam Rima sambil tersenyum.


'Namun ada baiknya kau seperti ini agar aku tidak melihatmu bisa bermesraan lagi dengan David.' gumam Rima lagi.


"Tapi alangkah lebih baik lagi jika kau tidak ada lagi di dunia ini." kata Rima sambil memegang sebuah selang. Namun saat Rima akan mencabut selang tersebut. Tiba-tiba Stella pun bangun.


"Rima kau ada di sini?" tanya Stella yang membuat Rima kini terlihat begitu gugup.


"Iya Nyonya Stella, tadi dokter David yang menyuruh saya ke sini."


"Oh."


"Bagaimana keadaan Nyonya Stella?"


"Jauh lebih baik dibandingkan tadi malam."


"Syukurlah." jawab Rima sambil tersenyum.


"Tapi aku masih sedikit pusing."


"Kalau begitu lebih baik Nyonya Stella istirahat lagi saja." kata Rima kemudian berjalan menjauhi Stella.


"Tunggu Rima!"


"Ada apa Nyonya, apa Nyonya Stella membutuhkan sesuatu?"


"Rima, aku titip David jika aku pergi. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan, aku yakin kau adalah wanita yang baik yang bisa menemani David."


"Maaf Nyonya Stella, saya belum bisa menjawab itu."


"Baik tapi tolong pikirkan kata-kataku Rima, waktuku tidak banyak dan hanya kaulah saat ini wanita yang bisa kupercaya untuk bisa menemani David." kata Stella yang dibalas anggukan oleh Rima. Rima kemudian pergi meninggalkan Stella.

__ADS_1


'Hahaha bagus Stella, kau sudah menyerahkan David padaku kan? Sekarang akan kukabulkan permintaanmu, waktumu untuk hidup juga tidak akan lama lagi.' gumam Rima sambil tersenyum menyeringai.


__ADS_2