
Laki-laki itu kemudian mendekat ke arah Aini. Namun Aini memalingkan wajahnya. Laras yang melihat tingkah Aini pun kemudian mengelus tangan Aini.
"Jangan seperti itu Aini, bagaimanapun juga dia adalah suamimu."
Namun Aini hanya terdiam, apalagi saat ini lelaki itu sudah ada di samping Aini. "Selamat malam Mba Laras."
"Selamat malam Dimas, darimana kau tahu Aini ada disini?" tanya Laras pada Dimas.
"Tadi aku ke rumah Mba Laras, maaf aku sudah lancang menanyakan alamat Mba Laras sama Bapak dan Ibu Mba Laras di kampung, tapi suami Mba Laras bilang kalau Mba sama Aini masih ada di rumah sakit ini."
"Iya Dimas, kau tahu kan Aini mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu?"
"Iya Mba, Dimas tahu. Bapak dan Ibu yang memberitahu Dimas, jadi Dimas langsung pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Aini."
"Iya Dimas, dan sayangnya putra kalian meninggal dalam kecelakaan itu."
"Ya, aku pun tahu itu." jawab Dimas sambil meneteskan air mata.
"Bersabarlah Dimas, bagaimanapun juga kalian harus ikhlas, ini sudah takdir meskipun aku tahu ini pasti berat untuk kalian berdua."
"Iya Mba, apalagi dia putra pertama kami." jawab Dimas.
"Ya, dia juga keponakan pertamaku."
Dimas pun kemudian tersenyum.
"Aini, mba mau ke kantin sebentar ya." kata Laras sambil membelai rambut Aini.
"Mba, tolong jangan tinggalkan Aini sendirian." gerutu Aini.
Namun Laras hanya tersenyum. "Dimas, tolong jaga Aini, mba ke kantin sebentar." kata Laras yang dijawab anggukan oleh Dimas. Laras kemudian berjalan keluar dari kamar ruang perawatan Aini.
'Maafkan mba, Aini bagaimanapun juga saat ini Dimas masih suamimu, kalian butuh waktu untuk bicara berdua.' gumam Laras sambil meninggalkan ruang perawatan itu.
Dimas yang kini duduk di samping tempat tidur Aini pun mencoba menggenggam tangan Aini, namun secepat kilat Aini menarik tangannya.
"Dimas, bukankah aku sudah mengatakan padamu melalui surat yang kutinggalkan di dalam kamar jika aku ingin bercerai denganmu, sekarang aku sudah tidak mengandung anakmu lagi, aku ingin bercerai secepatnya denganmu."
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku?"
"Maaf aku tidak bisa, ini terlalu sulit untukku, aku sudah berulangkali mencobanya tapi aku tetap tidak bisa. Luka yang kau torehkan di hatiku telah begitu membekas hingga tidak ada lagi ruang di hatiku untukmu. Aku sudah begitu tertekan hidup bersamamu."
__ADS_1
"Iya aku tahu, ini memang sepenuhnya kesalahanku. Aku yang terlalu berambisi, hingga apapun cara kulakukan untuk mendapatkanmu meskipun aku tahu caraku itu salah. Aku memang begitu egois dan ambisius, Aini. Tapi sekarang aku sadar, aku memang mendapatkanmu tapi tidak hatimu, dan rasanya sangatlah menyakitkan."
"Jadi kau sudah sadar jika semua itu salah?"
"Ya, aku sadar itu."
"Dimas jika kau sudah sadar, sekarang waktunya kau ikhlas untuk melepaskan aku."
Dimas pun begitu terkejut mendengar perkataan Aini. "Apakah tidak pernah ada lagi kesempatan?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kau sudah sadar sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, bukankah kau tahu kesalahan yang kau lakukan telah menggoreskan luka yang begitu dalam untukku."
"Tapi aku masih sangat mencintaimu, Aini."
"Cinta atau ambisi?" tanya Aini sambil menatap Dimas dengan tatapan tajam.
"Bukankah yang ada di dalam hatimu hanyalah keinginan untuk mendapatkanku saja tanpa pernah peduli perasaanku? Itu bukanlah cinta, jika kau benar-benar mencintaiku kau tidak akan pernah menyakiti hatiku hanya untuk kepuasan di dalam hatimu."
Mendengar perkataan Aini, Dimas pun tertunduk.
"Jadi kau tetap ingin kita untuk bercerai?"
"Ya." jawab Aini dengan tegas.
Dimas pun menangis, dia kemudian mengambil nafas dalam-dalam.
"Baik, aku akan menceraikanmu tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi ijinkan aku untuk menemanimu disini sampai kau benar-benar sembuh."
Aini pun terdiam.
"Tolong Aini, aku hanya ingin menikmati hari-hariku bersamamu sebelum kita benar-benar berpisah."
"Tapi aku tidak ingin terganggu dengan kehadiranmu."
"Anggap aku tidak pernah ada, anggap saja aku hanyalah sebuah bayangan yang tidak pernah yang tak terlihat olehmu." kata Dimas sambil menahan air mata yang hampir tumpah di pelupuk matanya.
Aini pun termenung sejenak.
__ADS_1
"Baik, kau boleh ada bersamaku sebelum kita berpisah tapi tolong jangan pernah berharap lebih padaku."
"Baik, terimakasih banyak. Ini sudah malam Aini, beristirahatlah."
"Ya." jawab Aini kemudian merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya.
Sedangkan Dimas hanya bisa melihat Aini dengan perasaan yang begitu perih. 'Inikah hukuman untukku darimu, Tuhan? Aku tidak pernah mendapatkan apapun dari semua perilaku buruk yang telah kulakukan pada Firman dan Aini?' gumam Dimas sambil menatap Aini yang kini memunggunginya.
Laras yang melihat pemandangan yang ada di depannya hanya bisa menatap mereka berdua dengan begitu pilu. 'Aini, dari dulu kau memang begitu keras kepala, sangat sulit bagimu untuk membuka hati jika kau sudah membenci seseorang, tapi Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia, aku tidak tahu apakah ini benar-benar menjadi akhir atau awal dari hubungan kalian berdua.'
🌸🌿🌸🌿🌸🌿
"Roy, apakah kau sudah membeli bunga untuk Aini?" tanya Heni saat mereka sudah di dalam mobil dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
"Sudah ma."
"Tapi kenapa mama tidak melihatmu membelinya?"
"Ma, Roy membelinya secara online dan penjualnya sendiri yang mengantarkan bunga itu tadi pukul delapan pagi."
"Oh, lalu dimana bunganya?"
"Itu." jawab Roy sambil menunjuk sebuah buket bunga besar di jok belakang mobil.
Heni lalu memandang ke belakang dan melihat sebuket bunga mawar merah berukuran besar. 'Bagus sekali, Aini pasti akan sangat bahagia mendapat buket bunga itu.' gumam Heni dalam hati sambil melirik Roy yang kini sedang mengendarai mobilnya. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit.
"Roy, sebaiknya kau langsung pergi ke kamar perawatan Aini, mama ke ruang perawatan Darren dulu ya."
"Tapi ma, Aini bisa memiliki pikiran yang macam-macam jika Roy datang sendirian dengan membawa sebuket bunga untuknya."
"Hei, dia tidak akan pernah berfikiran seperti itu karena kau datang bersama mama."
"Tapi bukankah tadi mama mengatakan jika mama akan pergi ke ruangan Darren terlebih dulu."
"Ya maksud mama kau saja yang menjemput Aini, lalu bawa dia ke ruangan Darren untuk memberikan ASI nya pada Darren. Roy mengertilah rumah sakit ini sangat besar, mama lelah jika harus berputar terlebih dulu ke ruangan Aini baru ke kamar Darren."
"Baik, baik jika itu yang mama inginkan." gerutu Roy kemudian berjalan meninggalkan Heni menuju ke ruangan Aini. Namun baru saja Roy membuka pintu kamar tersebut, sebuah buket bunga yang terletak di samping tempat tidur Aini pun begitu mencuri perhatiannya.
'Ada yang memberikan bunga mawar juga untuk Aini.' gumam Roy. Lalu beberapa saat kemudian tampak ada seorang lelaki yang mendekat ke arah Aini.
"Pasti buket bunga itu dari laki-laki itu, mungkin dia adalah suaminya." kata Roy, dia lalu menutup kembali ruangan Aini kemudian membuang sebuket bunga mawar yang dia bawa ke dalam tempat sampah di depan ruang perawatan tersebut.
__ADS_1
"Maaf Aini, aku sudah lancang." kata Roy sambil meninggalkan ruang perawatan Aini.