Salah Kamar

Salah Kamar
Berhak Bahagia


__ADS_3

Sudah lima belas menit lamanya, Rima dan David terjebak di dalam lift, namun belum ada tanda-tanda ada pertolongan untuk mereka. Rima pun mulai sedikit terlihat panik.


"Dokter bagaimana ini? Bagaimana jika tidak ada yang menolong kita?"


"Heh kau bisa diam tidak? Hilangkan rasa cemasmu dan berfikirlah optimis, pasti akan ada yang menolong kita!" bentak David. Dia lalu mulai mengambil berkas yang ada di pangkuan Rima.


"Membuang waktuku saja, lebih baik kukerjakan semua ini di sini." gerutu David sambil mengambil beberapa berkas.


'Sempat-sempatnya dia melakukan pekerjaan seperti itu di sini.' gumam Rima.


"E.. Emh.. dok, bolehkah saya meminjam ponsel dokter?"


"Untuk apa? Ponselku juga tidak ada sinyalnya di lift ini?"


"E... untuk mendengarkan lagu dok, lihat ponsel saya mati, sedangkan jika saya panik seperti ini saya harus mendengarkan lagu untuk membuang kepanikan, jika tidak saya bisa pingsan dok."


"Heh jangan pingsan di sini, kau akan semakin merepotkanku saja jika pingsan di dalam lift ini!"


Rima lalu menatap David dengan tatapan memelas. "Ini kupinjamkan ponselku." kata David sambil memberikan ponselnya.


'Yes, berhasil.' gumam Rima, secepat kilat dia membuka galeri yang ada di ponsel David sambil tetap menyalakan musik agar David tidak curiga.


Dia lalu mengirimkan beberapa foto Stella dan David saat sedang bermesraan, yang ada di ponsel David ke ponselnya melalui bluetooth. Dia juga sempat mengambil foto percakapan David dan Stella yang ada di ponsel itu. Sesekali dia melirik pada David yang kini masih tampak sibuk mengerjakan berkas miliknya.


'Selesai.' gumam Rima sambil tersenyum.


"Dokter David, ini saya kembalikan, saya sekarang sudah sedikit lebih tenang setelah mendengarkan musik."


"Iya." jawab David datar. Di saat itu pula pertolongan pun datang, pintu lift itu kini terbuka. Beberapa orang di luar lift tampak begitu cemas menunggu Rima dan David yang kini mulai sedikit lemas karena kekurangan oksigen.


Sherly dan beberapa petugas medis lainnya lalu membantu Rima dan David keluar dari lift. "Rim, kamu ga kenapa-kenapa kan?" tanya Sherly dengan begitu cemas.


"Gapapa Sher, cuma sedikit lemas."

__ADS_1


"Jam berapa ini?"


"Setengah sembilan Sher."


"Wah udah pergantian shif dong, kok kamu ga pulang?"


"Kamu gimana sih Rim, aku belum pulang itu sengaja buat nungguin kamu eh kamu malah enteng banget tanya kaya gitu." jawab Sherly sambil mendengus kesal.


"Iya.. Iya Sherly yang baik, karena kamu udah baik banget sama aku, malam ini kuantar kamu pulang deh."


"Ahhahaha gitu dong, makasih ya Rim, malam ini aku jadi bisa pulang naik mobil bagus, ga naik kendaraan umum lagi." kata Sherly sambil terkekeh.


Rima lalu mengambil ponselnya kemudian mengirimkan semua bukti yang telah diambil dari ponsel David pada Giselle karena dia hanya memiliki nomor ponsel milik Giselle.


Sementara itu, Giselle yang kini sedang berjalan saat akan masuk ke kamar Stella sedikit terkejut karena ponselnya berbunyi berulangkali menandakan pesan yang begitu banyak masuk ke ponselnya.


'Siapa yang mengirimkan pesan sebanyak ini padaku?' gumam Giselle sambil mengambil ponsel di sakunya.


"Astaga." kata Giselle sambil menutup mulutnya. Kemudian dia pun tersenyum sambil melihat Stella yang masih berjalan di depannya.


"Tunggu dulu, Stella!"


"Apa, kau mulai berani menantangku?" tanya Stella sambil tersenyum kecut.


"Tentu saja Stella, karena aku sekarang memiliki ini!" kata Giselle sambil memperlihatkan beberapa foto Stella dan David yang sedang bermesraan. Raut wajah Stella tampak begitu panik melihat foto-foto yang ada di ponsel Giselle.


"Heh darimana kau dapatkan semua itu wanita ja*ang?" Cepat berikan ponselmu padaku!"


"Hahahaha, itu tidak penting karena aku juga bisa melakukan apapun untuk membuka kedokmu, Stella. Sekarang aku memiliki banyak bukti perselingkuhan dirimu saat menjadi istri dari Revan, kau tidak bisa berkelit, lebih baik kau menyerah saja Stella, percuma hanya akan membuang tenaga dan waktumu!"


"Dasar iblis kau Giselle."


"Kau yang iblis Stella karena hanya bisa mengaku-ngaku hamil anak dari Revan sedangkan itu sebenarnya darah daging David! Apa susahnya kau kembali pada kekasihmu itu? Bukankah dia masih mau menerima dirimu! Buang semua egomu karena itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!" kata Giselle dengan begitu ketus.

__ADS_1


"CUKUP!" teriak Stella.


"Kau mau berkata apa lagi Stella, percuma kau membela diri! Tidak akan ada yang percaya padamu!"


Stella pun kini hanya bisa menangis, tubuhnya duduk lemas di atas lantai dan bersandar pada dinding sambil menutup wajahnya.


"Ada apa ini?" tanya Revan yang keluar dari kamarnya karena mendengar sedikit keributan.


Giselle lalu mendekat pada Revan dan memberikan ponselnya padanya.


Revan lalu melihat foto-foto yang ada di ponsel milik Giselle sambil tersenyum. 'Aku tak menyangka Rima telah melakukan tugas dengan secepat dan sebaik ini.' gumam Revan sambil tersenyum.


Giselle lalu mendekat pada Stella yang masih menangis tersedu-sedu. "Stela." kata Giselle sambil memegang pundak Stella.


"Stella maafkan kami, bukannya kami ingin membuangmu dalam kehidupan kami, kami cuma tidak ingin kau tersakiti, menjadi orang ketiga dari sebuah hubungan itu sangat menyakitkan Stella, kau tahu jika aku pun pernah mengalaminya dan aku memilih mundur untuk mencari kebahagiaanku sendiri dan membuang semua egoku. Jika kau hanya menuruti ambisi dan egomu, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri Stella."


Stella lalu membuka tangan yang menutup wajahnya kemudian memeluk Giselle. "Aku tahu beberapa hari yang lalu David ke sini dan memintamu kembali, Bi Cici yang sudah menceritakan itu semua pada kami. Dia laki-laki yang baik Stella, kau pasti bisa mendapatkan kebahagiaanmu saat hidup bersamanya."


Stella lalu mengangguk. "Iya Giselle, iya."


"Hapus air matamu Stella, kau berhak bahagia. Pergilah mencari kebahagiaanmu pada laki-laki yang menyayangimu, ini belum terlambat Stella, David pasti masih mau menerima dirimu." kata Giselle sambil membelai rambut Stella yang dijawab dengan anggukan kepala.


Revan kemudian ikut mendekat ke arah Stella. "Stella, maafkan kami tapi kuharap kau mengerti jika aku sudah tidak bisa menjadikanmu sebagai istriku, dulu aku memang sangat amat mencintaimu Stella, tapi maaf perasaan itu kini sudah hilang dan tidak tersisa lagi untukmu."


"Iya Revan, aku mengerti kini aku sudah sadar. Percuma saja aku memaksakan diri dalam hubungan ini karena hanya akan menyakiti diriku sendiri."


"Terimakasih Stella." kata Revan sambil tersenyum.


"Besok aku akan pergi dari rumah ini, kau bisa langsung mengajukan gugatan ceraimu padaku Revan." kata Stella sambil tersenyum.


"Iya Stella, aku akan mengajukan gugatan secepatnya meskipun aku tahu kita baru bisa bercerai secara resmi setelah anak dalam kandunganmu itu lahir. Hahahaha."


"Hahahaha." Akhirnya mereka bertiga pun tertawa bersama, meskipun dalam hati kecil Giselle masih menyimpan perasaan takut karena belum bisa jujur akan masa lalunya pada Revan.

__ADS_1


__ADS_2