
Secepat kilat Rima mengambil salah satu obat ke dalam genggamannya dari tempat obat yang akan dia berikan pada Stella.
"Coba berikan obat itu Rima."
Rima pun memberikan tempat obat tersebut dengan sedikit bergetar. David lalu mengambil obat tersebut dan mengamatinya.
'Ini benar obatnya, tapi kenapa cuma ada dua butir?' gumam David.
"Rima, seharusnya obat yang dimakan Stella ada tiga butir tapi kenapa hanya ada dua butir?"
"Emh.. E.. Maaf dokter David, saya lupa." jawab Rima dengan gugup.
"Dasar! Ceroboh sekali kau Rima! Penyakit Stella itu bukan penyakit ringan, kalau kau tidak teliti, dampaknya bisa fatal untuk Stella! Kau mengerti atau tidak???"
"Emh... E.. Iya dokter." jawab Rima dengan wajah tertunduk.
"David, tolong jangan memarahi Rima, dia mungkin tidak sengaja, bukankah baru kali ini dia melakukan kesalahan?" kata Stella.
David pun mencoba mengendalikan emosinya. 'Aku harus tenang, aku harus mengendalikan emosiku jika ingin tahu siapa yang sudah mencelakakan Stella.' kata David dalam hati.
"Iya Stella. Rima tolong jangan melakukan kecerobohan lagi." kata David kemudian berjalan meninggalkan mereka.
'Rima terlihat sedikit mencurigakan, aku harus berhati-hati padanya. Mungkin aku harus menceritakan semua ini pada Revan, barangkali Revan bisa membantuku untuk menyelidiki siapa Rima sebenarnya.' kata David dalam hati. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu tampak sibuk menelepon Revan dan menceritakan semua yang dialami oleh Stella.
Stella tersenyum sambil memandang Rima. "Rima aku minta maaf jika David sedikit kasar padamu, sifatnya memang sedikit keras."
"Tidak apa."
'Mungkin itulah alasanku menyukai dokter David, aku menyukai sifatnya yang tegas karena mengingatkanku pada sosok ayahku yang keras tapi sangat menyayangiku. Dan kuharap suatu saat nanti dia bisa menyayangiku.' gumam Rima.
"Kau kenapa Rima?" tanya Stella saat melihat Rima termenung.
"Tidak apa, aku hanya merindukan kedua orang tuaku."
"Memangnya dimana orang tuamu?"
"Mereka sudah meninggal." jawab Rima kemudian menundukkan wajahnya kembali.
Stella lalu menggenggam tangan Rima. "Maafkan aku, kau jangan bersedih Rima, kami semua disini menyayangimu."
"Iya."
'Tapi aku ingin kau mati Stella, aku ingin kasih sayang David hanya untukku.' gumam Rima lagi.
"Ya tapi saya tidak seberuntung anda yang memiliki kekasih seperti dokter David yang sangat menyayangi anda."
"Ya dia sangat menyayangiku meski terkadang sedikit berlebihan, seperti hari ini pagi-pagi dia sudah memarahimu, selain itu yang membuatku sedikit kesal adalah pagi ini dia memasang CCTV di kamar ini."
__ADS_1
DEGGG
Jantung Rima pun seakan berhenti berdetak. "Apa CCTV?" tanya Rima.
"Ya, lihat itu. Tadi pagi David memasang CCTV di kamar ini." jawab Stella sambil menunjuk sebuah CCTV.
'Brengsek. Jangan-jangan David sudah curiga padaku. Aku harus lebih berhati-hati.' umpat Rima dalam hati.
***
"Giselle, kau masak apa hari ini?" tanya Revan saat masuk ke dalam apartemen.
"Kau selalu menanyakan itu saat kau pulang dari kantor Revan, memangnya tidak ada hal yang lebih penting dibandingkan makanan?" gerutu Giselle.
Revan lalu tersenyum kemudian berjalan ke arah Giselle. "Jadi apa yang kau inginkan sayang?" kata Revan sambil membalikkan tubuh Giselle kemudian memeluknya.
"Apa ini yang kau inginkan?" tanya Revan kemudian menciumi bahu Giselle.
"Lepaskan Revan, tubuhmu lengket sekali. Lebih baik kau mandi dulu."
"Heh Giselle sebenarnya apa maumu? Aku bertanya makanan kau protes, aku bersikap mesra padamu kau juga protes!" gerutu Revan.
"Revan, apa kau lupa aku sedang mengandung anakmu! Setidaknya kau tanyakan bagaimana keadaanku dan anak dalam kandunganku!" bentak Giselle.
"Loh kok jadi marah sih?"
"Iya.. Iya aku minta maaf Giselle." kata Revan kemudian memeluk Giselle kembali dan mencium tengkuknya.
TOK TOK TOK
"Siapa sih mengganggu saja!" gerutu Revan.
"Kau sebaiknya mandi dulu Revan, biar aku yang membukakan pintu."
"Iya." Revan lalu masuk ke kamar mandi sedangkan Giselle berjalan ke arah pintu.
"Hai Leo, Calista."
"Apa kabar Giselle?"
"Baik, sangat baik. Silahkan masuk." kata Giselle sambil mempersilahkan masuk. Mereka kemudian mengikuti Giselle masuk ke dalam kemudian duduk di sofa.
"Ada apa kalian tiba-tiba datang ke sini tanpa memberitahuku? Kalau tahu kalian akan datang, aku akan memasak lebih banyak untuk makan malam bersama."
"Tidak Giselle, tidak usah. Kami sebenarnya ingin membicarakan sesuatu yang penting."
"Sesuatu yang penting? Apa itu?"
__ADS_1
"Begini Giselle, ternyata Rima tidak sebaik yang kami pikirkan. Semua hal yang pernah dia ceritakan pada kami tentang orang tuanya itu adalah bohong, yang dia ceritakan tentang orang tua Leo pun tidaklah benar. Kami sudah salah sangka mengenai Rima, kami takut jika ternyata dia belum berubah."
"Lalu?" tanya Giselle.
"Giselle, bukankah kau pernah bercerita jika dia mencintai David? Jika Rima belum berubah, aku takut dia berbuat nekat dengan merusak hubungan David dan Stella."
"OH TIDAK." teriak Revan.
"Kenapa kau tiba-tiba berteriak Revan?" tanya Leo saat melihat Revan yang kini terlihat begitu panik.
"Begini, tadi David menghubungiku. Dia mengatakan jika ada yang sengaja membuat Stella mengalami keguguran dan memberikan obat dan vitamin penambah sel darah putih sehingga menyebabkan kondisi Stella semakin memburuk."
"BRENGSEK! APA RIMA SUDAH BERANI BERBUAT MACAM-MACAM LAGI!" teriak Leo yang membuat mereka kini terlihat begitu tegang.
"Tenang Leo, David sudah memasang CCTV di kamar Stella, dia tidak mungkin berbuat macam-macam pada Stella."
"Tapi kita tetap tidak boleh lengah mengawasinya." kata Calista.
"Kalian tenang saja, besok Stella akan menjalani operasi. Dia pasti sembuh." jawab Revan.
"Operasi? Apa sudah ada yang akan mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya?" tanya Leo.
"Tentu saja, Om Hilman papa Stella sudah pulang, aku yang menjemputnya di New York, dia akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Stella!"
"BODOH KAU REVAN! KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA DARI TADI!" bentak Leo.
"Hei kau berani membentakku Leo?"
"Tentu saja, jika Rima tidak berhasil mencelakakan Stella pasti dia akan berusaha menggagalkan operasi Stella!"
"Kau benar Leo! Apa yang harus kita perbuat?"
"DASAR BODOH! SEKARANG KITA HARUS KE RUMAH ORANG TUA STELLA SEBELUM RIMA MENCELAKAKANNYA REVAN!" bentak Leo.
***
Rima menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat seseorang yang dia suruh untuk mengantarkan makanan untuk kedua orang tua Stella keluar dari rumah itu. Dia lalu mendekat ke arah mobil Rima.
"Bagaimana?"
"Beres bos, mereka sudah menerima makanan yang saya antarkan."
"Bagus, ini untukmu." kata Rima sambil memberikan sebuah amplop.
"Terimakasih bos, saya pergi dulu." jawab laki-laki tersebut kemudian pergi meninggalkan Rima.
"Jika aku tidak bisa mencelakakan Stella, maka aku harus menggagalkan operasi Stella besok dengan mencelakakan orang tuanya, hahahaha." kata Rima kemudian tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1