Salah Kamar

Salah Kamar
#31 Bahagia Gak Sih?


__ADS_3

"Al, ada lagi yang baru?" tanya Kinan sembari melihat desain terbaru untuk katalog mereka. Cukup menarik dengan warna yang terkesan tak mencolok. Dia merasa desain terbarunya terlihat elegan. Namun, dia harus kembali memutar otak untuk mencari vendor-vendor lain. Dia juga sebenarnya tak mengerti mengapa secara mendadak vendor-vendor itu melepas kerja sama dengannya. Padahal, selama ini dia melakukannya sesuai dengan yang tertulis pada kontrak awal. Dia benar-benar menjaga agar vendor-vendornya bisa nyaman.


Aldo tersenyum kemudian meletakan iPad yang kini sudah menunjukan daftar vendor yang dia dapatkan. "Ini beberapa yang udah setuju. Jadi, event-event baru bisa ditanganin."


"Nice!" Kinan tersenyum. Dia sudah berpikir untuk meminjam uang dan membangun semuanya sendiri. Dari venue sampai katering. Dia berpikir untuk mengurus segalanya sendiri. Namun, melihat respon bagus ini, dia berpikir K's Wedding & Event Organizer akan seterusnya berada di puncak karier.


Saat ini perusahaannya sudah lumayan dikenal. Jadi, dia tak mau mengecewakan calon kliennya. Apalagi yang akan dia garap adalah pernikahan seorang influencer. Jadi, dia akan melakukan yang terbaik agar orang-orang bisa lebih mengenal perusahaannya yang merangkak naik.


"Ada permasalahan lain gak?"


"Untuk saat ini semuanya berjalan baik," jawab Aldo diakhiri senyum. Dia menatap Kinan ragu kemudian menarik salah satu kursi agar bisa duduk di meja yang sama dengan Kinan. "Lo ... gapapa 'kan?"


Meski sudah berusaha menyibukkan diri, Kinan merasa bayang-bayang soal takut kehilangan, terus mengikutinya. Bahkan saat dia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, Aldo malah merasa ada yang dia sembunyikan.


"Gapapa kok."


"Kali aja suami lo nyakitin lo."


Kinan tak yakin itu bisa dikatakan sebagai menyakiti atau tidak. Dia ingin merasa marah. Namun, dia sadar posisinya sejak awal memang tak jelas. Memang, kontraknya sudah dihancurkan, tapi tak ada jaminan hubungannya akan terus berjalan dengan baik. Masih ada banyak ancaman yang mungkin bisa membuat Kinan harus mengalah dan pergi. Dia tak bisa memprediksi apakah Rena takkan kembali lagi? Apalagi, dia tak pernah mendengar gadis itu tiada. Hanya pergi saat hari pernikahan.


Aldo menjentikan jarinya di depan wajah Kinan. "Kok malah ngelamun?"


Kinan terkekeh kemudian menggeleng. Dia tak bisa bercerita pada Aldo ataupun sang mama. Ini masalahnya dengan Bram. Dia tak bisa membicarakannya dengan bebas. Apalagi, sang mama pernah menitipkan pesan agar tak menceritakan masalah pernikahan ke siapa pun. "Enggak kok. Gue cuma lagi mikir enaknya makan siang apa."


"Gue udah temenan lama sama lo. Gue tau lo lagi nyembunyiin sesuatu. Kenapa?"

__ADS_1


"Sumpah. Gue gak kenapa-kenapa. Mungkin karena gue kecapean kemaren. Tolong pesenin makan, sekalian sama lo juga, gue bayarin."


Aldo mencoba menahan tawa. "Asyik! Ditraktir bu bos."


"Bisa aja," sahut Kinan diiringi kekehan. Namun, tawa itu pudar saat Aldo meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Dia masih memikirkan soal Rena. Semakin besar rasa nyamannya pada Bram, semakin besar rasa takut yang menyelimuti hatinya. Apalagi, Rena adalah cinta pertamanya Bram. Mungkin jika kejadian itu tak terjadi, mereka akan berakhir menjadi keluarga yang bahagia. Sekarang yang dia pikirkan malah bertambah.


Apa mas bahagia sama Kinan? Begitulah kiranya pertanyaan yang kini muncul di kepala Kinan. Secara acak pertanyaan itu muncul tanpa izin. Bahkan, pikiran untuk tak mencintai Bram mulai muncul. Namun, dia sudah telanjur sangat mencintai Bram sekarang.


Kinan meraih ponselnya. Dia mulai mencari artikel-artikel berisi pengalaman tentang orang-orang yang sudah menikah. Bahkan, dia sampai mencari artikel soal suami yang belum melupakan masa lalu.


Kinan membulatkan mata saat menemukan banyak sekali artikel terkait. Sembari menunggu makan siangnya sampai, dia memilih untuk membacanya satu-satu. Bahkan, dia sampai mengikat rambutnya menjadi satu agar bisa fokus membaca.


"Ninggalin? Wah parah," gerutu Kinan setelah membaca habis salah satu artikel. Namun, dia lebih tak menyangka saat menemukan artikel yang mengatakan dia ditinggalkan dalam keadaan hamil. Tentu, ini membuat Kinan memilih meletakan ponselnya. Semakin banyak membaca, dia malah semakin berpikiran negatif.


...***...


Kinan mempercepat laju mobilnya dengan hati yang sangat cemas. Beberapa saat lalu Bram mengajarinya soal oma Rosa yang ditemukan tak sadarkan diri di kamarnya. Awalnya Kinan merencanakan makan malam romantis bersama Bram. Namun, sesuatu yang di luar dugaan malah terjadi.


Kinan berdecak saat parkiran di rumah sakit cukup penuh. Dia sampai kesulitan hanya untuk memarkirkan mobilnya. Hingga akhirnya dia dapat lahan parkir meski agak jauh dari pintu masuk. Dia segera turun dari mobil, mempercepat langkah untuk secepatnya menemui oma Rosa. Namun, dia segera menghentikan langkah saat ekor matanya menangkap seseorang yang dirasa tak asing baginya. Dia kemudian menoleh, mengerutkan dahi sembari mengingat siapa yang baru saja dia lihat.


"Ah, gak penting," ujar Kinan kemudian kembali mempercepat langkah sembari mengangkat telepon yang baru saja dia terima. "Kinan masih di lobi. Ruangan yang mana, mas?"


Kinan berhenti sejenak sebelum memilih belok ke kanan. Rasa khawatirnya sungguh memuncak. Apalagi, oma Rosa memang sebelumnya baru sembuh dari sakit. Bram mengatakan darah tingginya kumat dan ada sedikit masalah dengan jantungnya. Tentu saja Kinan merasa sangat khawatir.


"Gimana?" tanya Kinan dengan napas tersengal karena dia harus setengah berlari untuk sampai di sana.

__ADS_1


Bram menggeleng. Dari raut lesunya sudah terlihat jelas jawaban apa yang akan dilontarkan oleh pria itu. Kinan hanya meraih tangan Bram untuk sedikit menguatkannya. Dia tahu Bram merasa sangat hancur karena insiden ini.


"Oma pasti cepet sembuh kok."


"Dokter bilang ...."


Kinan segera menghentikan Bram dengan meletakan telunjuk pada bibir suaminya. Dia menggeleng, meminta Bram untuk tak mengatakan hal-hal yang buruk. "Mas, percaya deh. Oma pasti sembuh, mas."


Kinan mengajak Bram untuk duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu. Bram nampak lesu sembari menahan air mata. Melihat ini, tentu membuat Kinan menepuk-nepuk pelan bahunya agar Bram lebih tenang.


Trauma kehilangan sang ayah masih begitu membekas dalam benaknya. Dia tak mau lagi kehilangan seseorang yang bisa menjadi penjaganya. Jauh dalam hatinya, masih ada sisi anak kecil yang belum sembuh. Apalagi, dia sudah dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya.


Kinan menahan tawa saat mendengar suara perut dari suaminya. Dia yakin, Bram langsung pergi ke rumah sakit tanpa makan malam dulu.


"Bukan punya mas itu."


"Kita makan dulu sebentar. Biar Raka yang jaga di sini."


"Tapi ...."


"Udah ayo. Makan gak akan ngabisin waktu sampe pagi. Oma bakal marah kalo tau mas gak makan." Kinan menarik tangan Bram meski mendapat penolakan. Namun, pada akhirnya Bram mengalah dan memilih ikut bersama Kinan. "Mas mau makan apa? Kalo gak salah deket sini ada tukang pecel. Makan di sana yuk."


Makasih, Nan, kamu udah bikin mas sedikit ngerasa baikan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2