
"Ma, tolong jangan berpikir terlalu jauh. Ini hanya kebetulan semata ma, mama kan tahu Roy sangat mencintai Diana."
"Ya, mama tahu kau sangat mencintai istrimu, bahkan cintamu begitu buta padanya hingga semua kesalahan yang dia lakukan padamu pun bisa kau maafkan dengan begitu mudahnya."
"Sudahlah ma, semua itu sudah berlalu. Lagipula Diana juga sudah menyesali semua kesalahan masa lalunya. Dia sudah meninggal ma, tidak baik membicarakan aib seseorang yang sudah meninggal."
"Terserah apa katamu Roy, kau memang terlalu mencintainya, cinta tanpa logika." gerutu Heni.
"Cinta memang tidak menggunakan logika ma."
"Ya, ya, ya terserah kamu saja. Tapi bisakah besok kita menjenguk Aini bersama-sama?"
"Untuk apa ma?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau ingin memberikan kebahagiaan untuknya?"
"Ya."
"Itulah alasannya, kau harus memberikan kebahagiaan untuknya."
"Apa maksud mama? Bukankah aku sudah memberikan kebahagiaan untuk Aini dengan memberinya kesempatan untuk mengasuh putraku kapanpun dia mau?"
"Oh tidak, meskipun usiamu sudah matang tapi ternyata kau begitu lugu, Roy." gerutu Heni.
"Mama jangan membuatku semakin bingung, aku benar-benar tak mengerti maksud mama."
"Roy, sadarlah bukan hanya itu saja yang Aini butuhkan."
"Lalu apa lagi yang dia butuhkan ma?"
"Perhatian."
"Perhatian?"
"Ya, kau harus bisa menghibur hatinya yang dirundung duka dengan memberikan perhatian padanya."
"Tapi aku bukan kekasih ataupun suaminya, ma."
"Tapi kau adalah orang yang merenggut kebahagiaannya, kau sendiri yang bilang seperti itu pada mama kan?"
__ADS_1
"Ya." jawab Roy dengan tertunduk lesu.
"Baik, besok kau harus menemui Aini bersama mama."
"Baik ma."
"Jangan lupa bawakan satu buket bunga untuknya."
"APA??? BUNGAAAA???"
"Ya, kau harusnya membawakan sebuket bunga untuknya."
"Apa itu harus?"
"Ya, bukankah kau yang mengatakan sendiri akan memberikan kebahagiaan untuk Aini? Sebuket bunga darimu akan memberi kebahagiaan tersendiri untuk Aini, Roy. Anggap saja sebagai ucapan terimakasihmu karena dia juga sudah memberikan ASI untuk Darren, coba kau pikirkan bagaimana nasib Darren tanpa Aini? Dia tidak akan mendapatkan gizi terbaik yang hanya mampu diberikan oleh seorang ibu."
"Iya ma." jawab Roy sambil tertunduk lesu.
"Ya sudah, mama keluar dulu, ini sudah malam kau berisitirahatlah."
Roy pun kemudian mengangguk, dia lalu duduk di atas ranjangnya kembali sambil melihat sebuah foto seorang wanita cantik yang ada di ponselnya.
Heni yang keluar dari kamar Roy, perlahan menutup kamar itu. Sebelum pintu itu tertutup, secara tidak sengaja netranya melihat Roy yang kini masih duduk di atas ranjang sambil melihat foto seseorang di ponselnya.
'Roy, maafkan mama jika mama sedikit memaksamu untuk segera melupakan Diana. Meskipun mama tahu ini terlalu cepat tapi mama hanya ingin kau bisa bahagia. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat putra semata wayangnya memiliki istri seperti Diana yang tidak pernah berbakti pada suaminya, bahkan tidak pernah memperlakukanmu sebagaimana mestinya."
Heni lalu mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
"Mama hanya ingin kau bisa mendapat istri yang baik Roy, dan entah kenapa sejak mama bertemu dengan Aini, mama yakin dia bisa menjadi istri yang baik bagimu. Mama rasa sudah cukup kau merasakan tekanan menjalani rumah tangga dengan Diana selama tujuh tahun. Kau juga berhak bahagia Roy, kau berhak bahagia mendapatkan cinta dari seorang wanita yang tulus mencintaimu." kata Heni sambil meneteskan air matanya dan menahan rasa sesak di dadanya.
πΈπΏππΏππΈ
"Aini sebenarnya ada yang ingin kutanyakan, bukankah kau tadi sudah mendengar perkataan Tante Risma jika kau tidak boleh terlalu berambisi karena hanya akan mengakibatkan kerugian untukmu?"
"Ya."
"Lalu apakah kau masih memiliki keinginan untuk menceraikan suamimu? Bukankah Dimas sangat menyayangimu? Apa kau mau melepaskannya hanya karena kebencian dan ambisimu?" tanya Calista yang membuat Aini terdiam.
"Pikirkanlah kembali Aini, dan tanyakan semua itu pada lubuk hatimu yang terdalam." kata Olivia ikut menimpali.
__ADS_1
Aini terus mengingat percakapannya dengan Olivia dan Calista tadi siang, hingga sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Dia lalu melihat ke sampingnya dan melihat Laras yang kini sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum padanya.
"Aini, kenapa kenapa melamun? Apa kau masih mengingat putramu?" tanya Laras yang kini sedang menjaga Aini di rumah sakit.
"Bagaimanapun juga dia anakku, sampai kapanpun aku akan tetap mengingatnya. Namun saat ini bukan itu yang sedang Aini pikirkan."
"Lalu apa yang kau pikirkan, Aini? Apa ada sesuatu yang begitu mengganggu pikiranmu?" tanya Laras dengan raut wajah begitu cemas.
"Gapapa Mba Laras bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, hanya saja Aini sedang mengingat percakapan Aini dengan Mba Olive dan Mba Calista tadi siang."
"Percakapan dengan Mba Calista dan Mba Olivia? Percakapan tentang apa, Aini?" tanya Laras sambil mengerutkan keningnya.
"Mereka meminta Aini untuk memikirkan kembali perceraian Aini dengan Dimas."
Mendengar perkataan Aini, Laras pun hanya tersenyum.
"Kenapa Mba Laras tersenyum? Apakah keputusan Aini untuk menceraikan Dimas itu adalah sebuah kesalahan? Pernikahan kami didasari atas sebuah kesalahan Mba, awalannya Aini mencoba untuk menjalaninya tapi ternyata sangat sulit karena yang ada di hati Aini hanyalah kebencian untuk Dimas."
Laras kemudian membelai rambut Aini.
"Aini apa kau tahu bagaimana hubungan Mba dengan Ramon dulu?"
"Sedikit."
"Mba Laras menjalin hubungan dengan Ramon juga didasari oleh sebuah kesalahan kami berdua, kami terlalu berambisi satu sama lain yang akhirnya merugikan diri kami sendiri. Ramon juga dulu bukanlah orang yang baik, bahkan kau tahu statusnya adalah mantan narapidana."
Aini pun kemudian menundukkan wajahnya.
"Ya, aku tahu itu. Tapi setelah itu Mas Ramon menyadari semua kesalahannya lalu bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab."
"Lalu bagaimana dengan Dimas? Apakah dia pernah berbuat jahat padamu selama kalian menikah? Tidak kan?"
"Tapi aku membencinya Mba, aku sangat membenci dia apalagi saat mengingatnya yang sudah memfitnah Firman kekasihku agar dia menikahi Delia. Lalu beberapa hari setelah itu dia memperko*aku Mba, sungguh perbuatannya tak akan pernah bisa kumaafkan." kata Aini sambil berapi-api.
Laras pun membelai rambut Aini kembali. "Lupakan semua itu Aini, cobalah kau berdamai dengan masa lalumu, semua orang pernah memiliki kesalahan dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu."
"Tapi tidak dengan Dimas. Dia telah...." belum sempat Aini melanjutkan kata-katanya tiba-tiba pintu kamar perawatan tersebut pun dibuka, seseorang pun masuk ke dalam ruangan tersebut sambil tersenyum pada Aini.
"Kau datang kesini." kata Aini saat melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya sambil membawakan sebuket bunga untuknya.
__ADS_1