Salah Kamar

Salah Kamar
Dua Bulan Sebelumnya


__ADS_3

❣️ Dua bulan sebelumnya ❣️


Perlahan Giselle membuka matanya saat sebuah ciuman hangat menempel di pipinya.


"Selamat pagi sayang." kata Revan sambil memeluk erat Giselle kemudian mencubit dan memainkan pipinya yang kini terlihat membesar.


Giselle pun tersenyum. "Pagi-pagi kau sudah meledekku, ini pipi bukan mainan."


"Pipimu semakin menggemaskan, Giselle." kata Revan sambil terkekeh.


"Kau semakin meledekku" gerutu Giselle.


"Tidak, kau terlihat semakin cantik dengan pipi besarmu sayang." kata Revan kemudian mencium pipi Giselle kembali.


"Kau mau sarapan apa, Revan?"


"Aku sudah memesan makanan untuk sarapan kita berdua. Kau tidak usah repot-repot, usia kehamilanmu sudah memasuki usia enam bulan dan perutmu semakin membesar, aku tidak ingin kau kelelahan sayang."


"Memasak untuk kita berdua tidak akan membuatku merasa kelelahan." kata Giselle.


"Kau harus dengarkan aku, karena aku adalah suamimu."


"Baiklah, terserah kau saja." jawab Giselle sambil tersenyum.


TETTTTTT TETTTTTT


"Itu pasti kurir yang mengantarkan sarapan, aku buka pintunya dulu ya sayang." kata Revan kemudian bergegas beranjak dari tempat tidurnya.


Giselle pun tersenyum melihat Revan. 'Terimakasih Tuhan, sekarang hidupku terasa begitu sempurna.' kata Giselle dalam hati kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja makan menghampiri Revan yang sedang menaruh sarapan mereka di atas piring.


"Giselle, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."


"Apa?" tanya Giselle sambil mengerutkan keningnya.


"Kau tahu kan Giselle, aku sedang membangun pabrik baru di Kalimantan. Kemungkinan aku akan sering pergi ke Kalimantan untuk mengecek perkembangan proyekku disana. Besok pagi aku harus pergi ke Kalimantan untuk mengecek pembangunan proyek kami."


"Lalu?"


"Aku sebenarnya merasa khawatir jika kau tinggal sendiri di apartemen ini, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, apalagi saat ini kehamilanmu sudah mulai memasuki trimester akhir."


Giselle pun kemudian termenung.


"Kau benar juga, apa sebaiknya mama kubawa untuk tinggal di apartemen ini saja, Revan?"


"Itu ide bagus, aku akan tenang jika ada mamamu disini."


"Tidak Revan." teriak sebuah suara dari arah pintu.

__ADS_1


Revan dan Giselle pun kemudian melihat ke arah pintu dan melihat Farhan dan Santi masuk ke dalam apartemen mereka.


"Papa, mama." kata Revan dan Giselle bersamaan.


Mereka berdua lalu menghampiri Revan dan Giselle yang kini sedang sarapan di meja makan.


"Giselle, maaf bukannya kami tidak memperbolehkan mamamu untuk tinggal di apartemen ini, tapi kau tahu sendiri jika mamamu juga mengidap penyakit jantung. Kondisi kalian justru akan semakin membuat kami semua khawatir."


"Iya Giselle, benar yang papa katakan. Jika kau tinggal bersama mamamu akan semakin memperburuk keadaan."


Farhan pun mendekat pada Giselle kemudian dia memegang bahunya.


"Kau tidak perlu khawatir Giselle, mama tidak akan berbuat macam-macam lagi pada kalian. Benar kan ma?" tanya Farhan pada Santi.


Santi pun mendekat pada Giselle, dan kemudian memeluknya. "Iya sayang, kau sedang mengandung darah daging Revan, mama tidak ingin sesuatu terjadi pada cucu mama jika kau mengalami sesuatu hal yang buruk karena akan menggangu kehamilanmu." kata Santi kemudian melepaskan pelukannya sambil membelai rambut Giselle. Giselle pun kemudian memandang Revan yang terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


'Syukurlah kini Mama Santi sudah berubah, aku tidak perlu khawatir jika tinggal di rumah mereka.' kata Giselle dalam hati sambil melihat Santi yang kini sedang mengelus perut besarnya.


"Baik pa, kami akan tinggal di rumah kalian." jawab Giselle sambil tersenyum.


"Bagus, lebih baik kalian berkemas sekarang juga, karena besok Revan akan pergi ke Kalimantan jadi aku ingin mulai hari ini kalian harus tinggal di rumah kami."


"Baik pa."


"Ya sudah kami pulang dulu, nanti siang kalian sudah harus sampai di rumah ya. Papa sudah bilang pada Bi Cici untuk masak makanan kesukaan kalian berdua."


"Mama pulang dulu ya sayang, jaga kandunganmu baik-baik." kata Santi sambil memeluk Giselle.


"Iya ma." jawab Giselle.


'Tuhan, aku pikir hidup ini sempurna tapi ternyata hidup ini sangat sempurna lebih dari yang aku pikirkan.' kata Giselle dalam hati sambil melihat kepergian mertuanya.


"Apa yang kau pikirkan Giselle? Apa kau masih khawatir jika mama akan menggangu hubungan kita?"


"Tidak Revan, aku justru sangat bahagia karena mama kini begitu baik dan perhatian padaku." jawab Giselle.


"Iya, bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu jika mama sebenarnya baik. Mungkin dia perlu sedikit waktu untuk bisa menerima kehadiranmu, apalagi saat itu mama begitu menyayangi Stella yang telah dia anggap seperti anak kandungnya."


"Sebaiknya kita berkemas sekarang." kata Giselle sambil menarik tangan Revan untuk masuk ke dalam kamar.


"Hei Giselle kau sebenarnya ingin berkemas atau bermesraan denganku?"


"Tentu saja berkemas."


"Tapi bagaimana jika kita bermesraan sebentar di sini sebelum kita pindah? Bukankah kau suka berteriak Giselle? Saat pindah ke rumah papa kau tidak bisa berteriak dengan bebas." kata Revan sambil terkekeh.


"REVANNNNN!!!" teriak Giselle di depan wajah Revan.

__ADS_1


"Iya iya ampun aku kan hanya bercanda, kau jangan marah padaku." gerutu Revan.


☘️☘️☘️☘️


"Papa mana ma?" tanya Revan saat dia dan Giselle duduk di meja makan untuk menikmati sarapan.


"Oh papa juga ada urusan di Surabaya, hari ini dia berangkat pukul tiga pagi."


"Oh." jawab Revan.


"Kau harus makan yang banyak Giselle, semua makanan ini sangat bergizi bagi kehamilanmu." kata Santi.


"Iya ma, terimakasih banyak ini sudah cukup."


"Itu terlalu sedikit, Giselle. Bilang saja kau takut pipimu akan semakin bertambah besar dan tubuhmu akan semakin bertambah bulat." kata Revan sambil terkekeh. Giselle pun kemudian melirik pada Revan dengan tatapan tajam sambil mendengus kesal.


"Iya iya maaf. Orang hamil memang benar-benar sensitif." gerutu Revan.


"Revan, kau jangan seperti itu. Menjalani kehamilan itu tidak mudah, kau tidak boleh selalu meledek Giselle."


"Iya iya ma."


Revan lalu mengalihkan pandangannya pada Giselle.


"Giselle, sebentar lagi aku akan pergi selama seminggu kau jangan selalu marah-marah padaku, saat kita berjauhan kau pasti akan sangat merindukan suamimu yang tampan ini."


Mendengar perkataan Revan, Giselle pun kemudian tersenyum.


"Nah begitu, bukankah sudah sering kukatakan jika kau terlihat cantik jika tersenyum."


"Hanya jika sedang tersenyum?"


"Tidak, kau akan selalu cantik di mataku setiap waktu, meskipun kau kini gendut."


"REVANNNNNN!!!"


☘️☘️☘️☘️


"Aku pergi dulu, jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Aku akan langsung menghubungimu jika aku sudah sampai." kata Revan sambil mengecup kening Giselle saat mereka sudah selesai menikmati sarapan.


"Iya hati-hati." jawab Giselle sambil melihat Revan yang kini sedang berjalan ke arah mobilnya.


Giselle lalu menatap kepergian Revan dengan tatapan sendu. Saat mobil itu sudah tidak terlihat, Giselle lalu masuk ke dalam rumah mertuanya dan tersenyum saat melihat Santi yang kini sedang duduk sambil membaca majalah. Setelah itu Giselle lalu masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Giselle yang kini masuk ke dalam kamar, Santi pun tersenyum menyeringai. "Semoga saja kau masih ingat kata-kataku saat kita terakhir bertemu."


Note: Jangan lupa mampir ke karya on going ku yang lain ya, PARTNER RANJANG CEO dijamin seru abis 🤭✌️

__ADS_1


__ADS_2