
Fitri memandang Delia.
"Kenapa kau diam? Apa kau keberatan menikah dengan Dimas?"
"Emh.. E.."
"Apakah kau juga ragu karena sikap Dimas yang masih labil?"
Fitri kemudian menggenggam tangan Delia.
"Delia, dengarkan aku. Sebenarnya aku tahu kau akan kembali padaku, aku tahu Firman tidak akan menerimamu kembali setelah kebohongan yang kalian lakukan, itulah alasannya aku melakukan semua ini. Bagaimanapun juga kau dan Dimas adalah orang tua kandung dari Shakila. Dia berhak menerima kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya, itulah alasannya aku ingin kau menikah dengan Dimas. Jadi bagaimana? Kau mau kan menikah dengan Dimas? Tolong kau buang semua egomu, pikirkan Shakila, ini demi Shakila karena tidak ada kasih sayang yang lebih tulus dibandingkan dengan kasih sayang orang tua kandungnya."
Mendengar perkataan Fitri, Delia pun mulai meneteskan air matanya.
"Kau kenapa menangis, Delia? Apa kau takut Dimas akan berperilaku buruk padamu? Tante jamin setelah kalian menikah tante akan berusaha mengubah Dimas untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk anak dan istrinya. Kita berdua akan berusaha merubah Dimas menjadi orang yang bertanggung jawab, kau mau kan?"
Perlahan Delia pun mengangguk. Fitri pun tersenyum melihat Delia yang mulai menuruti kata-katanya. Dia kemudian membelai rambut Delia.
"Delia, percaya pada tante. Suatu saat kalian pasti bisa saling mencintai satu sama lain."
Delia pun menganggukkan kepalanya kembali. "Iya tante." kata Delia sambil menghapus air matanya.
"Lalu dimana Shakila sekarang? Bolehkah aku bertemu dengan Shakila, tante?"
Fitri pun tersenyum.
"Tentu saja kau bisa menemuinya. Kau ingin tahu dimana Shakila sekarang?"
Delia pun mengangguk.
"Ayo ikut aku." kata Fitri sambil menarik tangan Delia untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya, kemudian mereka berjalan menuju ke kamar Dimas.
"Shakila ada di dalam."
"Bersama Dimas?"
Fitri pun mengangguk sambil tersenyum. Delia pun membuka kamar itu, melalui celah pintu yang terbuka, tampak Dimas sedang menimang Shakila dalam gendongannya, sesekali dia mencium Shakila dan membelai wajahnya. Delia pun tersenyum melihat tingkah Dimas.
"Bagaimana?"
"Aku tidak menyangka Dimas akan begitu menyayangi Shakila." kata Delia sambil tersenyum.
"Dan tante juga yakin, seiring berjalannya waktu dia pun akan menyayangimu. Kalian akan menjadi keluarga yang bahagia." jawab Fitri yang membuat Delia tersipu malu.
Fitri kemudian membuka kamar itu. Dimas pun terkejut karena melihat ibunya dan Delia sudah ada di depan pintu, mereka kemudian berjalan mendekat ke arah Dimas yang sedang menimang Shakila. Dimas pun kini terlihat salah tingkah.
"Kenapa kau terlihat gugup, Dimas?"
"Tidak apa-apa, Bu. Dimas hanya kaget tiba-tiba ada yang membuka pintu."
Delia pun berjalan semakin mendekat ke arah Dimas.
__ADS_1
"Aku ingin menggendongnya, aku begitu merindukannya."
"Ya." jawab Dimas sambil memberikan Shakila pada Delia.
"Ternyata dia sangat lucu." kata Dimas saat Shakila sudah ada di dalam gendongan Delia.
"Kau menyayanginya?" tanya Delia.
"Emhh...E.... Sepertinya iya."
"Hahahaha kenapa harus ada kata sepertinya? Apa kau ragu?"
Dimas pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa kau gugup sekali Dimas? Kau tak perlu malu mengatakan jika kau menyayangi Shakila."
"Emh... E iya Bu."
"Iya apa Dimas?"
"Menyayangi Shakila."
"Lalu bagaimana dengan ibunya?"
"Maksud ibu?" tanya Dimas sambil mengerutkan keningnya.
"Ibunya Shakila, kau juga harus belajar menyayangi ibunya Shakila karena sebentar lagi kalian akan menikah."
"APAAAAA??" teriak Dimas sambil memelototkan matanya.
💜💜💜💜💜
'Entah sampai kapan rasa bersalah ini berhenti menghantuiku, semakin hari aku semakin merasa tersiksa oleh rasa bersalah ini. Maafkan aku Aini.' gumam Roy dalam hati kemudian mengecup kening Aini.
"Mas, kau sudah bangun?" tanya Aini sambil membuka matanya perlahan.
"Ya, saat aku tidur tiba-tiba aku begitu merindukanmu jadi aku langsung bangun untuk melihat wajahmu yang cantik ini." jawab Roy sambil terkekeh.
"Gombal."
"Aini."
"Ya."
"Apa kau bahagia menikah denganku?"
Aini kemudian memeluk Roy. "Kau bicara apa mas? Tentu saja aku sangat bahagia menikah denganmu, kau laki-laki terbaik yang pernah kutemui, tidak ada yang lebih mengerti aku selain dirimu, mas." kata Aini sambil mengencangkan pelukannya pada Roy.
'Aini aku tidaklah sebaik yang kau pikirkan.' gumam Roy dalam hati sambil tersenyum dan membelai wajah Aini.
"Terimakasih sayang." jawab Roy kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Aini.
__ADS_1
"Kau mau apa lagi mas? Ini sudah pagi, sebentar lagi kau berangkat ke kantor."
"Memangnya tidak boleh?"
Aini pun tersenyum. Roy pun mulai menciumi tengkuk dan leher Aini, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Mengganggu saja." gerutu Roy kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
"Ada apa Kenan menelpon pagi-pagi?" kata Roy sambil mengerutkan keningnya. Dia kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo Kenan, ada apa?]
[Roy, baru saja Leo meneleponku.]
[Ya, ada apa dengan Leo?]
[Bukan tentang Leo tapi ini tentang kalian berdua.]
[Tentang kami? Memangnya kenapa?]
[Leo tadi mengatakan jika tadi malam dokter David menelponnya, adik David baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan program spesial kandungannya.]
[Lalu?]
[David sudah membicarakan masalah kalian berdua pada adiknya, dan adiknya mengatakan jika kemungkinan Aini masih bisa hamil, hanya saja dia perlu memeriksa kondisi rahim Aini terlebih dulu, selain itu juga perlu pengobatan yang intensif.]
[Benarkah itu Kenan?]
[Ya, David yang mengatakannya.]
[Lalu bisakah kami bertemu dengan dokter itu?]
[Oh untuk saat ini dia belum mau bekerja di rumah sakit karena ada suatu masalah pribadi yang akan dia selesaikan terlebih dulu.]
[Ja... Jadi kapan kami bisa menemuinya? Apakah menunggu sampai dia bekerja di rumah sakit.]
[Tidak Roy, David sudah mengusahakan agar kau bisa bertemu dengan adiknya secepatnya, nanti malam saat pesta pernikahan Rima dan Drey, kalian bisa menemuinya disana.]
[Bagus sekali Kenan, nanti malam pasti kami datang ke pesta itu.]
[Iya Roy, nanti malam kalian harus datang ke pesta itu.]
[Iya Kenan, terimakasih banyak.] jawab Roy kemudian menutup panggilan itu. Dia lalu memeluk Aini yang sejak tadi ada di sampingnya dan mendengar percakapannya dengan Kenan.
"Aini, kau dengar sendiri kan? Kau masih memiliki kesempatan untuk bisa hamil lagi."
"Iya mas. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dokter itu nanti malam."
"Iya Aini, aku yakin suatu saat kau pasti bisa hamil lagi, kau pasti bisa mengandung buah cinta kita berdua." kata Roy sambil menerjang tubuh Aini.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Vallen berdiri sambil memegang beberapa kotak kardus, satu per satu isi kotak itu dia masukkan ke dalam sebuah tong yang berisi kobaran api.
"Tujuh tahun itu bukan waktu yang sebentar, aku pun tidak tahu bagaimana caranya menghapus semua rasa cinta dan kenangan ini, hembusan nafasku saja terasa begitu sesak. Rayhan, aku memang bukan wanita muslimah yang baik yang seperti keluargamu inginkan, sekuat apapun kita berusaha, keluargamu memang tidak pernah menyukaiku, semoga kau bisa hidup bahagia dengan wanita pilihan kedua orang tuamu. Aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan istrimu. Semoga kau bahagia." kata Vallen sambil membuang isi kardus terakhir yang berupa undangan pernikahan seorang lelaki dengan wanita berhijab panjang yang berdiri di sampingnya.