Salah Kamar

Salah Kamar
Menikah Secepatnya


__ADS_3

Mendengar teriakkan Fitri, Dimas dan Delia pun perlahan membuka matanya. Melihat Dimas yang ada di sampingnya, Delia pun berteriak.


"AAAAAA... APA-APAAN KAU DIMAS! BERANI-BERANINYA KAU TIDUR DI SINI!!"


Dimas yang juga kebingungan pun hanya mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa aku tidur di sini bersamamu?"


"Dimas, tidak usah bersikap seperti orang bodoh! Tadi malam kau pasti sudah memperdayaku, kan?" kata Delia semakin panik, apalagi setelah tahu tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


"Tidak Delia, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi! Yang kuingat hanya saat kau memberikan obat sakit kepala padaku!"


"Hai kalian!!! Kenapa kalian malah ikut terkejut seperti ini!! Tidak usah berpura-pura bodoh hanya untuk menutupi kesalahan yang telah kalian lakukan! Bulan depan saat Delia sudah selesai masa idahnya, kalian harus segera menikah secepatnya! Ibu tidak ingin rumah ini jadi tempat maksiat untuk kalian berdua!!!!"


"Tapi Bu, yang kami lakukakan ini benar-benar sebuah ketidaksengajaan!"


"Tidak ada tapi-tapian KALIAN HARUS MENIKAH SECEPATNYA! SEKARANG JUGA IBU AKAN MENGURUSI SEMUA PERSIAPAN UNTUK PERNIKAHAN KALIAN!!" kata Fitri sambil membawa Shakila keluar dari kamar itu


Dimas pun menatap Delia yang masih menutup tubuhnya dengan selimut. "Delia, apa yang sebenarnya telah kau berikan padaku tadi malam?"


"Aku tidak memberikan apapun, aku hanya memberikan obat flu seperti yang kau perintahkan!"


"Dimana kau mengambilkan obat itu untukku?"


"Di laci pertama, seperti yang kau perintahkan!!"


"ASTAGAAAA DELIA!!! AKU MEMERINTAHKANMU UNTUK MENGAMBIL OBAT DI LACI KEDUA!!! DAN JANGAN PERNAH MEMBUKA LACI PERTAMA!!!"


"Tapi tadi malam saat aku bertanya padamu lagi, kau menjawab laci pertama!"


"Aku mengatakan agar kau jangan membuka laci pertama! Makanya dengarkan aku baik-baik, Delia!!!"


Delia pun menundukkan wajahnya, penyesalan dan kesedihan begitu berkecamuk di dalam hatinya. "Memangnya yang kita minum itu obat apa?"


"Yang kita minum adalah obat perangsang, Delia! Itu obat yang kuberikan pada Firman saat kita menjebaknya dulu!!"


"Astaga, ini benar-benar senjata makan tuan." gerutu Delia sambil mengigit bibir bawahnya. Dimas pun kini menatap Delia yang hanya menutupi tubuh telanjan*nya hanya dengan selimut sambil tersenyum menyeringai, dia kemudian mendekatkan dirinya ke arah Delia.


"Sudahlah Delia, ini sudah terjadi. Mau tidak mau, cepat atau lambat kita memang akan menikah."


"Pernikahan kita bisa digagalkan asal rencana kita tadi malam berjalan dengan lancar, tapi kini semuanya sudah hancur. Kita sudah tidak bisa mengelak lagi rencana pernikahan ini." gerutu Delia sambil menutup wajahnya. Dimas pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Delia.


'Kesempatanku untuk bisa kembali pada Mas Firman kini benar-benar telah tertutup.' gumam Delia.


"Kau mau apa, Dimas?" tanya Delia saat membuka tangan yang menutup wajahnya dan melihat Dimas yang kini begitu dekat dengannya.


"Delia, bagaimanapun juga ini sudah terjadi. Kau adalah calon istriku,


"Apa maksudmu!"

__ADS_1


"Delia, bisakah kita bersenang-senang lagi seperti tadi malam?" bisik Dimas di telinga Delia.


"Jangan macam-macam Dimas, tadi malam adalah sebuah ketidaksengajaan!"


"Sengaja atau tidak, kita akan menikah dan kau adalah calon istriku, ini hanyalah masalah waktu saja. Ayo kita lakukan lagi, Delia." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.


"Tidak!"


"Ayolah Delia, aku sudah tidak bisa mengendalikan ha*rat ini, pagi ini kau sudah membuatku merasa begitu bergairah." kata Dimas sambil mencengkram tubuh Delia.


"Tidak Dimas! Jangan lakukan itu lagi sekarang."


"Delia, ayolah!" kata Dimas sambil menciumi tubuh Delia.


"Tidak Dimas, tidak, jangan lakukan itu!"


"Tidak Dimas!"


Tapi Dimas sudah menerjang tubuh Delia dan mengulum b*ah da*anya.


"Dimas!!!"


💜💜💜💜💜


Firman membuka matanya dan melihat wajah polos Vallen yang masih terlelap dalam dekapannya. Dia kemudian tersenyum sambil membelai wajah Vallen lalu mengecup keningnya. Mendapat kecupan hangat dari Firman, Vallen pun membuka matanya.


"Ya, gadis aneh." jawab Firman sambil memeluk tubuh Vallen semakin kencang.


"Vallen, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan."


"Apa?"


"Saat kau sudah tidur tadi malam, salah seorang teman kantorku menghubungiku, di kantor ada pekerjaan penting yang harus kukerjakan."


"Lalu?"


"Sepertinya kita harus kembali secepatnya ke Jakarta."


"Kapan?"


"Hari ini juga kita harus kembali, karena besok aku sudah harus mulai bekerja lagi."


"Mendadak sekali, padahal aku masih ingin berlibur denganmu."


Firman pun tersenyum.


"Kita juga bisa melakukannya saat sudah di Jakarta."

__ADS_1


"Tapi saat kita pulang waktu kita untuk bertemu sangat terbatas, Firman. Jika aku sudah mulai bekerja, waktuku begitu tersita untuk menangani pasienku, apalagi jika ada operasi mendadak, waktuku 24 jam untuk menangani mereka."


"Hei, kau tidak boleh mengeluh gadis aneh. Bukankah itu pekerjaanmu? Kau harus ikhlas menolong orang yang membutuhkan tenagamu." kata Firman sambil mencubit pipi Vallen.


"Kau benar, aku tidak boleh mengeluh karena inilah pekerjaanku."


"Ya, aku janji suatu saat kita akan berlibur bersama lagi, hanya berdua. Kita akan pergi kemanapun yang kau inginkan."


Mendengar perkataan Firman, Vallen pun tersenyum.


"Janji."


"Janji." jawab Firman kemudian memeluk Vallen kembali. Vallen kemudian melirik Firman yang masih mendekap tubuhnya. 'Firman, kembali kembali ke Jakarta secepatnya itu artinya aku juga harus menyiapkan perasaanku untuk bertemu dengan Aini. Entah kenapa rasanya hatiku begitu sakit saat mengingat kau dulu adalah kekasih Aini, entah kenapa aku jadi teringat wajah frustasimu saat patah hati karena Aini dulu saat kita pertama kali bertemu. Aku takut kau kembali jatuh cinta padanya saat kalian berjumpa lagi.' gumam Vallen sambil membalas pelukan Firman.


"Vallen, sebelum kita pulang kita pamit dulu pada Bapak dan Ibu ya di rumah sakit."


"Iya tentu saja."


"Oh iya satu lagi, tolong kau pesankan tiket pulang untuk kita berdua."


"Ya."


Firman pun memandang Vallen yang masih terlihat begitu murung. "Kau kenapa sayang? Kenapa kau tiba-tiba jadi berubah seperti ini?"


"Firman, aku takut."


"Takut apa?"


"Takut kehilanganmu."


"Hahahaha... Hahahaha..."


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Kau sangat lucu, Vallen. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kenapa kau tiba-tiba memiliki pemikiran seperti itu? Apa karena kita akan kembali ke Jakarta dan suatu saat aku akan bertemu dengan Aini?"


"Emhh... E... Mungkin."


"Hahahaha... Hahahaha, itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Aini."


Firman kemudian melepaskan pelukannya pada Vallen lalu memegang wajahnya. "Vallen, dengarkan aku. Apakah kau yakin ingin menjalani hidupmu bersamaku sampai akhir hidupmu?"


Vallen pun mengangguk dengan begitu cepat.


"Setelah sampai di Jakarta, aku akan menemui orang tua dan kakakmu, aku akan melamarmu secepatnya. Apa kau mau menikah denganku?"


Vallen pun tersenyum. "Tentu saja aku mau, kenapa kau harus menanyakan itu padaku, aku sangat ingin menikah secepatnya denganmu." gerutu Vallen sambil tersenyum. Firman pun kemudian tertawa sambil memeluk Vallen kembali. Di saat itulah tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar.

__ADS_1


TOK TOK TOK


__ADS_2