Salah Kamar

Salah Kamar
Bicara Empat Mata


__ADS_3

"Silahkan masuk, Aini." kata Vallen sambil tersenyum meskipun kini dadanya terasa begitu sesak. Aini pun kemudian masuk ke dalam ruangan Vallen lalu duduk di depannya.


"Apa kabar, Aini?"


"Baik Dokter Vallen."


"Kau datang sendiri, Aini? Dimana suamimu?"


"Oh Mas Roy saat ini sedang menangani proyek baru, jadi dia sedikit sibuk. Aku tidak mau mengganggunya jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri."


'Oh, astaga apakah dia sengaja melakukan ini karena sudah tahu sekarang aku adalah kekasih Firman? Apakah ada sesuatu yang ingin dia bicarakan sehingga dia sengaja tidak datang bersama suaminya.' gumam Vallen sambil berpura-pura sibuk membaca catatan medis milik Aini.


"Kau memang istri yang baik Aini, kau begitu pengertian pada suamimu. Lalu apa perutmu masih terasa sakit?" jawab Vallen setelah selesai membolak-balik catatan medis yang ada di tangannya.


"Oh sudah tidak."


"Baik, silahkan naik ke atas brankar Aini aku akan memeriksa kondisi rahimmu."


"Iya Dokter Vallen."


'Kenapa Dokter Vallen hari ini tampak sangat aneh? Dia terlihat begitu canggung padaku, apakah dia sudah tahu jika aku adalah mantan kekasih Mas Firman?' gumam Aini sambil bangkit dari tempat duduknya. Aini lalu berjalan ke arah brankar kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas brankar tersebut. Vallen pun mendekat ke arah Aini, kini tangannya terasa bergetar menahan perasaan di dalam dadanya yang begitu berkecamuk.


'Astaga, Vallen kau tidak boleh memiliki perasaan seperti ini, kau tetap harus profesional melakukan tugasmu, lagipula yang terpenting adalah saat ini adalah hati Firman hanya untukmu. Ingat Vallen, hati Firman hanya untukmu.' gumam Vallen sambil mendekat ke arah Aini.


Vallen pun kemudian memeriksa keadaan rahim Aini dengan menggunakan alat USG. "Keadaan rahimmu tidak ada masalah Aini, rasa sakit ini mungkin karena kau akan mengalami menstruasi, sejak kejadian itu siklus menstruasimu belum lancar kan? apakah akhir-akhir ini kau sedikit stres atau kelelahan?"


"Iya Dokter Vallen, mama sedang pergi ke luar kota, aku mengurus Darren sendirian sedangkan Mas Roy akhir-akhir ini sangatlah sibuk, aku mengurus segala sesuatu di rumah sendirian, mungkin itulah yang menyebabkan aku sedikit stres dan kelelahan."


"Kemungkinan seperti itu, kau harus membicarakan dengan suamimu agar mengurangi aktivitasmu di rumah, dan lebih banyak beristirahat karena kondisi tubuhmu belum sepenuhnya sehat."

__ADS_1


"Iya Dokter, nanti kubicarakan dengan Mas Roy."


"Sudah selesai Aini, aku akan memberikan vitamin dan obat yang bisa kau minum jika suatu saat nanti perutmu kembali sakit."


"Iya Dok." jawab Aini, kemudian mereka kembali ke meja Vallen.


Melihat gerak-gerik Vallen yang terlihat sedikit canggung, Aini pun mulai merasa curiga padanya. Apalagi saat Vallen sempat salah menuliskan resep untuk Aini. Aini pun kemudian menatap Vallen dengan tatapan polosnya.


"Dokter Vallen, anda kenapa?"


"Oh, tidak apa-apa Aini. Mungkin aku hanya sedikit lelah." jawab Vallen dengan begitu terlihat gugup.


"Lelah? Bukankah anda baru saja selesai berlibur? Bagaimana liburan anda? Pasti sangat menyenangkan berlibur dengan orang yang anda cintai."


"Ya, tentu saja. Liburan kami sangat menyenangkan, aku sebenarnya belum ingin kembali, tapi tiba-tiba dia ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi kami kembali ke Jakarta lebih cepat dibandingkan rencana awal."


"Oh, lain kali mungkin anda bisa berlibur kembali dengannya."


"Mas Firman orang yang baik, anda pasti sangat menikmati liburan anda dan merasa begitu nyaman berada di sampingnya. Bukan begitu Dokter Vallen?" kata Aini sambil tersenyum. Mendengar perkataan Aini, Vallen pun memelototkan matanya sambil menutup mulutnya. Aini pun kembali tersenyum.


"Kenapa Dokter Vallen? Bukankah anda kekasih dari Mas Firman?"


'Astaga, jadi Aini sudah tahu jika kekasihku adalah Firman?' gumam Valen sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Oh... E..Iya. Aini, darimana kau tahu jika aku adalah kekasih Firman?" kata Vallen dengan sedikit salah tingkah.


Aini pun tersenyum. "Bagaimana saya tidak tahu jika semua orang di desa membicarakan anda, semua orang sangat mengagumi anda termasuk ibu saya sendiri yang meminta foto dengan anda saat di minimarket."


"Astaga, jadi ibumu salah satu dari gerombolan ibu-ibu yang ada di minimarket itu?"

__ADS_1


Aini pun mengangguk sambil tersenyum.


"Oh ya, iya Aini. Maaf jika tadi sikapku agak sedikit canggung padamu, aku hanya sedikit merasa sungkan jika ternyata orang yang beberapa kali kuceritakan ternyata adalah mantan kekasihmu. Aku juga tidak menyangka jika ternyata dunia begitu sempit, pasienku ternyata adalah mantan kekasih dari pacarku." kata Vallen sambil meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dokter Vallen, Mas Firman adalah masa lalu bagi saya, saya sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, saya harap anda tetap bersikap seperti biasa pada saya tanpa ada perasaan apapun, kita sudah memiliki pasangan masing-masing, saya yakin Mas Firman pasti juga sudah tidak memiliki perasaan apapun pada saya. Dan saya juga sangat yakin dia sangat mencintai anda, Dokter."


"Ya, aku tahu itu Aini. Aku tidak pernah meragukan perasannya padaku. Terimakasih untuk hari ini, terimakasih banyak atas pengertianmu, aku tahu kau sengaja tidak datang bersama suaminya agar kita dapat bicara dari hati ke hati kan? Agar diantara kita tidak ada lagi prasangka satu sama lain."


"Iya Dokter Vallen, saya memang ingin bicara empat mata dengan anda, karena bagaimanapun juga kita pernah menjadi bagian hidup dari orang yang sama. Saya hanya tidak ingin ada ada sesuatu yang mengganjal dan prasangka buruk diantara kita berdua."


"Iya Aini, aku tahu itu. Aku juga ingin kita tetap bersikap seperti biasa tanpa ada pemikiran buruk satu sama lain."


"Iya Dokter Vallen, saya harap begitu. Saya yakin Mas Firman sangat mencintai anda. Saya bahkan tidak menyangka dia melakukan semua ini pada wanita yang dia cintai, memberikan bunga, hadiah, bahkan menunggu anda semalaman di bawah hujan, dia tidak pernah melakukan semua itu pada wanita manapun kecuali pada anda."


"Iya Aini, aku tahu itu." jawab Vallen sambil tersipu malu.


"Dan saya yakin anda adalah jodoh bagi Mas Firman. Kami memang pernah bersama tapi kami tidak berjodoh karena dipisahkan oleh keadaan, dan aku sudah sadar itu sejak lama. Karena itulah aku sudah mengubur rasa cintaku dalam-dalam padanya, hingga aku melabuhkan cintaku pada suamiku."


"Ya, aku juga berfikiran seperti itu Aini. Kami dipertemukan dalam keadaan yang sama, hingga akhirnya kami mencintai satu sama lain."


"Anda begitu hebat Dokter Vallen karena bisa menaklukkan laki-laki yang dingin seperti Mas Firman, sebenarnya dia adalah laki-laki yang sangat dingin dan begitu sulit mengungkapkan perasaan cintanya."


"Dan sangat sombong." tambah Vallen sambil terkekeh. Aini pun tersenyum, di saat itulah pintu ruangan Vallen pun terbuka.


CEKLEK


"Sayang aku sudah menung..." kata Firman sambil membuka pintu, namun kata-katanya tidak diselesaikan karena melihat Aini yang masih duduk di depan Vallen.


"Mas Firman." kata Aini sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aini." jawab Firman dengan begitu salah tingkah.


__ADS_2