
"Ini pakaian Drey." kata Risma sambil memberikan pakaian milik Drey pada Rima.
"Iya." jawab Rima lirih.
"Ini airnya, sekalian kau seka juga ya badan Drey, badannya sangat kotor."
'Astaga.' kata Rima dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Ayo cepat Rima, cepat kau seka dan ganti pakaiannya."
"Emh.. E... Baik ma." kata Rima sambil mendekat ke arah Drey.
"Bagaimana ini?" bisik Rima saat berada di depan wajah Drey.
"Mama, bisakah mama keluar sebentar? Aku malu bertela*jang di depan mama."
"Oh baiklah." jawab Risma kemudian keluar dari kamar perawatan Drey.
"Drey, bagaimana ini?"
"Apa sulitnya membasuh tubuhku dengan air dan mengganti pakaianku? Bukankah sebentar lagi kita menikah? Kau harus terbiasa dengan bagian tubuhku." jawab Drey sambil terkekeh.
'Dia malah meledekku.' gerutu Rima dalam hati.
"Cepat Rima, sebelum mama masuk." kata Drey sambil menarik tangan Rima.
Perlahan Rima pun membuka kancing kemeja Drey, tangannya pun begitu gemetar saat melihat tubuh Drey yang begitu berotot.
'Astaga, kenapa aku tidak tahu dia menyembunyikan tubuh seindah ini di balik pakaian yang selalu dia kenakan.' kata Rima dalam hati.
"Hei, kenapa kau jadi diam seperti ini Rima? Apa kau terpesona melihat tubuhku ini?" kata Drey lagi sambil terkekeh.
Rima pun terlihat salah tingkah. "Emh aku hanya bingung saja, apa yang harus kulakukan?"
"Kenapa harus bingung? Kau hanya tinggal membasuh tubuhku saja dengan air itu."
Rima pun kemudian mulai menyeka tubuh Drey, namun saat dia akan membasuh bagian bawah tiba-tiba Rima menghentikan tangannya.
"Emh, aku." kata Rima dengan raut wajah yang terlihat pucat.
"Oh bagian ini biar aku saja." kata Drey.
"Apa tanganmu tidak sakit untuk digerakkan?"
"Sakit tapi aku bisa menahannya. Sebaiknya kau membalikkan tubuhmu lebih dulu."
"Iya." jawab Rima kemudian membalikkan tubuhnya. Setiap detik yang terlewati, Rima menunggunya dengan perasaan yang begitu tak menentu.
"Sudah Rima, aku sudah selesai. Kau tinggal memakaikan bajuku saja."
"Iya." jawab Rima kemudian mendekat kembali pada Drey lalu memakaikan bajunya.
Drey pun kemudian tertawa. "Kenapa kau begitu tegang dan takut Rima? Apa hal ini begitu menakutkan bagimu? Kau harus bisa terbiasa dengan semua ini, Rima."
Rima pun hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Rima sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa akhir-akhir ini kau begitu dingin padaku? Apa salahku padamu? Apa kau begitu tersiksa dengan semua ini karena kau masih mencintai Ilham?"
"Apa maksudmu dengan mengatakan padaku jika aku masih mencintai Ilham?"
"Bukannya memang seperti itu? Kau masih mencintainya kan?"
"Tidak."
"Kau tidak usah berbohong padaku, Rima."
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kau yang masih mencintai Olivia kan? Tatapan matamu jika ada Olivia selalu terlihat berbeda."
Drey pun kemudian tersenyum.
"Kenapa kau malah tersenyum?"
"Jadi sebenarnya kau cemburu?"
"Oo..Oh tidak, aku tidak pernah cemburu." kata Rima dengan begitu gugup.
"Sekarang aku tanya padamu apa kau masih mencintai, Ilham?"
"Bukan urusanmu."
"Oh jika itu jawabanmu, berarti kau masih mencintainya."
"Tolong jangan berprasangka seperti itu, aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya."
Drey pun tersenyum lagi.
"Kenapa kau tersenyum lagi, Drey?"
"Bukankah kenyataannya seperti itu?"
"Kau ingin tahu jawaban sebenarnya dariku?"
"Tidak perlu."
"Tolong mendekat padaku."
"Untuk apa?"
"Mendekat saja! Apa susahnya?"
Rima pun kemudian mendekat pada Drey. Saat Rima sudah ada di hadapannya, Drey lalu mencengkeram tangan Rima.
"Drey apa yang kau lakukan? Bukankah kau masih sakit? Jangan terlalu kuat mencengkramku."
"Aku tidak peduli." jawab Drey kemudian mulai mendekatkan wajahnya pada Rima.
Jantung Rima pun berdegup kian kencang saat melihat Drey yang kini begitu dekat dengannya, semakin dekat dan tiba-tiba bibir Drey sudah mencium bibir Rima dengan begitu lembut.
'Astaga, dia menciumku.' kata Rima dalam hati disertai perasaan yang terasa begitu campur aduk.
Perlahan Rima pun memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman hangat dari Drey. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang.
__ADS_1
"OH TIDAKKK, MAAF MAMA MENGGANGGU. TADI MAMA LUPA TIDAK MENGETUK PINTUNYA." teriak Risma dari pintu, dia kemudian menutup pintu tersebut.
Drey dan Rima kemudian tersenyum. "Drey, mama pasti berfikiran buruk pada kita."
"Tidak, dia tidak akan memiliki pikiran buruk."
Mendengar perkataan Drey, Rima pun kemudian mengerutkan keningnya.
"Ya, dia tidak akan berfikiran buruk pada kita karena dia masih menganggap kita adalah sepasang suami istri." jawab Drey sambil terkekeh.
Rima pun kemudian ikut tersenyum melihat wajah Drey yang kini tampak begitu bahagia. 'Semoga kau benar-benar memiliki perasaan padaku, Drey.' kata Rima dalam hati.
🍀🍀🍀🍀🍀
TETTTT TETTTTTT
"Bi, tolong buka pintunya." teriak Calista saat mendengar suara bel dari arah pintu.
"Iya Nyonya." jawab Bi Asih sambil berlari kecil membukakan pintu.
Mata Calista terbelalak dan senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat seorang wanita cantik yang kini sedang menghampirinya.
"Hai Giselle. Kau kemana saja? Sudah lama sekali kita tidak bertemu? Apa kehamilan itu begitu menyiksakmu sampai kau tidak pernah keluar rumah?" kata Calista saat melihat Giselle yang kini berdiri di sampingnya dengan perut besarnya.
"Tidak Calista, kehamilan ini bukan masalah bagiku. Hanya saja saat ini aku tinggal di rumah mertuaku." .
"Jadi sekarang kau tinggal bersama Tante Santi?"
"Iya Calista." jawab Giselle sambil mengangguk.
"Kenapa kau mau tinggal di sana?"
"Oh itu karena papa yang memintanya. Revan sedang sering melakukan pekerjaan keluar kota, jadi papa menyuruhku untuk tinggal bersama mereka."
"Oh." jawab Calista sambil menatap Giselle yang kini sedikit terlihat murung.
"Kau kenapa Giselle? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?"
"Tidak apa-apa Calista, aku hanya ingin meminta bantuanmu."
"Bantuan? Bantuan apa?"
"Temani aku ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku."
Calista pun tertawa terbahak-bahak. "Astaga Giselle, hanya menemani ke dokter kandungan saja kau terlihat tegang seperti itu." kata Calista sambil terkekeh.
Giselle pun kemudian tersenyum.
"Ayo kita pergi sekarang, Giselle. Kebetulan Nathan dan Nala sedang tidur, aku jadi bisa keluar dari rumah ini dengan mudah. Jika mereka sudah bangun akan sangat sulit bagiku untuk pergi dari sini." kata Calista sambil menarik tangan Giselle.
"Aw pelan-pelan Calista, sakit." kata Giselle saat Calista menarik tangannya.
"Sakit? Memangnya ada apa dengan tanganmu? Bukankah aku tidak terlalu keras menariknya." kata Calista dengan kening berkerut.
"Oh, tanganku hanya sedikit terkilir saat aku sedang memasak kemarin sore."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Ya." jawab Giselle dengan sedikit gugup yang membuat Calista curiga.