
Olivia menatap Kenan. "Kenan, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kita periksa kamar Laras, barangkali kita bisa menemukan bukti-bukti lagi."
"Iya Kenan."
"Pa, kami minta ijin masuk ke kamar Laras." kata Olivia.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa raut wajah kalian tegang seperti itu?"
"Pa, uang Kenan di dalam brankas hilang, dan kemungkinan pencurinya adalah Laras."
"Apa bagaimana mungkin?"
"Kami sudah mengecek melalui CCTV Pa, dan kami menemukan kemungkinan jika pencuri itu adalah Laras, kami memerlukan bukti tambahan dan kami ingin mencarinya di kamar Laras."
"Jadi begitu? Baik kalian masuklah ke kamar Laras. Papa sungguh benar-benar tidak menyangka jika Laras akan bertindak keterlaluan seperti ini!!" jawab Herman geram.
"Baik Pa, kami masuk dulu ke kamar Laras!" kata Kenan.
Kenan dan Olivia lalu masuk ke dalam kamar tersebut, mereka lalu mencoba menggeledah lemari Laras, namun tidak ada satupun bukti yang mereka temukan. Olivia lalu beralih ke nakas dekat tempat tidur dan membuka laci nakas tersebut satu per satu.
"Kenan, lihat ini."
"Apa yang kau temukan Olive?"
"Beberapa buah kunci, lihatlah ini seperti kunci di rumah, Kenan."
"Brengsek, pasti Laras telah menduplikat kunci rumahku." kata Kenan geram.
Olivia lalu beralih pada beberapa buah tas milik Laras yang tergantung di salah satu pojok kamar. Dia terlihat terkejut kemudian menutup mulutnya saat menemukan beberapa lembar kertas.
"Apa yang kau temukan Olive?" tanya Kenan sambil mendekat pada Olivia yang masih mengamati beberapa lembar kertas yang dia temukan. Olive lalu memberikan beberapa lembar bill itu pada Kenan.
"Laras pergi ke rumah makan semahal ini dalam beberapa minggu terakhir? Untuk apa?"
"Entahlah Kenan, yang jelas kita harus menyelidiki orang yang dekat dengan Laras belakangan ini, tidak mungkin Laras berbuat sejauh ini hanya untuk kepentingan dia sendiri,"
"Kau benar, Olive meskipun Laras wanita yang sangat menyebalkan tapi dia tidak mungkin berbuat senekat itu jika tidak ada tekanan dari orang lain."
"Ya Kenan, sebenarnya dia adalah gadis yang polos, sayangnya dia terlalu berambisi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kenan, ayo kita pergi ke rumah makan itu dan mencari tahu siapa orang yang dekat dengan Laras belakangan ini."
"Iya Olive."
Mereka lalu keluar dari kamar Laras. "Pa, kami pulang dulu ya," pamit Olivia pada Herman.
"Apa kalian sudah menemukan bukti baru?"
__ADS_1
"Ya Pa, dan kami harus menyelidikinya."
"Iya Olive, tapi kau harus hati-hati karena kau sedang hamil."
"Iya Pa, Olive pergi dulu." kata Olivia kemudian keluar dari rumah setelah melihat Herman mengangguk.
Kenan dan Olivia tampak serius mengamati beberapa buah video CCTV yang sedang diperlihatkan oleh petugas di rumah makan yang pernah Laras datangi.
"Olive lihat itu? Laras duduk bersama seorang lelaki."
"Iya Kenan,"
"Tolong perlihatkan video dari pintu masuk agar kami bisa melihat dengan jelas wajah pria itu." kata Olivia.
"Baik Nyonya."
"Ke.. Kenan.." kata Olivia gugup saat petugas CCTV memperlihatkan video dari arah pintu masuk.
"Ada apa Olive?"
"Kenan coba lihat dengan jelas laki-laki itu, laki-laki yang bersama Laras adalah laki-laki yang menjadi selingkuhan Calista saat dia masih menikah denganmu."
"Dasar brengsek! Jadi benar Laras sudah diperalat oleh laki-laki itu untuk mengambil uangku, sama seperti saat dia memperalat Calista dulu!!!"
"Ya Kenan, sebaiknya kita tanyakan pada Calista mengenai hal ini. Aku akan meneleponnya."
"Iya Kenan, kita ke rumah Kak Calista."
"Tolong telepon Leo juga Olive agar dia pulang ke rumah, katakan aku ingin bicara dengannya."
"Iya Kenan," jawab Olivia kemudian menelepon Leo.
***
"Kenan, Olive?" sapa Calista saat melihat Kenan dan Olivia turun dari mobil saat dia sedang merawat bunga-bunga miliknya, dia kemudian mendekat pada Kenan dan Olivia, meskipun berbagai pertanyaan kini menari dalam benaknya, tentang kedatangan mereka berdua.
"Kakak, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Iya Olive, ayo kita masuk ke rumah," jawab Calista, kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.
"Olive, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Emhhhh...." kata Olivia sedikit ragu, dia lalu memandang Kenan. "Begini Calista, apa kau ingat dengan selingkuhanmu dulu?"
DEGGGG
Jantung Calista seakan berhenti berdetak saat mendengar kata-kata Kenan, Calista lalu mengambil nafas panjang, dia sebenarnya cukup terkejut jika Kenan ternyata sudah tahu dia pernah menjalin hubungan dengan Ramon. "Ya Kenan, dia Ramon, ada apa dengan Ramon?"
__ADS_1
"Kakak, belakang ini dia dekat dengan Laras dan memperalatnya sampai Laras berani mencuri uang di rumah kami."
"APA? RAMON MEMPERALAT LARAS? DASAR GADIS POLOS BODOH!" umpat Calista.
"Berapa uang yang dia curi darimu, Kenan?"
"Satu miliar."
"Satu miliar? Gila benar-benar gila!" kata Calista sambil menahan amarah dengan nafas yang begitu tersengal-sengal.
"Kakak apakah kau tahu dimana keberadaan Ramon saat ini?"
"Tidak Olive, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya, aku akan menghubungi Leo karena dia juga sedang menyelidiki Ramon saat ini."
"Tidak usah Kak, aku sudah menghubungi Leo tadi agar pulang ke rumah karena ada yang ingin kami bicarakan. Tapi untuk apa Leo menyelidiki Ramon? Apakah kalian juga memiliki masalah dengannya?"
"Oh bagus jika kau sudah menghubungi Leo. Olive, asal kalian tahu Ramon juga selalu menjadi bayang-bayang dalam rumah tangga kami, dia selalu mengusik kehidupan kami, bahkan beberapa hari yang lalu kami harus membayar hutang-hutang Giselle pada seorang rentenir karena Ramon."
"Maksud Kakak?"
"Ramon telah memeras Giselle karena dia tahu semua rahasia Giselle, bahkan Giselle sampai berani mencuri berlian milikku juga karena ancaman dari Ramon."
"Dasar laki-laki brengsek!" umpat Kenan.
"Calista, lebih baik kau telepon Leo kembali agar cepat pulang, ini sudah sangat gawat. Ramon bisa saja berbuat nekat pada Laras jika kita tidak cepat menemukannya."
"Iya Kenan."
Baru saja Calista mengambil ponselnya, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. "Itu pasti Leo."
***
Belum usai keterkejutan Laras, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Tubuh Laras menegang dan keringat dingin keluar saat melihat Ramon mendekat padanya.
"Kau sudah bangun rupanya, Laras sayang." kata Ramon sambil tersenyum.
"Ra.. Ramon bisakah kau jelaskan semua ini? Kenapa begitu banyak foto Calista di ruangan ini?"
"Hahahaha.. Hahhahahhaha.. Itu bukan urusanmu Laras."
"Tentu itu akan menjadi urusanku karena kau adalah kekasihku! Untuk apa kau menyimpan foto wanita lain selain aku? Lagipula Calista juga sudah menikah dengan Leo!"
"Tenang saja Laras sayang, Calista adalah bagian dari masa laluku, kau tidak perlu cemburu. Hahahaha."
"Calista, masa lalumu? Cepat katakan padaku apa hubunganmu dengan Calista dulu?"
"Untuk apa kau menanyakan itu Laras? Itu tidaklah penting, yang terpenting saat ini adalah kau memberikan semua hartamu padaku, jika tidak aku akan membunuhmu!!"
__ADS_1
'Harta? Jadi Ramon mengira aku adalah orang kaya? Dan selama ini akulah yang sudah dibodohi oleh Ramon?' gumam Laras sambil menelan ludah.