
Vallen kemudian membuka matanya kembali dan melihat ponselnya.
"Nomor asing? Apakah ini nomor ponsel Firman?" kata Vallen sambil tersenyum.
Dia kemudian mengangkat panggilan itu.
[Halo.]
[Halo, apakah benar anda yang bernama Vellen?] tanya sebuah suara di ujung telepon.
Vallen pun begitu terkejut mendengar suara seorang wanita ada di ujung telepon.
'Aku pikir Firman, ternyata bukan.' gumam Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar.
[Ya, saya Vallen. Ada yang bisa saya bantu?]
[Perkenalkan, saya Inara. Istri dari Mas Rayhan.]
'Astaga, ada apa wanita ini menelponku?' gumam Vallen dalam hati.
[Oh iya, ada apa Inara?]
[Bisakah besok kita bertemu?]
[Oh maaf, tidak bisa. Saya sedang menghadiri pesta pernikahan kerabat saya di luar kota, dan kemungkinan saya akan menghabiskan beberapa hari disini.]
[Baiklah, saya akan menunggu sampai anda pulang ke Jakarta.]
[Sebenarnya ada apa? Sepertinya kita tidak memiliki urusan penting?]
[Ini tentang Mas Rayhan.]
[Sebelumnya saya meminta maaf Inara, sejak dia mengatakan akan menikah denganmu saya sudah tidak berkomunikasi lagi dengan Rayhan. Saya juga tidak ingin membicarakan dirinya kembali karena bagi saya, dia merupakan bagian masa lalu yang sudah lama saya pendam.]
[Tapi Vallen, ini benar-benar penting dan saya sangat ingin bertemu dengan anda.]
[Sekali lagi maaf, saya sudah memiliki kehidupan serta lembaran baru dalam hidup saya, dan saya tidak ingin mengungkit apapun yang berhubungan dengan masa lalu saya.]
[Vallen, sebentar saja.]
[Keputusan saya tetap sama, saya tidak ingin membicarakan sesuatu hal yang berhubungan dengan Rayhan. Jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi saya akan menutup teleponnya karena saya ingin beristirahat.]
[Baik Vallen, aku hargai keputusanmu dan usahamu karena kau sudah berusaha untuk melupakan suamiku, maaf sudah menggangu. Terimakasih banyak.]
[Sama-sama.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan telepon itu.
Air mata pun kembali mengalir membasahi wajahnya.
'Oh Tuhan, apa lagi ini?' gumam Vallen sambil menatap gelapnya malam.
🧡🧡🧡🧡🧡
Zidan pun melemparkan bantal pada Firman.
__ADS_1
"Apa-apaan kau Firman, kau membuang kesempatan begitu saja. Gadis itu sudah mau memberikan nomor ponselnya padamu tapi kau bersikap seperti ini." gerutu Zidan sambil mengerutkan keningnya.
"Aku takut Zidan."
"Takut apa?"
"Takut jika suatu saat nanti aku jatuh cinta padanya tapi cinta kami terhalang perbedaan yang begitu nyata."
"Perbedaan? Sebenarnya perbedaan apa yang kau maksud?"
"Apa kau tidak lihat? Dia berada di pesta itu, kau tahu sendiri orang-orang yang ada di pesta itu bukanlah orang sembarangan, Zidan. Mereka orang-orang kaya yang memiliki kekayaan berlimpah, sedangkan aku? Apa kau tidak bisa lihat bagaimana diriku?"
"Memangnya kenapa? Sepertinya mereka juga bukan orang kaya yang sombong, buktinya saja mereka mau menerima Aini dengan tangan terbuka. Lalu aku juga dengar jika pengantin wanitanya juga bukan dari kalangan berada tapi hanyalah seorang gadis piatu miskin yang diangkat adik oleh seorang pengusaha yang bernama Leo. Oh iya aku baru ingat jika ayah kandung dari pengantin wanita tersebut juga berasal dari kota yang sama dengan kita."
"Benarkah?"
"Ya, itu yang kudengar."
"Tapi posisinya berbeda Zidan, mereka wanita sedangkan aku laki-laki. Aku harus menafkahi istriku, bagaimana jika ternyata Vallen bukan wanita sembarangan yang memiliki penghasilan jauh diatasku?"
"Kau benar, tapi kau juga berfikir terlalu jauh Firman. Anggap saja perkenalan ini sebagai bentuk pertemanan, tidak lebih. Jangan bermain hati saat bersamanya jika kau tidak ingin jatuh cinta padanya."
Firman pun terdiam.
'Kau benar, aku mungkin bisa menganggapnya sebagai seorang teman. Tidak lebih, bukankah kami memiliki persamaan karena sama-sama sedang patah hati?' gumam Firman sambil memandang langit-langit kamar.
"Tidak usah banyak berfikir Firman, cepat telepon gadis itu. Dia pasti sudah menantimu."
Firman pun memandang ponselnya. Dia kemudian mengambil kertas yang ada di atas nakas kemudian mengetikkan nomor itu di ponselnya.
'Mungkin dia sedang menerima telepon, sebaiknya kuhubungi beberapa saat lagi.' gumam Firman
🖤🖤🖤🖤🖤
Vallen kemudian memejamkan matanya, beberapa saat kemudian ponselnya pun kembali berdering. Dengan malas, Vallen pun mengangkat panggilan itu.
[Bukankah sudah saya bilang, jika saya tidak ingin membicarakan hal itu lagi dengan anda?]
[Apa maksudmu? Apa aku sudah mengganggumu?] jawab seorang pria di ujung sambungan telepon yang membuat Vallen begitu terkejut.
'Astaga, aku salah orang. Kupikir dia istri dari Rayhan.' gumam Vallen dalam hati.
[Baik, mungkin aku sudah menggangumu, lebih baik kututup saja teleponnya.]
[OHHHH TIDAAAAAKKKK!!] teriak Vallen yang membuat Firman menjauhkan ponselnya dari telinganya.
'Benar-benar gadis yang aneh.' gumam Firman.
[Maaf, kupikir kau temanku yang sejak tadi menggangguku, aku mengangkat panggilan di ponsel ini tanpa melihat dulu siapa yang meneleponku.] jawab Vallen dengan begitu gugup.
[Oh, kupikir aku mengganggumu.]
[Tidak, tidak sama sekali.]
__ADS_1
[Apa kau belum tidur?]
[Aku belum mengantuk.]
[Lebih baik mau tidur saja sekarang, ini sudah malam.]
[Kau sangat aneh Firman, kau baru saja menelponku tapi kau sudah menyuruhku untuk tidur.]
[Ya, aku menelponmu hanya untuk mengucapkan selamat tidur padamu.]
[Lalu hanya itu?]
[Tidak aku ingin kau tidur agar besok kau tidak bangun kesiangan, karena aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat.]
Vallen pun tersenyum mendengar perkataan Firman.
[Hai, kita baru saja berkenalan tapi kau sudah berani mengajakku berkencan.]
[Siapa yang mengajakmu berkencan? Aku tidak ingin berkencan dengan gadis aneh seperti dirimu.]
'Astaga, laki-laki sombong ini memang benar-benar membuatku kesal.'
[Lalu apa namanya jika kau mengajakku pergi tapi kau tidak mau menyebut ini sebagai sebuah kencan?]
Firman pun tersenyum.
[Bukankah kau dan aku sedang sama-sama patah hati?]
[Ya, bisa dibilang seperti itu.]
[Memang kenyataannya seperti itu.] gerutu Firman.
[Hahahaha anggap saja begitu.] jawab Vallen sambil terkekeh.
[Besok bersenang-senang lah denganku,. lupakan semua sakit hati yang kita rasakan. Bukankah kita juga berhak bahagia, sama seperti mereka?]
Vallen pun tersenyum.
[Kau benar.]
[Ya sudah, sekarang sebaiknya kau tidur. Besok kutunggu kau di tempat kita pertama kali bertemu pukul sembilan pagi.]
[Baiklah, itu ide yang sangat bagus.]
[Ya, aku tutup teleponnya. Selamat tidur.]
[Selamat tidur Firman.] jawab Vallen sambil menutup teleponnya.
'Dasar laki-laki sombong, bahkan dia tidak mau menyebut semua ini sebagai kencan?' gumam Vallen sambil terkekeh.
Dia kemudian memejamkan matanya, namun beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering. Vallen pun mengambil ponsel itu kembali dan melihat sebuah nama layar ponselnya.
"Rayhan." kata Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar, namun dia memilih mengabaikan panggilan itu lalu mematikan ponselnya.
__ADS_1
'Maaf Rayhan, kau hanya bagian dari masa laluku.' gumam Vallen sambil memejamkan matanya.