Salah Kamar

Salah Kamar
I Love You


__ADS_3

"Kau sudah selesai mandi?"


"Ya."


"Kau tunggu di sini sebentar ya sayang, aku keluar sebentar untuk membelikan makan malam untukmu."


Vallen pun mengangguk, dia kemudian duduk di atas sofa di ruang televisi. Saat sedang asyik mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba Aini pun meneleponnya.


[Halo, ada apa Aini?]


[Halo Dokter Vallen, apakah besok aku bisa membuat janji denganmu?]


[Memangnya ada apa Aini?]


[Oh, tadi siang aku mengalami kram perut yang sedikit hebat. Mas Roy sangat mencemaskanku, dia takut sesuatu terjadi padaku jadi dia menyuruhku untuk bertemu denganmu.]


[Maafkan aku Aini, aku tidak bisa. Aku cuti selama satu minggu, karena saat ini aku sedang ada di Jogja. Jika masih sakit, sebaiknya kau datang saja ke rumah sakit, kau bisa berkonsultasi dengan dokter yang lain.]


[Kalau begitu aku tunggu saja sampai Dokter Vallen pulang, sebenarnya sudah tidak sakit tapi Mas Roy terlalu mencemaskanku.]


[Oh baik kalau itu maumu.]


[Dokter Vallen sedang di Jogja? Di daerah mana? Saya juga berasal dari Jogja.]


[Entahlah Aini, aku tidak terlalu paham ini daerah apa karena saat aku datang ke desa ini aku hanya menyerahkan alamatnya pada sopir taksi yang mengantarku dari bandara.]


[Oh. Memangnya Dokter Vallen ada urusan apa sampai cuti satu minggu?]


[Urusan pribadi.] jawab Vallen sambil terkekeh.


[Apa ada hubungan dengan laki-laki pengirim bunga itu?] tanya Aini sambil meledek.


[Hahahaha, begitulah.]


[Jadi dia berasal dari Jogja?]


[Ya.]


[Ini rasanya seperti sebuah kebetulan, kekasihmu dan aku berasal dari daerah yang sama. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk berteman selamanya, tidak hanya sebatas dokter dan pasiennya.]


[Ya, kau benar Aini.]


[Ya sudah kututup dulu teleponnya, selamat bersenang-senang dengan kekasihmu.]


[Iya Aini, terimakasih banyak.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan dari Aini, bersamaan dengan Firman yang masuk ke dalam rumah sambil membawa dua bungkus makanan.


"Siapa yang menelponmu?"


Vallen lalu tersenyum.


"Apa kau cemburu?"


"Hahahahahha, untuk apa aku cemburu? Aku tahu hatimu hanya untukku. Buktinya kau sampai jauh-jauh datang ke sini untuk menemuiku."


Vallen pun tersenyum.


"Kekasihku memang sangat pintar."

__ADS_1


"Apa Kak David meneleponmu lagi?"


"Bukan, itu dari salah satu pasienku."


"Apa dia sedang hamil?"


"Tidak, dia tidak bisa hamil karena pernah mengalami sebuah kecelakaan parah yang menyebabkan kondisi sel telurnya sedikit rusak."


"Kasihan sekali. Siapa namanya?"


Vallen lalu tersenyum.


"Kenapa kau harus menanyakan namanya? Dia juga sangat cantik, aku tidak mau kau jatuh cinta padanya." gerutu Vallen.


"Hahahaha... Hahahahahha."


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau cemburu?"


"Tidak." jawab Vallen sambil memonyongkan bibirnya yang membuat Firman tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahaha... Begitu jauh lebih cantik."


"Jangan meledekku!!"


Firman kemudian memeluk Vallen.


"Kau seharusnya tidak memiliki alasan untuk berfikir aku akan jatuh cinta pada wanita lain, apakah semua yang kulakukan belum cukup untuk menunjukkan rasa cintaku?" kata Firman sambil mendekap tubuh Vallen saat duduk di atas sofa.


Vallen pun tersenyum.


"Kau menantangku?"


Namun belum sempat Vallen berkata-kata. Firman sudah melu*mat bibirnya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Vallen perlahan membuka matanya saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia kemudian mematikan alarm tersebut lalu melihat jam di ponselnya.


"Ternyata semalam kami ketiduran saat sedang menonton televisi." kata Vallen saat sadar dia tidur dalam pelukan Firman di atas sebuah sofa bed yang ada di depan televisi. Dia pun kemudian merapatkan tubuhnya kembali pada Firman.


"I love you." bisik Vallen di telinga Firman yang membuatnya terbangun. Firman kemudian tersenyum lalu mengecup kening Vallen.


"Selamat pagi sayang."


"Selamat pagi."


"Kau bersiaplah, sebentar lagi kita keluar, kita sarapan di luar setelah itu kita langsung pergi ke rumah sakit."


Vallen pun mengangguk.


"Aku mandi dulu."


"Ya." jawab Firman.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah keluar dari rumah Firman untuk pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Delia yang sedang berjalan-jalan pagi bersama dengan Shakila dengan mendorong strollernya pun tidak sengaja berpapasan dengan Firman yang sedang berboncengan dengan Vallen.


DEGGGG


Jantung Delia pun seakan berhenti berdetak saat melihat Firman yang sedang mengendarai sepeda motornya sambil bercanda dengan sangat mesra bersama Vallen. Hatinya sebenarnya terasa begitu sakit, tapi matanya tidak bisa beralih dari Firman dan Vallen yang baru melewatinya begitu saja. Air matanya pun menetes, bergegas dia mendorong stroller Shakila menuju ke rumahnya.


Saat memasuki halaman rumahnya, netranya langsung tertuju pada mobil milik Dimas yang sudah terparkir di depan halaman rumahnya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah dan melihat Dimas yang sudah menunggunya di dalam ruang tamu.


"Dimas, kau sudah ada di sini?"


"Ya, ibu rindu dengan Shakila jadi dia menyuruhku datang ke sini pagi-pagi untuk menjemput kalian. Ayo kita ke rumahku sekarang."


"Oh ya, sebentar aku berkemas dan mengambil barang-barang Shakila."


"Iya." jawab Dimas.


Delia keluar dari dalam rumah sambil membawa beberapa barang milik Shakila. Dia kemudian menghampiri Dimas yang kini terlihat asyik menggoda Shakila di strollernya.


"Ayo Dimas, kita pergi sekarang."


"Iya." jawab Dimas kemudian mereka masuk ke dalam mobil.


Dimas mengendarai mobilnya sambil sesekali melirik pada Delia yang menatap jalan yang ada di depannya dengan tatapan kosong, raut wajahnya pun terlihat begitu sendu.


"Kau kenapa Delia?"


"Tidak apa-apa." jawab Delia sambil tersenyum dengan sedikit dipaksakan.


"Tidak usah berbohong padaku. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Delia hanya terdiam, air mata pun kembali menetes di wajahnya.


"Kau menangis karena dia?" tanya Dimas yang membuat Delia terkejut.


"Apa maksudmu, Dimas?"


"Meskipun kita akan menikah tapi aku tahu jika sebenarnya kau masih mencintai Firman, iya kan?"


Delia pun hanya bisa terdiam, perasaannya kini semakin berkecamuk mendengar perkataan Dimas yang kini sudah tahu rahasianya.


"Kenapa kau diam, Delia. Tidak usah menutupi perasanmu padaku, aku tahu kau masih sangat mencintai Firman kan? Kau terpaksa mau menikah denganku karena paksaan dari kedua orang tuaku?"


"Dan demi Shakila." tambah Delia.


Dimas pun tersenyum kecut.


"Kau ternyata sangat naif."


"Karena hanya itu yang bisa kulakukan. Mas Firman sudah memiliki seorang kekasih yang lebih segala-galanya dibandingkan diriku. Mereka juga terlihat sangat mencintai satu sama lain. Sedangkan aku? Mas Firman tidak pernah mencintaiku, saat menikah denganku yang ada di hatinya hanyalah Aini. Kekasih Mas Firman yang sekarang saja lebih cantik dan lebih segala-galanya dibandingkan Aini, apalagi jika dibandingkan denganku? Aku hanyalah butiran debu baginya."


"Jadi kau sudah tahu Firman sudah memiliki kekasih baru?"


"Tentu saja, semua orang yang ada di sini pun sudah membicarakannya sejak kemarin sore saat kekasih Firman membantu persalinan Anita. Mereka sangat memuji kecantikan dan kepintaran wanita itu yang ternyata juga lulusan luar negeri."


"Kekasih Firman membantu Anita melahirkan?"


"Ya, apa kau belum tahu jika kekasih Firman adalah seorang dokter spesialis kandungan?"

__ADS_1


Dimas pun menelan ludahnya dengan kasar, perasaan di dalam dadanya semakin tak menentu.


'Jadi, kekasih Firman adalah seorang dokter dan lulusan dari luar negeri? Firman benar-benar BREN*SEK! Bagaimana bisa dia mendapatkan wanita seperti itu hanya dalam waktu beberapa bulan saja? Seharusnya diriku yang lebih pantas bersanding dengan wanita itu.' gumam Dimas sambil mencengkram setir mobilnya menahan emosi yang kian berkecamuk di dalam dadanya.


__ADS_2