Salah Kamar

Salah Kamar
Selamat Tinggal


__ADS_3

Rima kemudian tersenyum, sedangkan Olivia dan Calista sekarang tampak begitu canggung mendengar perkataan Rima. Drey lalu mengalihkan pandangannya pada Rima.


"Rima, kau sudah sadar? maafkan aku Rima. Aku sudah membuatmu kehilangan bayimu." kata Drey dengan tatapan memelas.


"Drey, ini sudah takdir."


"Tapi aku tetap saja merasa bersalah padamu."


"Kau tidak perlu merasa bersalah, akulah yang seharusnya berterimakasih padamu, karenamu lah aku bisa selamat." jawab Rima.


"Sekali lagi aku minta maaf." kata Drey lagi sambil menundukkan wajahnya.


"Drey, jangan bersedih. Lebih baik kau pikirkan kondisimu sekarang." kata Calista.


"Kak Calista, aku tidak melihat Kak Leo dan Kenan. Dimana mereka?"


"Mereka sedang mengurus jenazah Ilham. Jenazah Ilham akan dipulangkan ke kampung halamannya, Rima."


"Oh. Lalu bagaimana dengan ayahku?"


"Laras sudah memberitahukan pada ayahmu mengenai semua yang telah kau alami bersama Ilham."


"Pasti ayah sangat sedih."


"Ya, dia merasa sangat bersalah padamu."


"Aku rindu ayah." kata Rima sambil tertunduk.


"Rima, kita akan menemui ayahmu sebelum kita menikah." kata Drey.


Rima lalu mengalihkan pandangannya pada Drey. "Drey, apakah kau yakin masih mau menikah denganku?"


"Tentu saja. Kita tetap akan menikah Rima, seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya."


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Apa kau tidak tersiksa jika hidup dengan wanita yang tidak kau cintai?" tanya Rima pada Drey.


Calista dan Olivia pun saling berpandangan.


"Hei apa-apaan kalian ini. Kondisi kalian saja masih seperti ini sudah membicarakan masalah perasaan. Tunggu sampai kalian sembuh dan bicarakan hal ini baik-baik. Dan kau Rima, jangan selalu bersikap pesimis, kau tidak usah memikirkan masa lalu Drey, semua orang memiliki masa lalu."


Drey dan Rima kemudian terdiam mendengar perkataan Calista. Tiba-tiba pintu ruang perawatan itu pun terbuka.


"DREEEEYYYY.... RIMAAAAA." teriak seorang wanita paruh baya yang masuk ke dalam ruangan itu.


"MAMMAAAA." kata Drey dan Rima bersamaan.


Risma lalu memeluk Rima dan Drey secara bergantian sambil menangis.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kalian berdua? Kenapa tiba-tiba kalian jadi seperti ini?" kata Risma sambil menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kalian diam?"


Rima dan Drey lalu saling bertatapan dan menggelengkan kepalanya.


"Tante, Rima dan Drey hari ini mengalami perampokan." jawab Calista.


"AAPAAAA PERAMPOKAN?"


"I..Iya tante, perampokan." jawab Calista lagi.

__ADS_1


"Ya, kami dirampok ma." jawab Drey ikut menimpali.


Risma pun kian menangis tersedu-sedu. "Lalu bagaimana dengan kandungan Rima? Bagaimana dengan cucu mama?" tanya Risma yang membuat semua orang terdiam.


"Dia ternyata memang benar-benar menyayangi anak yang ada dalam kandungan Rima." bisik Calista pada Olivia.


"Iya Kak."


Rima kemudian tertunduk. "Maaf ma, Rima keguguran." jawab Rima lirih.


"TIDAKKKKKK!!!" teriak Risma yang begitu menggema hingga membuat semua orang menutup telinganya.


"Dasar perampok kurang ajar, berani-beraninya dia mencelakakan anak dan menantuku, bahkan sampai menghilangkan nyawa cucuku. Dia harus diberi pelajaran!!" kata Risma dengan begitu berapi-api.


"Mama, tenangkan diri mama, penjahat itu sudah meninggal ma, polisi yang menembaknya."


"Oh, syukurlah. Dasar penjahat biadab! Dia memang tidak layak hidup di dunia ini!" kata Risma sambil menggerutu.


"Mama, sudah ma. Kendalikan emosi mama." kata Drey.


"Mama tidak bisa mengendalikan emosi mama sampai mama melihat jasad penjahat itu!" teriak Risma.


"Tante, tante tenang, sabar tante. Suami saya sedang mengurus jenazah penjahat itu. Saat ini dia sedang dipulangkan ke kampung halamannya."


"Apaaaaa??? Jadi dia sudah tidak ada di sini lagi?"


"Iya tante." jawab Calista.


"Jadi aku terlambat, jika aku datang lebih cepat aku akan ikut ke kantor polisi bersama suami kalian untuk memberi pelajaran terakhir sebelum dia masuk liang lahat."


"Mama, sudahlah ma. Mama tidak boleh berbicara seperti itu, apalagi dia juga sudah meninggal. Tidak baik menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal ma."


"Mama, bukankah kami masih bisa memberikan cucu lagi pada mama?" kata Drey sambil tersenyum dan melirik pada Rima.


"Bagaimana Rima, kita akan memberikan cucu lagi kan pada mama?"


"E... Iya, kita akan memberikan cucu lagi pada mama." jawab Rima dengan gugup.


"Bagus sekali, kalian harus cepat sembuh agar bisa secepatnya memberikan cucu lagi untuk mama."


Rima dan Drey pun saling berpandangan.


Tiba-tiba ponsel Calista pun berbunyi.


"Leo." kata Calista.


[Ada apa Leo?]


[Calista, coba kau tanyakan pada Rima, apakah dia mau melihat jenazah Ilham terlebih dahulu sebelum dibawa ke kampung halamannya.]


[Iya, nanti kutanyakan.]


[Jangan lama-lama Calista karena sebentar lagi jenazah Ilham akan dibawa.]


[Emh iya.] kata Calista kemudian menutup telepon dari Leo.


"Ada apa Kak?"


"Leo menanyakan apakah Rima mau melihat jenazah Ilham untuk yang terakhir kalinya sebelum dibawa ke kampung halamannya." bisik Calista pada Olivia.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya? Masih ada ada mamanya Drey."


"Itulah yang kubingungkan."


"Kakak, bagaimana jika aku membawa mamanya Drey keluar sebentar."


"Iya Olive."


Olivia lalu mendekat pada Risma. "Tante, bisakah tante membantuku?"


"Apa yang bisa kubantu?"


"Emh, aku ingin membelikan makanan di kantin untuk Rima dan Drey, bisakah tante membantuku memilihkan makanan sehat untuk mereka?"


"Oh tentu. Ayo kita pergi sekarang, aku ingin anakku dan menantuku bisa cepat sembuh." kata Risma, dia lalu menggandeng tangan Olivia keluar dari ruang perawatan. Setelah mereka pergi, Calista lalu mendekat pada Rima.


"Rima, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."


"Apa?" tanya Rima sambil mengerutkan keningnya.


"Apakah kau mau melihat jenazah Ilham untuk yang terakhir kalinya sebelum dibawa ke kampung halamannya."


Rima pun terdiam sejenak, kemudian dia melirik pada Drey yang kini menatapnya.


"Ya, aku mau melihat jenazah Ilham. Bagaimanapun juga dia masih suamiku." kata Rima.


Drey pun menundukkan kepalanya saat mendengar perkataan Rima.


'Jadi kau sebenarnya masih mencintai Ilham, makanya kau menolak untuk menikah denganku?' kata Drey dalam hati.


'Baik, mulai hari ini aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tidak mau menyakiti hatimu untuk menuruti semua egoku.' gumam Drey lagi.


"Kak Calista ayo kita pergi sekarang?"


"Sebentar, aku panggilkan perawat dulu untuk melepas infusmu kebetulan infus itu juga sudah habis."


"Iya."


Rima lalu melirik pada Drey.


"Bisakah kita mengakhiri kepura-puraan ini? Aku tidak mau menyakiti mama terus menerus dengan kebohongan yang telah kita perbuat."


Drey terdiam, perasaannya begitu tak menentu.


"Baik jika itu maumu, aku tidak ingin memaksamu lagi untuk menuruti semua egoku."


"Terimakasih sudah mau mengerti aku."


"Iya."


Calista lalu masuk bersama seorang perawat, dia kemudian melepaskan infus yang dipakai Rima.


"Drey kami pergi dulu." kata Calista.


"Selamat tinggal." kata Rima yang membuat Drey begitu terkejut.


'Rima kenapa kau mengatakan seperti itu padaku? Apa kau mau meninggalkan aku! Kenapa rasanya sakit sekali.' kata Drey dalam hati sambil menatap kepergian Rima.


'Selamat tinggal untuk selama-lamanya Drey. Aku akan pergi dari hidupmu, aku sudah lelah hidup dengan lelaki yang tidak pernah mencintaiku.' kata Rima dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2