Salah Kamar

Salah Kamar
Menahan Sendiri


__ADS_3

"Kau tidak berbohong padaku kan, Giselle?" tanya Calista sambil menatap Giselle dengan tatapan curiga.


"Tidak Calista, kau tenang saja. Aku baik-baik saja." jawab Giselle sambil tersenyum.


"Ayo kita berangkat sekarang." kata Giselle lagi sambil berjalan keluar dari rumah Calista.


Calista pun mengikuti dibelakangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


'Aku tidak percaya padamu, Giselle. Raut wajahmu saja menunjukkan ada sesuatu yang kau tutupi.' kata Calista dalam hati.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil milik Giselle diantar oleh seorang sopir pribadi menuju ke sebuah rumah sakit.


"Giselle, kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau mau pergi ke rumah sakit ini?" tanya Calista saat mereka sudah ada di rumah sakit.


"Memangnya kenapa Calista?"


"Rima dan Drey juga dirawat di rumah sakit ini."


"Drey? Siapa itu Drey? Bukankah Rima menikah dengan Ilham? Apakah Rima membuat ulah lagi?"


"Ah ceritanya panjang Giselle."


"Iya Calista, maaf akhir-akhir ini aku tidak bisa keluar dari rumah dengan bebas jadi aku tidak bisa bertemu dengan kalian."


"Tidak apa-apa."


"Jadi apa yang sebenarnya telah terjadi pada rumah tangga Rima dan Ilham, Calista?" tanya Giselle dengan begitu penasaran.


"Giselle, ternyata Ilham tidak sebaik yang kita bayangkan, dia ternyata seorang psikopat."


"Astaga, kasihan sekali Rima."


"Ya, dia selalu menyiksa Rima dan memberikan tekanan padanya, untung ada Drey yang menolong Rima."


"Lalu dimana Ilham sekarang?"


"Dia sudah meninggal, polisi menembaknya karena dia sangatlah berbahaya, dia melakukan penusukan pada Kenan dan Drey."


"Untunglah Rima bertermu orang seperti Drey."


"Tapi masalahnya tidak semudah itu, Giselle. Drey mengaku pada orang tuanya jika Rima adalah istrinya padahal saat itu Rima masih menjadi istri Ilham. Dan masalahnya tidak hanya sampai berhenti disitu, saat Rima mulai mencintai Drey dia tidak yakin hubungannya dengan Drey akan berjalan dengan baik."


"Astaga, kenapa jadi rumit seperti ini? Memangnya kenapa? Ada apa dengan Drey, Calista?"


"Karena adikku Olivia pernah menjadi bagian dari masa lalu Drey, sejak dulu Drey sangat mencintai Olivia dan Rima selalu beranggapan jika Drey masih mencintai Olivia."


"Lalu sebenarnya bagaimana perasaan Drey?"


"Dia selalu berkata jika dia sudah tidak mencintai Olivia, tapi kita tidak tahu dalamnya perasaan seseorang kan?"

__ADS_1


"Iya kau benar Calista. Setelah aku selesai kontrol kandungan aku ingin bertemu dengan Rima dan Drey."


"Tentu saja, Giselle. Nanti kita akan menemui mereka." jawab Calista.


Beberapa saat kemudian, seorang perawat pun memanggil Giselle untuk masuk ke dalam ruangan dokter.


"Aku masuk dulu ya Calista."


"Iya." jawab Calista.


Lima belas menit kemudian, Giselle pun keluar dari ruang dokter dengan wajah sedikit sendu.


"Giselle, kenapa wajahmu terlihat murung?"


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing."


"Kalau kau sakit, lebih baik kita pulang saja sekarang."


"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa Calista, aku tidak sedang ingin berada di rumah." jawab Giselle dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


Akhirnya mereka pun sampai di ruang perawatan Rima dan Drey. Saat Calista membuka pintu, tampak Risma yang sedang menyuapi Rima makan siang sambil bercanda sedangkan Drey sedang tertidur.


"Selamat siang semua." kata Calista.


"Selamat siang Calista." jawab Risma.


"Giselle, apa kabarmu? Aku sudah lama tidak bertemu denganmu? Kandunganmu sudah besar." kata Rima saat melihat Giselle yang masuk ke dalam ruang kamar perawatannya.


"Silahkan duduk, kau sedang hamil besar lebih baik duduk di sofa saja." kata Risma pada Giselle.


"Iya tante, terimakasih." jawab Giselle.


Risma lalu kembali menyuapi Rima makan siang sambil sesekali mengobrol dan bercanda dengan Calista dan Rima, Giselle yang melihat mereka hanya bisa tersenyum kecut.


'Beruntung sekali Rima memiliki calon mertua seperti itu.' kata Giselle dalam hati sambil terus memperhatikan mereka, perlahan air matanya pun mulai menetes dari sudut matanya.


"Giselle, apa kau menangis?" tanya Calista yang saat ini sedang berjalan ke arah sofa tempat Giselle duduk.


"Tidak, mataku hanya berair, aku sedikit mengantuk karena kurang tidur, kehamilan ini sudah membuat tubuhku terasa sedikit tidak nyaman."


Risma pun kemudian mendekat pada Giselle.


"Hai nak, lihat kakimu sedikit bengkak. Ini berbahaya, apa kau sedikit stres atau bekerja terlalu berat? Atau kau kurang menjaga asupan makananmu?"


"Emh ya, saya hanya sedikit kelelahan." jawab Giselle dengan sedikit gugup.


"Apa kau sudah membicarakan ini dengan dokter kandunganmu?"


"Iya, dan dia sudah memberikan beberapa saran untukku."

__ADS_1


"Bagus, kau harus menuruti saran yang dianjurkan dokter sayang." kata Risma sambil membelai rambut Giselle.


"Iya tante."


Calista pun semakin penasaran melihat kondisi Giselle saat ini yang tampak sedikit berbeda. Setelah satu jam lamanya, akhirnya Calista dan Giselle pun pamit pada Rima.


"Terimakasih banyak, kalian sudah menjenguk Rima dan Drey. Rima sangat beruntung memiliki teman seperti kalian."


"Iya tante, kami pulang dulu." kata Calista kemudian mereka keluar dari ruang perawatan Rima.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Calista saat melihat Giselle yang sedikit cemas saat melihat ponselnya.


"Ya, aku baik-baik saja Calista."


"Tapi kenapa kau terlihat murung?"


"Oh tidak, aku hanya tidak menyangka jika Rima akan begitu beruntung memiliki seorang mertua yang begitu baik."


"Kau juga beruntung memiliki mertua seperti Tante Santi, saat aku menikah dengan Leo, kedua orangtuanya sudah meninggal jadi aku tidak memiliki mertua."


"Tapi saat kau menikah dengan Kenan, Tante Gisa juga sangat baik padamu kan?"


"Ya awalnya dia baik, hanya aku saja yang berulah jadi dia berubah padaku." kata Calista sambil terkekeh.


"Terimakasih Calista sudah menemaniku hari ini." kata Giselle saat mereka sudah sampai di rumah Calista.


"Iya Giselle, jaga dirimu baik-baik."


Saat Calista akan turun dari mobil tiba-tiba Calista membalikkan tubuhnya kembali, dia kemudian menggenggam tangan Giselle.


"Aku tahu sebenarnya sesuatu telah terjadi padamu, tidak apa-apa jika kau belum mau mengatakannya padaku. Kau harus ingat, aku akan selalu ada untukmu." kata Calista kemudian keluar dari mobil Giselle.


Mendengar perkataan Calista, Giselle pun kemudian menangis. "Maaf Calista, saat ini aku belum bisa menceritakan semua ini padamu." kata Giselle sambil menangis.


🍀🍀🍀🍀


Giselle perlahan melangkahkan kakinya ke dalam rumah orang tua Revan. Dia kemudian berjalan masuk lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya. Namun baru saja naik beberapa langkah sebuah suara begitu mengejutkan dirinya.


"GISELLE KEMANA SAJA KAMU?"


"Kontrol kandungan." jawab Giselle singkat.


"Kenapa begitu lama? Kau bahkan belum memasak makan siang untuk mama. Sekarang sebaiknya kau pergi ke dapur dan masakkan makanan untukku!"


"Maaf ma, Giselle lelah. Giselle ingin beristirahat." kata Giselle sambil meninggalkan Santi.


"Giselle, beraninya kau berkata seperti itu pada mama!" teriak Santi.


Namun Giselle terus mengabaikan teriakkan Santi lalu langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian menangis sambil menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Revan, sebenarnya aku begitu tersiksa, selama ini mama selalu berpura-pura bersikap baik tapi ternyata mama masih membenciku. Aku begitu tak berdaya karena mama selalu mengancamku. Aku tidak mau membahayakan nyawa ibu kandungku, lebih baik aku yang menahan semua penderitaan ini sendiri." kata Giselle sambil terisak.


__ADS_2