Salah Kamar

Salah Kamar
#42 Saingannya Masa Lalu


__ADS_3

Bram tersenyum sembari membantu Kinan menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga. Hembusan angin yang cukup kencang, membuat Kinan yang sedang menikmati baso tahu sesekali berdecak. Untung saja Bram bisa dengan peka membantu Kinan. Bahkan, Bram yang mengikat rambut sang istri agar tak mengganggunya makan.


"Mau lagi?" tanya Bram saat melihat piring yang digunakan Kinan sudah hampir tersisa bumbunya.


Kinan tersenyum lalu mengangguk. Dia sudah memakan 2 porsi. Namun, dia malah ingin lagi. Bahkan, dia ingin makanan yang lain setelah ini.


"Mas gak mau?"


Bram menggeleng. Dia merasa kenyang hanya dengan melihat Kinan makan. Apalagi, Kinan makan dengan lahap dari tadi. Jadi, dia sama sekali tak memesan dan hanya memerhatikan istrinya makan.


"Ngomong-ngomong soal baso tahu, dulu ini makanan kesukaannya Kinan banget. Sampe pas sekolah pasti jajan ini."


"Terus terus?"


Kinan mulai menceritakan tentang masa remajanya. Memang bukan kisah yang menakjubkan. Namun, karena Kinan pernah mengalami masa-masa kenakalan. Bahkan, Kinan mengaku pernah berakhir dihukum karena terlambat. Padahal, dia sudah diantar tepat waktu, hanya saja dia malah memilih untuk mampir ke rumah temannya dulu.


Suara nada dering ponsel suaminya, membuat Kinan menghentikan ceritanya. Namun, dengan segera Bram memilih untuk menolaknya.


"Kenapa gak diangkat? Siapa tau penting."


"Ah ... ini ... kayaknya telepon nyasar soalnya gaada namanya," ujar Bram diakhiri senyum canggung. Tentu saja ini membuat Kinan sedikit curiga. Namun, dia berusaha untuk berpikir positif perihal sang suami. Meskipun, belakangan gelagat Bram memang terasa berbeda.


"Udah? Atau mau lagi?" tanya Bram saat piringnya sudah kosong. Dia juga mencoba untuk membuka kembali topik baru karena setelah telepon itu, mereka sama-sama diam.


Lagi. Suara dari ponsel Bram kembali terdengar, membuat Bram memilih untuk kembali menolaknya. Dia merasa jantungnya mulai berdegup kencang karena gugup sekarang. Satu hal yang ada di pikirannya saat ini adalah mengapa Rani menghubunginya berulang kali?


Bram berbohong soal nomor tak dikenal yang terus menghubunginya. Padahal, sejak tadi nama Rani lah yang tertulis jelas pada layar ponselnya. Dia sebenarnya ingin mengatakan pada Kinan soal Rani. Namun, dia merasa akan lebih baik menyimpannya. Toh, dia takkan menghabiskan waktu lama untuk menghapus setiap rasa yang ada di hatinya.


"Mas, angkat aja," ujar Kinan karena sejak tadi ponsel suaminya terus berbunyi. "Soalnya terus-terusan nelpon. Siapa tau penting."


"Enggak kok. Bukan telepon penting," jawab Bram kemudian memilih untuk mematikan ponselnya. Dia akan menelepon Rani setelah sampai rumah nanti.


...***...


Kinan tersenyum setelah kliennya memilih pakaian yang akan dikenakan saat hari pernikahan. "Ini baru pertama kalinya ada orang yang gak pake gaun pengantin."


Rani yang sejak tadi menggandeng lengan calon suaminya segera tersenyum sembari menatap pria itu. "Kami mau pernikahannya lebih berkesan. Ngomong-ngomong, makasih udah nyempetin waktu buat nemenin."

__ADS_1


Kinan terkekeh mendengarnya. "Ah gapapa, kebetulan saya ada di sekitaran sini."


"Nan."


Kinan menerima sebuah daftar paket yang dipilih oleh Rani dan calon suaminya. Dia tersenyum saat sebagian besar sudah tercentang karena kliennya yang satu ini memilih untuk mengganti paket pernikahan mereka selagi menjadwalkan ulang pestanya.


"Semuanya sudah selesai sepertinya. Ada lagi?" tanya Kinan sembari memeriksa daftar pesanan itu. "Kalau sudah, saya akan mengirimkan buktinya malam nanti."


"Terima kasih."


Kinan mengangguk kemudian pamit untuk pulang lebih dulu. Dia yakin Bram sudah bosan menunggu di ruangannya. Apalagi, dia cukup lama saat menemani Rani dan calon suaminya.


Sakit hati? Tidak. Kinan justru bahagia karena bisa membantu mereka. Namun, dia merasa sangat terancam karena kemungkinan besarnya, Rani dan sang suami sudah bertemu. Dia harap rumah tangganya akan baik-baik saja. Kasihan bayinya.


"Maaf."


Bram yang tadi tengah menatap foto Kinan di meja, segera menoleh. Dia tersenyum lalu menggeleng saat Kinan mengatakan maaf. "Gapapa. Udah selesai?"


"Udah. Mereka cuma ganti pakaian sama makanannya."


Menghalangi Kinan tentu hal yang sulit dilakukan Bram. Gadis itu dengan keras kepala ingin bertanggung jawab untuk memastikan setiap kliennya merasakan kenyamanan. Termasuk saat ini.


Kinan mulai mengoceh soal beberapa hal tanpa henti sepanjang mereka berjalan menuju parkiran. Namun, langkah mereka sama-sama terhenti saat berpapasan langsung dengan Rani dan calon suaminya.


Kinan menatap Bram dan Rani bergantian. Belum juga bicara, Bram sudah menarik tangan Kinan agar secepatnya pergi dari sana dan masuk ke mobil.


Sesaat mobil itu benar-benar hening. Hanya ada suara kendaraan dari luar, bukan obrolan ringan yang biasanya ada di antara mereka. Kinan tak henti menatap Bram, mencari respon alami Bram karena berpapasan dengan Rani tadi.


Hingga akhirnya, Bram mulai melajukan mobil meninggalkan kantor milik sang istri.


"Mas gapapa?"


Pertanyaan itu tak langsung dapat jawaban. Bram nampaknya malah larut dalam pikirannya setelah berpapasan langsung dengan Rani tadi. Satu-satunya yang ada di pikiran Bram adalah bagaimana caranya bicara jujur pada Kinan? Dia takut malah melukai istrinya jika tahu suaminya masih menyimpan sedikit rasa untuk orang lain.


"Mas ...."


"Eh? Iya kenapa? Mau sesuatu?" tanya Bram setelah lamunannya berhenti saat Kinan menepuk bahunya.

__ADS_1


Dengan wajah yang dingin, Kinan menggeleng. Dia kembali menatap jalanan alih-alih meluapkan kebisingan yang kini memenuhi kepalanya. Dia ingin mengatakan bahwa dia tak suka ada Rani lagi. Namun, semua kalimatnya benar-benar tertahan.


"Mas masih mikirin Rani 'kan?"


Bram tertawa canggung mendengarnya. Dia memang tak pandai berbohong. Namun, menurutnya kali ini justru akan lebih baik jika dirinya berbohong. "Enggak lah. Mas kan udah punya kamu."


Kinan hanya mengangguk sebagai respon. Dia kemudian memutuskan untuk memejamkan mata agar pembicaraan mereka terputus. Kinan malah merasa sakit hati duluan saat otaknya membayangkan kalau sang suami akan bermain api dengan Rani.


...***...


"Wah ... Mama maaf nih jadi ngerepotin."


"Gapapa, demi cucu mama yang tersayang." Mama Kinan menyajikan beberapa jenis makanan di atas meja makan. Sengaja dia memasak beragam jenis makanan kesukaan Kinan dengan masing-masingnya memiliki porsi sedikit.


"Makasih, Ma."


"Kamu harus sehat-sehat ya."


Kinan tersenyum miris. Dia juga ingin seperti itu, namun sekarang dia merasa makin stres saat memikirkan soal suaminya dan Rani. Dia terus membayangkan skenario terburuknya. Padahal, Bram selalu memberi kabar. Termasuk tadi, saat sampai kantor.


"Bram udah berangkat ya?"


"Katanya ada urusan mendadak."


Sementara itu, sang suami yang diberi kepercayaan penuh, nyatanya tak sedang di kantor. Dia di sebuah kafe bersama Rani, membicarakan beberapa hal yang nampaknya serius.


"Jadi ...."


Rani sudah lebih dulu mengangguk sebelum Bram menyelesaikan kalimatnya. "Saya gak cinta sama calon suami saya. Saya baru sadar waktu nyiapin pernikahan. Saya gak keberatan jadi yang kedua."


"Saya yang keberatan. Saya gak bisa kayak gitu."


"Karena istri mas? Bukannya kalian nikah terpaksa?"


"Ran, saya cinta sama istri saya. Maaf, tapi untuk yang satu itu, saya bener-bener gak bisa. Kamu cuma masa lalu saya."


"Tapi ... saya tau kamu masih punya perasaan yang sama."

__ADS_1


__ADS_2