Salah Kamar

Salah Kamar
Kecelakaan


__ADS_3

"Kau istrinya Drey kan?" tanya mama Drey sambil mendekat ke arah Rima. Rima pun kemudian menatap ke arah Drey, Drey pun kemudian mengangguk.


"I.. Iya tante." jawab Rima dengan begitu gugup.


"Tante? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan tante? Kau seharusnya memanggilku mama."


'"Ooo..Oh iya Ma."


"Siapa namamu sayang?"


"Rima."


"Owh, Rima. Saya Risma mamanya Drey, nama kita hampir mirip sepertinya kau memang berjodoh dengan anakku. Rima kau harus ingat, mulai sekarang kau panggil aku dengan sebutan mama ya. Jangan panggil tante lagi."


"Iya ma."


Risma lalu memalingkan wajahnya pada Drey. "Kenapa kalian menikah secara siri dan tidak memberitahu ke mama?"


"Emh.. E... itu."


"Emh Ma, kami menikah siri saat kami ada di Jogja. Saat itu ayah saya sedang sakit keras jadi dia meminta kami untuk menikah secepatnya. Maaf saat itu kami tidak meminta ijin pada mama karena waktunya sangat terbatas dan Drey takut mama tidak menyetujui pernikahan kami." kata Rima sambil meringis.


"Oh jadi orang tuamu di Jogja?"


"Iya Ma." jawab Rima.


"Jadi kau menikah saat kau melakukan perjalanan dinas bulan lalu di Jogja?"


"Emh.. E.. Iya ma." jawab Drey dengan gugup


'Fiuh, untung saja bulan lalu aku melakukan perjalanan ke Jogja.' kata Drey dalam hati sambil menghembuskan nafas panjang.


Risma lalu menatap Drey kembali. "Drey, kenapa kau tidak bilang jika kau sudah memiliki kekasih?"


"E..E.. Itu ma, karena Drey belum begitu lama mengenalnya. Drey takut jika mama tidak merestui hubungan kami."


Risma pun kemudian mengerutkan keningnya. "Kenapa mama tidak menyetujui hubungan kalian? Bukankah Rima anak yang manis? Mama suka seleramu, meskipun kau lama hidup di Australia tapi kau masih menyukai gadis lokal." kata Risma sambil terkekeh.


"Mama bisa saja."


"Lalu dimana kalian bertemu?"


"Di jalan." jawab Drey.


"Di taksi." jawab Rima.

__ADS_1


'Aduh.' kata Rima dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa sebenarnya dengan kalian? Apa kalian begitu takut padaku sampai kalian selalu gugup dalam menjawab pertanyaanku?"


"Oh tidak ma, maksud kami saat itu Rima sedang menunggu taksi online dan dia mengira Drey adalah taksi online pesannya karena Drey berhenti di depan Rima."


Mendengar penjelasan Drey, Risma pun kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kalian benar-benar lucu, itulah yang namanya jodoh, bisa datang kapan saja tanpa kalian duga." kata Risma yang membuat Rima dan Drey saling berpandangan.


'Bagaimana ini, sepertinya ini akan sulit.' kata Rima dalam hati sambil mengigit bibirnya.


☘️☘️☘️


BRAGGGGG


"Kalau ditanya jawabnya yang jelas." kata seorang penyidik di hadapan Ilham sambil menggebrak meja.


"Bukankah saya sudah menjawab semua pertanyaan yang bapak tanyakan?"


"Tapi jawabanmu selalu berubah-ubah! Merepotkan saja! Sebaiknya kau sekarang masuk ke sel saja, kita lanjutkan besok. Kami akan mendatangkan dokter jiwa untuk bertemu denganmu, benar apa kata orang-orang yang melaporkanmu jika kau memang ada masalah dengan kejiwaanmu."


"Memangnya anda pikir saya gila?" kata Ilham dengan nada yang sedikit meninggi disertai mata yang menatap tajam pada penyidik tersebut.


"Heh berani-beraninya kau berkata dan menatapku seperti itu!"


"Kenapa kau tiba-tiba marah padaku, bukankah seharusnya aku yang marah padamu karena memberikan keterangan yang berubah-ubah dan berbelit-belit!"


"Memang itu jawabanku!"


"Dasar gila!" kata penyidik itu sambil meninggalkan Ilham.


"Jadi kau menyebut aku gila?"


"Ya memang kau gila!"


Mendengar perkataan penyidik itu, emosi Ilham pun kian terpancing, saat polisi itu berjalan pergi, tiba-tiba Ilham mendorongnya meski dengan tangan yang masih terbrogol. Tubuh penyidik itu pun akhirnya menabrak pintu yang ada di depannya hingga membuat kepala dari penyidik itu sedikit memar.


"DASAR BREN*SEK! APA KAU TIDAK MENYADARI SIAPA KAU SEBENARNYA? KAU BENAR-BENAR PENJAHAT SAKIT JIWA YANG TIDAK TAHU DIRI!" kata penyidik itu sambil bergerak ke arah Ilham. Saat penyidik itu bersiap melayangkan bogem mentahnya tiba-tiba seorang rekan polisi mencegahnya.


"Jangan terpancing, kejiwaannya sedikit tidak normal, kendalikan emosimu, percuma saja kau meladeninya, hanya akan membuang waktu dan tenagamu saja."


Penyidik itu pun kemudian mendengarkan perkataan temannya dan meninggalkan Ilham yang sekarang digelandang ke dalam sel.


'Dasar polisi breng*ek! Lihat saja aku akan balas dendam pada kalian semua.' kata Ilham dalam hati sambil menatap polisi-polisi itu dengan tatapan tajam.


"Sepertinya Ilham memang memiliki masalah kejiwaan." kata salah seorang polisi pada penyidik yang menangani kasusnya.

__ADS_1


"Memang sepertinya begitu, emosinya pun tidak stabil."


"Kau benar, emosinya sangat tidak stabil."


"Kau harus berhati-hati saat menghadapinya. Jangan sampai seperti tadi sampai terbawa emosi. Jika tidak ini akan berakibat buruk padamu, karena pasti dia bisa berbuat nekad untuk mencelakakanmu."


"Iya besok aku akan lebih berhati-hati."


☘️☘️☘️☘️


Risma mendekat pada Rima.


"Hei..Hei apa-apaan ini? Kenapa kau juga mengalami luka di wajah dan kakimu?" kata Risma sambil memelototkan matanya.


Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuh Drey.


"Emh.. Em..Mama sebenarnya Rima telah mengalami kecelakaan, jadi ada beberapa luka di tubuhnya dan dia juga mengalami pendarahan."


"APAAAAA?"


"Bagaimana kau sampai mengalami kecelakaan Rima? Kau benar-benar bodoh Drey! Kau pasti tidak pernah bisa menjadi suami yang baik untuk Rima! Menjaganya saja kau tidak bisa! Bagaimana jika Rima sampai mengalami keguguran karena kecerobohanmu!"


"Mama, ini hanya sebuah ketidaksengajaan ma."


"Enak sekali kau bilang seperti itu Drey!! Rima coba kau katakan pada mama bagaimana sikap Drey padamu, apa dia bersikap buruk padamu?"


Rima pun kemudian tersenyum. "Tidak ma, dia suami yang baik." jawab Rima disertai jantung yang terasa berdegup semakin kencang.


"Mama, mama cerewet sekali. Setidaknya biarkan Rima beristirahat."


Risma lalu mengalihkan pandangannya pada Drey. "Hei, kau tidak usah ikut campur percakapan kami berdua. Mama tahu kamu pasti tidak bisa menjaga Rima dengan baik, apa kau tidak berfikir jika Rima sedang mengandung darah dagingmu? Anak yang dikandung Rima sangat berharga dalam hidup mama!" teriak Risma pada Drey.


"Ma, Drey sudah berusaha berusaha menjadi suami yang baik."


'Darah daging Drey? Cucunya? Astaga, apa ini tidak terlalu jauh? Bagaimana ini? Sepertinya aku telah mengambil keputusan yang salah.' kata Rima dalam hati.


Risma kemudian menatap Drey dan Rima sambil tersenyum nakal.


"Ada apa ma? Kenapa mama menatap kami seperti itu?"


"Drey, Rima, bagaimana jika kalian langsung menikah resmi saja. Kalian tenang saja, mama akan mengurus semuanya." kata Risma dengan begitu genit.


Rima dan Drey pun kemudian saling berpandangan.


'Sepertinya ini tidak semudah yang kupikirkan.' kata Rima dalam hati sambil menelan ludah dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2