
"Tidak.." teriak Giselle.
"Tidak katamu?"
"Ya, tidak mungkin aku bersekongkol dengan Ramon. karena aku pun tak mengenalnya."
"Lalu bagaimana dengan ini?" kata Leo sambil memperlihatkan beberapa rekaman CCTV di ponselnya. Ada dua buah video, yang pertama adalah saat Giselle ditolong oleh Ramon saat di basemen gedung kantor, sedangkan yang satunya adalah saat Ramon datang ke rumah mereka beberapa hari yang lalu. Bahkan Leo juga memiliki satu buah video hasil rekaman ponsel saat Giselle meminta surat keterangan dari dokter mengenai kondisi rahim Calista.
"Bagaimana kau mendapatkan semua itu Leo?"
"Itu tidak perlu kau tahu, kau sudah begitu bodoh karena sudah berani macam-macam denganku." kata Leo, sambil mengingat beberapa hari yang lalu saat dia dan Calista masih berada di Maldives. Pak Asep mengirimkan video persengkongkolan Giselle dan Ramon. Leo lalu segera menyuruh karyawannya untuk mengecek CCTV yang ada di kantor dan di rumah untuk memastikan kebenaran itu!!"
"Jadi kau sudah tahu semuanya?"
"Ya, aku sudah tahu semua itu sejak kami masih di Maldives! Aku sudah tahu Calista mengalami sedikit masalah pada rahimnya beberapa hari yang lalu!"
"Lalu.."
"Lalu apa?"
"Apa kau tidak kecewa Leo, memiliki istri seperti dia?"
"Untuk apa aku kecewa? Dia adalah istriku, dan sampai kapanpun aku akan selalu menerima dia apa adanya! Bahkan rasa cintaku semakin besar untuknya karena ini merupakan hal yang tidak mudah untuk dirinya!"
"Jadi kau juga sudah tahu jika Calista pernah memiliki hubungan dengan Ramon?"
"Ya, aku sudah tahu semuanya."
"Tapi kenapa kau masih saja mau mencintai wanita ****** seperti Calista? Bukankah dia begitu menjijikan berselingkuh dengan Ramon di belakang mantan suaminya? Apa kau tidak takut akan dikhianati oleh wanita seperti Calista? Buka matamu Leo!"
"Giselle, setiap orang memiliki masa lalu, baik itu masa lalu yang baik atau buruk, masa laluku juga tidak lebih baik daripada Calista. Aku dulu bahkan selalu mempermainkan perasaan wanita, dan kini kami sadar akan semua kesalahan kami di masa lalu, dan akan memperbaiki hubungan kami jauh lebih baik lagi. Permisi Giselle, aku harus mencari Calista!"
PRANG
Sebuah gelas di atas meja dipecahkan Giselle dan salah satu pecahannya dia letakkan di atas pergelangan tangannya.
"STOP LEO!!! JIKA KAU BERANI MELANGKAHKAN KAKIMU LAGI, AKU AKAN MEMBUNUH ANAK YANG ADA DI DALAM KANDUNGANKU!!!"
"KAU SUDAH KETERLALUAN GISELLE! KAU GILA!"
"Satu langkah saja kau pergi dari rumah ini, maka aku akan mati bersama anak ini, dan kau akan masuk penjara Leo!" kata Giselle
"Lakukanlah semaumu, jika kau mau bunuh diri, silahkan saja, itu kemauanmu bukan kemauanku, aku tak bersalah dan polisi pun tidak akan menangkapku karena jika kau mati, itu adalah keinginanmu sendiri." kata Leo sambil berjalan pergi.
"Leo, kau begitu kejam, jadi kau tidak pernah peduli pada anak dalam kandunganku."
"Aku menyayangi anak itu Giselle, tapi kau yang sudah mempersulit dirimu sendiri! Kau yang sebenarnya tidak pernah bisa masuk dalam kehidupan kami! Kau yang selalu menginginkan lebih dari yang sudah kami berikan, kau wanita yang tidak tahu diri Giselle."
"Baik, jika katamu aku tidak pernah bisa masuk dalam kehidupan kalian berdua, maka sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini!"
"Berbuatlah sesukamu, tapi bagaimanapun juga aku akan tetap bertanggung jawab pada anak dalam kandunganmu." kata Leo sambil meninggalkan Giselle pergi.
__ADS_1
"LEOOOO... LEOOO...LEOOOOO!!!"
Namun Leo tetap tidak bergeming, dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah itu sambil beberapa kali menghubungi ponsel Calista.
***
Kenan tampak begitu uring-uringan di dalam rumah, beberapa kali dia sempat mondar-mandir sambil memperlihatkan raut wajah yang begitu kesal.
"Kenan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"Olive, aku sangat cemas memikirkan Laras."
"Memangnya kenapa? Ada apa dengan Laras?".
"Huh.." kata Kenan sambil menarik nafas.
"Kenan, apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
"Olivia, setiap hari selalu ada-ada saja tingkah menyebalkannya di kantor."
"Apa maksudmu Kenan? Bukankah dia gadis yang penurut dan pemalu."
"Hahahaha pemalu katamu, Olive?" tanya Kenan sambil tertawa.
"Setiap hari dia bahkan selalu mempermalukanku dengan tingkah anehnya."
"Kenan, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" kata Olivia sambil mengerutkan kening.
"Maafkan aku, Kenan, aku tidak menyangka jika Laras akan berbuat seperti itu. Dahulu dia adalah gadis yang sangat pemalu, aku benar-benar tidak menyangka jika dia akan berubah."
"Sudahlah Olive, sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar Laras berhenti bekerja di kantorku tanpa membuatnya tersinggung."
"Kau benar, Kenan," jawab Olivia. Tiba-tiba suara bel pun berbunyi.
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini?"
"Entahlah," jawab Olivia.
Beberapa saat kemudian seorang pembantu pun menghampiri mereka. "Tuan, Nyonya, ada Nyonya Calista di depan."
"Calista?"
"Ya Nyonya."
"Kenan, ayo kita ke depan."
"Mau apalagi nenek sihir itu kemari," gerutu Kenan.
"Kenan, Calista sudah berubah, dia sudah tidak seburuk yang kau pikirkan."
"Itu menurutmu Olive, setiap kemungkinan masih bisa terjadi," kata Kenan sambil mengikuti Olivia ke ruang tamu.
__ADS_1
Olivia melihat Calista yang duduk di sofa ruang tamu dengan penampilan yang sedikit berantakan. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya, sedangkan rambut dan pakaiannya tampak sedikit acak-acakan.
"Calista."
"Olive," kata Calista kemudian memeluk Olivia sambil terus menangis.
"Kakak apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Sebelumnya aku mau meminta maaf padamu dulu Olive, aku ingin meminta maaf padamu dan Kenan."
"Untuk apa?"
"Untuk semua kesalahan di masa laluku, kesalahan yang telah kuperbuat pada kalian berdua," kata Calista sambil tertunduk dan terus terisak. Olivia lalu menggenggam tangannya.
"Baguslah jika kau sudah mengakui kesalahanmu Calista, sekarang sudah waktunya kau untuk bertaubat," kata Kenan dengan ketus.
"Kenan." Olivia memelototkan matanya.
"Kenan benar Olive, ini sudah saatnya aku bertaubat karena sekarang aku sedang menjalani hukuman yang Tuhan berikan padaku," kata Calista sambil terus terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kakak, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Olive, aku sebenarnya memiliki masalah pada rahimku, akan sangat sulit bagiku untuk memiliki keturunan Olive."
Olivia lalu memeluk tubuh Calista. "Aku sudah tahu Kak." jawab Olivia.
"Bagaimana kau bisa tahu Olive?"
"Aku yang sudah memergokimu saat bertemu dengan dokter kandungan, bahkan kau sudah memiliki masalah ini sejak kau masih menikah denganku kan?"
Calista hanya tertunduk mendengar kata-kata Kenan. "Maafkan aku Kenan."
"Kenan, sudah cukup, jangan membuat Kak Calista semakin terpuruk, kasihan dia." bisik Olivia dengan sedikit ketus.
"Baik Olive." jawab Kenan sambil mengerutu.
"Kakak, apakah Leo sudah tahu hal ini?" tanya Olivia yang semakin membuat Calista semakin terisak.
"Dia baru saja mengetahui semua ini Olive."
"Lalu?"
"Aku begitu takut dia marah dan membenciku karena telah membohonginya, saat dia tahu keadaanku yang sebenarnya, aku langsung lari dari rumah Olive."
"Kakak, percayalah padaku, bukankah Leo sangat mencintaimu, pasti dia bisa menerima semua kekuranganmu Kak."
"Tapi Olive, aku takut."
"Kau tidak perlu takut Kakak, aku yakin Leo akan menerimamu apa adanya, tegarkan hatimu dan katakan yang sejujurnya pada Leo," jawab Olivia sambil tersenyum. Calista lalu menarik nafas panjang, beberapa saat kemudian ponselnya pun berbunyi.
"Leo...." kata Calista saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
__ADS_1