Salah Kamar

Salah Kamar
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

[Halo Olive.]


[Kakak!!!] jawab Olivia dengan begitu panik.


[Kau kenapa Olive, apa yang sebenarnya telah terjadi?]


[Kakak, apa kakak ingat Aini?]


[Aini adiknya Laras?]


[Ya, Aini adiknya Laras.]


[Ada apa dengan Aini, Olive?]


[Aini kabur dari rumah mertuanya Kak.]


[Mertua? Apakah Aini sudah menikah? Bukankah dia masih sangat muda?]


[Ya, dia masih berumur sembilan belas tahun.]


[Kenapa mereka tidak mengundang kita saat pernikahan Aini?]


[I... Itu karena permintaan Aini. Dia terpaksa menyetujui pernikahan itu karena dia diperko*a oleh suaminya.]


[Astaga.] kata Calista sambil menutup mulutnya.


[Lalu apa yang terjadi dengan Aini, Olive?]


[Kakak, Aini kabur dari rumah mertuanya, kemungkinan dia pergi ke Jakarta untuk menemui Laras karena ada seseorang yang melihatnya menaiki sebuah bus tujuan Jakarta. Dan yang lebih membuat kami merasa cemas adalah saat ini dia sedang mengandung, dia sedang hamil delapan bulan Kak.]


[ASTAGA!!] Teriak Calista yang membuat Leo menutup kupingnya.


[Sampai saat ini Aini belum juga sampai di rumah Laras, padahal dia berangkat dari Jogja kemarin malam, dan tadi Kenan mengatakan padaku jika telah terjadi kecelakaan beruntun di dekat pintu masuk tol arah Jakarta. Aku takut jika bus yang dinaiki Aini terlibat dalam kecelakaan itu Kak.]


[Astaga Olive, ini benar-benar gawat.]


[Iya Kak, Laras sudah berulangkali menghubungi ponsel Aini tapi ponselnya sudah tidak aktif. Kami benar-benar merasa takut dan cemas karena tidak ada kabar dari Aini. Kakak bisakah kami minta tolong padamu?]


[Minta tolong? Apa maksudmu? Jika aku bisa tentu aku akan menolong tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana.]


[Begini maksudku Kak, tolong kakak hubungi David, bukankah dia direktur rumah sakit? Dia pasti memiliki banyak kenalan, coba kau tolong tanyakan David mengenai para korban kecelakaan itu. Siapa tahu ada yang bernama Aini di salah satu rumah sakit yang ada di dekat kecelakaan atau bisa saja ada korban yang dilarikan ke rumah sakit tempat David bekerja.]


[Oh kau benar juga Olive, sebentar kutanyakan dulu pada David.]


[Iya Kak.]


Calista lalu menutup telepon dari Olivia.


"Ada apa sayang?" tanya Leo yang sedari tadi masih mendekap tubuh Calista.


"Leo, sepupuku Aini adiknya Laras, kabur dari rumah mertuanya, dan kemungkinan dia kabur ke Jakarta. Tapi saat ini dia tidak bisa dihubungi."

__ADS_1


"Kenapa dia kabur? Apakah ada masalah antara dirinya dan suaminya?"


"Entahlah Leo, Aini menikah dengan terpaksa karena dia diperko*a oleh suaminya. Mungkin juga dia tidak bahagia dengan pernikahannya, dan saat ini dia sedang hamil delapan bulan."


"Astaga kasihan sekali."


"Ya, selain itu dia juga masih sangat muda. Usianya baru sembilan belas tahun."


"APAAAA SEMBILAN BELAS TAHUN?" teriak Leo.


"Iya Leo, dia masih sangat muda. Apakah kau tahu tadi ada kecelakaan beruntun di jalan tol arah pintu masuk Jakarta?"


"Ya, aku tahu itu tadi aku melihat beritanya saat makan siang. Memangnya ada apa Calista?"


"Olivia takut jika Aini menjadi salah satu korban dalam kecelakaan beruntun itu, Leo. Bukankah kendaraan yang mengalami kecelakaan itu salah satunya adalah bus antar provinsi?"


"Iya Calista, ada sebuah bus antar provinsi yang terlibat dalam kecelakaan itu."


"Leo, tolong kau coba hubungi David, coba kau tanyakan apa ada korban kecelakaan beruntun yang dirawat di rumah sakitnya? Jika tidak ada tolong kau minta David menanyakan pada rumah sakit lain yang merawat para korban kecelakaan itu."


"Iya Calista, akan kutanyakan sekarang juga." kata Leo lalu mengambil ponselnya yang ada di meja.


Calista pun mengamati Leo yang kini sibuk menghubungi David. Tapi setelah beberapa kali mencoba, panggilan telepon itu juga tidak mendapatkan jawaban dari David.


"Mungkin dia sedang sibuk." kata Leo.


"Calista, sebaiknya kita mandi dulu, nanti kita coba hubungi lagi. Tenangkan dirimu, aku yakin Aini akan baik-baik saja."


"Mungkin David juga sedang tidak ingin diganggu, bukankah dia juga masih pengantin baru." kata Leo sambil terkekeh.


"Di saat menegangkan seperti ini kau masih saja bisa bercanda, Leo."


"Jangan terlalu tegang sayang." kata Leo sambil memeluk tubuh Calista kemudian mencium bibirnya dengan begitu ganas


"Aku rindu kamu Calista." kata Leo sambil mulai mengecup tubuh Calista dan membuka pakaiannya.


"Sebentar Leo, sebentar, aku harus menghubungi Giselle terlebih dulu untuk memastikan keadaannya, aku tidak mau sesuatu terjadi padanya." kata Calista.


"Memangnya ada apa dengan Giselle?"


"Hubungannya dengan Bu Santi belum begitu membaik, dan kini Bu Santi sedang dirawat di rumah sakit."


'Ada-ada saja.' gerutu Leo dengan sedikit kesal kerena waktu bermesraan yang selalu tertunda.


Calista lalu mulai menghubungi Giselle.


πŸŒΏπŸŒΏπŸŒΏπŸŒΈπŸŒΈπŸ‚πŸ‚


"Melihat korban kecelakaan tadi benar-benar membuatku merasa ngeri, dia sedang hamil dan dia masih sangat muda." kata Giselle saat berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.


"Kau tenang saja sayang, mama akan selalu menjagamu." kata Giselle sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Di saat itulah tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Calista." kata Giselle kemudian mengangkat panggilan dari Calista.


[Halo Giselle, bagaimana keadaanmu?]


[Baik Calista.]


[Mertuamu?]


[Hahahaha.]


[Kenapa kau tertawa?]


[Dia sudah sangat sangat baik padaku.]


[Benarkah?]


[Ya. Tante Risma yang membantuku berbicara dengannya.]


[Wow, syukurlah jika Tante Santi sudah berubah, Tante Risma memang wanita yang luar biasa.]


[Dia sangat luar biasa Calista, lebih dari yang kau pikirkan.] kata Giselle sambil menghembuskan nafas panjang.


[Jika hubunganmu sudah membaik, kenapa kau tampak begitu gugup, Giselle?]


[Emhhh.. E.. Ini karena aku melihat seorang korban kecelakaan yang begitu parah, dan yang lebih membuatku merasa ngeri, korban kecelakaan itu adalah seorang wanita hamil yang masih sangat muda, bahkan ada robekan yang cukup dalam di atas perutnya.] kata Giselle sambil bergidik ngeri.


Mendengar perkataan Giselle, Calista pun terlihat panik.


[Giselle, dimana kau bertemu dengan wanita itu? Benarkah dia masih sangat mudah?]


[Aku bertemu dengannya di rumah sakit tempat David bekerja. Tempat Mama Santi dirawat, saat aku keluar dari ruangan mama, aku berpapasan dengannya yang akan dibawa ke dalam ruang UGD. Kira-kira dia sedang hamil tujuh atau delapan bulan sedangkan usia wanita hamil itu mungkin masih dua puluh tahun. Memangnya ada apa Calista?]


[Tidak apa-apa Giselle, besok kuceritakan. Aku tutup dulu teleponnya, aku sedang ada urusan.]


[Iya.] jawab Giselle.


'Aneh sekali Calista.' gumam Giselle setelah menutup teleponnya.


Calista pun kini terlihat begitu panik.


"Ada apa Calista?"


"Giselle, tadi Giselle melihat korban kecelakaan seorang wanita hamil yang masih sangat muda. Bagaimana jika dia Aini, Leo?"


"Kau coba saja hubungi Olivia."


"Iya.. Iya, aku akan mencoba menghubungi Olive." kata Calista.


"Ayo angkat teleponnya Olive." kata Calista dengan begitu cemas.

__ADS_1


__ADS_2