
TETTTTT TEEETTTTT
"Siapa yang datang? Apa itu Firman? Kenapa dia tidak langsung masuk saja?" gerutu Vallen. Dia kemudian berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu apartemen itu dibuka betapa terkejutnya Vallen karena yang berdiri di depan pintu tersebut adalah Nurma.
"Selamat sore, Vallen sayang."
"Ma.. Mama." kata Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar, dia pun terlihat panik kemudian mengutak-atik ponselnya yang ada di tangannya untuk mengirimkan pesan saat Nurma masuk ke dalam apartemen tersebut. Melihat Vallen yang masih berdiri di ambang pintu, Nurma pun memanggilnya.
"Vallen, kenapa kau malah berdiri di pintu sambil mengutak-atik ponselmu! Apa kau tidak mau bertemu dengan mama? Apa kau masih marah pada mama karena sudah memaksamu untuk berkenalan dengan Zian?"
"Oh iya ma, sebentar. Vallen tidak marah ma, hanya sedang mengirim pesan pada Hani, asisten Vallen di rumah sakit." jawab Vallen kemudian menyusul Nurma masuk ke dalam lalu mereka duduk di sofa. Vallen pun menatap Nurma dengan senyuman yang terlihat dipaksakan, perasaannya pun kini begitu tak menentu.
'Untung saja Firman sedang tidak ada di sini, jika mama bertemu dengan Firman, bisa-bisa mama langsung nenyeretku untuk pulang.' gumam Vallen.
"Kenapa kau bertingkah seperti itu? Apa kau keberatan mama tiba-tiba sudah ada di sini?"
"Oo.. Oh tidak ma, Vallen hanya sedikit terkejut karena mama datang tanpa memberitahu Vallen terlebih dulu, kenapa mama tidak bilang mau ke sini?"
"Memangnya kenapa? Mama hanya rindu padamu, apa mama tidak boleh bertemu denganmu? Tadi saat di rumah sakit kita hanya bertemu sebentar, mama juga belum selesai berbicara denganmu."
__ADS_1
"Bukan itu ma, bukankah tadi Vallen sudah mengatakan jika Vallen hanya terkejut saja, kalau mama memberitahu akan ke sini Vallen bisa membelikan makanan kesukaan mama terlebih dulu."
"Tidak usah berbasa-basi Vallen, kau hanya ingin agar mama mengurungkan niat mama untuk menjodohkanmu dengan Zian kan?"
Mendengar perkataan Nurma, Vallen pun meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya niat mama pergi ke sini karena mama sangat marah padamu. Kau sudah menolak Zian saat meneleponmu dan mengatakan salah sambung kan?"
"Ma, bukankah Vallen sudah mengatakan jika Vallen tidak pernah tertarik pada Zian tapi kenapa mama malah memberikan nomor ponselku padanya."
"Ya, itu karena mama ingin kalian berkenalan. Tapi ah sudahlah, sekarang mama sudah berubah pikiran. Mama tidak ingin bertengkar lagi denganmu karena kau sangatlah keras kepala. Percuma memaksakan kehendak mama padamu, kau sama keras kepalanya seperti kakakmu yang mempertahankan Stella selama sepuluh tahun. Padahal banyak sekali wanita yang menyukai David tapi dia hanya mau dengan Stella yang sudah berstatus sebagai janda." gerutu Nurma.
"Ya, itu semua karena terpaksa daripada kakakmu tidak menikah seumur hidupnya."
"Ma, bukankah tadi mama mengatakan jika mama berubah pikiran, apakah itu artinya mama mengurungkan niat mama untuk menjodohkanku dengan Zian?"
Nurma pun mengangguk.
"Ya, mau bagaimana lagi."
__ADS_1
"Aaaaaa maamaaaa terimakasih maaaaa!!" teriak Vallen sambil memeluk Nurma.
'Ya, aku mengurungkan niatku untuk menjodohkanmu dengan Zian karena aku sudah memiliki calon yang lain, dan aku yakin kau pasti bisa menerima laki-laki itu karena dia terlihat sangat dewasa. Dia juga tinggal di apartemen ini jadi akan semakin mudah untukku menjodohkan kalian berdua, tapi aku tidak akan melakukan itu dengan terang-terangan, aku akan menjodohkan kalian tanpa sepengetahuanmu Vallen.' gumam Nurma sambil tersenyum.
"Mama, akan kubuatkan minum dulu untuk mama, sebentar ya." kata Vallen kemudian berjalan ke arah dapur. Dia lalu mengambil ponselnya sambil mengamati Nurma yang masih duduk di sofa, saat melihat ponsel itu dia melihat ternyata Firman sudah beberapa kali menelponnya. Vallen pun kemudian balik menelepon Firman.
[Halo Firman.]
[Ya sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku untuk tidak pulang terlebih dulu? Bukankah tadi kau sedang ingin memakan cemilan dan es krim?]
[Firman, tiba-tiba mama datang ke apartemen. Sebaiknya kau duduk di depan minimarket terlebih dulu sambil menunggu mama pulang karena mama sedang sedikit kesal padaku, jika kau menemuinya sekarang itu tidak akan berdampak baik pada hubungan kita.]
[Oh baik jika itu maumu.]
[Terimakasih sayang, nanti kalau mama sudah pulang akan kuberitahu secepatnya.]
[Iya Vallen sayang, kau tenang saja.] jawab Firman kemudian menutup teleponnya.
Dia kemudian duduk di depan minimarket lalu mengambil betadine yang baru saja dibelinya untuk mengobati sikunya yang terluka saat menyelamatkan seorang wanita paruh baya beberapa saat yang lalu.
__ADS_1