Salah Kamar

Salah Kamar
Diantara Dua Hati


__ADS_3

"Siapa yang sebenarnya terus menghubungimu sejak tadi siang?" tanya Giselle pada Revan saat melihat ponsel Revan yang terus menerus berbunyi saat mereka sedang menikmati makan malam di apartemen milik Revan.


"Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng,"


"Apakah itu Stella?"


"Bukan," jawab jawab Revan dengan sedikit gugup.


"Memangnya kenapa kalau Stella? Kau pikir aku akan cemburu padanya?"


"Bukan, bukan begitu maksudku Giselle, bukankah sudah kukatakan padamu jika aku akan berusaha melupakan Stella."


"Dengan cara menghindarinya? Sama sepertiku yang harus menghindar dari Leo untuk bisa melupakannya?"


"Kurang lebih seperti itu."


"Hahahaha ternyata kita sama-sama pecundang."


"Hei jangan sebut aku dengan sebutan pecundang,"


"Menghindar dari orang yang kita cintai apa namanya kalau bukan pecundang Revan?"


"Kau memang sebaiknya menghindar dari Leo karena Leo sudah menikah, tapi aku..." Revan tak melanjutkan kalimatnya, dia lalu berjalan ke arah sofa, dan kemudian duduk sambil memainkan ponselnya.


"Apakah kau sangat mencintai Stella?" tanya Giselle yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Namun Revan hanya tersenyum.


"Kenapa hanya tersenyum? Kau tampan dan kaya, apa Stella tak pernah tertarik padamu?"


"Kami tumbuh bersama, orang tua kami bersahabat baik, mungkin dia sudah bosan bersamaku sehingga tidak pernah tertarik padaku."


"Hahahaha, kenapa kau tidak menyuruh orang tuamu untuk menikahkan dirimu dengannya?"


Revan menelan ludah dengan kasar saat mendengar perkataan Giselle. "Bisakah kita tidak membicarakan Stella? Bukankah kita sama-sama sedang berusaha melupakan orang yang kita cintai? Lebih baik bicara hubungan kita kedepan, mungkin kita bisa memulai sebuah hubungan layaknya suami istri."


"Hahahahaha, hubungan layaknya suami istri? Maksudmu bagaimana Revan? Kau yang bilang jika aku tidak cantik? Bagaimana mungkin kau bisa tertarik padaku?"


"Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu? Aku hanya terbawa emosi Giselle."


"Alasan saja." gerutu Giselle kemudian berjalan meninggalkan Revan, namun tiba-tiba Revan mencekal tangan Giselle. "Tetaplah disini dan temani aku."


"Bagaimana jika aku tidak mau?" jawab Giselle sambil melepaskan cengkraman tangan Revan, hingga akhirnya sedikit terjadi tarik menarik dan Giselle terjatuh di atas tubuh Revan dan kini mereka terbaring di atas sofa.

__ADS_1


Giselle lalu mencoba berdiri, namun Revan malah mendekatkan wajahnya dan melingkarkan tangannya pada pinggul Giselle. Giselle hanya bisa menutup matanya saat wajah Revan sudah semakin dekat dengannya. Namun saat bibir mereka mulai bersentuhan, tiba-tiba ponsel Revan kembali berbunyi.


Mereka yang terkejut, lalu bersikap salah tingkah. Giselle lalu secepat kilat berdiri dari atas tubuh Revan sedangkan Revan duduk sambil mengambil ponselnya.


'Stella.' gumam Revan. Dia lalu mengangkat panggilan dari Stella, Giselle yang mengamati wajah Revan merasa bimbang karena raut wajah Revan yang kini tiba-tiba berubah.


"Giselle."


"Ya ada apa?"


"Aku pergi dulu ya, sebaiknya kau tidur saja, tidak usah menungguku karena mungkin aku pulang malam."


"Iya." jawab Giselle sambil tersenyum. Tiba-tiba perasaannya terasa begitu kacau.


'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini saat melihat Revan pergi untuk Stella?' gumam Giselle sambil melihat hujan yang turun dengan derasnya. 'Cuaca yang buruk, seperti hatiku.' gumam Giselle lagi.


Revan mengendarai mobil dengan kecepatan begitu tinggi, hatinya begitu cemas memikirkan Stella. Saat mobilnya sampai di rumah mereka, dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar yang tampak begitu gelap.


"Stella, kamu dimana?" tanya Revan sambil berjalan mencari saklar lampu. Dia begitu terkejut saat lampu sudah menyala tampak Stella terkapar di atas lantai dengan begitu banyak darah bercucuran.


"Stellaaaaaaaaa." teriak Revan.


***


"Selamat pagi Tuan Leo, Nyonya Calista."


"Selamat pagi Rima," jawab Leo kemudian berjalan ke arah meja makan untuk sarapan.


"Rim, kamu jaga si kembar ya! Saya mau menemani suami saya sarapan."


"Iya Nyonya Calista." jawab Rima sambil mengambil Nathan dan Nala dari gendongan Leo dan Calista.


"Bagaimana Rima? Apakah perlu kami carikan baby sitter baru untuk menemanimu menjaga si kembar?"


"Emh.. E.. Tidak usah Tuan, Nyonya saya bisa menjaga mereka sendirian. Mereka bayi yang penurut dan tidak pernah membuat saya kewalahan."


"Oh ya sudah kalau begitu, tapi kalau kau merasa kewalahan menjaga mereka tolong kau bilang pada kami."


"Iya Pak Leo."


'Enak saja, susah payah aku menyingkirkan Dewi yang menyebalkan itu, sekarang kalian mau mencari teman baru untukku, sia-sia saja aku melakukan semua ini. Tidak akan kubiarkan ini semua terjadi, hanya aku satu-satunya baby sitter yang mengurus anak-anak sialan itu jika tidak maka rencanaku akan berantakan.' gumam Rima sambil menatap Leo dan Calista dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


"Calista, lihat ini." kata Leo sambil memperlihatkan sebuah pesan di ponselnya pada Calista.


"Giselle?"


"Ya, dia mengajukan pengunduran diri."


"Memangnya apa yang telah terjadi pada Giselle? Mengapa dia mengajukan pengunduran diri secara mendadak seperti ini?"


"Entahlah Calista."


"Leo, jangan-jangan dia tersinggung dengan kata-katamu saat kemarin kau menolak dia saat aku mengajaknya makan siang."


"Tidak mungkin Calista, Giselle bukan orang yang mudah tersinggung seperti itu."


"Lalu kenapa?"


"Entahlah aku juga tidak tahu." jawab Leo dengan raut wajah sedikit bingung.


"Leo bolehkah aku ikut ke kantormu? Aku ingin bertemu Giselle."


"Tentu sayang, setelah sarapan kita langsung berangkat ke kantor."


"Iya Leo." jawab Calista kemudian menyelesaikan sarapannya.


"Rima." panggil Calista saat dia dan Leo sudah selesai sarapan.


"Iya Nyonya Calista."


"Saya mau ikut Leo ke kantornya, ada sedikit urusan. Kamu tolong jaga Nathan dan Nala ya."


"Iya Nyonya Calista."


"Ya sudah kami pergi dulu." kata Leo sambil menggandeng Calista berjalan ke arah pintu.


'Yes, pucuk dicinta ulam pun tiba. Hahahaha, kesempatan yang bagus Leo, kalian memberiku kesempatan untuk bisa dengan leluasa menyakiti anak-anak kalian. Hahahaha, lihat saja aku akan membuat kalian merasakan rasa sakit yang dulu pernah kurasakan.' gumam Rima sambil menatap Nathan dan Nala yang tidur begitu lelap di atas stroller mereka.


***


Revan tampak begitu cemas duduk di dalam ruang perawatan di rumah sakit. Dia menatap wajah cantik Stella yang terlihat begitu pucat.


"Stella, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa kau jadi seperti ini." kata Revan sambil membelai rambut dan wajah Stella.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya pun berbunyi pertanda sebuah pesan masuk dari Giselle. "Sial, aku sudah melupakan Giselle, aku harus memastikan dia hari ini mengundurkan diri dari perusahaan Leo." kata Revan sambil bangkit dari tempat duduknya. Namun saat Revan akan berjalan keluar dari kamar tiba-tiba terdengar suara lirih Stella yang memanggilnya.


"Revan, jangan tinggalkan aku."


__ADS_2