
Saat Nurma mendekat tiba-tiba Vallen berteriak.
"Aaaawwww sakit sekali," teriak Vallen sambil memegang perutnya hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu terlihat panik.
"Vallen, ada apa Vallen?" tanya Aini.
"Perutku sakit Aini."
"Astaga, bagaimana ini Kak David?"
Nurma pun kini ikut terlihat panik.
"Sebentar, aku panggilkan dokter kandungan yang lain, kau sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak, Vallen."
Vallen pun mengangguk sambil meringis kesakitan.
"Vallen, sebaiknya kau lepaskan dulu snellimu."
Vallen pun mengangguk, Aini dan Delia kemudian membantu melepaskan snelli yang dikenakan oleh Vallen, sedangkan Nurma kini berdiri di belakang Delia, rasa penyesalan pun mulai merasuki hatinya, apalagi saat ini Vallen terlihat begitu pucat. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.
'Vallen jadi seperti ini pasti karena aku,' gumam Nurma sambil mengigit bibir bawahnya.
Beberapa saat kemudian, David pun masuk ke ruangan tersebut bersama salah seorang dokter kandungan.
"Dokter Jeni, tolong periksa adik saya."
"Baik Dokter David."
Jeni kemudian mendekat ke arah Vallen kemudian memainkan alat USG yang ada di samping Vallen.
"Bagaimana keadaan Vallen, Dok?"
"Dokter David, saran saya sebaiknya Dokter Vallen harus istirahat total, dia haru bed rest dan jangan terlalu banyak berfikir."
"Apa sebenarnya yang terjadi Dokter?"
"Saya menduga, kondisi psikologis Dokter Vallen sedikit berpengaruh pada janinnya sehingga dia mengalami kram perut seperti itu. Sebaiknya kita mempersiapkan ruang perawatan untuk Dokter Vallen, biarkan dia bed rest selama tiga hari. Jika selama tiga hari ke depan dia tidak mengalami pendarahan atau kram perut lagi, maka Dokter Vallen bisa diperbolehkan untuk pulang."
"Baik, Dokter Jeni tolong anda persiapkan semuanya. Tolong perintahkan pada perawat untuk menyiapkan ruang perawatan bagi Vallen."
__ADS_1
"Baik, saya keluar dulu."
"Terimakasih Dokter Jeni."
"Iya Dokter Vallen."
David lalu menatap pada Aini dan Delia.
"Apa kalian bisa menolongku untuk menjaga Vallen sebentar? Aku mau menghubungi Firman terlebih dulu."
Aini dan Delia lalu mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan David mendekat ke arah Nurma yang kini duduk di atas sofa.
"Ma, kita bicara di luar."
Nurma pun mengangguk lalu mengikuti langkah David keluar dari ruangan kemudian duduk di bangku yang ada di depan ruangan Vallen.
"Mama lihat sendiri kan? Mama lihat sendiri bagaimana keadaan Vallen? Entahlah aku juga sebenarnya tidak tahu apa yang telah terjadi dengan adikku sampai dia begitu tergila-gila pada Firman, itulah alasanku menikahkan Vallen dengan Firman karena aku yakin mama pasti tidak akan merestui hubungan mereka sedangkan adikku sendiri begitu tergila-gila padanya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Vallen dipisahkan dari Firman, aku tidak mau Vallen mengalami patah hati yang kedua kalinya, mama tahu bagaimana keadaan Vallen saat dia berpisah dengan Rayhan kan? Aku tidak mau melihat keadaan Vallen seperti itu lagi, bahkan jika ini terjadi lagi keadaannya pasti akan jauh lebih parah."
Mendengar perkataan David, Nurma pun hanya terdiam.
"Mama bisa apa? Memang mama sangat marah dan kecewa pada pilihan kalian berdua. Tapi bagaimanapun juga kalian adalah anak-anak mama, mama juga ingin melihat kalian bahagia. Mama tidak bisa berbuat banyak karena kalian sudah memilih, selain berusaha menerima apa yang menjadi pilihan kalian berdua. Lagipula mama juga sudah berjanji pada diri mama sendiri, dan mama tidak mau mengingkari itu."
"Jadi mama merestui hubungan mereka?"
"Terimakasih ma, aku telepon Firman dulu. Dia harus tahu keadaan Vallen tapi tolong jangan katakan keadaan Vallen memburuk karena masalah ini, katakan saja pada Firman kalau Vallen sedikit kelelahan. Aku tidak ingin Firman menjadi rendah diri karena dia tahu ada kejadian seperti ini, karena sebenarnya sejak awal mereka berhubungan dia memang merasa tidak pantas bersanding dengan Vallen."
"Benarkah?"
"Iya ma, bahkan dulu Firman pernah menolak Vallen saat dia menyatakan cinta karena dia merasa tidak pantas bagi Vallen."
"Jadi Vallen yang mengejar-ngejar Firman?"
David pun mengangguk. "Memalukan sekali," gerutu Nurma yang membuat David tersenyum.
"Tidak sepenuhnya seperti itu karena setelah kejadian itu, Firman yang berbalik mengejar-ngejar Vallen."
"Oh itu jauh lebih bagus, jadi anakku masih punya sedikit harga diri."
Tiba-tiba seorang perawat pun mendekat ke arah David.
__ADS_1
"Dokter David, ruangan untuk Dokter Vallen sudah siap."
"Baik, tolong pindahkan adik saya secepatnya ke ruang perawatan."
"Baik," jawab perawat itu lalu masuk ke dalam ruangan Vallen. Beberapa saat kemudian Vallen pun keluar dari ruangannya dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh perawat tersebut, sedangkan Aini dan Delia ikut berjalan di belakang Vallen. David kemudian mendekat ke arah mereka.
"Kalian berdua tolong jangan katakan kejadian hari ini pada Firman, tolong katakan saja Vallen mengalami kejadian seperti ini karena kelelahan."
"Iya kami mengerti," jawab Aini dan Delia bersamaan.
"Mama, Vallen, aku pergi sebentar ya. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan terlebih dulu."
Vallen dan Nurma pun mengangguk. Sesampainya di ruang perawatan, Aini dan Delia lalu mendekat ke arah Vallen.
"Vallen beristirahatlah, kami permisi pulang dulu. Delia juga sedang hamil, aku tidak ingin dia juga kelelahan, aku akan mengajak Delia istirahat di rumahku."
"Oh iya, terimakasih banyak Aini, Delia. Kalian sudah banyak membantu."
"Tidak kau yang sudah banyak membantu kami," sahut Delia.
"Terimakasih banyak Vallen."
"Sama-sama, kalian hati-hati di jalan.
Aini dan Delia pun mengangguk, mereka lalu berjalan ke arah Nurma yang masih duduk di sofa untuk berpamitan. Setelah Aini dan Delia keluar, Nurma pun mendekat pada Vallen.
"Mama," ucap Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar, raut wajahnya pun tampak menegang.
"Tidak usah takut, mama tidak akan memisahkan kau dan Firman, mama merestui hubungan kalian."
"Benarkah?"
"Ya."
"TERIMA KASIH BANYAK MAAAAA!!! TERIMA KASIH!!"
"Tidak usah berteriak-teriak seperti itu Vallen, kau selalu saja memalukan!!"
🍒🍒🍒
__ADS_1
Delia mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya saat mendengar ponsel itu berbunyi saat dia dan Aini keluar dari rumah sakit. Dia kemudian melihat sebuah nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
"Astaga Tante Fitri," ucap Delia disertai raut wajah cemas.