
Vallen lalu membasuh wajahnya kemudian berjalan mendekat ke arah Nurma yang terlihat sedang menatapnya.
"Kenapa mama melihatku dengan tatapan seperti itu?"
"Vallen, katakan pada mama, apakah kau telah berbuat hal di luar batas?"
"A.. Apa maksud mama?"
"Apa kau tidak sadar perubahan yang terjadi padamu?"
"Mama, Vallen benar-benar tak mengerti."
"Vallen, kau seorang dokter spesialis kandungan. Apa mama harus menerangkan padamu bagaimana ciri-ciri orang yang sedang hamil?"
"Sedang hamil? Siapa yang hamil ma?"
"VALLENNN!!! APA KAU TIDAK SADAR JIKA SIKAPMU BENAR-BENAR SEPERTI WANITA YANG SEDANG HAMIL!! KAU TERLIHAT PUCAT, PUSING, INGIN MAKAN MAKANAN YANG SEGAR-SEGAR LALU KAU JUGA MUNTAH-MUNTAH!! APA ITU SEMUA TIDAK CUKUP MENUNJUKKAN JIKA KAU SEKARANG SEDANG HAMIL VALLEN!!"
"A... Apa maksud mama? Vallen memang benar-benar sedang sakit ma. Vallen muntah-muntah dan tidak enak makan itu karena asam lambung Vallen sedang naik. Tolong mama jangan berfikiran yang tidak-tidak padaku."
"Benarkah yang kau katakan?"
"Ya, tentu saja."
"Kau tidak sedang membohongi mama kan?"
"Tentu tidak ma, bukankah mama tahu sendiri jika Vallen saat ini sedang tidak memiliki pacar. Bagaimana Vallen bisa hamil ma?"
'Jangan-jangan benar kecurigaan mama jika saat ini aku sedang hamil, syukurlah. Aku akan mengatakan hal ini secepatnya pada Kak David.' gumam Vallen.
"Benar juga, kau tidak sedang dekat dengan laki-laki manapun." gerutu Nurma sambil mengerutkan keningnya.
'Syukurlah mama percaya padaku.' gumam Vallen sambil melirik ke arah Nurma disertai perasaan sedikit takut. Tiba-tiba, Nurma menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa tiba-tiba mama tersenyum seperti itu?"
"Tidak apa-apa, Vallen. Mama hanya ingin bertanya padamu, bukankah kau sudah menempati apartemen ini selama satu bulan lebih."
"Ya, memangnya kenapa ma? Apa mama mau tanya apakah ada hantu seperti yang Kak David dan Kak Stella katakan?"
"Bukan, bukan itu Vallen. Tapi, selama di sini apakah kau pernah berkenalan dengan salah seorang tetangga apartemenmu atau melihat seorang laki-laki tampan?"
"Tetangga apartemen? Mama, setelah Vallen pulang dari rumah sakit, Vallen langsung tidur ataupun nonton drama Korea. Vallen tidak ada waktu untuk bersosialisasi ma."
"Huft, dasar anak jaman sekarang. Lalu apakah kau pernah melihat laki-laki tampan yang ada di apartemen ini? Mungkin saja satu lantai denganmu."
"Ahhh mama ada-ada saja. Tidak ada laki-laki tampan di apartemen ini ma."
__ADS_1
"Hahhh dasar, kau memang tidak pernah peka, Vallen."
Di saat itulah tiba-tiba bel apartemen pun berbunyi.
'Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Bukankah tadi aku sudah mengirim pesan untuk menyuruh Firman agar tidak pulang terlebih dulu.' gumam Vallen sambil mengerutkan keningnya.
"Vallen, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak dengar bel pintu apartemenmu berbunyi?"
"Oh.. Oi.. Iya ma, sebentar Vallen buka dulu pintunya."
Vallen lalu bergegas menuju ke arah pintu. Namun saat membuka pintu tersebut betapa terkejutnya dirinya saat melihat Firman sedang berdiri sambil tersenyum padanya.
"Maaf, aku memencet bel karena aku sedikit kesulitan membawa makanan pesananmu."
"Oh tidak Firman, apa kau tidak membaca pesanku?" kata Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Pesan? Aku tidak membawa ponselku, Vallen."
Raut wajah Vallen pun semakin memucat.
"Astaga Firman, ada mama."
"Mama?"
"Ya, mama."
Melihat Firman yang berdiri di depan pintu, seketika Nurma pun tersenyum, hatinya terasa begitu bahagia.
"Astaga, Firman!!" teriak Nurma disertai raut wajah yang begitu bahagia sambil mendekat ke arah Firman.
"Selamat malam tante."
"Mama? Firman? Kalian saling mengenal?" tanya Vallen disertai tatapan penuh tanda tanya.
"Tentu saja, Vallen. Kemarin Firman menolong mama saat mama akan tertabrak sepeda motor. Bukan begitu, Firman?"
Firman pun mengangguk sambil tersenyum.
'Astaga, jadi Tante Nurma itu mamanya Vallen?' gumam Firman sambil tersenyum pada Nurma.
'Oh, ini BAGUSSSS sekali. Tiba-tiba Firman datang ke apartemen Vallen, dia pasti tertarik pada putriku. Aku sudah menduga jika Firman bertemu dengan Vallen, dia pasti akan tertarik padanya.' gumam Nurma di dalam hati sambil melihat bungkusan yang dibawa oleh Firman.
"Firman kenapa tanganmu begitu penuh dengan kantong makanan? Itu makanan untuk siapa?"
"O..Oh ini untuk Vallen, tante."
Nurma lalu memandang Vallen. "Vallen, bukankah tadi kau mengatakan jika kau tidak mengenal tetangga apartemenmu, buktinya kau ternyata mengenal baik Firman. Bahkan dia sampai begitu baik mengantarkan makanan untukmu."
__ADS_1
'Ini benar-benar bagus, Firman bahkan mengantarkan makanan untuk Vallen, aku yakin dia pasti sudah jatuh cinta pada Vallen.' gumam Nurma.
"Oh iya, maksudku aku hanya mengenal Firman. Ya, aku hanya mengenal Firman ma."
"Oh bagus sekali kau memiliki tetangga yang baik seperti, Firman."
"Oh.. E.. Iya ma."
"Firman, sebaiknya kita masuk ke dalam. Ayo kita makan malam bersama. Ternyata kita berjodoh Firman, tadi siang kau mengatakan jika kau sedang sibuk tapi ternyata kita bisa makan malam bersama."
"Oh iya tante. Tiba-tiba temanku membatalkan acara kami padahal aku sudah membeli makanan untuk mereka jadi aku membawakan makanan ini untuk Vallen."
"Terimakasih banyak Firman, kau memang sangat perhatian. Ayo kita masuk." kata Nurma sambil berjalan masuk, kemudian Firman dan Vallen pun berjalan di belakangnya sambil saling berbisik.
"Vallen, ternyata Tante Nurma adalah mamamu? Apa tidak sebaiknya kita katakan yang sebenarnya saja, Vallen? Mamamu orang yang baik, ini pasti tidak sesulit yang kita bayangkan."
"Tidak Firman, ini tidak semudah yang kau pikirkan."
Tiba-tiba Nurma membalikkan tubuhnya.
"Hei kenapa kalian berbisik-bisik di belakangku? Sepertinya kalian sudah tampak begitu akrab."
"Oh ini, Firman hanya tidak menyangka jika orang yang ditolongnya adalah mamaku."
"Oh, mungkin kita berjodoh Firman. Bagaimana jika ternyata kau ditakdirkan sebagai menantuku?" kata Nurma sambil terkekeh.
"Oh iya Tante."
"Iya, apa maksudmu Firman? Apakah kau mau menjadi menantuku?"
"Emhhh maksudku... "
"Sudah, sudah tidak usah banyak bicara. Bukankah tadi kau mengatakan iya? Baiklah kau akan kunikahkan dengan putriku, bagaimana Firman kau mau kan?"
"Tapi tante, Vallen..."
"Firman, kita tidak memerlukan jawaban Vallen. Dia pasti akan menyetujui semua kata-kataku."
"Tapi tante sebenarnya kami sudah... AAAWWWW!!"
Tiba-tiba Firman pun berteriak lalu melirik pada Vallen yang kini sedang meringis. "Kenapa kau menginjak kakiku?" bisik Firman pada Vallen.
"Apa? Vallen menginjak kakimu? Kau benar-benar tidak memiliki sopan santun, Vallen."
"Maaf, aku tidak sengaja."
Nurma lalu mengarahkan pandangannya pada Firman.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Firman? Kau mau kan menikahi putriku?"