
"Emhh...E.. Tante, sebenarnya kam... AWWWW ADUH!!"
Firman kemudian menatap Vallen.
"Kenapa kau menginjak kakiku lagi, Vallen?" bisik Firman kembali yang akhirnya didengar oleh Nurma.
"Vallen, kenapa kau tidak sopan sekali? Kenapa kau menginjak kaki Firman?"
"Maaf, aku tidak sengaja." jawab Vallen sambil meringis.
Nurma lalu mengarahkan pandangannya lagi pada Firman.
"Firman tolong maafkan Vallen, dia terkadang seperti itu.
"Ya, tidak apa-apa tante."
"Lalu bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Bukankah Vallen gadis yang cantik?"
"Ya, Vallen sangat cantik tante."
"Ahahahha bagus sekali ternyata kau tertarik kan dengan putriku?"
"Ya tante, saya sangat tertarik pada Vallen, sejak kami pertama kali bertemu."
"Hahahaha, aku sudah yakin itu. Jika kau bertemu dengan Vallen, pasti kau akan tertarik padanya, apa kau tahu, kalian bahkan terlihat sangat serasi." kata Nurma sambil terkekeh.
Firman pun ikut tersenyum sambil menatap Vallen yang masih terlihat tegang.
"Firman, sekarang tante tanyakan lagi padamu. Apakah kau mau menikah dengan putriku?"
Firman lalu menatap Vallen. Vallen kemudian memelototkan matanya.
"Ya, iya tante. Saya mau menikah dengan putri tante, Vallen."
"AAAAAAAA, terimakasih banyak Firman. Tante yakin kau pasti kau akan menjawab iya karena kau pasti sudah jatuh cinta pada Vallen kan? Iya kan Firman? Jika kau tidak menyukainya bagaimana mungkin kau datang malam-malam seperti ini membawakan makanan untuk putriku. Hahahaha."
"Iya tante."
Nurma lalu mengalihkan pandangannya pada Vallen yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau menatap mama dengan tatapan seperti itu Vallen? Mama tidak akan bertanya padamu tentang pendapatmu mengenai pernikahan ini, bukankah tadi mama sudah katakan jika mama tidak membutuhkan jawaban apapun darimu. Kau harus menuruti kata-kata mama untuk menikah dengan Firman. Hai Vallen, hanya wanita bodoh yang menolak laki-laki seperti Firman. Kau bahkan sangat beruntung memiliki orang tua seperti mama yang sudah menjodohkanmu dengan laki-laki seperti Firman. Apa kau mengerti?"
"Iya ma, aku mengerti."
Nurma lalu mengerutkan keningnya dan tampak berfikir sejenak. 'Aku harus membiarkan Firman dan Vallen berduaan agar mereka akrab dan timbul chemistry diantara mereka, ya aku tidak mau mengganggu mereka. Lebih baik aku pulang sekarang.' gumam Nurma dalam hati.
"Vallen, Firman, sebaiknya mama pulang dulu sekarang. Mama akan membicarakan ini dengan David, kakakmu. Firman, sebaiknya kau disini saja, tolong temani Vallen karena sepertinya dia sedang tidak enak badan."
"O... Oh ya, baik tante."
"Vallen, tolong kau jaga sikapmu. Mama pulang dulu."
__ADS_1
"Iya ma."
Nurma kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.
"Huftttt benar-benar menegangkan." gerutu Vallen.
"Apanya yang menegangkan sayang? Kenapa kau selalu mencegahku untuk mengatakan hubungan kita yang sebenarnya pada mamamu?"
"Oh tidak Firman, itu namanya cari mati."
"Cari mati? Bukankah mamamu sangat baik? Dia bahkan tidak semenyeramkan seperti yang kupikirkan selama ini? Lagipula kau juga tahu jika ternyata dia juga merestui hubungan kita, jadi tidak perlu ada yang ditutup -tutupi lagi kan?"
"Firman, berfikirlah dengan kepala dingin. Mama merestui hubungan kita karena dimatanya kau laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Dia sangat menyukaimu karena kau sudah menolongnya, tapi bagaimana jika kau dan mama tidak pernah bertemu sebelumnya? Pandangan dia terhadapmu pasti tidak seperti itu."
"Jadi, kita tetap harus mengikuti skenario perjodohan yang mamamu lakukan pada kita?"
"Ya, hanya itu satu-satunya jalan. Kita tetap berpura-pura seperti baru mengenal satu sama lain dan menikah karena dijodohkan olehnya. Biarkan dia memiliki pemikiran seperti itu karena itulah yang terbaik untuk hubungan kita. Aku bahkan tidak menyangka jika ternyata jalan kita untuk mendapat restu dari mama ternyata begitu mudah, dan kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Hanya ini satu-satunya cara agar hubungan kita direstui, kita tinggal ikuti alurnya saja, Firman."
Firman kemudian tampak berfikir.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan berpura-pura baru mengenal dirimu dan menikahimu karena dijodohkan oleh mamamu."
"Hahahaha bagus Firman, aku sangat menyayangimu." kata Vallen sambil memeluk Firman.
"Aku juga sangat menyayangimu." jawab Firman sambil mencium kening Vallen.
"Emh... Firman, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." kata Vallen sambil meraba perutnya.
'Bagaimana jika ternyata aku belum hamil? Aku tidak mau Firman kecewa karena ini baru dugaan saja. Ah lebih baik aku mengecek kandunganku terlebih dulu besok di rumah sakit untuk memastikan apakah aku sedang hamil atau tidak.' gumam Vallen sambil memeluk Firman kian kencang.
"Emhhh... Besok saja."
"Kenapa harus besok?"
"Aku sudah lapar, suapi aku." kata Vallen sambil membuka mulutnya.
"Dasar manja." gerutu Firman sambil mengacak-acak rambut Vallen.
🏡🏡🏡
Nurma masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa sambil menyunggingkan senyuman yang lebar di bibirnya. David dan Stella yang sedang bercengkrama di ruang televisi pun begitu terkejut melihat sikap Nurma.
"Mama, mama ceria sekali."
Nurma lalu mendekat pada David dan Stella sambil terkekeh.
"David, Stella. Apakah kalian tahu, mama sangatlah bahagia."
"Bahagia? Memangnya ada apa? Mama dapat arisan?"
"Bukan itu David, tapi ini tentang Vallen."
__ADS_1
David dan Stella lalu saling berpandangan.
"Vallen?" kata mereka bersamaan.
"Iya David, Stella. Akhirnya mama sudah menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi suami Vallen."
'Oh tidak.' gumam David dalam hati.
"Su..Suami Vallen?"
"Ya, dia bahkan sudah menyanggupi dan mau menikah dengan Vallen."
"Mama, mama ini bagaimana, kenapa mama mengambil keputusan secara sepihak ma? Bagaimana dengan Vallen? Apakah Vallen mau menikah dengan laki-laki itu?"
"Tentu saja dia mau David, memang awalnya Vallen terlihat malu-malu tapi mama yakin Vallen pasti sebenarnya sangat menyukai laki-laki itu, mama bisa melihat tatapan mata Vallen yang juga tertarik pada laki-laki itu."
'Astaga, apa ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?' gumam David sambil menatap Stella yang kini menggelengkan kepalanya.
"Mama, sebenarnya siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengan Vallen? Kenapa tiba-tiba Vallen menerima perjodohan yang dilakukan oleh mama? Apa mama yakin dia laki-laki yang baik?"
"Tentu saja mama yakin dia laki-laki yang baik karena mama sudah membuktikan sendiri jika dia adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Sebenarnya kemarin sore mama berkunjung ke apartemen Vallen."
"APAAA??" teriak David dan Stella bersamaan.
"Kenapa kalian terkejut seperti itu? Lagipula apartemenmu tidak semenyeramkan yang kalian ceritakan."
David dan Stella pun kini terlihat salah tingkah.
"Dengarkan mama David, kemarin sore saat mama berkunjung ke apartemen kalian, mama hampir saja tertabrak sepeda motor saat akan membelikan makanan ringan untuk Vallen, di saat itulah tiba-tiba seorang laki-laki muda yang sangat tampan datang menyelamatkan mama. Mama sudah berjanji di dalam hati jika orang yang akan menyelamatkan mama akan mama jadikan menantu, dan ternyata dia tinggal di apartemen yang sama dengan Vallen. Dan tanpa sengaja, malam ini saat mama sedang berkunjung ke apartemen Vallen dia juga datang mengunjungi Vallen sambil membawa makanan untuk Vallen. Jadi mama langsung tanyakan saja pada mereka apakah dia mau menikahi Vallen, dan ternyata mereka tidak menolak satu sama lain."
Mendengar perkataan Nurma, David dan Stella pun hanya bisa saling berpandangan.
"Aku benar-benar tidak mengerti, Stella." bisik David pada Stella.
"Aku juga."
"Emh.. Mama, siapa nama laki-laki itu? Calon suami Vallen?"
"Firman, namanya Firman."
'Astaga.' gumam David dan Stella sambil saling berpandangan.
"David, rasanya aku ingin pingsan."
🏡🏡🏡
HOWEKKK HOWEEEKKKK
"Vallen, apa kau baik-baik saja? Kau sudah muntah-muntah tiga kali." tanya Firman saat Vallen sedang berjalan ke arahnya.
"Aku baik-baik saja, tubuhku hanya sedikit lemas dan kepalaku pusing." gerutu Vallen sambil menyenderkan tubuhnya pada Firman.
__ADS_1
Firman lalu memandang Vallen.
"Vallen, kau pusing, lemas, dan muntah-muntah? Apa kau..."