
"Calista, aku memiliki dua permintaan padamu."
"Apa Leo?"
"Bagaimana kalau besok kita melakukan program hamil lagi untukmu, aku tidak meminta dan menuntutmu untuk bisa hamil secepatnya, aku cuma ingin kondisi rahimmu bisa sehat kembali. Aku juga ingin kau bisa sembuh selayaknya wanita lain, sayang."
"Tentu, kita akan melakukannya, bahkan aku sangat bahagia kau mengatakan semua ini padaku. Kita akan melewati proses ini bersama-sama Leo."
"Iya Calista aku yakin kau bisa sembuh," kata Leo sambil memegang pipi Calista.
"Lalu apa permintaan keduamu?"
"Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Giselle, Calista. Aku tidak ingin ada duri dalam pernikahan kita. Dia menikah denganku hanya untuk mendapatkan harta ku dan untuk menyingkirkanmu saja, agar kau bisa kembali ke pelukan Ramon. Jika kita tidak menyingkirkan mereka dalam kehidupan kita, selamanya kita tidak akan bisa hidup tenang Calista."
"Lalu apa rencanamu?"
"Rencanaku tidak akan pernah berhasil tanpa bantuanmu sayang."
"Lalu?"
"Hal pertama yang harus kita lakukan adalah kembali ke rumahku, kau mau kan kembali ke rumah?"
Calista lalu mengangguk. "Tentu Leo, besok kita akan kembali ke rumah."
"Terima kasih sayang." Leo lalu memeluk Calista sambil mengusap punggungnya.
***
Giselle sedang sarapan saat bel berbunyi beberapa kali. "Bi.. Bi Asih, tolong bukakan pintunya!"
"Iya Nyonya," jawab Bi Asih sambil tergopoh-gopoh membukakan pintu rumah.
"Siapa yang datang Bi?"
"Aku Giselle," kata Calista sambil tersenyum.
"Ca.. Calista, kau sudah pulang?"
"Tentu, ini adalah rumahku, tepatnya rumah suamiku."
"Juga suamiku. Lalu dimana Leo?"
"Dia sedang ke kantor dan akan pulang nanti siang karena Leo akan pergi bersama denganku."
"Kalian akan pergi bersama? Aku juga harus ikut karena aku juga istri Leo."
"Tentu, kau boleh ikut dengan kami Giselle."
Giselle pun tersenyum. "Bagus kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu. Nanti jika kalian sudah siap tolong kabari aku."
__ADS_1
Calista lalu mengangguk sambil tersenyum. "Kita lihat nanti Giselle, apa kau masih bisa bermain-main dengan kami," kata Calista.
Saat Giselle baru saja masuk ke dalam kamar, ponselnya tiba-tiba berbunyi. 'Ramon,' batin Giselle.
[Halo.]
[Halo, selamat pagi Giselle.]
[Tidak usah banyak basa-basi, cepat katakan apa maksudmu menghubungiku pagi-pagi seperti ini?]
[Giselle, aku butuh uang.]
[Apaaaaa.]
[Ya Giselle, uangku saat ini sudah habis.]
[Apa katamu Ramon, bukankah dua hari yang lalu aku sudah memberikanku lima ratus juta untukmu? Bahkan aku sudah menguras habis tabunganku dan menjual beberapa perhiasan dari Leo yang menjadi mahar pernikahan kami!]
[Tolonglah Giselle, aku membutuhkan uang saat ini juga.]
[Memangnya aku mesin pencetak uang untukmu! Tidak aku tidak akan memberimu uang sepeser pun padamu!]
[Baik, jika kau tidak mau memberikan aku uang, maka akan kubocorkan semua rahasiamu pada Leo, aku bahkan memiliki bukti video dan surat pernyataan dari dokter karena aku lah yang menandatangani semua itu saat berpura-pura menjadi suamimu!]
[BRE*GSEK KAU RAMON!!!]
[Dasar bede*ah. Berapa yang kau minta?]
[Tidak banyak, hanya seratus juta.]
[Apaaa itu banyak sekali Ramon, dasar bren*sek, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?]
[Itu urusanmu Giselle, kuberi waktu nanti sampai jam dua belas siang.]
"BRENGSEK!" umpat Giselle sambil membanting ponselnya ke atas tempat tidur.
"Darimana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu?" gumam Giselle sambil berjalan ke balkon kamar untuk mencari udara segar, saat itu juga dia melihat Calista yang sedang merawat bunga di taman.
"Calista, Calista pasti memiliki banyak perhiasan, jika kuambil beberapa pasti dia tidak akan curiga," kata Giselle.
Dia lalu mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju kamar Calista. 'Bagus kamar ini masih kosong, semoga Calista masih sibuk merawat tanamannya,' batin Giselle sambil masuk ke dalam kamar dan secepat kilat mendekat ke arah lemari kemudian membuka laci lemari itu satu per satu.
"Hahahaha... Akhirnya!" teriak Giselle saat di hadapannya ada beberapa cincin berlian milik Calista yang begitu indah. Giselle lalu mengambil dua buah cincin itu. Saat akan melangkah keluar kamar, tiba-tiba Calista sudah ada di depannya.
"Giselle, apa yang kau lakukan di dalam kamarku?"
"Emh... Aku mencarimu Calista."
"Mencariku? Memangnya kenapa kau mencariku?"
__ADS_1
"Aku cuma ingin mengatakan jika aku akan pergi sebentar Calista, tolong hubungi aku jika Leo sudah pulang, kalian tidak boleh meninggalkan aku."
"Baik Giselle, bergegaslah, lalu kembali secepatnya. Bukankah kau tahu jika Leo tidak suka menunggu."
"Iya Calista, aku pergi dulu." kata Giselle sambil tersenyum. 'Berhasil, Calista tidak akan curiga jika aku mengambil dua cincin miliknya karena dia memiliki begitu banyak cincin berlian,' batin Giselle sambil keluar dari dalam rumah.
Dia lalu memacu mobilnya ke toko perhiasan untuk menjual berlian milik Calista. "Ini lebih dari cukup," kata Giselle setelah menjual berlian tersebut. Dia lalu menghubungi Ramon untuk menemuinya saat ini juga di dekat toko perhiasan.
Beberapa saat kemudian, Ramon pun datang menggunakan mobil mewah yang baru dibelinya beberapa hari lalu. 'Dasar brengsek, uang tabunganku sampai habis untuk membiayai gaya hidup pecundang ini,' gumam Giselle saat melihat Ramon keluar dari dalam mobil.
"Hahahaha..., bagus Giselle, kau memang orang yang baik dan penurut," kata Ramon sambil menyentuh dagu Giselle.
Giselle menatap Ramon dengan tatapan tajam. "Aku terpaksa melakukan semua ini untuk menyelamatkan posisiku sebagai istri Leo, ingat itu! Tapi lihat saja Ramon, aku tidak akan tinggal diam! Aku pasti bisa hamil anak dari Leo lagi!!!" kata Giselle sambil memberikan uang itu kemudian meninggalkan Ramon yang masih tertawa.
"Berkatalah semaumu Giselle, karena Leo tidak akan pernah jatuh lagi ke dalam pelukanmu. Hahahaha...."
***
Giselle masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa saat melihat mobil Leo sudah terparkir di halaman, kini dia dan Calista tengah asyik bercanda di ruang tamu yang membuat dada Giselle semakin bergemuruh.
"Kau sudah pulang Giselle?" tanya Leo sambil tersenyum.
"Ya," jawab Giselle.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Leo kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menggandeng tangan Giselle.
'Apakah aku bermimpi? Leo menggenggam tanganku dan membiarkan Calista berjalan sendirian. Apakah Leo mulai bisa jatuh cinta padaku dan menerimaku sebagai istrinya?' gumam Giselle.
"Kenapa kau melamun Giselle, ayo masuk mobil," kata Leo sambil tersenyum dengan sangat manis yang membuat dada Giselle semakin berdegup kencang.
"Emh.. Iya Leo." Giselle pun naik ke dalam mobil, hatinya semakin bahagia saat Leo menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
"Duduklah di sampingku, Giselle!"
"Benarkah aku boleh duduk di sampingmu Leo?"
"Tentu, kau sedang mengandung anakku, seharusnya kau diperlakukan dengan istimewa," jawab Leo sambil tersenyum. Giselle yang merasa mendapat angin segar lalu melirik sambil mencibir pada Calista. Calista hanya tersenyum melihat tingkah Giselle.
'Bagus sepertinya Leo kini sudah sadar jika aku lebih baik dibandingkan Calista,' gumam Giselle.
Di dalam mobil Giselle mencoba untuk berbasa-basi dengan Leo sambil memanas-manasi Calista. Dia lalu meraba tangan Leo dan mengelus wajahnya. "Memangnya kita mau kemana suamiku sayang?"
"Ke rumah sakit, Giselle."
"Ke rumah sakit Leo? Untuk apa kita ke rumah sakit?"
"Bertemu dokter kandungan."
"APA???"
__ADS_1