
Stella terus memandang ponsel Revan yang terus-menerus berbunyi. 'Siapa Giselle?' gumam Stella, dia kemudian bermaksud mengangkat panggilan itu, namun di saat itu juga panggilan itu berhenti.
Revan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya untuk mengambil ponselnya, dan saat itu dia baru sadar jika ponselnya telah tertinggal di kamar Stella.
"Sial, ponselku." kata Revan kemudian bergegas lari ke dalam kamar Stella kembali dan melihat Stella yang kini sedang memegang ponselnya.
"Kenapa kau kembali?"
"Ponselku tertinggal."
"Ini?" tanya Stella sambil memperlihatkan ponsel Revan padanya.
"Kembalikan ponsel itu Stella."
"Tidak sebelum kau katakan padaku siapa Giselle sebenarnya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tapi aku adalah istrimu, aku berhak tahu."
"Hahahaha, istri? Hanya sebagai status Stella, bukankah selama ini seperti itu? Kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi kita masing-masing itu kan yang selalu kau minta padaku! Kau juga selalu berkata jika tidak mau mengurusi semua wanita-wanita yang kukencani, lantas kenapa tiba-tiba kau mau ikut campur urusan pribadiku?" kata Revan sambil mengambil ponselnya yang masih ada dalam genggaman Stella.
Stella hanya termenung melihat kepergian Revan sambil merasakan sebuah rasa sakit di hatinya. 'Ternyata sesakit ini.' gumam Stella sambil menitikkan air mata.
"Siapa sebenarnya Giselle? Apakah Giselle yang membuat Revan berubah menjadi kasar padaku?"
***
"Kau masak apa Giselle?" tanya Revan saat melihat Giselle yang kini sibuk menyiapkan makan malam di atas meja.
"Lihat saja sendiri."
"Wow sepertinya lezat, sudah lama aku tidak makan masakan yang dimasak oleh istri sendiri."
"Istri sendiri? Memangnya sudah berapa lama aku menjadi istrimu sampai kau mengatakan seperti itu?"
'Hampir saja aku keceplosan.' gumam Revan sambil tersenyum.
"Sudah ayo kita makan sekarang."
"Iya Giselle, tapi aku mandi dulu." kata Revan kemudian pergi meninggalkan Giselle lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Giselle berjalan ke arah balkon kamar setelah selesai membersihkan makan malam mereka. "Apa yang kau lihat?" tanya Revan yang kini berdiri di sampingnya.
"Bintang, sejak beberapa hari yang lalu hujan selalu turun di malam hari, dan baru hari ini aku bisa melihat bintang di langit."
"Jadi kau suka melihat bintang?"
Giselle lalu mengangguk sambil tersenyum. "Lalu bagaimana perasaanmu?"
"Perasaanku?"
"Iya perasaanmu pada Leo? Apakah kau masih menyukainya?"
"Sedikit."
"Jadi kau masih saja menyukainya?"
"Memangnya kau pikir melupakan seseorang itu mudah?"
"Belajarlah untuk mencintai orang lain Giselle, itu adalah cara termudah untuk melupakan seseorang."
"Saat ini aku sedang tidak dekat dengan siapapun, bahkan aku tidak bekerja, bagaimana aku bisa mengenal kemudian mencintai laki-laki lain?"
"Jadi maksudmu aku harus belajar mencintaimu?"
"Memang apa salahnya belajar mencintaiku? Bukankah itu jauh lebih baik daripada kau mencintai Leo yang sudah memiliki anak dan istri?"
"Kau benar juga Revan, tapi bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta padamu?"
"Aku juga sedang belajar mencintaimu Giselle." jawab Revan yang membuat Giselle terkejut kemudian memandang wajah Revan.
"Revan, kau sedang belajar untuk mencintaiku?"
"Ya, di dunia ini tidak ada yang kebetulan Giselle, kita memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dan hidup dalam ikatan pernikahan, lalu apa salahnya jika kita belajar untuk saling mencintai?"
Giselle lalu tersenyum mendengar perkataan Reva. "Kenapa kau tersenyum? Kau pikir ini lucu?"
"Bukan, bukan seperti itu, aku hanya tak menyangka lelaki menyebalkan sepertimu bisa berfikir dewasa seperti ini."
"Jangan pernah meremehkan aku Giselle, aku tidaklah seburuk yang kau kira."
"Hahahaha... Hahahaha." Mereka lalu tertawa bersama. Giselle lalu menghentikan tawanya ketika Revan mulai mendekat padanya kemudian memeluknya dengan begitu erat.
__ADS_1
"Giselle." kata Revan saat melepas pelukannya kemudian mendekatkan wajahnya pada Giselle dan menempelkan bibirnya kemudian mencium bibir Giselle dengan begitu lembut.
"Kita mulai hubungan yang baru Giselle, apakah kau mau?" tanya Revan saat melepas ciuman mereka.
"Iya." kata Giselle sambil mengangguk kemudian memeluk Revan kembali.
***
Stella duduk di sofa dengan begitu cemas, bibirnya kemudian tersenyum saat mendengar suara mobil Revan di halaman. "Ada apa Stella? Mana Mama dan Papa?" tanya Revan sambil masuk ke dalam rumah.
Namun Stella hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. "Mana Mama dan Papa?" tanya Revan lagi.
"Tidak ada Revan." jawab Stella lirih.
"Jadi kau membohongiku? Brengsek! Aku sampai membatalkan rapat di kantor tapi ternyata kau membohongiku!"
"Maafkan aku Revan, aku hanya kesepian jadi aku terpaksa membohongimu. Sudah seminggu aku pulang dari rumah sakit tapi kau tidak pernah pulang ke rumah, ke mana saja kau selama ini?"
"Bukan urusanmu, biasanya juga berminggu-minggu aku tidak pernah pulang kau tidak peduli padaku!"
"Tapi aku sedang hamil!"
"Apa kau lupa jika aku bukanlah ayah kandung dari bayi itu? Kau cukup diam di rumah dan mengurus kehamilanmu! Kau beruntung tidak ada seorangpun yang tahu aibmu kecuali diriku! Bahkan akulah yang nantinya akan menutup aibmu karena yang orang-orang tahu bayi yang ada dalam kandunganmu adalah darah dagingku!" bentak Revan.
"Kenapa kau kasar sekali Revan? Apakah kau berubah karena Giselle?"
"Bukankah sudah kuperingatkan untuk jangan pernah mengurusi lagi kehidupanku!!" kata Revan lalu pergi meninggalkan Stella.
Stella lalu berjalan dengan lemas, kemudian masuk ke dalam kamar. Dia lalu menghampiri meja Revan dan tampak sibuk mencari sesuatu.
'Aku harus mencari tahu siapa itu Giselle sebenarnya.' gumam Stella sambil terus menggeledah meja kerja Revan. Namun tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah album kecil di pojok laci yang baru saja dibukanya.
"Barangkali aku bisa menemukan foto-foto Giselle disini?" kata Stella sambil mengambil album itu. Namun betapa terkejutnya dirinya saat melihat album itu hanya berisi foto-foto dirinya sejak masih anak-anak sampai dewasa.
"Apa arti semua ini? Kenapa semua foto-fotoku ada di sini?" kata Stella sambil melihat satu persatu foto dirinya dan pada halaman terakhir album itu tampak foto dirinya tengah duduk bersama Revan saat mereka merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas saat mereka masih remaja, di foto itu juga ada sebuah tanda hati dan di bagian bawahnya ada tulisan. "Cinta pertama dan terakhirku, Stella. Always together."
"Apa??? Jadi selama ini Revan mencintaiku?" kata Stella. Jantungnya berdegup kian kencang, dan perasannya kian tak menentu.
'Jadi sejak dulu Revan sudah mencintaiku?' gumam Stella lagi, kali ini dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Ini kesempatan bagus, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi Revan, aku harus merebut dirimu dari Giselle." kata Stella diiringi senyum yang menyeringai.
__ADS_1