Salah Kamar

Salah Kamar
Nomor Asing


__ADS_3

"Dimas, cepat menjauh dariku Dimas!" teriak Aini yang mulai panik. Dia pun mulai mencoba untuk melarikan diri tapi Dimas mencekal tangannya lalu menarik tubuh Aini kemudian dibawa ke sebuah gang buntu yang begitu sempit, di samping kanannya adalah sebuah rumah kosong dan di samping kirinya sebuah pekarangan.


'Astaga, Tuhan jangan sampai aku mengalami hal ini untuk yang kedua kalinya.' gumam Aini sambil meneteskan air matanya. Aini pun semakin memundurkan langkahnya tapi Dimas kian mendekat ke arahnya. Melihat Dimas yang mulai mendekat ke arahnya, Aini lalu mengutak-atik ponselnya di belakang tubuhnya tanpa sepengetahuan Dimas."


"Kau menangis Aini? Bukankah sudah kukatakan jika aku hanya ingin bersenang-senang denganmu, kenapa kau menangis? Di sini sangat sepi, kita bisa melakukan apapun yang kita mau, Aini. Ayo bersenang-senanglah denganku."


"Jaga kata-katamu, Dimas! Aku sudah memiliki suami! Tidak pantas kau berkata seperti itu padaku!"


"Suami? Mana suamimu? Bukankah kemarin kau pulang sendiri ke sini? Aku sangat mengenalmu Aini, aku yakin sesuatu pasti telah terjadi padamu dan suamimu, hahahahahaha."


"Jangan berkata sembarangan Dimas! Hubunganku dan Mas Roy baik-baik saja!"


"Jika hubunganmu dan suamimu baik-baik saja, coba kau panggil dia ke sini, hahahaha."


"Suamiku sangat sibuk, dia memiliki pekerjaan. Tidak seperti dirimu, laki-laki pemalas yang hanya mengandalkan kedua orang tuamu saja!"


"Oh jadi suamimu sangat sibuk Aini? Jika suamimu sibuk bukankah kau membutuhkan kasih sayang? Misalnya saja kasih sayang dariku." kata Dimas sambil mencolek dagu Aini.


"Berani-beraninya kau menyentuhku Dimas!"


"Tidak usah munafik! Kau juga pasti ingin kusentuh kan? Hahahaha."


"TOLONG!!!"


"TOLONG!!!"


"TOLONG!!!"


"Jangan berteriak Aini atau aku akan membunuh!"


"Lebih baik aku mati daripada disentuh oleh laki-laki seperti dirimu!"


"Sombong sekali kau, Aini!"


"Ya, karena bagiku kau adalah laki-laki yang sangat menjijikkan."


"AINI!!!"


PLAK PLAK


"Akan kuberi kau pelajaran sekarang juga Aini!!" teriak Dimas kemudian memegang bahu Aini namun tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya lalu melayangkan bogem mentah padanya.


BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH


"BERANI-BERANINYA KAU MENAMPAR ISTRIKU DAN INGIN BERBUAT MACAM-MACAM PADANYA!!" teriak Roy sambil memukuli Dimas dengan membabi buta. Dimas pun berulangkali mencoba untuk melawan tapi tubuhnya yang kurus sedikit kesulitan melawan Roy yang memiliki tubuh cukup kekar dengan tenaga yang begitu besar. Hanya beberapa pukulan ringan yang Roy dapatkan dari perlawanan yang dilakukan oleh Dimas. Aini pun hanya bisa menangis melihat Roy yang kini terlihat begitu marah sambil terus memukuli Dimas.


"Sudah mas, sudah."

__ADS_1


"Aini cepat kau pesan taksi."


"Untuk apa mas?"


"Turuti saja kata-kataku!"


Aini pun mengutak-atik ponselnya untuk memesan sebuah taksi online.


"Mau apa kalian?" teriak Dimas yang kini tengkurap di atas tanah dengan kedua tangan yang dicekal oleh Roy. Lima menit kemudian sebuah taksi pun berhenti, mereka lalu keluar dari gang sempit tempat mereka kini berada.


"SEKARANG KAU HARUS IKUT DENGANKU!" teriak Roy sambil menyeret tubuh Dimas.


"Kita mau kemana Mas?"


"Kau juga ikut denganku, Aini."


Aini pun mengangguk lalu mengikuti langkah Roy yang kini sudah membawa Dimas masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya.


🏡🏡🏡🏡🏡


David melepaskan pelukannya pada Vallen lalu menghapus air matanya.


"Vallen, tenangkan dirimu. Jika hari ini moodmu memburuk karena mama lebih baik kau pulang saja."


"Tidak Kak, aku disini saja. Aku bisa melakukan pekerjaanku. Aku ijin pulang nanti saja setelah makan siang."


Vallen lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Baik, sekarang kau pergi ke ruanganmu saja."


"Iya Kak." jawab Vallen lalu berjalan ke ruangan kemudian mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun sepanjang melakukan pekerjaannya, pikirannya begitu tersita pada kata-kata Nurma. Akhirnya Vallen pun mengambil ponselnya lalu menelepon Firman.


[Halo Vallen.]


[Kau dimana?]


[Masih di rumah Pak Raka, sebentar lagi jenazahnya akan dimakamkan. Kau kenapa sayang? Apa sesuatu telah terjadi padamu?]


[Tidak apa-apa. Apa kau jadi mengajakku makan siang?]


[Ya, nanti aku akan menjemputmu untuk makan siang.]


[Setelah makan siang aku ingin pulang Firman.]


[Apa kau sakit?]


[Tidak, hanya sedikit pusing, aku sedikit kurang fokus dengan pekerjaanku hari ini, aku ingin pulang saja. Kak David juga menyuruhku untuk pulang.]

__ADS_1


[Jadi kau benar-benar sakit? Kalau kau sakit, aku juga ijin dari kantor, kebetulan hari ini aku sedang tidak banyak pekerjaan. Aku ingin menemanimu di rumah.]


[Apa itu tidak merepotkanmu?]


[Tentu tidak sayang.]


[Terimakasih Firman.]


[Ya, sebentar lagi aku akan datang ke rumah sakit.]


[Iya, hubungi aku jika kau sudah sampai.]


[Ya.]


Vallen lalu menutup teleponnya sambil menempelkan ponsel di dadanya.


'Sebaiknya aku tidak menceritakan kejadian tadi pagi pada Firman, aku masih memiliki waktu satu bulan untuk mencari cara agar bisa mengenalkan Firman pada mama. Aku harus mencari cara agar saat aku mengenalkan Firman, mama bisa menyukainya dan tidak menentang hubungan kami. Apapun caranya akan kulakukan agar aku tetap bisa bersama denganmu, Firman karena aku sangat mencintaimu.' gumam Vallen sambil menatap foto Firman di ponselnya.


Satu jam kemudian sebuah panggilan pun masuk ke ponsel Vallen.


[Halo sayang, aku sudah di depan.]


[Iya tunggu sebentar.] jawab Vallen lalu mendekat pada meja Hani yang ada di dekat pintu ruangannya.


"Hani, aku pulang dulu. Aku sudah ijin pada Kak David jika hari ini aku pulang lebih awal."


"Iya Dok."


Vallen kemudian keluar dari ruangannya lalu berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju ke halaman parkir rumah sakit. Senyuman pun mengembang di bibirnya saat melihat Firman yang sudah menunggunya, dia kemudian berlari lalu memeluk tubuh Firman.


"FIRMANNNN!!" teriak Vallen lalu memeluk tubuh Firman sambil mengalungkan tangannya di lehernya dan mengangkat tubuhnya.


"Kau sudah bisa melakukan pelukan manjamu itu? Apa sudah tidak sakit?"


"Sedikit sakit, tapi aku sangat merindukanmu."


"Wanita aneh, kita hanya baru beberapa jam saja berpisah."


"Aku selalu merindukanmu setiap saat meskipun kau meninggalkanku hanya sedetik saja." jawab Vallen kemudian mengecup bibir Firman.


"Hahahaha, bagaimana kalau Kak David tahu kita bermesraan di tempat umum lagi, dia pasti akan marah."


"Dia tidak ada di sini. Ayo kita pulang sekarang, kita makan siang di apartemen saja, lalu setelah itu aku ingin tidur dalam pelukanmu." kata Vallen sambil terkekeh.


"Dasar manja." jawab Firman sambil mengacak-acak rambut Vallen kemudian membukakan pintu mobil untuknya. Saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi, dia lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


"Nomor asing, ini nomor siapa?" kata Vallen sambil menatap layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2